Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Info Hotel di kota Palembang
» Download

Sejarah Ringkas Pangeran Bupati Panembahan Hamim, sangatlah perlu untuk ditampilkan mengingat tidak banyak muncul tokoh-tokoh dari kota Palembang. Perjalanan sejarah kota ini cukuplah panjang, setidaknya tercatat ada dua buah kerajaan besar yaitu Kedatuan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam (KPD). Pangeran Bupati Panembahan Hamim adalah seorang perwira perang yang handal sehingga Sultan tidak ragu-ragu memberikan kepercayaan kepadanya. Hal ini terbukti pada saat pergantian pimpinan, beliau tetap dipercaya untuk memimpin Benteng Martopuro yang merupakan benteng komando.

Dilahirkan di Palembang pada hari Sabtu jam 08.00 WIB, tanggal 25 Januari 1779 M /17 Syawal 1192 H. Wafat pada tahun 1879 dalam usia 100 tahun. Dikuburkan di Pemakaman Tanah Tinggi Talang Semut, 29 Ilir (sekarang dikenal dengan Jalan Joko).

Semasa hidupnya, telah terjadi 5 (lima) kali pergantian sultan di KPD dan wafat pada masa Keresidenan Palembang. Adapun sultan-sultan yang dimaksud adalah Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803), Raden Muhammad Hasan atau Sultan Mahmud Badaruddin II (1803-1821), Raden Muhammad Husin Dhiauddin Pangeran Adipati atau Sultan Ahmad Najamuddin II (1813-1817), Sultan Ahmad Najamuddin III Pangeran Ratu (1819-1821), Sultan Ahmad Najamuddin IV Prabu Anom (1821-1823), Pangeran Kramo Jayo (1823-1825), dan masa Keresidenan Palembang (15 0ktober 1825).

Menulusuri Sejarah Kota Palembang adalah sebuah perjalanan panjang. Setidaknya kita akan terlibat dalam pembahasan dua kerajaan yang pernah ada di wilayah nusantara ini yaitu KEDATUAN SRIWIJAYA dan KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM. Untuk itulah penulis mencoba untuk mendeskripsikan Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) saja, sebagai batasan agar pembahasan tidak terlalu lebar. Terkhusus perjalanan sejarah Pangeran Bupati Panembahan Hamim yang lahir pada masa Sultan Muhammad Bahauddin hingga wafat pada saat Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan oleh Belanda.

Sebagai Kerajaan Maritim, Kesultanan Palembang Darussalam perlu memiliki sistem pertahanan yang khusus. Sistem pertahanan yang dibangun hendaknya dengan pertimbangan yang seksama. Untuk keperluan itu, maka semua jalur lalu lintas sungai harus dikuasai dan disepanjang sungai Musi harus dibuat benteng-benteng pertahanan.

Benteng yang dibangun sepanjang sungai Musi itu dimulai dari Sungsang. Dilanjutkan ke Muara Rawas di sebelah utara. Diteruskan ke sebelah Selatan sampai di hulu sungai Ogan dan sungai Komering. Adapun benteng-benteng tersebut terletak di Muaro Sungsang, Selat Borang, Pulau Anyar, Muaro Plaju, Pulau Kemaro, Martapuro, Kuto Besak, Kuto Lamo, Dusun Bailangu, Ujung Tanjung dan Dusun Muncak Kabau.

Setelah terjadinya Perang Menteng pada tahun 1819 yang berakhir dengan kemenangan di pihak Kesultanan Palembang, membuat Belanda mempunyai perhitungan tersendiri atas Kesultanan Palembang. Hal yang sama dilakukan pula oleh Sultan, sehingga beliau melakukan beberapa kebijakan dalam berbagai bidang. Pada tahun 1819-1821 banyak benteng lama yang diperkuat dan benteng baru didirikan (Safwan,2004:74).

Disamping itu perlu mempersiapkan faktor-faktor pertahanan lainnya. Perahu-perahu yang dipersenjatai juga dipersiapkan oleh Sultan. Tentara (lasykar) terus dipersiapkan. Lasykar umumnya diambil dari orang-orang Miji dan Orang Senan. Sesudah persiapan mencukupi, maka Sultan menyelesaikan masalah lain, antara lain dengan menunjuk orang-orang kepercayaannya untuk menjadi panglima perang di medan perang, antara lain Pangeran Kramadiraja, Pangeran Wirasentika, Pangeran Kramajaya (Menantu Susuhunan Mahmud Badaruddin II), Pangeran Suradilaga, Pangeran Kramadilaga, dan Pangeran Bupati Panembahan Hamim, beliau adalah saudara kandung dari Sultan Mahmud Badaruddin II Pahlawan Nasional dari Palembang (Sumatera Selatan).

Menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak, diantaranya dengan Pangeran Ratu dari Jambi serta beberapa pimpinan etnis yang ada di Palembang, seperti Bugis, Arab dan Cina. Pangeran Ratu dari Jambi sengaja datang ke Palembang untuk memberikan semangat kepada Sultan. Pangeran Ratu juga memberikan bantuan dengan membuat benteng baru. Benteng baru itu terletak di sebelah kiri Benteng Manguntama. Benteng ini dipimpin oleh Pangeran Wirasantika.

Asal-Usul Pangeran Bupati Panembahan Hamim

Pangeran Bupati Panembahan Hamim bin Sultan Muhammad Bahauddin lahir di Palembang pada hari Sabtu jam 08.00 WIB, tanggal 25 Januari 1779 M atau bersamaan dengan 17 Syawal 1192 H. Beliau dilahirkan tiga tahun setelah Ayahnya (Sultan Muhammad bahauddin) menjadi sultan ke-6 di Kesultanan Palembang Darussalam (1776 M). Sejak kecil beliau telah diajari ilmu beladiri dan dididik tentang ajaran agama Islam, sehingga beliau betul-betul memahami dan menghayati hukum-hukum Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari, Beliau tumbuh seperti remaja-remaja lainnya, hingga dewasa, ketika beliau telah cukup umur dan mampu maka beliaua pun menikah. Sebagai seorang suami yang baik dan ayah yang bijaksana. Beliau selalu memperhatikan keluarganya. Pangeran selalu menyediakan waktu khusus untuk keluarga terutama masalah pendidikan agama anak-anaknya terus dibina oleh Pangeran Bupati.

Dalam bidang militer Pangeran bersama saudara-saudaranya yang lainnya diajarkan juga strategi berperang serta pengetahuan militer yang cukup. Beliau dikenal ahli dalam melakukan perang di lautan (sungai) terbuka. Hal ini beliau buktikan ketika ia memegang kendali Benteng Martopuro yang dikenal sebagai Benteng Komando Kesultanan Palembang Darussalam.

Sepanjang hayat hidupnya telah terjadi 5 kali pergantian sultan di Kesultanan Palembang Darussalam, dan wafat pada Pemerintahan Keresidenan Palembang dihapuskan oleh pemerintah Belanda. Adapun sultan-sultan yang dimaksud adalah sebagai berikut: Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803), Sultan Mahmud Badaruddin II atau Raden Muhammad Hasan (1803-1821), Sultan Ahmad Najamuddin II atau Raden Muhammad Husin Dhiauddin Pangeran Adipati (1813-1817), Sultan Ahmad Najamuddin III Pangeran Ratu (1819-1821), Sultan Ahmad Najamuddin IV Prabu Anom (1821-1823).

Kemudian secara juridis dan politis bahwa Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan dan secara administratif dijadikan bagian dari pemerintahan kolonial terhitung sejak 7 Oktober 1823. Pangeran Kramo Jayo (1823-1825), Perdana Menteri pada masa Prabu Anom, tetap diberikan kekuasaan sebagai simbol pemerintahan dan meredakan amarah rakyat yang masih setia dengan Kesultanan. Barulah pada tanggal 15 0ktober 1825 Keresidenan Palembang dijabat oleh Residen pertama asal Belanda.

Berdasarkan catatan silsilah yang ada pada Sultan Mahmud Badaruddin III Prabudiradja (Raden Muhammad Syafe’i Prabu Diradja) bahwa Sultan Muhammad Bahauddin yang menikah dengan Ratu Agung mempunyai anak (keturunan) sebanyak 9 orang, diantaranya adalah Pangeran Bupati Panembahan Hamim.

SULTAN MUHAMMAD BAHAUDDIN + RATU AGUNG :

1. RADEN NAYU PURBA NEGARA BALKIAH.
2. RADEN NANYU MANGKU NEGARA HAMIDAH.
3. RADEN NAYU WIKRAMA HASYIAH.
4. RADEN HASAN PANGERAN RATU / SULTAN SUSUHUNAN RATU MAHMUD BADARUDDIN (SMB II).
5. SULTAN SUSUHUNAN HUSIN DHIAUDDIN (SULTAN MUDO).
6. RADEN NAYU SUTA WIKRAMA BARRIAH.
7. RADEN MUHAMMAD HANAFIAH.
8. PANGERAN BUPATI PANEMBAHAN HAMIM.
9. PANGERAN ADIPATI ABDULRACHMAN.

Namun dari data lain yang penulis dapatkan dari Zuriat Pangeran Bupati Panembahan Hamim (Raden Abdul Qodir Bin Abdul Rachman dan Raden Nawawi Bin R.H. Syahabuddin) bahwa Zuriat Sultan Muhammad Bahauddin adalah sebagai berikut;

SULTAN MUHAMMAD BAHAUDDIN + RATU AGUNG :
1. Raden Ayu Purba Negara Nakiah
Lahir malam isnen jam 3. (8 Syafar 1175 H. atau 25 november 1761 M.)
2. Raden Ayu Mangkunegara Hamidah
Lahir Malam Jumat, Jam 1.25. (3 Rejeb 1177 H atau 26 Maret 1764 M.)
3. Raden Ayu Natawikromo Aisyah.
Lahir Malam Sabtu Jam 10. (28 Muharam 1180 H atau 22 November 1766 M.)
4. Raden Hasan Pangeran Ratu Sultan Mahmud Badaruddin. (SMB II)
Lahir Malam Ahad, Jam 9. (1 Rejeb 1181 H atau 9 Februari 1768 M.)
5. Raden Husin Dhiauddin Suhunan Husin Diauddin. (Sultan Mudo)
Lahir Hari Sabtu Jam 4. (3 Ramadhan 1183 H atau 19 Maret 1770 M.)
6. Raden Ayu Wikromo Bariah.
Lahir Malam Jumat, Jam 3. (27 Muharram 1186 atau 18 Juli 1772 M.)
7. Pangeran Jayakromo.
Lahir Hari & jam serta tanggal & bulan tidak tercatat (1188 H. atau 1774 M.)
8. Pangeran Natawikromo.
Lahir hari & jam serta tanggal & bulan tidak tercatat (1189 H. atau 1775 M.)
9. Raden Muhammad Hanafiah.
Lahir Sabtu Jam 2. (11 Zulqaidah 1990 H atau 10 Maret 1777 M.)
10. Pangeran Bupati Panembahan Hamim.
Lahir Sabtu Jam 8. (17 Syawal 1192 H atau 25 Januari 1779 M.)
11. Pangeran Adipati Abdur Rahman.
Lahir Hari Senin Jam 6. (15 Rabiul Akhir 1195 H atau 27 Juni 1781 M.)
12. Pangeran Penghulu Natagama Fa’ruddin.
Lahir Hari & jam serta tanggal & bulan tidak tercatat (1197 H atau 1783 M.)
13. Raden Ibrahim.
Lahir Jumat Jam 2. tgl & bln tdk tercatat (4 Syafar 1213 H / 15 Oktober 1797 M.)

Peranan Pangeran Bupati Panembahan Hamim

Pada saat pengangkatan Raja di Kesultanan Palembang Darussalam, Pangeran Bupati Panembahan Hamim ikut terlibat dalam pengukuhan Sultan Mahmud Badaruddin II untuk menggantikan ayahnya yang juga sebagai Raja di Kesultanan Palembang Darussalam. Peristiwa ini terjadi 5 jam setelah wafatnya Sultan Muhammad Bahauddin yang meninggal pada pukul 10.00 WIB pada hari Isnen (Senin) 22 Zulhijjah 1218 H (1803 M). Berdasarkan catatan Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja (2006) tercatat beberapa tokoh yang ikut terlibat dalam pengukuhan Sultan Mahmud Badaruddin II :
1. Pangeran Adi Menggalo Husin Diauddin (Sultan Ahmad Najamuddin Husin Diauddin)
2. Pangeran Bupati Panembahan Hamim (Pangeran Adi Kesumo)
3. Pangeran Adipati Abdurrachman (Pangeran Nata Kesumo)
4. Pangeran Nata Derajah (Pangeran Wiro Deratjah)
5. Pangeran Penghulu Abusama (Pangeran Perdana Menteri)
6. Pangeran Dipa (Pangeran surya Kesuma)
7. Panembahan Tua (Pangeran Arya)
8. Para “Priyai, Menteri, dan Kepala Dusun”. (Tidak terdata dengan jelas)

Semasa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II), Pangeran Bupati Panembahan Hamim dipercaya untuk membantu Pangeran Ratu memimpin komando pada Benteng Martopuro. Pangeran Ratu setelah menjadi raja memakai gelar Sultan Ahmad Najamuddin (III), beliau merupakan putra tertua Sultan Mahmud Badaruddin II. Pangeran Kramojayo (Menantu Sultan) diangkat sebagai Panglima Perang kerajaan.

Kemudian Sultan Mahmud Badaruddin II juga mengangkat pimpinan perang lainnya yang ditempatkan pada setiap benteng. Adapun tugas pokok yang diberikan adalah memimpin pertempuran dengan Belanda di daerah pertahanan masing-masing. Hal ini tercatat dalam Kronik Palembang (Cod. Or 2276c tersimpan di Leiden) ditulis dengan huruf Arab-Melayu antara tahun 1720-1825 (Hanafiah, 1989: 93). Dalam Kronik tersebut tercatat bahwa Sultan melakukan berbagai kebijakan yang dipersiapkan untuk menghadapi serangan balasan dari pemerintah Belanda.

Dari bidang pemerintahan, diadakan perombakan-perombakan atas beberapa pimpinan di Kesultanan dan pimpinan pasukan perang. Perombakan pimpinan pasukan yang dimaksud adalah sebagai berikut : Benteng Tambakbaya (Plaju) diserahterimakan dari Pangeran Kramadiraja, karena sakit, kepada Kramajaya (Menantu Susuhunan Mahmud Badaruddin II). Benteng Pulau Kembaro, dialihkan dari Pangeran Suradilaga kepada Pangeran Kramadilaga. Benteng Manguntama (Benteng tambanhan yang terletak ke arah hilir yang terletak di Pulau Kembaro) tetap dipimpin oleh Pangeran Wirasentika. Benteng paling ujung Pulau kembaro, terletak mengapung di sungai Musi, dipimpin oleh Pangeran Ratu dari Jambi. Benteng Martapuro, tetap sebagai benteng komando, tempat Sultan Ahmad Najamuddin III (Pangeran Ratu) dan dibantu oleh Pangeran Bupati Panembahan Hamim (saudara kandung Sultan Mahmud Badarudin II). Letak benteng ini hampir bersebelahan dengan Benteng Tambakbaya. Bila diperkirakan pada saat ini, Benteng Martopuro ini terletak di daerah Bagus Kuning 16 Ulu. Yang dahulunya disebut sebagai daerah Rawa-rawa Sekampung. Dinding benteng ini dibangun dengan model yang sama dengan benteng Tambakbaya. Posisi Benteng Martopuro mengahadap ke sungai Musi, dan sedikitnya dipersenjatai 50 meriam dengan berbagai ukuran. Di Benteng inilah para panglima dan pimpinan perang membahas tentang taktik dan strategi perang yang dipimpin langsung oleh Sultan. Itulah sebabnya Benteng Martopuro dikenal dangan nama lain yaitu “Benteng Komando”.

Dari bidang Pertahanan dan keamanan, Sultan mengadakan persiapan di bidang militer. Benteng-benteng pertahahnan makin diperkuat. Peluru meriam dibuat secara besar-besaran dengan mendatangkan bantuan bahan peledak. Bantuan datang dari kerajaan Lingga di Riau dan Kerajaan Sambas di Kalimantan Barat (Safwan,2004:74). Pertahanan yang terbuat dari rakit dan terapung, terletak di balik pagar/cerucup ditempati dan dipimpin oleh Cik Nauk, kepala suku Bugis dari Lingga. Setiap Benteng dibantu sepenuhnya oleh kepala-kepala masyarakat dari pedalaman bersama rakyatnya. Juga tidak ketinggalan keturunan Arab dan Cina yang menetap di Palembang.

Dari bidang Ekonomi, Sultan berusaha menstabilkan harga pasar terutama harga beras yang pada saat itu dipertahankan untuk tetap murah kecuali harga garam karena garam didatangkan dari pulau Madura (Hanafiah, 1989:93).
Selain itu Sultan juga menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak, diantaranya dengan Pangeran Ratu dari Jambi serta beberapa pimpinan etnis yang ada di Palembang seperti Bugis, Arab, dan Cina. Pangeran Ratu dari Jambi sengaja datang ke Palembang untuk memberikan semangat kepada Sultan. Pangeran Ratu juga memberikan bantuan membuat benteng baru. Benteng baru itu terletak di sebelah kiri Benteng Manguntama. Benteng ini dipimpin oleh Pangeran Wirasantika.

Pangeran Bupati Panembahan Hamim adalah seorang perwira perang yang handal sehingga Sultan tidak ragu-ragu memberikan kepercayaan kepadanya, hal ini terbukti pada saat pergantian pimpinan Pangeran Bupati Panembahan Hamim tetap dipercaya untuk memimpin Benteng Martopuro yang merupakan Benteng komando. Kepercayaan yang diberikan dijalankan sesuai dengan penuh tanggung awab, bahkan ketika Mayjen Markus de kock mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggempur pertahanan Kesultanan Palembang, serangan de kock ini pun belum berhasil.

Untuk dapat menembus pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam akhirnya Mayjen Markus de Kock membuat kesepakatan dengan Sultan yaitu dengan melakukan gencatan senjata pada hari suci agama Islam (hari Jum’at) dan Nasrani (hari Minggu), sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan agama masing-masing pihak. Pada tanggal 22 Juni 1821 yang jatuh pada hari Jum’at, Belanda tidak melakukan serangan karena menghormati umat Islam.

Hal yang sama juga dilakukan juga oleh Sultan Mahmud Badaruddin II tepatnya pada hari minggu 24 Juni 1821, Sultan memerintahkan untuk tidak melakukan persiapan yang penuh untuk melakukan perang pada hari minggu. Rupanya siasat Belanda kali ini mengena, De kock dengan licik tetap memberikan perintah kepada pasukannya untuk melakukan serangan.

Serangan dimulai dengan mengirimkan pasukan pengintai pada pukul 4 dinihari dan bertugas melepaskan cerucuk-cerucuk yang merintangi jalur sungai Musi agar kapal-kapal Belanda dengan muda dapat menembus perairan kesultanan Palembang, selain itu melakukan penyusupan ke benteng-benteng sehingga kekuatan pasukan Kesultanan Palembang menjadi semakin lemah.

Tepat pada pukul 6 pagi, kapal-kapal perang Belanda mulai menembaki semua benteng-benteng pertahanan Kesultanan Palembang sehingga satu per satu dapat ditaklukkan. Sehingga pada pukul 7 pagi, Benteng Pulau Kemaro telah dapat dikuasai dan merebut ke benteng-benteng yang lainnya. Kapal perang Belanda terus maju menuju benteng Martopuro. Pangeran Bupati Panembahan Hamim tetap melakukan perlawanan dengan gigih. Hal ini terbukti Belanda baru berhasil menaklukan Benteng Martopuro pada pukul 13.00 WIB.

Dengan didudukinya Benteng Martopuro, seluruh pertahanan Sultan di perairan Sungai Musi lumpuh. Kapal perang Belanda menuju ke muara Sungai Ogan untuk menghalangi Sultan mundur ke pedalaman. Setelah itu Belanda mulai menyerang keraton Kuto Besak. Serangan ini merupakan serangan terbesar yang pernah dilakukan Belanda terhadap Kesultanan Palembang. (Safwan,2004:78).

Mayjen Markus de Kock memberikan ultimatum terhadap sultan agar segera menyerah. Sultan menyampaikan protes atas serangan Belanda yang melanggar gencatan senjata. Kemudian Sultan mengajukan usul akan menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda asal tetap diberikan izin untuk tetap tinggal di Palembang. Usul Sultan ditolak oleh de kock dan pada tanggal 1 Juli 1821, Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap dan dibawa dengan kapal ke Batavia bersama beberapa kerabat kesultanan. Pada bulan Maret 1822 Sultan diasingkan ke Ternate (Maluku) hingga akhir hayatnya.

Sedangkan Pangeran Bupati Panembahan Hamim tidak dibuang ke Batavia (Betawi) melainkan ditahan dan dikurung di dalam kapal perang selama 7 bulan. Setelah itu barulah Pangeran Bupati Panembahan Hamim dilepaskan dan dapat berkumpul dengan keluarganya di kampung Sekanak. Setelah kondisi Kesultanan Palembang Darussalam cukup kondusif, Pangeran Bupati Panembahan Hamim mencoba untuk meneruskan pemerintahan Kesultanan Palembang yang merupakan gerakan perlawanan terhadap pemerintah Belanda atau gerakan bawah tanah (Penulis), hal ini dapat dilihat dari stempel yang ada pada zuriat Pangeran Bupati Panembahan Hamim yang dibuat pada tahun 1237 H atau tahun 1824 M. Pada stempel ini tertulis Alamat Pangeran Panembahan ibnu Sultan Ratu Mahmud bahauddin balad (kota) Palembang Darussalam Sanah (tahun) 1237.

Pangeran Bupati terus mencoba untuk menyusun kekuatan baru dengan melakukan latihan taktik perang setiap hari Jum’at (setelah Sholat Jum’at). Adapun lokasi yang dijadikan tempat latihan adalah di tanah Pematang Tudin (Pebem). Berdasarkan cerita tutur diperkirakan sekitar 80 orang yang dilatih khusus untuk dipersipakan menjadi pemimpin-pemimpin perang yang baru. Namun Allah berkehendak lain, sebelum latihan ini dapat dirampungkan oleh Pangeran Bupati, beliau telah dipanggail oleh yang maha kuasa dalam usia 100 tahun, dikuburkan di Pemakaman Tanah Tinggi Talang Semut 29 Ilir (sekarang dikenal dengan Jalan Joko).

Keberadaan Komplek Pemakaman Tanah Tinggi sampai saat ini belum ditetapkan oleh pemerintah menjadi situs Benda Cagar Budaya dan keberadan terus berkurang dan rusak oleh kepentingan sekelompok ataupun orang-orang tertentu. Menurut data yang ada pada zuriat bahwa kompleks makam ini mempunyai luas tanah + 40.000 m (4 hektar). Selain makam Pangeran Bupati Panembahan Hamim dan istri, di komplek ini terdapat beberapa makam-makam lain Pangeran Suryo Alim, Pangeran Suryo Nandito, Pangeran Singo Yudo, Pangeran Gede Depati Wangsa atau Pangeran Silo Penawar.

Pada masa yang sama, Pangeran Kramojaya (menantu Sultan Mahmud Badaruddin II) dari zuriat Raden Abubakar Pangeran Ratu Purbayo, juga menjalankan pemerintahan sebagai Pedana Menteri (1823-1825). Ketika Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan oleh pemerintahan Belanda, Pangeran Kramojaya tetap menjadi pejabat dari golongan pribumi dengan jabatan sebagai Regent Rijksbestuurder hingga tahun 1851 dan kemudian jabatan ini pun dihapuskan, setelah Pangeran Kramojaya ditangkap karena mengadakan perlawanan. Beliau diasingkan ke Purbolinggo dalam bulan Agustus 1851 dan wafat pada tanggal 5 Mei 1862 (Amin, 1986: 91).

Di masa awal kekuasaan Belanda di daerah Palembang, telah dijadikan suatu daerah keresidenan yang dipimpin oleh seorang Residen dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh asisten residen dan beberapa pejabat Belanda lainnya. Jabatan yang masih disediakan untuk orang pribumi menurut Husni Rahim (1993) adalah sebagai berikut:
1. Rijksbestuuder (Pangeran Kramo jayo)
2. Ambstenaar bij den residen (Pangeran Tumenggung Astra menggala)
3. Hoofd de politie (Pangeran Tumenggung Kerta Menggala)
4. Asistent der politie (Demang Derpa Cito)
5. Hooge prister (pangeran Penghulu Nata Agama)
6. Hoofd der Arabieren (Pangeran Syarif Ali)
7. Kapiten der Chinezen (Tjoa Kilien)
8. Divisie hoofd van de Ogan (Demang Sur Nindita)
9. Divisie hoofd van de Komering Ilir (Demang Jaya Laksana)
10. Divisie hoofd van de Komering Ulu (Demang Wiro Teruno)
11. Divisie hoofd van de Rawas (Demang Laksana Jaya)
12. Divisie hoofd van de Lematang (Demang Astra Nidata)
13. Divisie hoofd van de Musi Ilir (Demang Raden Abdul Rahman)
14. Divisie hoofd van de Musi Ulu (Demang Kerangga Saca Manggala)
15. Divisie hoofd van de Musi Tengah (Demang Pangeran Kerama Dinata)

Berdasarkan data di atas, tampak bahwa Belanda masih menggunakan pejabat-pejabat pribumi untuk membantu pemerintahan di Keresidenan Palembang. Hal ini dimaksudkan untuk menenangkan rakyat agar tidak menentang pemerintah Belanda. Demikian juga dengan jabatan kepala polisi yang masih diserahkan kepada orang pribumi, tentu dengan maksud untuk memudahkan pengamanan masyarakat bila timbul gejolak dari rakyat. Begitu pula dengan pengangkatan kepala untuk orang Arab (Hoofd de Arabieren) dan Kepala Orang Cina (Kapitein di chinezen). Hal yang sama terhadap Pangeran Penghulu Nata Agama masih tetap dijadikan pejabat tertinggi agama Islam sebagaimana di masa kesultanan, walaupun dengan kadar wewenang yang terbatas.***

***Sumber: Laman facebook Lintas Ogan Komering Ilir

Pangeran Kramajaya
Rumah Pangeran Kramajaya
(Visited 373 times, 1 visits today)
Kerajaan Kesultanan Palembang Darussalam Peninggalan Pangeran Kramajaya di Desa Buluh Cawang, Ogan Komering Ilir

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *