» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Beliau adalah seorang syekh tarekat Syathariyah Sammaniyah, ulama sufi dan waliyullah Palembang. Nama dan silsilah lengkapnya ialah Kiagus Haji Muhammad Akib bin Kgs.H.Hasanuddin bin Khalifah Jakfar bin Kgs. Muhammad Khalifah Gemuk bin Ki. Bodro Wongso bin Pangeran Fatahillah Gunung Jati dan seterusnya sampai ke Nabi Muhammad Saw. Ia lebih dikenal dengan sebutan Datuk Akib.

Dilahirkan pada tahun 1760 oleh ibunya, Syarifah Habibah binti Sayid Muhammad bin Amir Thoyib Jamalullail, seorang gadis keturunan Arab berasal dari Guguk Kampung Anyar di lingkungan Masjid Agung. Akib merupakan putra sulung dari enam bersaudara. Dasar-dasar pendidikan agamanya didapat dari ayahnya sendiri, Syekh Hasanuddin dan kakeknya. Ayahnya, selain ulama, juga menjabat sebagai Panglima Kesultanan Palembang Darussalam. Oleh sebab itu, setelah wafatnya dikuburkan di Kawah Tekurep komplek pemakaman Sultan Mahmud Badaruddin I. Sedangkan bibinya Nyayu Badariah binti Kgs. Jakfar menjadi mertua SMB I, karena anaknya Nyimas Naimah menikah dengan sultan dan juga dimakamkan di dalam Gubah Kawah Tekurep.

Selanjutnya Akib berguru kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu, seperti Sultan Muhammad Bahauddin, Sayid Sulaiman, Syekh Pahang, dll. Oleh sultan ia dikirim ke tanah suci untuk melanjutkan studinya. Di Haramain ia berguru kepada para ulama terkenal dari berbagai disiplin ilmu, yang paling utama dan berkesan baginya ialah Syekh Abdus Somad al-Palembani, mempelajari tasawuf serta mengambil ijazah Tarekat Syathariyah Sammaniyah. Ia juga ahli dalam ilmu fiqih, hadis, sanad, pengobatan serta hafal al-Qur’an, dan dapat kehormatan menjadi imam di Masjid Nabawi Madinah.

Setelah kembali ke Palembang, bersama keluarganya ia menetap di Guguk Pengulon di lingkungan Masjid Agung, menjadi Imam Besar Masjid Agung Palembang dan khalifah Tarekat Syathariyah Sammaniyah. Di sini pula ia mendirikan majelis ta’lim yang banyak didatangi santri-santri dari berbagai daerah. Untuk memudahkan para santrinya membersihkan diri selama mondok, dibuatlah sebuah kolam berukuran 12×6 meter. Kolam ini dikenal dengan “Kambang Ijo” (Kolam Hijau) dan sayangnya kolam bersejarah ini kini telah ditimbun untuk pembuatan jalan.

Murid-muridnya yang terkenal dan berpengaruh dalam syiar Islam di Sumatera Selatan sangat banyak di antaranya putra-putranya sendiri, Kgs. H. Abdul Malik (khatib imam Masjid Agung) dan Kgs. M. Said. Muridnya yang lain adalah Sayid Hasyir Jamalullail, Syekh Kgs. Abdullah bin Makruf, Datuk Sidiq, Ki.Marogan, Syekh Nawawi Banten, dll.

Datuk Muhammad Akib wafat pada hari Selasa, tanggal 29 Rabiul Akhir 1265H atau 1849M, pemakamannya dikenal dengan sebutan keramat “Gubah Datuk” di 24 ilir dan sering diziarahi penduduk untuk ngalap berkah. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kampung 19-22 ilir (Jl. Datuk M. Akib). Sedangkan lingkungan tempat tinggalnya dikenal dengan Guguk Pengulon berlokasi di belakang Masjid Agung, Kampung 19 ilir, Jalan Guru-guru (kini Jl. Faqih Jalaluddin).

Wallahu a’lam

***Referensi: Blog kunci sriwijaya

• telah dilihat 215 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Kiagus Haji Datuk Muhammad Akib

Tulisan Terkait

  • Tidak Ada Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *