Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Info Hotel di kota Palembang
» Download
_____

“GUGUK” di Palembang

Sebelum nama-nama kampung atau tempat di Pelembang seperti peninggalan sekarang ini ditulis oleh kolonial Belanda dengan nomor-nomor angka, yaitu: 1 ilir, 2 ilir, 3 ilir, 1 ulu, 2 ulu, 3 ulu, dst, di Pelembang sejak jaman kerihin sudah terdapat nama-nama asli wilayah pemukiman atau kampung yang secara global dan spesifik lingkungan tersebut disebut “guguk”.

Kata Guguk berasal dari kosakata Jawi-Kawi (Gugu) yang artinya: diturut, diindahkan. Pada mulanya wilayah pemukiman penduduk Kota Palembang di zaman Kesultanan berpusat kepada Keraton. Sedang pemukiman penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama Guguk (gogok). Setiap Guguk biasanya mempunyai tugas dan fungsinya tersendiri. Paling tidak ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi (kedudukan/jabatan), Usaha, dan Fungsinya. Di setiap wilayah Guguk ini dipimpin oleh pemimpinnya, baik karena kedudukannya dia menjadi golongan bangsawan ataupun karena kebangsawanannyalah ia sebagai pemimpin.

Adapun nama kampung yang dikaitkan dengan ketiga sektor guguk menurut sifatnya itu dapat disebutkan misalnya antara lain:
1.  Sektor Profesi (kedudukan/jabatan):
– Keraton = tempat Keratuan/Raja (istana)
– Keputren = tempat tinggal para puteri di dalam keraton.
– Kebumen = tempat tinggal Mangkubumi (16 ilir)
– Purban = tempat tinggal Pangeran Purbaya (16 ilir).
– Kemartan = tempat tinggal Pangeran Marta Wijaya (23 ilir).
– Kedipan = tempat tinggal Adipati (13 ilir)
– Ketandan = tempat tinggal Tandha/bendahara/pajak (17 ilir).
– Kedemangan= tempat tinggal para Demang (8 ulu).
– Kebalen = tempat tinggal orang-orang Bali.
– Kebangkan = tempat tinggal orang-orang Bangka (9 ilir).
– Depaten = tempat tinggal Pangeran Adipati/Adipatihan (27 ilir).
– Pengulon = tempat tinggal para penghulu dan alim ulama (19 ilir).
– Kampung Anyar= tempat tinggal komunitas Arab di lingkungan Masjid Agung (19 ilir).
– Jero Pager = tempat tinggal Kms. Temenggung Jumpong mertua Jero Pager, mertua SMB I (1 ilir).
– Temenggungan = tempat tinggal para Temenggung (13 ulu).
– Pedatuan = tempat tinggal para Datuk (12 ulu).
– dll.

2.  Sektor Usaha:
* Kepandean = tempat Pandai Besi (18 ilir).
* Sayangan = tempat Pandai/perajin Tembaga (17 ilir).
* Pelengan = tempat perajin membuat minyak.
* Rendang = tempat pembakaran (13 ilir).
* Kuningan = tempat perajin kuningan (15 ilir).
* Pelampitan = tempat membuat lampit (18 ilir).
* Kapuran = tempat mengolah kapur (19 ilir).
* dll.

3.  Sektor Menunjukkan Fungsinya (sungai, dsb):
× Segaran = tempat penyegaran (15 ilir).
× Penedan = tempat yang dipelihara/keindahan.
× Terusan = Saluran/kanal (14 ilir).
× Karang Waru = Kumpulan pohon-pohon.
× Temon = tempat Pertemuan (27 ilir).
× Sungai Tengkuruk = Sungai yang diuruk.
× dll.

Plg, 16/9/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Sumber:
Demang R.M. Hasir (1917)

***rujukan: Laman facebook Ustadz Kemas Andi Syarifuddin

• telah dilihat 8 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Guguk di Palembang

Tulisan Terkait

Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *