Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA) bersama Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin, Sambas, Kalimantan Barat, mengundang kehadiranya pada acara:

Seminar Ulama Melayu Nusantara

dengan tema

“Pengaruh Pemikiran Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran dalam Gerakan Modernisme Dunia Islam”

10 Mei 2017 / 13 Syakban 1438 H
Aula IAIS, Sambas, Kalimantan Barat

PENDAHULUAN

Kawasan Asia Tenggara adalah pusat dari perkembangan peradaban Melayu, sebuah kebudayaan yang lahir dari dinamika kehidupan rumpun bangsa Melayu yang tersebar di berbagai wilayah daratan dan kepulauan sejumlah negara, Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Indonesia. Khazanah kebudayaan Melayu yang tersebar di nusantara tersebut, memiliki ragam dan coraknya, baik yang berhubungan dengan seni, sastra, pemerintahan maupun intelektualnya. Dari sekian bidang tersebut, maka khazanah intelektual Melayu merupakan warisan yang sangat tinggi dan merupakan dasar dalam pengembangan khazanah-khazanah yang lain.

Intelektualitas dunia Melayu telah terbentuk sejak kedatangan orang-orang Melayu di seluruh Nusantara sejak zaman Melayu Tua (proto Melayu) sampai Melayu Muda (deutro Melayu) yang mencapai puncaknya mulai berdirinya kemaharajaan Malaka dan Aceh kemudian melahirkan intelektual Melayu seperti Nuruddin Arraniri, Bukhari Jauhari, Samsuddin Sumatrani dan sebagainya. Tradisi keilmuaan yang berkembang di dunia Melayu didukung oleh jaringan intelektual yang kuat antara Nusantara (Jawi) dan Timur Tengah. Dalam penelitian Azyumardi Azra telah terjalin sejak abad ke-17.

Tradisi keilmuan dunia Melayu melalui jaringan yang telah lama dibangun tersebut, tidak mengalami penurunan, bahkan terus berkembang yakni yang semula hanya berpusat pada dua kota suci dunia Islam (Haramayn) Makkah dan Madinah, dalam awal abad ke-20 telah berkembang pula yaitu ke kota Mesir seiring dengan semangat modernisme yang berkiblat pada madrasah al-Azhar. Perkembangan tersebut menjadi pemicu semakin suburnya beragam corak pemikiran dalam Islam disamping corak-corak yang telah ada. Hubungan antara Mesir dan kepulauan Jawi (nusantara) dalam pembentukan jaringan ulama pada periode ini juga tidak dapat dipungkiri, salah satu tokohnya adalah Muhammad Basiuni Imran yang kemudian bergelar Maharaja Imam ketika kembali ke tanah air.

Kehadiran Basiuni Imran dalam panggung intelektual Islam memberikan dampak yang besar dalam perkembangan dunia Islam secara luas, terutama ketika ia melihat realitas yang terjadi dalam umat Islam terutama di tanah Jawi termasuk di pulau Jawa sedang mengalami kemunduran dalam berbagai aspek jika dibandingkan dengan orang-orang Eropa. Kegelisahannya dalam melihat realitas umat Islam tersebut disuarakan dalam korespondensi dengan guru-gurunya sewaktu berada di Mesir yaitu kepada Shaykh Amir Sakib Arsalan kemudian jawaban terhadap pertanyaannya dijadikan buku yang berjudul Limâzâ ta’ ‘Akhkhara al-muslimûna, wa Lîmazâ Taqaddama Ghayruhum (mengapa kaum muslimin mundur, dan mengapa kaum selain mereka maju) dan populer hingga ke seantero dunia Islam yang pada umumnya tengah menghadapi kolonialisme Barat.

Popularitas Maharaja Imam Muhammad Basiui Imran melalui distribusi buku dan majalah (terutama al-Manâr) yang terbit di Mesir tersebut disamping karya-karya briliannya (diterbitkan di Singapura dan Penang Malaysia) menjadi menarik untuk dikaji dalam berbagai event ilmiah, upaya tersebut sebenarnya telah lama dilakukan, tercatat telah ada seminar yang mengupas pemikiran Basiuni Imran baik yang dilakukan di Indonesia maupun Malaysia. Di Indonesia umpanya telah ada konferensi internasional yang dilaksanakan di Banjarmasin pada bulan Agustus 2016 yang lalu (International Conference On Social and Intellectual Transformation of the Contemporary Banjarese, 09-11 Agustus 2016, Banjarmasin), di Malaysia pernah diadakan Seminar Antarabangsa Islam Di
Nusantara dengan Tema: Sorotan Terhadap “Pertanyaan Bernas” Maharaja Imam Basyuni Imran Al-Sambasi (1885-1953) Perihal Umat Islam Di Nusantara. yang dilaksanakan oleh Dewan Mesyuarat Senat, UKM, Bangi pada 8 April 2007. Sementara kajian secara khusus tentang Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran di Sambas hingga saat ini masih belum terealisasi, padahal kita sendiri berada di Sambas dan merupakan alam/dunia kita.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya untuk menggali, memetakan dan menghadirkan kembali pemikiran Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran dalam ruang lingkup kehidupan sosial agama yang semakin hari semakin memperlihatkan ghirahnya terutama dalam kajian akademik terlebih hadirnya Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas yang mengambil misi sebagai perguruan tinggi terunggul dalam penggalian khazanah Islam Nusantara melalui fakultas Ushuluddin dan Peradaban yang telah beroperasi sejak tahun 2010 yang lalu.

MAKSUD DAN TUJUAN

Seminar ini dimaksudkan sebagai sarana dalam mengkaji khazanah ulama Melayu khususnya yang terdapat di Sambas. Secara rinci tujuan kegiatan ini adalah sebagai berikut:
Melaksanakan visi misi Fakultas Ushuluddin dan Peradaban Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas.
Menggali, memetakan, dan mendefenisikan kembali pemikiran modernisme Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran.
Mendiskusikan pemikiran modernisme Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran dan pengaruhnya dalam dunia Islam.
Memperlihatkan sumbangan intelektual Melayu Sambas dalam khazanah intelektual Melayu secara global.

TEMA, BENTUK KEGIATAN DAN PEMATERI

Seminar Ulama Melayu Nusantara yang diusung oleh Fakultas Ushuluddin dan Peradaban IAIS Sambas dilaksanakan dalam bentuk panelis dengan tema:
“Pengaruh Pemikiran Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran dalam Gerakan Modernisme Dunia Islam”

Dari tema tersebut di atas, setiap pemateri akan menyampaikan papernya berdasarkan disiplin ilmu masing-masing, yaitu sebagai berikut:

Keynote Speaker:

  1. Alkadri, M. Ag (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Peradaban IAIS Sambas, Indonesia)
    “Perhatian Maharaja Imam Muhammad Basiuni Terhadap Bias Ideologis Sektarian dalam Buku The Holy Qur’an Karya Maulvi Muhammad Ali”
  2. Abd Halim bin Muhamed ( Khazanah Fathaniyah, Selangor Darul Ehsan, Malaysia)
    “Peranan Ulama Fatani dan Malaysia di Sambas”

Pembicara:

  1. Norahida Muhamed (Universiti Islam Pahang Sultan Ahmad Shah, Malaysia)
    “Madrasah Dar al-Da’wah Wa al-Irsyad: Satu Tinjauan Terhadap Pentarbiyahan Pendakwah”
  2. Erwin Mahrus, S. Ag., M. Ag. (Dosen IAIN Pontianak, Indonesia)
    “Tarbiatoel Islam: Madrasah Modernis di Sambas”
  3. Serli Mahrus, S. Pd. I., M. Ag. (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIS Sambas)
    “Tafsir Surah Tujuh Karya Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran”
  4. Jaelani, S. Sos. I., M. Hum. (Dosen F. Ushuluddin dan Peradaban IAIS Sambas)
    “Jalur Transmisi Keilmuan Ulama Melayu Sambas”
  5. Sunandar, M. Hum. (Dosen F. Ushuluddin dan Peradaban IAIS Sambas)
    “Peran Sosial Agama Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran di Sambas Tahun 1913-1976”
  6. Lamazi, M. Hum. (Dosen F. Dakwah dan Psikologi IAIS Sambas)
    “Epistemologi Pemikiran Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran”
• telah dilihat 107 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Undangan Seminar Ulama Melayu Nusantara

Tulisan Terkait

Satu gagasan untuk “Undangan Seminar Ulama Melayu Nusantara

  • 7 Mei 2017 pukul 12:44
    Permalink

    Alhamdlah. Semoga lancar dan sukses acaranya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *