Sekilas Kota Palembang

Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang ditemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Berbicara mengenai asal usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama.

Pada abad ke-17 kota Palembang menjadi ibukota Kesultanan Palembang Darussalam yang diproklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (atau lebih dikenal Kimas Hindi/Kimas Cinde) sebagai sultan pertama (1643-1651), terlepas dari pengaruh kerajaan Mataram (Jawa). Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama.

Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942. Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI. Berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.


Bukit Siguntang

Bukit Siguntang adalah bentang alam paling tinggi di kota Palembang, berupa sebuah bukit kecil mempunyai luas 12,5 hektar dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, yang terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi dan masuk dalam wilayah kota Palembang, Sumatera Selatan. Secara administratif situs ini termasuk kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang. Bukit ini berjarak sekitar 4 kilometer di sebelah barat daya pusat kota Palembang, dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum menuju jurusan Bukit Besar. Selain sebagai situs religius pada masa Sriwijaya, Bukit Siguntang pun masyhur di negeri Melayu, sebagai asal turunnya moyang raja-raja Melayu. Pada masa Kesultanan Palembang, Bukit Siguntang juga dianggap sebagai tempat yang suci dan berkharisma.
Di kompleks Taman Bukit Siguntang ini terdapat makam-makam keturunan raja Palembang, dan kita juga dapat menelusuri sejarah Sumatera, Melayu dan Palembang. Bukit ini sendiri telah dikeramatkan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam. Bahkan sampai sekarang pun, bukit ini masih dikeramatkan dengan diziarahi banyak pengunjung. Beberapa situs bersejarah yang terletak di kompleks Taman Bukit Siguntang ini antara lain, makam Raja Si Gentar Alam, makam Puteri Kembang Dadar, makam Panglima Bagus Kuning, makam Panglima Bagus Karang, makam Puteri Rambut Selako, makam Panglima Raja Batu Api, makam Panglima Tuan Junjungan, dan makam Panglima Jago Lawang.


Benteng Kuto Besak (BKB)

Kuto Besak adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19.

Benteng Kuto Besak (BKB) didirikan pada tahun 1780 oleh Sultan Muhammad Bahauddin (ayah Sultan Mahmud Badaruddin II). Gagasan benteng ini datangnya dari Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) atau dikenal dengan Jayo Wikramo, yang mendirikan Keraton Kuta Lama tahun 1737. Proses pembangunan benteng ini didukung sepenuhnya oleh seluruh rakyat di Sumatera Selatan. Mereka pun menyumbang bahan-bahan bangunan maupun tenaga pelaksananya.
Pada tahun 1797, pembangunan benteng ini selesai, dan mulai ditempati secara resmi oleh Sultan Muhammad Bahauddin pada hari Senin, 23 Sya’ban 1211 Hijriah di pagi hari atau bersamaan dengan 21 Februari 1797 Masehi.
Pada Perang Palembang 1819 yang pertama, benteng ini dicoba oleh peluru-peluru meriam korvet Belanda, tetapi tak satu pun peluru yang dapat menembus, baik dinding maupun pintunya.
Selain keindahan dan kekokohannya, Kuto Besak memang terletak di tempat strategis, yaitu di atas lahan bagaikan terapung di atas air. Dia terletak di atas “pulau”, yaitu kawasan yang dikelilingi oleh Sungai Musi (di bagian muka atau selatan), di bagian barat dibatasi oleh Sungai Sekanak, di bagian timur berbatas Sungai Tengkuruk dan di belakangnya atau bagian utara dibatasi oleh Sungai Kapuran. Kawasan ini disebut Tanah Kraton.


Jembatan Ampera

Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di pusat Kota Palembang yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi, dan bagi para wisatawan merupakan icon kota Palembang. Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada Mei 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Total panjang jembatan mencapai 1.177 meter dan lebar 22 meter. Menariknya, bagian tengah jembatan ini terangkat setinggi 35,40 meter jika ada kapal yang hendak melintas. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Pada tahun 1970 aktivitas naik-turun jembatan dihentikan karena waktu yang dibutuhkan bukan lagi 10 menit seperti sebelumnya tapi 30 menit, sehingga mengganggu arus lalu lintas.


Masjid Agung

Masjid Agung pada mulanya disebut Masjid Sultan. Perletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senen tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan Jayo Wikramo (tahun 1724-1758). Dengan luas mencapai 1080 meter persegi, konon, Masjid Sultan merupakan masjid terbesar di nusantara yang mampu menampung 1200 jema’ah. Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Palembang. Masjid ini berada di utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak yang berdekatan dengan aliran sungai Musi. Secara administratif, berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang.

Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat Kesultanan Palembang Darussalam menjadi pusat kajian Islam yang telah melahirkan sejumlah ulama besar. Syekh Abdus Shamad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah, adalah beberapa ulama yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Agung. Peran para ulama ini sangat besar dalam mengembangkan agama Islam di wilayah Kesultanan Palembang Darussalam.


Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Sumatera Bagian Selatan adalah monumen yang didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Bagian Selatan melawan penjajah, sebagai sarana komunikasi dan pelestarian nilai juang 45, serta mengangkat citra para pejuang pendahulu menentang penjajahan. Monpera yang terletak di Jalan Merdeka Palembang ini mulai dibangun pada 17 Agustus 1975 dan diresmikan tanggal 23 Februari 1988 oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Perwira Negara.

Penetapan lokasi monumen di Jalan Merdeka, atas pertimbangan lokasi tersebut terletak di jantung kota, serta pada awal-awal Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan pusat pergolakan berbagai peristiwa yang secara spontanitas gerakan rakyat, badan-badan perjuangan, sebagai kekuatan inti, bekas gyugun, heiho, serta tokoh-tokoh pemuda lainnya, mengadakan gerakan penguasaan gedung-gedung yang di duduki tentara Jepang dan memasang bendera merah putih. Selain itu, lokasi tempat berdirinya Monpera ini merupakan basis Pertempuran Lima Hari Lima Malam di kota Palembang, disamping Charitas, Plaju dan perairan sungai Musi, dari tanggal 1 Januari s.d. 5 Januari 1947 untuk mengusir Belanda yang akan menjajah kembali.

Monpera terdiri atas 5 lantai yang semuanya merupakan ruang pamer sejumlah koleksi. Koleksi yang terbanyak adalah foto-foto maupun lukisan sketsa perjuangan rakyat Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Juga dilengkapi dengan koleksi-koleksi mata uang kuno, aneka senjata yang dipakai dalam masa perjuangan, dokumen perang dan benda yang berkaitan dengan ‘Pertempuran Lima Hari Lima Malam’ ini.


Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) terletak di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB), di tepi Sungai Musi. Bangunan megah ini berukuran panjang 32 Meter, lebar 22 meter dan tinggi 17 meter, berasitektur Eropa, dibangun oleh Pemerintah kolonial Belanda mulai dari tahun 1823 dan selesai pada tahun 1825. Sebelumnya merupakan lokasi benteng Kuto Lamo yang sering juga disebut dengan Kuto Tengkuruk atau Kuto Batu, dimana di bagian dalamnya berdiri keraton Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo atau Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758).

Pada awal bangunan ini selesai didirikan tahun 1825, dijadikan sebagai komisariat Pemerintah Hindia Belanda untuk Sumatera bagian Selatan sekaligus sebagai kantor Residen. Seiring dengan berjalannya waktu dan dinamika sejarah yang terjadi di Kota Palembang, fungsi bangunan ini telah silih berganti mulai dari markas Jepang pada masa pendudukan, Territorial II Kodam Sriwijaya di awal kemerdekaan, berpindah pengelola ke Pemerintah Kota Palembang sampai pada akhirnya menjadi Museum.

Di dalam Museum ini, pengunjung dapat melihat-lihat peninggalan-peninggalan bersejarah dan adat istiadat kota Palembang yang diwakili sekitar 600 koleksinya. Antara lain prasasti, koleksi uang kuno, senjata, koleksi kain tradisional Palembang, hingga peralatan di masa Kerajaan Sriwijaya.


Sungai Musi

Sungai Musi adalah sebuah sungai yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia dengan panjang sungai sekitar 750 km dan merupakan sungai yang terpanjang di Pulau Sumatera. Sejak masa keemasan Kerajaan Sriwijaya, sungai Musi ini terkenal sebagai sarana utama transportasi kerajaan dan masyarakat. Ini tetap berlanjut pada masa pemerintahan kesultanan Palembang Darussalam. Hingga kini pun sungai Musi masih menjadi alternatif jalur transportasi ke daerah tertentu dan untuk kepentingan tertentu. Beberapa industri yang ada di sepanjang aliran sungai Musi juga memanfaatkan keberadaan sungai Musi ini.

Sumber mata air utama sungai Musi berasal dari daerah Kepahiang, Bengkulu, dan bermuara di 9 (sembilan) anak sungai besar, yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan. Batanghari Sembilan sendiri merupakan ungkapan untuk sembilan sungai besar ini. Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan, yaitu kawasan Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai Musi, bersama dengan sungai lainnya, membentuk sebuah delta di dekat Kota Sungsang. Keberadaan Sungai Musi membelah Kota Palembang masih memberi citra tersendiri bagi warganya.

Di sepanjang perairan sungai Musi dapat kita temui sejumlah pemukiman penduduk dengan rumah rakitnya, pusat industri PT. Pusri, PT. Pertamina dan PT. Semen Baturaja, pulau Kemaro, kompleks pemakaman Bagus Kuning, situs makam raja-raja Kesultanan Palembang Darussalam, Pelabuhan Boom Baru, kampung Arab, Mesjid Lawang Kidul, Mesjid Ki Merogan, Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan masih banyak lagi.


Pulau Kemaro

Pulau Kemaro, merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuah vihara cina Klenteng Hok Tjing Rio atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An (seorang pangeran dari Cina) dan Siti Fatimah (seorang putri raja Palembang) yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.

Di Pulau Kemaro ini juga terdapat kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Setiap Tahun Baru Imlek di sini rutin diadakan ritual Cap Go Meh.


Kampung Kapitan

Kampung Kapitan terletak di Kelurahan 7 ulu, Seberang Ulu I, Palembang. Di Kampung Kapitan terdapat Rumah Kapitan, aslinya berukuran 22 meter x 25 meter sebelum bagian belakangnya diberi bangunan tambahan sehingga memiliki panjang sekitar 50 meter. Bangunan induk yang berisi meja sembahyang dan foto-foto para Kapitan itu masih menampakkan keaslian pada bagian bangunannya. Demikian juga bagian atap yang memakai genting belah buluh (bambu). Rumah ini diperkirakan dibangun sekitar akhir tahun 1600-an.


Pasar 16 Ilir

Pasar 16 ilir adalah pasar tradisional tertua dan sangat populer di kota Palembang maupun  pedalamannya. Kepopulerannya ini sejak dahulu hingga sekarang tidak berkurang malahan bertambah. Sejarah berdirinya Pasar 16 ilir berawal dari kebijakan pemerintah Belanda yang membangun sejumlah fasilitas umum antara tahun 1906-1935, dan di antara fasilitas umum itu adalah pelabuhan 16 Ilir yang menjadi cikal bakal Pasar 16 Ilir.

Pasar ini awalnya merupakan pasar utama di kota Palembang, baik perdagangan hasil bumi, kelontong atau bahan makanan. Letaknya yang berada di pinggir Sungai Musi dan tepat di jantung kota, dengan sendirinya membuat pasar ini berkembang sangat pesat.

Pasar 16 ilir terkenal dengan banyaknya toko-toko emas, pusat penjualan baju-baju bekas yang di import dari luar negeri dan yang terpenting adalah sebagai pusat grosir di Kota Palembang, tidak heran jika harganya jauh lebih murah di banding pasar-pasar yang lain.


Pasar Cinde

Pasar Cinde merupakan salah satu icon pasar tradisional di kota Palembang. Di bagian bawah pasar ini, kita dapat menjumpai pedagang kue jajanan pasar, kemplang dan kerupuk, masakan siap santap, sayur-sayuran, buah-buahan, ayam, segala macam jenis ikan, daging, dan segala macam kebutuhan dapur untuk keseharian. Sedangkan di bagian atasnya kita dapat menjumpai pedagang yang menjual beraneka ragam perlengkapan rumah tangga, pakaian tentara dan pakaian sekolah, perlengkapan jahit, dan perlengkapan pertanian.

Di bagian luar Pasar Cinde akan kita jumpai toko yang menjual besi-besi bekas, jasa terali dan sejenisnya, onderdil otomotif, barang-barang bekas pakai perlengkapan rumah tangga yang mungkin hanya kita jumpai di Pasar Cinde ini. Secara singkat, di kawasan Pasar Cinde dijual segala macam produk dan jasa, baik baru maupun bekas pakai.

Pembangunan Pasar Cinde dimulai pada tahun 1958, sehingga tercatat sebagai pasar yang pertama dibangun di kota Palembang setelah kemerdekaan Indonesia. Bangunan Pasar Cinde ini dirancang dengan struktur utama memakai konstruksi cendawan (paddestoel).