» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

MELAYU SEBAGAI AKAR TRADISI NUSANTARA
Strategi Politik Kebudayaan dalam Menciptakan Melayu Palembang Emas 2018
Oleh: Sunandar & Husni Thamrin

Elok budaya karena agama,
elok adat karena kiblat.
Apa tanda budaya Melayu,
kepada Islam ia mengacu.
Apa tanda Melayu berbahasa,
kepada Islam ia berpunca.
Tegak Melayu karena budayanya,
tegak budaya karena agamanya.
Di mana tempat Melayu teguh,
pada sunnah beserta syarah.
Di mana tempat Melayu diam,
pada adat bertiangkan Islam

(Tenas Efendi)

Makalah ini dibacakan oleh Pemerintah Kota Palembang pada acara Seminar Internasional dengan tema “Budaya Melayu sebagai Akar Tradisi Nusantara” yang diselenggarakan oleh Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (Malaya) Palembang bekerjasama dengan Lembaga Kajian Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tanggal 8 Juni 2015 di Kuto Besak Theater Restaurant (KBTR) Palembang. Makalah ini telah disesuaikan tanpa mengurangi substansi isinya.

Sunandar (Dosen Fakultas Adab dan Ushuluddin IAIS Sambas) dan Husni Thamrin (Ketua Yayasan Alam Melayu Sriwijaya Palembang)

bangkit

A. Pendahuluan

Berbicara mengenai Melayu tentu saja akan terlihat di dalamnya Islam. Karena keduanya merupakan bagian yang tak dapat dilepaskan. Ibarat dua sisi mata uang, Melayu tidak akan memiliki makna berarti bahkan tidak bisa disebut Melayu sekiranya Islam jauh atau dijauhkan atau mungkin dihilangkan darinya. Begitu juga dengan Islam (terutama dalam wilayah kepulauan Melayu) tidak akan dapat eksis dan berkembang sekiranya tidak dapat melakukan ‘kompromi’ dengan Melayu. Karena di masa awal kedatangan Islam di wilayah Nusantara ternyata terlebih dahulu memasuki wilayah Melayu di Pulau Sumatra, kemudian berkembang di sepanjang pesisir di kepulauan Nusantara.

Makalah ini mencoba menghadirkan tiga topik utama, yaitu mengenai konsep kehidupan Melayu dalam kacamata budaya dan sejarah, Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu dan tradisi politik Melayu. Penulis berupaya memposisikan Melayu dalam kacamata sejarah, budaya dan politik dengan harapan memberikan sebuah formula di tengah kehidupan yang semakin komplek akhir-akhir ini. Identitas sebagai Melayu menjadi sangat penting dalam percaturan politik dan arah kebijakan pemerintah dalam membangun daerah. Kebijakan politik melalui Undang-undang otonomi daerah memberikan ruang kepada setiap daerah untung mengembangkan potensi daerah sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Daerah-daerah kepulauan Melayu termasuk Palembang sangat penting memanfaatkan momen ini, walau sebetulnya kebijakan politik yang berorientasi pada pengembangan budaya Melayu sudah lama kita lakukan, peningkatan kuantitas dan kualitas pengembangan daerah tentu akan terus kita lakukan ke depan.

28 Oktober 1928 kita peringati sebagai hari Sumpah Pemuda, namun, jika kita telaah ulang, hari tersebut bukan hanya sekedar pernyataan terhadap tiga konsensus bertanah air, berbahasa, dan berbangsa yang satu, akan tetapi merupakan sebuah langkah politik yang sangat berpihak pada kebudayaan Melayu, yaitu dijadikannya Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan yang kemudian disebut sebagai Bahasa Indonesia. Hal ini bukan sekadar kebetulan semata, akan tetapi merupakan suatu bukti bahwa, Melayu dengan peradabannya telah mampu menjawab persoalan zaman, menjadi identitas pemersatu dan menjadi arah kebijakan politik selanjutnya. Capaian tersebut tentu saja disebabkan oleh pengalaman panjang bangsa Melayu, sehingga ia tidak hanya sebagai entitas etnis, bangsa, atau budaya semata, melainkan suatu peradaban yang sangat luhur, sehingga dapat mencerahkan bangsa ini.

B. Kehidupan Orang Melayu

Kehidupan orang Melayu sebagaimana diungkap oleh Valentijn (1712 M) bahwa sebenarnya orang Melayu sangat cerdik, pintar, dan manusia yang sangat sopan di seluruh Asia. Juga sangat baik, lebih pembersih dalam cara hidupnya dan pada umumnya begitu rupawan sehingga tidak ada manusia lain yang bisa dibandingkan dengan mereka.[1] Dalam kontek seperti ini, Valentijn melihat bahwa bangsa Melayu merupakan bangsa yang istimewa jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang pernah ia temui di sepanjang Asia. Tidak hanya karena bentuk fisik yang sempurna, akan tetapi lebih ditekankan pada aspek moral dan kultur Melayu itu sendiri.

Pandangan yang diberikan oleh Valentijn tersebut, tentu saja sangat beralasan, karena bangsa Melayu adalah bangsa yang sangat lentur terhadap akomodasi budaya luar yang lebih tinggi, sehingga Melayu tidak hanya sebagai bagian entitas suku beradasarkan bentuk fisik (warna kulit, raut muka dan sebagainya), akan tetapi memilik makna sebagai bangsa dengan karakter sikap sebagaimana yang disampaikan oleh Valentijn tersebut.[2] Akomodasi terhadap budaya yang lebih tinggi tersebut dikarenakan oleh orang Melayu itu sendiri yang tanpa henti melakukan hubungan dengan bangsa-bangsa yang terdapat di wilayah Nusantara bahkan hingga ke daerah yang sangat jauh terutama daerah India, Arab dan Persia.

Pertemuan mereka dengan bangsa lain, dalam kacamata antropologi akan sangat memungkinkan terjadinya difusi budaya, yaitu penyebaran budaya dari kelompok masyarakat tertentu ke kelompok lainnya. Friedrich Ratzel umpamanya yang melihat item budaya cenderung menyebar, sedangkan seluruh budaya yang komplek (sifat yang menonjol pada budaya yang terkait dalam kelompok) disebarkan melalui migrasi.[3] Teori difusi kebudayaan dimaknai sebagai persebaran kebudayaan yang disebabkan adanya migrasi manusia. Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, akan menularkan budaya tertentu. Hal ini akan semakin tampak dan jelas kalau perpindahan manusia itu secara kelompok dan atau besar-besaran, di kemudian hari akan menimbulkan difusi budaya yang luar biasa. Setiap ada persebaran kebudayaan, di situlah terjadi penggabungan dua kebudayaan atau lebih.

Difusi budaya tersebut tidak harus melulu melalui proses migrasi suatu kelompok masyarakat tertentu ke daerah lain, akan tetapi melalui proses perdagangan yang pernah dilakukan oleh Bangsa Melayu juga merupakan bagian yang patut dipertimbangkan.[4] Sejarah telah mencatat, bahwa bangsa Melayu merupakan bangsa ‘penakluk’ dan orang yang berhasil ‘memerintah’ suku-suku lainnya di Nusantara.[5]  Hal tersebut berlangsung melalui proses yang sangat panjang, yaitu peranan Bangsa Melayu dalam perdagangan internasional dan antar pulau, setidak-tidaknya mulai abad ke-5.[6]

Jika dilihat dinamika Kerajaan Melayu yang terdapat dalam sejarah tersebar di seluruh wilayah pesisir dan maritime based. Dua Kerajaan Melayu yang besar di dalam sejarah, Funan dan Sriwijaya di awal-awal abad Masehi merupakan Kerajaan maritim, bukan Kerajaan yang agraria based atau yang land-based.[7] Dalam dunia Melayu, yang sangat menyolok ialah perkembangan Kota Maritim yang tumbuh menjadi kota-kota raksasa, terutama yang terletak di tepi muara sungai besar.[8] Dengan sifatnya yang maritim based ini telah mengantarkan kerajaan-kerajaan Melayu sebagai kota metropolis di masanya. Kemerosotan yang dialami oleh kerajaan Sriwijaya pada sekitar tahun 1325 membawa pengaruh dalam kemunculan daerah-daerah kecil yang sebelumnya tidak berperan dalam percaturan perdagangan internasional melalui laut. Kemunculan Malaka menjadi pusat perniagaan baru menemukan momentumnya. Awalnya daerah tersebut merupakan sebuah tempat nelayan kecil yang tak berarti. Pada awal abad ke-14 tempat tersebut mulai berarti buat perdagangan, dan dalam waktu yang pendek saja menjadi pelabuhan yang terpenting di pantai Selat malaka.[9]

Kehidupan masyarakat Melayu sangat erat kaitannya dengan pelayaran dan perdagangan, sehingga dari sini sangat dimungkinkan akan terjadinya difusi budaya sebagaimana dimaksud, walau kemudian pada akhirnya akan memberikan nuansa tersendiri bagi kita dalam mengkaji dan mencari akar budaya melayu itu sendiri, karena telah tercampur dan mengalami perkembangan budaya berdasarkan daerah yang pernah mereka datangi. Sisi lain menunjukkan bahwa pertualangan dan pelayaran masyarakat Melayu inilah yang pada akhirnya memperkaya budaya bangsa dan bahkan menjadi jati diri Bangsa Indonesia.

Tidak hanya berhenti disitu saja, Martin  van  Bruinessen  mencatat  dalam  bukunya  bahwa  di  antara semua  bangsa  yang  berada  di  Makkah,  orang  Jawi  (Asia  Tenggara) merupakan  salah  satu  kelompok  terbesar  sejak  tahun  1860,  bahasa  Melayu merupakan  bahasa  kedua  di  Makkah.[10]  Mereka  yang  bermaksud  untuk menuntut  ilmu,  setelah  melaksanakan  ibadah  haji  biasanya  menetap  di Makkah  untuk  beberapa  tahun  lamanya.[11]  Di sinilah  mereka  menjadi transmitter  utama  tradisi  intelektual-keagamaan  tradisi  Islam  dari  pusat-pusat  keilmuan  Islam  di  Timur  Tengah  ke  Nusantara.[12] Yang  pada  akhirnya memberikan pengaruh luar biasa dalam pengembangan dan pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial keagamaan hingga kita  rasakan saat ini, walau pada masa itu wilayah nusantara masih merupakan wilayah yang terkotak-kotak oleh kekuasaan lokal atau kerajaan.[13]

Pencapaian kehiduapan Melayu, tidak hanya lekat dengan Islam saja, melainkan sebuah pencapaian yang sangat komplek, melalui perdagangan yang membentuk dan menyebarkan budaya, hingga menjadi bangsa penakluk daerah-daerah lain. Pencapaian ini tentu saja tidak hanya kita maknai sebagai sebuah peristiwa sejarah yang hanya   untuk dikenang dalam memoir atau seminar-seminar, melainkan kita posisikan sebagai sejarah bangsa yang dapat menginspirasi masyarakat sekarang untuk membangun masa depan bangsa sebagaimana ungkapan Hang Tuah yang terkenal:

Tuah sangki hamba negeri,
Esa hilang dua terbilang,
Patah tumbuh hilang berganti,
Takkan Melayu hilang di bumi.

Penafsiran terhadap peristiwa sejarah merupakan sebuah keharusan, sehingga intisari dari peristiwa sejarah dapat kita resapi dan maknai dalam kehidupan, dapat membangun peradaban yang lebih agung untuk kesejahteraan umat manusia. Dalam sudut pandang agama, sikap mengambil pelajaran terhadap peristiwa sejarah menjadi salah satu bagian penting dalam berkehidupan, dalam sudut pandang Islam, sesungguhnya Allah SWT memberikan sinyal hukum kesejarahan (historical law atau sunnah tarikhiyah) yang berlaku di alam atau dalam masyarakat. Dalam al-Qur’an surah Ali Imran: 137-138:

قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُمۡ سُنَنٞ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ١٣٧  هَٰذَا بَيَانٞ لِّلنَّاسِ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٞ لِّلۡمُتَّقِينَ ١٣٨

Artinya: “sungguh telah berlalu aturan-aturan (hukum-hukum) Allah sebelum kamu. Maka mengembaralah di muka Bumi, dan lihatlah bagaimana akhir orang-orang yang mendustakan. Ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pelajaran bagi orang yang bertaqwa” (Qs, Ali Imran: 137-138).

======

[1]Isjoni, Orang Melayu di Zaman yang Berubah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal. 29.

[2]Dalam hal ini, sebagaimana yang dikutip oleh Sunandar menyebutkan bahwa Melayu jika ditinjau dari sudut pandang bahasa berasal dari kata ‘laju’ yang bermakna cepat, deras, dan tangkas. Makna orang Melayu itu bersifat tangkas dan cerdas, segala tindak tanduk mereka cepat dan deras. Dengan demikian, kecerdasan merupakan bagian penting sebagai ciri/karakter Melayu itu sendiri. Lihat Sunandar, Peran Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran Dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat  Kerajaan Al-Watzikhoebillah Sambas 1913-1976, Tesis, Tidak diterbitkan, (Program Pascasarjana: UIN SunanKalijaga Yogyakarta, 2013), hal. 27-28.

[3]Aland Barnand, History and Teori in Antropology, United Kingdom: Cambridge University Press, 2000, hal. 50.

[4]Dalam masyarakat Melayu Palembang, jika kita inventarisir, maka kita akan menemukan banyak sekali varian budaya yang telah mengalami difusi tersebut, misalnya Wayang Palembang yang berasal dari pulau Jawa, bebaso atau sering disebut bahasa Keraton, bahasa Bari, atau bahasa Kulo Iki, juga dalam bentuk budaya yang lain seperti makanan dan sebagainya.

[5]Lihat Isjoni, Orang Melayu…, hal. 28

[6]Lihat, V.I. Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-9, terj. HersriSetiawan, (Jakarta: INIS, 1998), hal. 2.

[7]Isjoni, Orang Melayu…, hal. 29.

[8] Sartono Kartodirjo (ed), Masyarakat Kuno dan Kelompok-kelompok Sosial, (tk: tp, tt.), hal. 2.

[9] Prajudi Atmosudirdjo, Sejarah Ekonomi Indonesia dari Segi Ekonomi Sampai Akhir Abad XIX, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1957), hal. 41.

[10]Martin van Bruinessen, Kitab Kuning; Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan 1995), hal. 41.

[11] Shaleh Putuhena, Historiografi Haji Indonesia, (Yogyakarta: LKiS, 2007), hal. 343.

[12] Azzumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, cet.4, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 17.

[13]Lihat Sunandar, Peran Maharaja Imam…, hal. 41-42.

 

C. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu

Meminjam sub judul yang digunakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam sambutan pelantikan gelar Profesornya pada tahun 1972 di Universitas Kebangsaan Malaysia, ia dengan gamblang memaparkan bagaimana pencapaian yang telah diraih oleh Bangsa Melayu dalam menggerakkan peradaban umat Islam di wilayah nusantara, terutama Indonesia. Dalam kontek ini, ia melihat perkembangan sejarah Islam ke daerah kepulauan ini memiliki hubungan yang sangat penting dengan perkembangan serta penyebaran bahasa Melayu, sehingga baginya kesimpulan terpentingnya ialah tentang keutamaan daerah-daerah Melayu dalam proses peng-Islaman. Kerajaan-kerajaan Melayu lah, seperti Sumatra yaitu Pasai dan Aceh, dan Semenanjung Tanah Melayu yaitu Malaka, bukan Jawa yang mengambil peranan utama dalam penyebaran agama dan teologi serta filsafat Islam ke seluruh bagian Kepulauan Melayu-Indonesia.[1]

Mungkin sebagian orang, bahkan diantara kita terjebak pada persoalan Islamisasi yang terjadi di tanah air ini bermuara pada betapa pentingnya peran para Da’i yang berasal dari Pulau Jawa, karena mereka mempunyai Wali yang sangat bijaksana yaitu wali songo (sembilan wali) yang begitu bijaksana dan gigih dalam menjalankan peran kewaliannya dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat yang masih diliputi oleh ‘kegelapan’ ajaran nenek moyang mereka. Argumen itu sangat memungkinkan kita untuk berupaya melakukan penelaahan ulang dengan menghadirkan fakta sejarah mengenai betapa pentingnya peranan kerajaan-kerajaan Melayu tersebut. Tidak hanya itu, pengaruh Bangsa Melayu masih tetap kita rasakan dalam membidani semangat nasionalisme melawan kelonialisme bangsa asing di negara kita, Alfian umpanya mengatakan salah satu akar kebudayaan nasional ialah kebudayaan Melayu sesuai dengan fungsi kebudayaan nasional, yaitu sistem gagasan nasional dan perlambang yang memberi identitas kepada warga negara Indonesia serta alat komunikasi dan memperkuat solidaritas.[2]

Suatu kesilapan besar dalam pemikiran sejarah telah terjadi apabila hasil penyelidikan ilmiah Barat, yang cenderung kepada penafsiran berdasarkan keagungan nilai kesenian dalam kehidupan manusia, telah meletakkan serta mengukuhkan kedaulatan kebudayaan dan Peradaban Jawa sebagai tilik permulaan kesejarahan kepulauan Melayu-Indonesia, dan anggapan seperti inilah hingga dewasa ini masih merajalela tanpa gugatan dalam pemikiran sejarah kita.[3] Hal yang perlu diingat dalam konteks sejarah adalah bahwa sejarah selalu melukiskan gambaran zaman/masanya. Demikian juga kedatangan Islam di Kepulauan melayu-Indonesia harus kita lihat sebagai mencirikan zaman baru dalam sejarahnya.[4]

Dengan demikian, maka ciri-ciri dan pengaruh Islam dalam suatu bangsa harus digali tidak hanya berdasarkan sesuatu yang hanya nampak di permukaan saja, akan tetapi kajian yang harus dilakukan adalah lebih komprehensif lagi hingga pada setiap aspek yang tersembunyi, yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Konsepsi mengenai kedalam berfikir ini sesungguhnya telah diajarkan oleh nenek moyang kita Bangsa Melayu seperti “Bahasa menunjukkan Bangsa” yang dapat kita artikan sebagai pemikiran suatu bangsa dapat dilihat dari bahasa yang mereka gunakan. Kedekatan Islam dan Melayu ibarat dua mata uang yang tak dapat dipisahkan, satu bagian tidak akan memiliki arti jika tidak ada bagian yang lain. Seseorang dikatakan sebagai Melayu jika ia beragama Islam. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Islam merupakan pembeda antara Melayu dan non-Melayu. Walaupun dalam  kehidupan sehari-hari mereka mungkin kurang memperhatikan ajaran-ajaran Islam, atau bahkan mengabaikannya, Islam tetap menjadi jati diri mereka.

Kesultanan Palembang Darussalam adalah kerajaan yang sangat religius, kedekatan dengan Islam telah mengantarkan Melayu Palembang menjadi kesultanan yang sangat berpengaruh dalam percaturan politik dan budaya tanah air kemudian, dari daerah ini, terdapat ulama yang menjadi guru bagi para penuntut ilmu agama yang terdapat di Haramayn (Makkah dan Madinah) dan di kepulauan Melayu Nusantara hingga menyebarkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yaitu Syeh Abdul Samad Al-Falimbangi (1704 – 1789 M), hingga dalam perkembangan selanjutnya Palembang menjadi kota yang sangat religius, malah disebut dalam Laporan Tahunan Residen Palembang, masyarakat muslim Palembang dilaporkan bersifat ‘fanatik’ terhadap Islam. Laporan ini menggambarkan kehidupan sosial keagamaan dalam tahun 1880-an dengan ungkapan “untuk 60.000 penduduk kota fanatik yang mengaji Koran (Qur’an) dengan suara keras”.[5]

Pertumbuhan Kota Palembang, dalam masa keemasan tersebut tentu saja tidak dicapai dengan sendirinya, masa-masa kemaharajaan Sriwijaya dalam abad-abad sebelumnya juga mengambil andil yang besar dalam pencapaiannya kemudian, kejayaan Palembang adalah suatu keniscayaan yang telah dipahatkan oleh nenek moyang kita, berlanjut di masa Kesultanan Palembang Darussalam (1550-1823), termasuk kedatangan kelompok Alawiyin di Palembang semakin memparkaya budaya dan ke-Islaman daerah ini. Kejayaan yang pernah diraih pada masa lalu harus menjadi semangat kita untuk membangun daerah ini, barometernya adalah sebagai pusat perdagangan internasional pada satu sisi dan berkembangnya Islam pada sisi lain, yang diikuti oleh harmonisasi antara budaya lokal dan budaya-budaya luar termasuk, Arab, Jawa, Cina dan sebagainya.

Sebuah catatan perjalanan yang dilakukan oleh Misionaris Belanda A. Kortenhorst menggambarkan kondisi kota Palembang dalam awal abad ke-20 sebagai berikut:

Orang sebenarnya cenderung menyamakan sungai Musi dengan pasar terapung. Pasar sebenarnya ada di darat, dan di sana siang hari pada saat tertentu sibuk dan ramai, sehingga orang, bila melupakan bau aneh, dan perubahan lingkungan, akan mengira berada di pusat perdagangan di Eropa. Para pejalan kaki, hampir tidak mungkin melalui massa, terutama pada hari Jum’at, hari suci untuk orang Islam. Kelompok besar haji berjubah panjang dengan warna putih, hijau atau merah dan memakai serban tradisional di kepala dan tasbih di tangan, menuju ke Masjid untuk sembahyang dan menjelang tengah hari mendengarkan khotbah Penghulu. Bagaimana pun, orang Palembang di ibu kota, dan orang Arab yang banyak tinggal di sana, patuh kepada hukum Islam, seperti terbukti oleh Mesjid (Agung), salah satu Masjid yang terindah di Hindia-Belanda, dan jumlah jamaah yang besar, yang dari sana bertolak untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah untuk kemudian kembali sesudah memperoleh gelar haji. Apakah hati orang Kristen tidak dalam keadaan murung, jika dilihatnya jumlah pengikut nabi yang palsu?.[6]

 

Gambaran aktifitas keagaam yang terjadi di kota Palembang dalam awal abad ke-20 tersebut memperlihatkan fungsi Masjid Jami’ sebagai pusat kegiatan keagamaan, sehingga menciutkan hati para misionaris Kristen. Sumber-sumber catatan sejarah sangat banyak tersedia yang berbicara mengenai kondisi kehidupan sosial keagamaan masyarakat Palembang hingga masa kemerdekaan, akan tetapi minat kajian kearah tersebut masaih sangat terbatas. Melalui sumber tersebut, sangat berguna dalam mengungkap dinamika kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya Palembang.

=====

[1]Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, cet. 4, (Bandung: Mizan, 1990), hal. 40.

[2]Suwardi MS,  Dari Melayu ke Indonesia: Peranan Kebudayaan Melayu dalam Memperkokoh Identitas dan Jati Diri Bangsa, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2008), hal.124.

[3]Attas, Islam dalam Sejarah…, hal. 40-41.

[4]Ibid, hal. 38.

[5] Jeroen Peeters, Kaum Tuo – Kaum Mudo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942, terj. Sutan Maimoen, (Jakarta: INIS, 1997), hal. 6.

[6] Kortenhorst, dalm ibid, hal. 7.

melayu

D. Tradisi Politik Orang Melayu

Pada bagian ini, saya akan berangkat dari catatan yang menunjukkan tempat daerah Melayu, dengan maksud memperlihatkan bagaimana tradisi politik orang Melayu kemudian. Var der Worm memberikan komentar terhadap kitab ini, ia mengatakan bahwa “Barang siapa yang berminat dalam bahasa Melayu, hendaklah belajar sebuah kitab yang berjudul Sulâlat al Salâtîn atau penurunan segala raja-raja, bukan saja karena bahasanya, juga karena bahasanya, juga karena isinya yang menceritakan asal-usul keturunan raja-raja Melayu serta nasib kerajaan Melayu hingga kedatangan orang Portugis”.[1] Dalam kitab ini, kita akan menjumpai daerah asal Melayu, dikisahkan bahwa asal usul Melayu berasal dari Bukit Siguntung Mahameru Palembang sebagai berikut:

Alkisah maka tersebutlah perkataan sebuah negeri di tanah Andalas, Palembang namanya; nama rajanya Demang Lebar Daun, asalnya daripada anak cucu Raja Sulan juga. Adapun negeri Palembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Muara Tatang nama sungainya, di hulunya itu ada sebuah sungai, Melayu namanya. Adalah dalam sungai itu ada satu bukit bernama Bukit Si Guntang; di hulunya Gunung Mahamiru, di daratnya ada satu padang bernama Padang Penjaringan.[2]

 

Kisah asal muasal Melayu sebagaimana tertuang dalam Sulalatus Salatin tersebut sesungguhnya telah mencampur adukkan antara fakta dan mitologi. Misalnya disebutkan bahwa kepemimpinan Melayu berasal dari seorang raja besar yang menguasai dunia, yaitu Iskandar Zulkarnain atau Alexander the Great.[3]  Seterusnya disebutkan pula Raja Sulan sebagai penguasa yang memerintah di wilayah Palembang tepatnya di Bukit Siguntung. Cerita ini secara turun temurun dipercayai sebagai dasar pijakan untuk mengetahui asal usul Melayu, bahkan disebutkan pula bahwa ketika bangsa Eropa memuat sumber-sumber asal usul Melayu pada abad ke-17 dan 18 masih tetap menyebutkan bahwa “negeri asal” Melayu adalah Sumatera (pantai timur bagian tengah atau bagian selatan) dan kemudian menyebar ke Tanah Semenanjung. Tiga di antara penulis itu adalah Petrus van der Worm, Valentijn dan W. Marsden.[4]

Jika kita lihat ke belakang, dalam bahasan saya di awal telah memperlihatkan bagaimana peran Melayu dalam panggung sejarah, hingga menjadi suatu kekuatan politik di nusantara, posisi pelabuhan-pelabuhan di kesultanan Melayu Nusantara menjadi sentral dan utama dalam perwujudan kekuatan politik tersebut, mulai dari penyebaran Islam hingga kompleksitas masalah kehidupan sosial yang mengitarinya. Kerajaan-kerajaan Islam yang tumbuh subur pada abad ke-13 tidak hanya sebagai simbol kekuatan politik, akan tetapi satu kekuatan intelektual keagamaan juga muncul pada sisi lainnya.

Kini, budaya politik Melayu berada di persimpangan jalan. Seakan-akan kekuatan intelektual keagamaan yang telah tumbuh dan berkembang dalam diri orang Melayu kembali dipertanyakan. Persoalan ini tentu saja akan ditanggapi dengan beragam dan reaksi yang bermacam-macam. Slogan ‘tak kan Melayu hilang di telan Bumi’ perlu kita dudukkan sebagai persoalan bersama. Tentu saja bukan didasarkan pada sikap skeptis, pesimis dan sebagainya. Kejayaan yang pernah kita raih sebagai bangsa Melayu sangat pantas kita jadikan sebagai dasar pijakan dalam aksi dan reaksi intelektual terhadap persoalan ummat saat ini. Percaturan politik di tanah air, sebagaimana kita saksikan akhir-akhir ini seolah-olah telah kehilangan ruh dan semangat dalam mensejahterakan rakyatnya, pertikaian politik yang diikuti dengan tindak pidana korupsi oleh elit-elit politik di negeri ini menjadi berita harian, sehingga terkesan menjadi hal biasa dan wajar. Padahal, tradisi politik orang Melayu yang telah dipraktekkan oleh para founding father negeri Melayu telah jelas menempatkan kesejahteraan rakyat menjadi prioritas utama, sebagaimana wasiat Bendahara Paduka Raja Melaka dalam kitab Sulâlat al Salâtîn:

Hendaklah kamu semua tuliskan kepada hatimu pada berbuat kebaktian kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah sallâllahû alayhi wasallam; dan janganlah kamu sekalian melupai daripada berbuat kebaktian; karena pada segala hukum, bahwa raja-raja yang adil itu dengan Nabi sallâllahû alayhi wasallam umpama dua buah permata pada sebentuk cincin; lagi pula raja itu umpama ganti Allah di muka bumi, karena ia zillu ‘llah fil’alam. Apabila kamu berbuat kebaktian kepada raja, serasa berbuat kebaktian akan Nabi, apabila berbuat kebaktian akan Nabi Allah, serasa berbuat kebaktian akan Allah Ta’ala…[5]

 

Seorang penguasa sangat dituntut untuk berbuat adil dalam kepemimpinannya, posisinya sangat sakral dalam tradisi politik Melayu, diibaratkan ‘dua permata pada sebentuk cincin’, dekat dengan Nabi Muhammad, sikap kepemimpinan Nabi Muhammad menjadi model yang tidak boleh pudar, keadilan, kesejahteraan, perlindungan terhadap kaum yang lemah dan sebagainya harus benar-benar terlaksana dalam kepemimpinan penguasa. Model kepemimpinan seperti ini, juga kita temui dalam undang-undang kesultanan Melayu di seluruh Nusantara. Penguasa atau Raja dan hamba atau masyarakat harus berjalan pada rel masing-masing, penguasa menjalankan kepemimpinannya sebagai amanah yang dijalankan sesuai dengan ketentuan Allah, begitu pula hamba harus patuh dan taat kepada pemimpin. Ancaman yang diberikan bagi mereka yang ingkar juga dituliskan dalam kitab Sulâlat al Salâtîn sebagai berikut:

“dan tiada akan sentosa kerajaannya; karena raja-raja itu umpama api, segala menteri itu umpama kayu; karena api tiada akan nyala, jikalau tiada kayu; seperti kata Farsi, ar’ayatu juan bakhasta sultan khasad (sic), yakni rakyat itu umpama akar dan raja itu umpama pohon; jikalau tiada akar niscaya pohon tiada akan berdiri. Demikianlah raja itu dengan segala rakyat. Hai anakku, hendaklah engkau turut seperti amanatku ini; supaya engkau beroleh berkat diberi Allah Sbhanahu wa ta’ala”.[6]

 

Demikian pula ‘janji’ politik yang diberikan oleh penguasa, harus ditepati sebagaimana yang tertuang dalam Sulâlat al Salâtîn:

“Jikalau raja Melayu itu mengubahkan perjanjian dengan Hamba Melayu, dibinasakan Allah negerinya dan takhta kerajaannya. Itulah dianugerahkan Allah subhanahu wa taala pada segala raja-raja Melayu, tiada pernah memberi aib kepada segala Hamba Melayu, jikalau sebagaimana sekalipun besar dosanya, tiada diikat dan tiada digantung, difadihatkan dengan kata-kata yang keji hingga sampai pada hukum mati, dibunuhnya. Jikalau ada seorang raja-raja Melayu itu memberi aib seseorang Hamba Melayu, alamat negerinya akan binasa”.[7]

 

Kesetiaan menepati janji dalam politik Melayu menjadi salah satu syarat penting dalam mensejahteraan dan membawa warganya kepada kondisi yang lebih baik. Pesan moral yang tertuang dalam kitab Sulâlat al Salâtîn menjadi penting dalam percaturan politik daerah kita. Kitab Sulâlat al Salâtîn adalah salah satu contoh pedoman yang telah dijalankan dalam perpolitikan kesultanan Melayu tempo dulu, sehingga di daerah kesultanan Melayu kita temukan masyarakatnya yang hidup dalam kesejahteraan hingga kesultanan tersebut memasuki masa keemasan.

=====

[1] Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, (Jakarta: YOI, 2011), hal. 440.

[2] A. Samad Ahmad, Sulatus Salatin, Sejarah Melayu Edisi Pelajar, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 2008), hal. 19.

[3] Suwardi MS, Dari Melayu ke Indonesia, … hal. 17. Lihat juga Ahmad, Sulatus Salatin… hal. 4-9.

[4] Isjoni, Orang Melayu… hal. 20. Lihat juga Luaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan…, hal. 440-442.

[5] Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia tenggara: Sejarah Wacana dan kekuasaan, cet. Ke-3, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 96.

[6] Lihat ibid, hal. 99.

[7] A. Samad Ahmad, Sulalatus…, hal. 26.

 

E. Strategi Politik Kebudayaan Palembang

Dalam gerakan pembangunan yang berlansung pada banyak negara, khususnya dalam negara-negara maju, maka kita akan menemukan suatu pemahaman dan kesepakatan yang mereka lakukan adalah menempatkan kebudayaan sebagai bingkai bagi pembangunan yang mereka laksanakan. Jepang adalah sebuah contoh, khususnya setelah kehancuran ekonomi dan politik pasca perang dunia II. Hingga kini meski Jepang telah berdiri sebagai pilar ekonomi dunia dan menjadi negara tehnologi terdepan, kebudayaan tetap inheren di dalamnya. Bangunan kebudayaan yang telah tertanam dalam jati diri warga dan pemerintah Jepang telah benar-benar menjadikannya sebagai negara yang kuat. Kita bisa menyaksikannya lagi, pasca Tsunami yang memporakporandakan kotanya tahun 2011 lalu, Jepang dengan cepat bangkit dari kondisi terpuruk itu, hal itu terjadi karena memang mereka tidak meninggalkan kebudayaan mereka. Begitu pula dengan negara-negara lain, tidak hanya di Asia semerti Korea Selatan dan Cina, di Eropa misalnya kebudayaan Yunani dengan semangat Hellenisme merupakan sumber utama dalam pembingkai bagi pembangunan yang mereka lakukan. Semangat-semangat kebudayaan itulah pada abad pertengahan yang memicu terjadinya pencerahan, menjadi pelatuk Renaisasnce dan Humanisme, atau Aufklarung di Jerman.

Masyarakat Kota Palembang jika kita lihat dalam lintasan sejarah, sesungguhnya merupakan masyarakat yang kaya akan nilai-nilai budaya, sejak masa kemaharajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, hingga kini. Dalam masa Sriwijaya kita telah menyaksikan daerah ini adalah salah satu pusat peradaban terpenting di Asia, catatan sejarah telah memperlihatkan bahwa Sriwijaya adalah kota pelabuhan dunia Melayu yang ramai dikunjungi oleh para pedagang, bahkan sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan, daerah ini sudah menjadi kota pelabuhan yang banyak dikunjungi oleh pedagang asing, seperti I-Ching seorang Biksu pengembara China dalam abad ke-7 telah singgah di wilayah sumatra yang dikenal dengan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Dalam kunjungannya ke Sriwijaya, ia mencatat tentang adanya seribu orang biarawan Budha di Sriwijaya, dan menasihati para musafir sebangsanya yang hendak belajar di India agar singgah dan belajar kepada para guru yang terdapat di Sriwijaya.[1]

Dalam Misi Pemkot Palembang 2014-2019 dalam poin ke 6 sudah jelas bahwa Pemerintah Kota bertekad Melanjutkan pembangunan Kota Palembang sebagai Kota metropolitan bertaraf internasional, Ber-adat dan Sejahtera. Kita bertekad melanjutkan misi ini hingga Palembang benar-benar menjadi kota Melayu yang berperadaban tinggi dengan nilai-nilai kemelayuannya. Peraturan Daerah (Perda) yang mengarah pada penggalian nilai-nilai budaya kita sudah ditetapkan sejak tahun 2009 yang lalu, yaitu Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat istiadat serta Pembentukan Lembaga Adat. Perda ini harus kita apresiasi dan kita laksanakan untuk terus menggali nilai-nilai budaya Melayu yang terdapat di daeah Palembang.

=====

[1] V.I. Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19, terj. Hersri Setiawan, (Jakarta: INIS: 1998), hal. 31.

Bukit Siguntang

F. Simpulan

Kebudayaan Islam itu tercakup pula dalam tradisi dan pengalaman sejarah kaum muslimin. Jika seorang muslim membuang tradisi dan pengalaman sejarahnya serta hanya menyimpannya di bawah sadarnya, maka kesempatan untuk membangun suatu masyarakat yang kukuh di masa kini dan mendatang akan menjadi sia-sia. Konsep hidup masyarakat Melayu berakar pada nilai-nilai agama Islam yang di dasarkan pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi, begitu juga dengan adat, dimana ia harus berasaskan Islam.

Langkah awal yang dapat kita lakukan dalam mewujudkan Palembang Emas 2019 tidak lain adalah dengan mengembalikan kejayaan Melayu yang memiliki moral dan semangat dalam menjalankan syariat Islam dalam kehidupan kita. Langkah kedua, adalah dengan mempersiapkan Sumber Daya Manusianya, dan yang kemudian adalah dengan melestarikan warisan nenek moyang kita dalam membangun bangsa Melayu.

=====

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, A. Samad Sulatus Salatin, Sejarah Melayu Edisi Pelajar, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 2008.

al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, cet. 4, Bandung: Mizan, 1990.

Atmosudirdjo, Prajudi, Sejarah Ekonomi Indonesia dari Segi Ekonomi Sampai Akhir Abad XIX, Jakarta: Pradnya Paramita, 1957.

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, cet.4, Bandung: Mizan, 1998.

Azra, Azyumardi, Renaisans Islam Asia tenggara: Sejarah Wacana dan kekuasaan, cet. Ke-3, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006.

Barnand, Aland Historyand Teori in Antropology, United Kingdom: Cambridge University Press, 2000.

Braginsky, V.I. Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-9, terj. Hersri Setiawan, Jakarta: INIS, 1998.

Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning; Pesantren dan Tarekat,Bandung: Mizan 1995.

Fang, Liaw Yock Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Jakarta: YOI, 2011.

Isjoni, Orang Melayu di Zaman yang Berubah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Kartodirjo, Sartono, (ed), Masyarakat Kuno dan Kelompok-kelompok Sosial, tk: tp, tt.

Peeters, Jeroen, Kaum Tuo – Kaum Mudo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942, terj. Sutan Maimoen, Jakarta: INIS, 1997.

Putuhena, Shaleh, Historiografi Haji Indonesia, Yogyakarta: LKiS, 2007.

Sunandar, Peran Maharaja Imam Muhammad BasiuniImran Dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat Kerajaan Al-Watzikhoebillah Sambas 1913-1976, Tesis, Tidak diterbitkan, Program Pascasarjana: UIN SunanKalijaga Yogyakarta, 2013.

Suwardi MS,  Dari Melayu ke Indonesia: Peranan Kebudayaan Melayu dalam Memperkokoh Identitas dan Jati Diri Bangsa, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2008.

Wallahu a’lam

malayafront

» Download Makalah dalam format PDF (263 kb)

• telah dilihat 569 kali • total 4 kunjungan untuk hari ini •
Strategi Politik Kebudayaan dalam Menciptakan Melayu Palembang Emas 2018

Tulisan Terkait

Tag pada:                    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *