Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Info Hotel di kota Palembang
» Download

Salah satu Raja Sriwijaya yang menarik dibicarakan adalah Sri Indrawarman atau Sri Maharaja Indra Warmadewa Raja kedua Sriwijaya setlah Dapunta Hyang, Sri Indrawarman berkuasa pada 702 M- 728 M, pada masa itu hubungan Sriwijaya dan Tiongkok sangat mesra, sehingga dalam kronik China disebutkan bahwa utusan dari Raja Sriwijaya tersebut ke Tiongkok tercatar pada tahun 702, 716 dan 724 dengan membawa hadiah yang banyak,dan mengirimkan Tse’engchi atau Zanji (budak wanita hitam) pada tahun 724 M.

Sri Indrawarman Raja Sriwijaya atau Shih-li-t-o’-pa-mo dikenal sebagai Raja yang sangat kaya raya, selain kepada Tiongkok, Sri Indrawarman juga berhubungan dengan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz bahkan sebelumnya, Sri Indrawarman pernah bersurat kepada Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan, dimana didalam suratnya, Sri Indrawarman mengambarkan kebesaran kerajaan Sriwijaya dengan mengatakan Raja yang memiliki ribuan gajah, rempah-rempah dan wewangian, kapur barus, dan istananya yang terbuat dari emas dan perak dengan memiliki dua buah sungai besar yang mengelilingi pohon gaharu.

Surat pertama ditemukan dalam lemari arsip Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umar, yang disampaikan kepada Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang kemudian disampaikan lagi kepada Al-Haytsam bin Adi. Yang mendengar surat itu Lori AI-Haytsam menceriterakan kembali pendahuluan surat tersebut. “Dari Raba Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan Perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah…. Sementara surat kedua lebih lengkap karena terdapat pembukaan dan isi, terdapat dalam buku Ibnu Abdul Rabbih Al Iqd al Farid ditujukan untuk Khalifah Umar bin Abdul Azis memperlihatkan betapa mewahnya maharaja dan kerajaannya.
Berikut isi suratnya : “Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.”— Surat Maharaja Sriwijaya, Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Sementara Ibnu Taghribirdi dalam bukunya al Nujum al Zahirah fi Muluk Misr wa al Qahirah mempunyai tambahan untuk akhir surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz tersebut yaitu berbunyi :
“Saya mengirim hadiah jebat (musk), batu ratna, dupa dan barus. Terimalah dari saudara Islammu, “. Menurut Azyumardi Azra (2006) dalam bukunya Islam in the Indonesian World, Mizan Pustaka, diperkirakan surat di atas diterima Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 100 H atau 717 M. Di mana penguasa Sriwijaya saat itu adalah Sri Indrawarman. Khalifah Umar bin Abdul-Aziz sendiri kemungkinan besar memberikan hadiah untuk utusan Sriwijaya dan mereka kembali dengan membawa hadiah zanji (budak wanita berkulit hitam). Membaca surat Maharaja Siwijaya tersebut menyatakan bahwa sang raja sangat percaya diri dan penuh rasa keingintahuan mengenai segala perkembangan dunia internasional kala itu.
Di mana salah satunya adalah Agama Islam yang baru muncul pada waktu itu. Karena, para pelaut dan pedagang Sriwijaya (dan Nusantara lainnya) telah menjalin hubungan perniagaan dengan pedagang Timur Tengah, India, dan Cina, dengan Selat Malaka sebagai jalur sutra.
Selain itu, di masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, Daulah Islamiyah juga telah mengirim duta-duta resminya ke berbagai pusat peradaban di seberang lautan seperti Tiongkok dan Sriwijaya, yang dalam pengucapan lidah mereka disebutnya sebagai Zabqj atau Sribuza.
Menurut Prof Dr Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam disebutkan, pada sekitar 717 Masehi, diberitakan ada sebanyak 35 kapal perang dari Dinasti Umayyah hadir di Sriwijaya. Hal ini semakin mempercepat perkembangan Islam di Sriwijaya.
Lalu pada 718 M, Sri Indrawarman akhirnya mengucap dua kalimat syahadat. Sejak itu kerajaannya disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”. Kemudian Sriwijaya membolehkan warganya yang memeluk agama Islam hidup dalam damai dan memiliki perkampungannya sendiri di mana di dalamnya berlaku syariat Islam. Jadi semacam daerah istimewa. Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat Buddha dan Muslim sekaligus.

Sri Indrawarm,an diduga memeluk islam pada tahun 718 M Islamnya Raja Sriwijaya ini tidak disukai oleh Raja Tiongkok Dinasti Tang kala itu, sebab dengan Islamnya Sri Indrawarman, maka dukungan ke dunia arab tentu akan lebih besar dari pada dukungan ke Tiongkok, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi perdagangan lada hitam antara Cina dan Sriwijaya. Maka dengan dimotori dukungan dari Tiongkok, terjadilah revolusi melalui kudeta kepada Sri Indrawarman sehingga Sri Indrawarman terbunuh pada tahun 728 M, keturunan Sri Indrawarman yang selamat melarikan diri ke Minangkabau dan bertahtalah Rudra Vikraman menjadi raja di Sriwijaya menggantikan Sri Indrawarman.

Makam yg diduga milik Sri Indrawarman di Upang Ceria Kab.Banyuasin Sumsel dan di Bukit Kumbang di Kab.Kaur Bengkulu.
Menarik penamaan Sri Indrawarman di Desa Upang. Krn Sri Indrawarman ditulis pada papan namanya dg nama Demang Selebar Daun Mangkubumi Sri Indrawarman. Nama.yg lumayan membikin bingung karena adanya nama Demang dan Mangkubumi.. Selain itu nama Mangkubumi yg kental dg nuasa budaya Mataram dan maknanya yg setara Panglima.
Nama Demang Selebar Daun Mangkubumi Sri Indrawarman, diduga didapat dari papan nama yang dibuat oleh TNI AL pada tahun 1990 an, yang kebetulan pada saat itu memantau pembukaan daerah tersebut saat itu sedangkan penduduk setempat mengenalnya dengan sebutan Buyut Sri.
Lukisan ilustrasi Sri Indrawarman tsb kami peroleh dari Pemelihara Makam di Upang. Wajah tersebut didapat dari “petunjuk” pengalaman spritualnya. blm dipastikan secara akademis. tampak penggunaan pakaian dan tutup kepala seperti blangkon pada gambar ilustrasi tersebut yang aga berbeda dg pakaian masa Sriwijaya yg ditemukan di Candi Borobudur.

(Visited 30 times, 1 visits today)
Sri Indrawarman dan Sriwijaya yang Islam (SRIBUZA)

Tulisan Terkait

  • Tidak Ada Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *