» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Pelestarian Lingkungan Hidup dan Penggunaan Energi Hijau
Oleh: HUSNI TAMRIN

“Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam
pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan
dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk
kebaikan semua mahluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi
mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan.
Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan,
semoga mereka menemukan makanan serta air minum.
Semoga semua kebun yang mereka buka
menjadi berlebih (panennya)”

(Prasasti Talang Tuwo; 23 Maret 684 M)

Makalah ini disiapkan pada Seminar Peringatan Hari Bumi “Energy for Life, Environment to Live, Earth Day is Everyday” tanggal 23 Februari 2016. Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Konsentrasi Islam Melayu Nusantara UIN Raden Fatah Palembang, sedang melakukan penelitian untuk disertasi dengan topik Melayu dan Cina di Palembang.

headersiguntang

A. Pendahuluan

Dunia Melayu merupakan wilayah kajian yang sangat luas, tidak hanya karena jumlahnya yang besar, tersebar hampir di seluruh asia tenggara atau di sepanjang Kepulauan Melayu. Akan tetapi melayu merupakan sebuah entitas yang memiliki banyak sisi untuk dipelajari. Kehidupan melayu menjadi salah satu bagian yang banyak diperbincangkan hingga hari ini, mulai dari falsafah hidup hingga aspek historis peradabannya, orientasi daerah melayu dalam perjalanan sejarah tersebar di seluruh wilayah pesisir, sehingga lebih dikenal dengan maritime based.[1] Dua Kerajaan Melayu yang besar di dalam sejarah, Funan dan Sriwijaya di awal-awal abad Masehi merupakan Kerajaan maritim, bukan Kerajaan yang agraria based atau yang land-based.[2] Kerajaan melayu kemudian menjadi Kota Maritim yang memainkan peranan penting dalam perdagangan internasional.

Asumsi Melayu sebagai negara maritime based bukan tanpa alasan, fakta sejarah telah memperlihatkan capaian kerajaan-kerajaan melayu dalam dunia perdagangan, jalur sutera perdagangan internasional yang telah terbentuk berabad yang lalu memposisikan kepulauan melayu sebagai titik nadi pemasok rempah-rempah kepenjuru dunia. Pencapaian tersebut menjadi ingatan kolektif kita dalam melihat posisi melayu, sehingga ketika berbica tentang sejarah dan peradaban melayu masa perdagangan, maka akan terlihat kesibukan di pelabuhan-pelabuhan sepanjang pulau Sumatra, Malaka, Singapura dan sebagainya. Hal ini seolah-olah memperlihatkan bahwa posisi peradaban melayu hanya berada pada daerah pesisir dan pelayaran. Lalu bagaimana dengan aktifitas lain, ketika orang-orang melayu menjalankan kehidupan mereka dengan alam, bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan? Apakah orang-orang melayu mengabaikan keserasian dan pelestarian alam? Tulisan ini akan berupaya melakukan penenaahan terhadap persoalan tersebut, yaitu hubungan orang-orang melayu dalam memanfaatkan alam sekitar. Pembahasannya tentu saja dengan memanfaatkan data sejarah untuk dianalisis, sehingga menjadi acuan dalam melihat realitas kehidupan melayu pada masa lalu guna kemacuan masa yang akan datang.

=====

[1] Sunandar, ‘Hegemoni Penambang Emas di Menterado Tahun 1770-1854’ dalam Jurnal Ilmiah Falsafah: Jurnal Kajian Filsafat, Theologi dan Humaniora Vol. II Tahun 2016 p. 35-39. (Sambas: Fakultas Adab dan Ushuluddin IAIS Sambas, 2016), hal. 36.

[2] Isjoni, Orang Melayu di Zaman yang Berubah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal. 29

 

B. Konsep Alam dalam Kehidupan Melayu

Alam, dalam kehidupan melayu sering digambarkan sebagai bagian yang sangat eksotik, tercermin dalam beberapa karya sastra. Gambaran alam dalam dunia Melayu sangat banyak kita temukan, hal ini memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan alam merupakan bagian yang terpisahkan, hal ini dapat dilihat dalam kehidupan tradisional masyarakat melayu pra-Islam, alam menjadi ‘agama’ bagi mereka. Masyarakat animisme-dinamisme, dan pagan adalah kelompok masyarakat tradisional yang memanfaatkan alam sebagai pusat kekuatan magis dalam keyakinan mereka.

Ketika Islam datang, konsep alam tetap menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan Melayu, salah satu faktor yang menjadikan pemikiran tentang alam tidak hilang dalam ingatan kolektif masyarakat melayu adalah karena Islam banyak berbicara tentang penciptaan alam, pentingnya melestarikan alam, dan gambaran surga juga berhubungan dengan alam yang memiliki sungai-sungai. Salah satu contoh  ayat yang berbicara mengenai penciptaan alam dapat kita temukan dalam QS al-Baqarah: 164.

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلۡفُلۡكِ ٱلَّتِي تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٖ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖ وَتَصۡرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ١٦٤

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS.2: 164)

Penciptaan alam yang diterangkan dalam al-Qur’an menjadi sumber inspirasi bagi para penulis Melayu untuk menggambarkan kehidupan. Salah satu contoh dapat kita temukan dalam syair perahu, perpaduan simbolisme kapal yang bercorak sufi dengan simbolisme ritual dan mitologisnya yang arkaik dapat dilihat dengan sangat jelas.[1] Dalam syair tersebut, penulis menggambarkan pelayaran ‘perahu orang mati’. Berikut beberapa bait syair tersebut.

“… Yogya kamu ketahui asalnya perahu itu,
Asalnya kayu…,
Kayu itulah terlalu tinggi,
Sungguhpun besar asalnya biji,
Buahnya lengkap tiada tersembunyi,
Sungguhnya lengkap tiada terdinding.
Perahumu itu namanya bentara,
Asalnya tumbuh dipadang belantara.”[2]

Kedekatan karya sastra Melayu dengan alam tergambar dalam bait-bait yang mereka buat, tamsil burung, laut, bunga, gunung, sungai dan sebagainya. Dalam hikayat Indraputra, tamsil penggunaan alam juga terlihat.

“Syahdan di atas bunga itu ada seekor paksi terlalu indah-indah rupanya itu, dan di bawah pohon kayu itu adalah seekor burung terlalu elok rupanya dan terlalu indah bunyinya dan ada lagi seekor paksi itu berserdam di atas hamparan terlalu ajaib sekali rupanya. Maka ia pun hinggap kepada bejana dan terperciklah narwastu itu kepada tubuh Indraputra terlalu harum baunya. Maka Indraputra pun heran melihat yang indah-indah itu. Syahdan maka Indraputra memandang, kemudian tidurlah ia dengan berahinya mendengar bunyi-bunyian itu.”[3]

Alegori sufi tercermin dalam karya-karya melayu tidak hanya dalam bentuk syair, puisi, hikayat atau pun karya sastra lain, seni hias dan seni pahat juga dapat kita jumpai. Ukiran kayu dengan simbol alam merukan karya yang banyak kita jumpai, bentuk bunga yang merupakan lukisan alam menjadi pilihan yang ditampilkan oleh pemahat dalam membuat karya mereka. Begitu pula dalam kerajinan tenun, ketika emas menjadi sangat populer pada abad perdangan (15-17) telah ditempa menjadi benang yang disulam pada kain tenun, motif yang menggambarkan alam juga kita temukan yaitu ‘pucuk rebung’ yang dikenal di dunia Melayu baik di Sumatra, Borneo maupun di Semenanjung.

=====

[1] V.I. Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19, terj. Hersri Setiawan, (Jakarta: INIS, 1998), hal. 498.

[2] Ibid, hal. 498-499.

[3] Abdul Hadi WM, ‘Karya Melayu Bercorak Tasawuf dan Klasifikasinya’ dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 6. No. 2, 2008, p.179-206, (Jakarta, Puslitbang Lektur Keagamaan, 2008), hal. 198.

 

C. Eksploitasi Alam Masa Awal

Pesatnya perkembangan kota dan pelabuhan di beberapa daerah pada abad perdagangan sebagaimana dicatat oleh Anthony Reid telah mendorong berlakunya keahlian produksi bagi hampir semua jenis barang keramik serta logam.[1] Kebutuhan terhadap pasar internasional menjadi salah satu faktor dalam pertumbuhan kota. Jaringan perdagangan internasional dengan kebutuhan yang bermacam-macam menjadi permulaan dalam mengekspoitasi alam.

Asia tenggara, merupakan daerah yang kaya dengan bahan tambangnya terutama emas. Kekayaan Asia Tenggara akan emas serta posisinya yang strategis sebagai pelabuhan perdagangan internasional memungkinkan terjadinya jaringan ekspor emas keluar, yaitu dari Sumatra dan Malaya untuk membeli pakaian India sebagaimana yang dicatat oleh Bealieu (1666), dari Filipina ke Meksiko yang dipersembahkan sebagai ‘upeti’ yang ditarik oleh para penakluk dari Spanyol.[2] Komoditas emas sangat penting dalam tatanan masyarakat Melayu di Asia Tenggara, dipandang sebagai penentu status sosial, dijadikan sebagai perhiasan dan investasi.

Hingga awal abad ke-17 tambang-tambang di daerah Minangkabau, Sumatra bagian tengah, merupakan daerah yang paling kaya akan emas di seluruh kawasan itu pada masa kerajaan Sriwijaya. Aktifitas pertambangan dilakukan di sungai-sungai dan bukit-bukit Minangkabau. Dikabarkan bahwa pernah terdapat 1.200 tambang emas di sana. Dalam perjalan sejarahnya, emas Minangkabau dibawa ke Aceh, sehingga memberikan kekayaan luarbiasa kepada rajanya. Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang terkenal pernah memiliki seratus bahar emar.[3] Aktifitas pertambangan tidak hanya terfokus pada penggalian emas, penambangan Besi juga pernah dilakukan di daerah Minangkabau. Marsden sebagaimana yang dikutip oleh Reid[4] meyakini bahwa penambangan besi telah dilakukan selama berabad-abad di sana, besi diolah sebagai persenjataan untuk digunakan sendiri.

Bahan tambang yang populer pada kurun niaga di asia tenggara masih berpusat pada emas, logam, tembaga, timah, dan timah putih, beberapa daerah juga telah mengekspor keramik yang berasal dari tanah liat. Perdagangan bahan tambang tersebut sangat menjajnjikan kekayaan, sehingga para penguasa setempat berusaha untuk menambang di daerah mereka, gelombang migrasi tidak dapat dihindari sebagaimana yang terjadi di Borneo Barat (Kalimantan Barat) yang dilakukan oleh para buruh tambang Cina, sehingga mereka mendirikan perkampungan. Dalam laporan yang pernah dibuat sejak tahun 1770 hingga 1829 menunjukkan peningkatan jumlah yang luar biasa. Dalam tahun 1770, sebelumnya hanya berjumlah puluhan orang dalam dua wilayah (Sambas dan Mempawah) meningkat menjadi 10.000 orang. Dalam tahun 1810 menjadi 32.000 orang, dan tahun 1827-1829 bertambah menjadi sekitar 40.000 hingga 50.000 orang.[5] Begitu pula yang terjadi di daerah lain, Malaka sebelum jatuh ke tangan Portugis di tahun 1511, banyak didiami orang Jawa yang menjadi budak atau tanggungan para pedagang besar Jawa.[6]

Aktifitas pertambangan yang dilakukan oleh tenaga kerja baik yang didatangkan dari luar maupun penduduk lokal dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar atau kebutuhan penguasa setempat memberikan keluasan kepada para pekerja untuk membuka lahan dan melakukan eksploitasi. Di masa itu tentu saja tidak bisa kita lihat dalam kacamata sekarang dengan analisis yang luar biasa, AMDAL dan pengeluaran izin produksi menjadi persyaratan yang harus dimiliki. Dalam historiografi, memang sangat sulit kita menemukan catatan sejarawan yang mengisahkan kerusakan alam akibat ekspoitasi yang mereka lakukan.

=====

[1] Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Alih bahasa, Mochtar Pabotinggi, (Jakarta: Obor, 2011), hal. 114.

[2] Lihat ibid, hal. 112.

[3] Ibid, hal. 110.

[4] Ibid, hal. 123.

[5] Harlem Siahan, ‘Konflik dan Perlawanan: Kongsi Cina di Kalimantan Barat, 1770-1854’, dalam Prisma, No. 12 Tahun XXIII Desember 1994, 41-56, hal. 45.

[6] Reid, Asia Tenggara, hal. 116.

 

D. Kearifan Lokal dan Pemanfaatan Energi Alternatif

Eksploitasi alam secara global yang terjadi saat ini sungguh sangat mengkhawatirkan, sehingga potensi terjadinya kerusakan besar terjadi. Alam sebagaimana telah disebutkan di atas, menjadi inspirasi dalam pembentukan jati diri bahkan weltalscaung melayu. Jika terus berlanjut, akibat kerusakan alam akan terus kita rasakan hingga ke generasi berikutnya. Terjadinya banjir, longsong, kebakaran hutan dan bencana alam lain sangat dimungkinkan oleh keseimbangan alam yang telah terusik.

Jika kita perhatikan kembali apa yang ditulis dalam prasasti Talang Tuo disebutkan beberapa jenis pohon yang sangat akrab dengan kita, salah satu diantaranya adalah Aren. Pohon aren dikenal sebagai pohon yang hanya menghasilkan sapu ijuk dan gula nira. Pohon aren telah dibudidaayakan di daerah Sulawesi yaitu di Batang Toru dan Tomohon. Pohon aren sebagaimana yang telah diteliti oleh Dr. Ir. Willie Smith, ketua yayasan Masarang mengatakan, aren bisa diolah menjadi bioethanol yang dapat menggantikan impor BBM.

“Pohon aren disadap akan menghasilkan nira. Nira inilah yang diolah menjadi bioetanol. Sebagai gambaran, tanaman aren seluas 4 juta hektare, kalau diolah bisa menghasilkan 328 juta barel bioethanol per tahun. Jumlah ini setara 800 ribu barel per hari (BPH)”[1] penggunaan bahan bakar di Indonesia rata-rata per harinya sekitar 600-700 ribu bph, jika Bio Ethanol diproduksi, maka dapat mengcover impor BBM. Penggunaan energi yang berasal dari Bahan Bakar Nabati menjadi jalan keluar bagi Indonesia yang selalu mengimpor BBM.

Aren di Sumatera Selatan selama ini masih tertumpu pada pengolahan gula, berdasarkan data statistik BPS Sumatera Selatan produksi Aren dengan lahan 1.094 Ha. sebagai berikut:

No Tahun Hasil (ton)
1 2013 303
2 2012 254
3 2011 251
4 2010 310

Sebaran daerah pengolah Aren dapat dilihat pada peta berikut:

No Nama Daerah Luas Lahan
1 Kabupaten Muaraenim Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 125
2 Kabupaten Musirawas Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 268
3 Kabupaten Ogan Ilir Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 26
4 Kabupaten Ogan Komering Ilir Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 134
5 Kabupaten Ogan Komering Ulu Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 10
6 Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 470
7 Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 11
8 Kota Lubuklinggau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 51

 

Manfaat Aren menurut Willie Smith sangat banyak, bisa menghasilkan bensin dan solar, ini sekaligus bisa menjawab krisis energi bangsa ini. Pohon aren menghasilkan gula yang kemudian dikonversi menjadi bio etanol. Selain itu pohon aren juga menghasilkan sagu, kolang-kaling, umbut, madu (dari bunganya) atau ijuk (sudah digunakan untuk jok-jok mobil mewah di Eropa). Kayunya juga bisa dimanfaatkan dan sangat kuat.  Yayasan Masarang juga mengklaim bahwa berdasarkan penelitian, gula aren juga dinyatakan lebih sehat dibandingkan gula putih dari tebu, sudah dikenal sebagai gula diabetes, bisa juga sebagai ingridien obat asma.  Fungsi lainnya, dengan menanam pohon aren bisa juga untuk mencegah tanah longsor dan erosi. Akar pohon aren sangat kuat hingga 8 meter dan mampu mengikat tanah. Itu beberapa manfaat pohon aren, dan masih banyak lagi lainnya.

=====

[1] Pernyataan ini disampaikannya dalam diskusi Kedaulatan Energi Syarat Mutlak Ketahanan Bangsa di Jakarta (02/06/2014)

 

E. Penutup

Alam dalam kehidupan melayu merupakan bagian penting, dalam praktek kehidupan, gambaran alam sering kita temukan dalam pribahasa, syair dan berbagai bentuk estetik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan alam yang berorientasi pada kearifan lokal dengan memadukan teknologi mutakhir sudah sepantasnya kita praktekkan, luas lahan yang tersedia di daerah Sumatera Selatan hendaknya dilirik untuk budidaya pohon Aren, tidak hanya terfokus pada perkebunan sawit yang justru berorientasi pada pemilik modal.

Eksistensi Melayu melalu prasasti Talang Tuo membuktikan bahwa alam dan orang melayu merupakan bagian penting dalam siklus kehidupan. Peringatan hari  bumi tidak hanya sekedar upaya menjaga alam dari kerusakan, akan tetapi bagaimana kita memanfaatkan alam back to nature untuk kemaslahatan bersama tanpa merusaknya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Braginsky, V.I. Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19, terj. Hersri Setiawan, Jakarta: INIS, 1998.

Hadi, Abdul, WM, ‘Karya Melayu Bercorak Tasawuf dan Klasifikasinya’ dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 6. No. 2, 2008, p.179-206, Jakarta, Puslitbang Lektur Keagamaan, 2008.

Isjoni, Orang Melayu di Zaman yang Berubah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Reid, Anthony Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Alih bahasa, Mochtar Pabotinggi, Jakarta: Obor, 2011.

Siahan, Harlem ‘Konflik dan Perlawanan: Kongsi Cina di Kalimantan Barat, 1770-1854’, dalam Prisma, No. 12 Tahun XXIII Desember 1994, 41-56.

Sunandar, ‘Hegemoni Penambang Emas di Menterado Tahun 1770-1854’ dalam Jurnal Ilmiah Falsafah: Jurnal Kajian Filsafat, Theologi dan Humaniora Vol. II Tahun 2016 p. 35-39. Sambas: Fakultas Adab dan Ushuluddin IAIS Sambas, 2016.

Wallahu a’lam

• telah dilihat 100 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Pelestarian Lingkungan Hidup dan Penggunaan Energi Hijau

Tulisan Terkait

Tag pada:                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *