» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Kisah seorang sholihin yang istiqomah membaca shalawat atas Nabi SAW

Di suatu musim haji, ada seorang lelaki yang hanya mengucapkan shalawat kepada Nabi SAW dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika berada di tempat-tempat mustajabah. Hal itu sempat menimbulkan berbagai dugaan dan tanda tanya pada orang-orang di sekitarnya, padahal tampaknya ia bukan orang yang awam dalam hal ilmu agama. Akhirnya ada seseorang yang memberanikan diri bertanya, “Mengapa engkau tidak membaca doa-doa ma’tsur yang diajarkan Nabi SAW pada tempat-tempat tertentu?” 

Lelaki itu minta maaf kalau aktivitasnya membaca shalawat itu mengganggu mereka, kemudian ia menceritakan pengalamannya beberapa tahun yang lalu. Saat itu ia berangkat haji bersama ayahnya, tetapi ketika sampai di Bashrah di suatu malam, ayahnya itu meninggal dunia. Ia sangat sedih karenanya, tetapi yang lebih menyedihkan lagi, wajah ayahnya itu ternyata berubah seperti wajah himar (keledai).

Dengan kesedihan yang begitu mendalam sehingga mempengaruhi keadaan jiwanya, ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya itu ia bermimpi melihat kehadiran Nabi SAW, ia segera memegang tangan beliau dan menceritakan ayahnya yang meninggal dalam keadaan begitu memprihatinkan. Padahal mereka dalam niat dan perjalanan kepada kebaikan, yakni beribadah haji. Nabi SAW bersabda, “Ayahmu itu makan riba, sedang pemakan riba keadaannya memang seperti itu ketika meninggal. Namun demikian ayahmu mempunyai amalan istiqomah membaca shalawat kepadaku seratus kali setiap malamnya. Karena itu, ketika malaikat memberitahukan keadaan ayahmu kepadaku, aku meminta ijin kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada ayahmu dan Allah mengijinkannya…!!”

Setelah itu ia terbangun dari mimpinya, dan ia melihat wajah ayahnya kembali seperti semula, bahkan kali ini tampak sangat cemerlang seperti bulan purnama. Keesokan harinya ia memakamkan jenazah ayahnya, dan terdengar hathif (suara tanpa wujud), “Keselamatan ayahmu karena ia suka dan sering membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW!!”

Lelaki itu menutup ceritanya dengan berkata kepada jamaah haji yang mengitarinya, “Sejak saat itulah aku bersumpah kepada diriku sendiri, tidak akan meninggalkan shalawat kepada Nabi SAW, dalam keadaan bagaimanapun dan dimanapun aku berada!!”

Idealnya, jika kita mempunyai suatu dosa atau kesalahan, hendaknya kita bertaubat sebelum kematian menjemput kita. Hanya saja memang Allah mempunyai ‘wewenang’ untuk mengampuni suatu dosa walau ia belum bertaubat sampai ia meninggal, asal bukan dosa menyekutukan Allah (dosa syirik) atau menjadi murtad/musyrik. Amalan-amalan tertentu yang dilakukan secara ikhlas, walau terkadang tampak remeh dan tidak berarti, bisa jadi ‘memancing’ kasih sayang Allah untuk mengampuni dosa-dosanya, termasuk shalawat Nabi SAW.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, karena shalawatmu kepadaku itu (bisa) menyebabkan pengampunan dosa-dosamu. Dan bermohonlah kepada Allah derajad washilah untukku, karena sesungguhnya derajad washilahku di sisi Tuhan akan menjadi syafaat untukmu!!”

Wallahu a’lam

***Sumber: Disadur dari sebuah tulisan Syeikh Wihdatul Wujud

• telah dilihat 39 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Berkah Istiqomah Membaca Shalawat Nabi SAW

Tulisan Terkait

  • Tidak Ada Tulisan Terkait
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *