» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

KRAMAT KAMPUNG KRUKUT, SITUS KELUARGA BESAR KESULTANAN PALEMBANG DAN HABAIB DI TANAH BETAWI
Benang Merah Sejarah Pitung – Palembang
Iwan Mahmoed Al Fattah

Tidak banyak yang mengetahui kalau di daerah Krukut banyak terdapat makam keluarga besar Kesultanan Palembang yang sampai saat ini masih terjaga. Sekalipun keberadaannya sudah terjepit rumah-rumah dan hampir sulit untuk dideteksi, sampai saat ini ternyata makam-makam tersebut masih terjaga dengan baik.

Saya mengetahui keberadaan makam ini setelah mendapatkan informasi sahabat Fb saya yang juga peduli terhadap pelestarian sejarah Betawi. Awalnya saya sendiri heran ketika diberi tahu kalau di daerah Krukut ada makam kuno yang keramat, karena saya sudah berapa kali keliling daerah ini namun tidak pernah berhasil menemukannya.

Krukut yang saya ketahui banyak dihuni oleh orang-orang Arab. Untuk penjajah, wilayah krukut sering digambarkan sebagai pemukiman yang kumuh dan dipenuhi dengan golongan arab. Pada masa lalu orang arab Krukut sering dituduh sebagai arab-arab yang dekil, pelit, lintah darat dan segudang stigma buruk lainnya, sehingga kalau orang Arab yang ada di betawi dikatakan sebagai “ARAB KRUKUT” biasanya mereka tidak senang. Sepertinya Belanda cukup berhasil untuk membuat stigma orang Arab disini menjadi jelek, padahal waktu itu Krukut banyak dihuni para ulama-ulama Betawi dan ulama dari kalangan Habaib.

Sampai saat ini keberadaan orang Arab Krukut masih cukup eksis di daerah tersebut. Sekalipun Etnis Cina mulai merangsek wilayah ini, wajah-wajah orang Arab ternyata masih cukup banyak.

Di Krukut juga pernah muncul seorang ulama besar dari kalangan Habaib yang bernama Habib Zain Alaydrus yang makamnya berada di Kramat Jati (seberang masjid Al-Hawi). Habib Zain yang terkenal karismatik cukup lama mewarnai kehidupan masyarakat krukut dengan majlisnya yang berada di masjid Al Mubarok. Masjid Al Mubarok sendiri “wajah” keislamannya yang sekarang sudah berubah “jauh” pasca wafatnya Habib Zain.

Dengan kondisi “wajah” keislaman yang “sedikit” berbeda sayapun harus bersikap hati-hati dalam memasuki daerah ini..Bagi saya perbedaan hal seperti ini harus disikapi dengan bijak dan cerdas.

Oleh karena itu selama hampir 1 jam saya sempat melakukan orientasi medan dan juga mencari informan yang cukup bisa memberi saya informasi penting.

Di sebuah mushola yang bernama At-Takwa, saya kemudian berhenti dan melakukan Sholat Zuhur, sebelumnya 5 kali saya kelilingi mushola ini, karena tempat ibadah ini menjadi patokan utama untuk mencari keberadaan makam kuno tersebut. Setelah sholat saya mengamati beberapa orang tua untuk menanyakan makam tersebut. Akhirnya saya pun bertemu dengan orang Betawi asli setempat yang bernama Bapak Haji Abdul Mutholib. Saya bertanya kepada beliau tentang keberadaan makam kramat. Dengan setengah berbisik beliau langsung mengatakan kepada saya, “makamnya ada di belakang mushola ini, ente masuk aje ke gang samping terus ambil kanan…” beliau menambahkan, “udah gak usah nanya lagi sama yang lainnya disini, disini beda, nanti bisa salah faham kalau ente nanya kayak gitu”. Mendengar beliau berbisik seperti itu saya hanya tersenyum maklum.

Menurut Bapak Abdul Mutholib sejak “bergantinya wajah” keislaman di Krukut, semua jadi sedikit berbeda. Keberadaan makam jelas kurang mendapatkan prioritas, oleh karena itu kedatangan saya buat beliau dirasa cukup bagus, apalagi untuk sosialisasi sejarah.

Makam yang saya datangi ini sudah ada sejak tahun 1826 Masehi bersamaan dengan wafatnya seorang Sultan dari Kesultanan Palembang Darussalam yang bernama Sultan/Susuhunan Husin Dhiauddin (adik Sultan Mahmud Badarudin II) 1812 – 1813. Beliau wafat dalam kondisi pengasingan di Betawi dalam usia 56 tahun 9 buah 3 hari. beliau diasingkan ke Betawi oleh penjajah Belanda. Terlepas adanya konflik yang berkepanjangan yang diciptakan Belanda dengan politik adu dombanya, yang jelas keberadaan makam beliau di Betawi semakin menegaskan keberadaan wilayah ini sebagai sebuah daerah yang bersejarah.

Sudah tentu dalam pengasingannya di Betawi beliau banyak membawa kerabat termasuk para ulama-ulama dan permaisurinya. Dalam data yang saya dapati, salah satu makam ulama yang terdapat di makam ini adalah bernama As-Sayid Hasan Alaidrus dan juga istri Sultan. Beliau adalah Imam dan penasehat Sultan.

Keberadaan makam disini menjawab rasa penasaran saya kenapa penulis Al Fatawi bisa mempunyai jaringan yang kuat di Palembang. Saya yakin sekalipun Sultan dan kerabatnya diasingkan, boleh jadi mereka melakukan jaringan perjuangan dengan rakyat Jayakarta termasuk keluarga besar Jayakarta yang ada di wilayah Jakarta Barat dan Timur. Pada masa tahun 1800 san ini tercatat di kitab Wangsa Aria Jipang yang merupakan turunan kitab Al Fatawi adalah sebagai masa terkeras dalam perjuangan mereka. Sehingga sudah tentu mereka akan mencari jaringan perjuangan yang bisa membantu mereka termasuk ketika mereka mereka diburu…

Sayangnya keberadaan makam Sultan di kemudian hari dipindah karena dianggap fihak keluarganya sudah tidak terurus lagi, sehingga pada hari Senin tanggal 16 Juni 1986 makamnya dibongkar dan kemudian dibawa kerangkanya ke Palembang dan dimakamkan kembali di Lemabang Palembang. Sebenarnya secara pribadi saya sangat menyayangkan hal tersebut, namun itu adalah keputusan keluarga besar, tetap harus kita hargai, mungkin mereka mempunyai pemikiran jangka panjang yang baik. Sedangkan makam-makam yang lainnya sampai saat ini masih terawat termasuk makam As-Sayyid Hasan Alaydrus. Sekalipun terjepit mushola dan rumah, tapi keberadaan makam-makam tersebut masih Allah lindungi…

Jakarta sekali lagi membuktikan wilayahnya sebagai sebuah kota sejarah yang bernilai tinggi

***Disadur dari sebuah tulisan Iwan Mahmoed Al Fattah di laman facebook

• telah dilihat 108 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Kramat Kampung Krukut, Situs Keluarga Besar Kesultanan Palembang dan Habaib di Tanah Betawi

Tulisan Terkait

Satu gagasan untuk “Kramat Kampung Krukut, Situs Keluarga Besar Kesultanan Palembang dan Habaib di Tanah Betawi

  • 19 Juli 2017 pukul 06:39
    Permalink

    Masya Allah ini perlu ditelusuri Para Pakar sejarah utk dilindungi Pemda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *