Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Adapun yang bermula-mula menunggu negeri Bangkahulu ialah Ratu Agung namanya. Beliau itu menjadi raja, dan kata setengah cerita bahwa baginda itu bangsa Indonesia, yaitu raja dari tanah Majapahit, kata setengah cerita pula, dewa dari Gunung Bungkuk. Kalau ditilik akan rakyat baginda itu, adalah sebangsa manusia, bernama Rejang Sawah.

Rupa mereka itu tinggi-tinggi dan besar-besar dari manusia lain dan terdapat pada ujung tulang sulbinya ada sedikit berlebih, seperti daging, panjangnya sejari melintang dan besarnya pun sedemikian juga. Mereka itulah yang disebutkan orang juga Rejang berekor. Dan pada masa itu Bangkahulu masih bernama Sungai Serut; kampung istana ratu di mudik kuala sungai Bangkahulu di sebelah kanan mudik, bernama Bangkahulu Tinggi.

Adapun ratu itu mempunyai 7 orang putra:
1. Radin Cili
2. Manuk Mincur
3. Lemang Batu
4. Tajuk Rompong
5. Rindang Papan
6. Anak Dalam Muara Bangkahulu dan
7. Putri Gading Cempaka

Keenam yang bermula putra baginda itu laki-laki belaka, dan putranya yang ketujuh perempuan. Ketujuh putra baginda itu telah besar-besar semuanya. Pada suatu hari baginda itu gering. Tiadalah lama baginda menanggung kesakitan, sebab pada saat yang baik, mangkatlah baginda, beristirahat untuk selama-lamanya. Tatkala baginda akan wafat, beliau beramanat, bahwa Anak Dalam Muara Bangkahulu harus menggantikan kedudukan baginda.

Setelah beliau meninggalkan amanat itu dan menutupkan mata untuk selama-lamanya, maka Putri Gading Cempaka tiadalah tertahan lagi hatinya, lalu meratap berbuai-buai, yang membawakan gempar sangat di dalam istana. Demikian buah ratapnya:

“Ya ayahku ratu junjungan,
Tajuk mahkota lepas di tangan,
Malang sangat anak gerangan,
Seumur hidup mabuk kenangan.

Ayuhai ayahku paduka ratu,
Tempat bergantung anakanda satu,
Sekarang anakanda tujuh piatu,
Tentu bercinta setiap waktu.

Ya ayahku raja bestari,
Anakanda piatu di dalam negeri,
Duduk bercinta setiap hari,
Pilu dan sedih menyerang diri.

Ya ayahku yang amat kucinta,
Tempat bergantung ayah semata,
Sekarang patah sudahlah nyata,
Karam dunia pemandangan beta.

Aduhai ayahku, aduhai gusti,
Meninggalkan anak sampailah hati,
Jadi sesalan tiada berhenti,
Kenang-kenangku sebelum mati.

Nyata anakmu berhati rindu,
Ayah tiada tempat mengadu,
Nasi dimakan rasa empedu,
Air serasa getah mengkudu.”

Riuh tangis di dalam istana tiada terperi, meratapkan kewafatan baginda. Bilal, khatib dan kadi pun datang serta duduk menyembah, seraya berdatang sembah kepada tuan Putri Gading Cempaka, sembahnya:
“Ampun diperbanyak ampun, tuan putri; hari sudah tinggi; ayah tuan harus dimandikan.”

Maka ketujuh anak raja itu undurlah dan Anak Dalam Muara Bangkahulu bertitah:
“Mandikanlah dengan segera, mamanda, agar supaya jenazah ayahanda kita makamkan.”

Mayat baginda pun dimandikanlah dengan segala upacara, sebagaimana adat istiadat raja-raja wafat pada masa itu. Setelah selesai dan cukuplah pula harinya, maka Anak Dalam Muara Bangkahulu dinobatkan oranglah menjadi raja di negeri Bangkahulu, lalu ia memerintahkan negeri dengan adil dan murah hati.

Ketika Anak Dalam Muara Bangkahulu menjadi raja di Sungai Serut, masyhurlah warta ke setiap negeri, ke segala sudut alam ini akan keadilan bainda.
Terdengarlah kepada anak raja di tanah Aceh, bahwa Anak dalam Muara Bangkahulu ada beradik seorang putri, yang bernama Putri Gading Cempaka, gilang gemilang, sangat indahnya, tiada ada bandingnya pada masa itu.
Terbitlah dalam fikiran anak raja Aceh itu hendak pergi meminang Putri Gading Cempaka ke Sungai Serut, akan dijadikan permaisuri kelak. Tatkala fikiran yang demikian timbul di hati senubari anak raja Aceh itu, maka pergilah ia menghadap ayahanda baginda, memohon izin ke bawah cerpu baginda akan berngkat ke Sungai Serut.

Ketika ayahanda baginda melihat akan kedatangan anakanda baginda bersabdalah baginda, titahnya:
“Hai anakku, biji mata ayahanda, apa kabar dan apakah sebabnya, maka anakanda datang dengan berupa susah ini? Adakah dayang salah mengasuh tuan? Dayang dan pengasuh yang manakah yang kurang melayani anakanda?”

Anak raja Aceh berlututlah di hadapan baginda, lalu berdatang sembah;
“Ya ayahanda baginda, tiadalah ada kekurangan suatu apa pada anakanda dan tiadalah seorang juga pengiring anakanda yang salah mengasuh anakanda.”
“Anakanda tuan,” jawab baginda, “Giranglah sangat ayahanda mendengarkan perkataan biji mataku. Terangkanlah, hai anakku, agar ayah mengetahui, apakah hajat anakanda datang ini?”
Sembah putra itu,
“Ya ayahanda tuan, adapun anakanda datang ke hadapan ayahanda, ialah hendak memohon kurnia ayahanda, memberi anakanda izin pergi berlayar ke Sungai Serut akan meminang Putri Gading Cempaka untuk menjadi istri anakanda. Izinkan apalah, ayahanda, anakanda berlayar itu, agar supaya anakanda mengetahui pula adat lembaga negeri lain.”

“Anakanda tuan, ayahanda izinkanlah anakanda mencari akan jodohmu. Tetapi ingat-ingatlah anakanda, jangan sekali-kali anakanda memalukan nama ayahanda dan negerimu. Berjalanlah, hai anakku!”

Maka anakanda baginda pun menitahkan menteri menurunkan perahu yang terkalang dan anak muda-muda secukupnya dan beberapa perahu lain untuk pengiringnya.
Setelah cukup perbekalan semuanya, maka Sultan Aceh menitahkan anakanda berangkat pada esok harinya.

Pada keesokan harinya, tatkala matahari baru memperlihatkan mukanya yang jernih ke bumi ini, maka anak raja Aceh bermohonlah kepada ayahanda dan bundanya akan berangkat. Setelah anak raja Aceh dan sekalian hulubalang dan pengiring anakanda baginda naik ke dalam perahu, lalu sauh dibongkar, layar dibentang dan perahu pun berlayarlah dengan angin turutan menempuh ombak dan gelombang. Dengan segera hilanglah tanah dataran kerajaan Aceh dari pemandangan. Siang dan malam berlayarlah anak raja Aceh itu menuju Sungai Serut.

Berkat pertolongan Allah subhanahu wata’ala sampailah perahu itu dengan tiada kekurangan suatu apa di muara Sungai Serut. Pada masa perahu masuk, air sedang pasang.

Segala reba-reba, empang-empang dan kotor-kotoran yang lain menghulu. Melihat hal yang demikian, orang-orang Aceh tadi mengatakan empang menghulu, lalu dinamakan mereka negeri itu Empang-ka-hulu.

Tatkala perahu itu sampai di kuala, dibongkarlah sauhnya, layarpun diturunkan, lalu meriam dibunyikan. Rakyat negeri Sungai Serut terkejut mendengarkan bunyi meriam itu, lalu pergi ke muara melihat perahu apakah yang datang itu. Anak raja Aceh menitahkan anak buahnya turun ke darat, menyuruh hulubalangnya pergi menghadap Anak Dalam Muara Banghakulu, mempersembahkan, bahwa anak raja Aceh datang, berhajat hendak memperhambakan diri ke bawah daulat baginda, karena beliau mendapat kabar bahwa baginda menyimpan suatu baiduri yang mulia.

Empat orang menteri turunlah ke darat hendak menjalankan titah baginda itu. Mereka itu pun sampailah ke pintu kota Sungai Serut, lalu menerangkan kepada penjaga pintu, bahwa mereka utusan anak raja Aceh minta izin masuk hendak menghadap baginda Anak Dalam Muara Bangkahulu.
Pangawal itupun masuklah menghadap baginda dan keempat menteri itu menunggu disitu. Sesaat mereka menanti datanglah pula pengawal itu menyuruh mereka masuk.
Dari jauh keempat pesuruh itu menjunjung sembah, lalu meniarap di hadapan baginda seraya menyampaikan sembah anak rajanya.

Setelah keenam beradik Anak Dalam Muara Bangkahulu mendengarkan persembahan utusan anak raja Aceh itu, maka titah baginda Anak Dalam Muara Bangkahulu:
“Hai orang suruhan anak raja Aceh, akan persembahan anak rajamu itu telah kami ketahui. Pulanglah tuan-tuan sekalian dan sampaikan salam kami, bahwa permintaan anak rajamu itu tak dapat kami kabulkan.”

Keempat pesuruh itupun pulanglah ke perahunya dengan sangat masygulnya. Tatkala sampai di perahu, lalu mereka masuk menghadap anak rajanya, mempersembahkan salam raja Sungai Serut itu, sembahnya:
“Ampun patik beribu ampun, ya tuanku syah ‘alam, akan titah tuanku itu telah patik keempat persembahkan, tetapi ampun tuanku, kehendak tuanku itu tidak dapat dikabulkan baginda.”

Tepekur anak raja Aceh sejurus mendengarkan persembahan pesuruhnya itu. Putra itu diam dengan tiada bergerak-gerak, mulut seolah-olah terkunci, badan seolah-olah tertanam, menahan amarah. Setelah sejurus anak raja Aceh duduk tepekur itu, maka putra itu pun hendak memperlihatkan gagah beraninya, lalu berkata:
“Hai menteriku, kerahkan hulubalang dan sedadu kita, sebab kita besok pagi hendak melanggar negeri Sungai Serut. Kita akan memperlihatkan kegagahan kita, anak raja Aceh. Besiaplah, hai menteriku!”

Anak raja itu sangat amarahnya mendengarkan perkataan Anak Dalam Muara Bangkahulu itu.
Setelah selesai semuanya untuk berperang, berangkatlah sekaliannya menuju ke pintu negeri. Bendera mulailah berkibaran dan tombak berpancangan seperti lalang di padang. Salah seorang dari hulubalang yang gagah berani dititahkan oleh putra itu pergi mempersembahkan kepada baginda Anak Dalam Muara Bangkahulu, bahwa anak raja Aceh mempersilahkan baginda keluar akan bermain senjata.***tdb/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Disadur dari sebuah buku “Tambo Bangkahoeloe” terbitan Balai Poestaka – 1933

• telah dilihat 182 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Tambo Bangkahulu – Ratu Agung Mangkat dan Buah Ratap Putri Gunung Cempaka

Tulisan Terkait

Tag pada:            

Satu gagasan untuk “Tambo Bangkahulu – Ratu Agung Mangkat dan Buah Ratap Putri Gunung Cempaka

  • 27 Juli 2017 pukul 13:13
    Permalink

    Assalamualaikum, Boleh saya bertanya apa terjadi kepada kehidupan Putra Radin Cili? Dan adik-beradik nya yang lain? Ada cerita mengenai mereka?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *