» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Nilai-Nilai Spiritual dalam Budaya Melayu
Oleh: Tengku Muhammad Muhar Omtatok

Makalah ini disampaikan pada Seminar Kosmologi Budaya Nusantara yang diselenggarakan oleh Yayasan Malaya dan Sriwijaya Supranaturalis Community (SSC) tanggal 23 April 2016 di Rumah Makan Kemangi, Palembang.

Pendahuluan

Melayu adalah sebuah puak atau kelompok etnis dari orang-orang Austronesia terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, bagian besar Sumatera, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneopesisir termasuk Brunei (Kalimantan Barat, dan Sarawak dan Sabah pesisir), dan pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini.

Melayu bisa pula bermakna Bahasa Melayu, Kepulauan Melayu (kini popular dengan sebutan Nusantara), Ras Melayu, dan sebagainya.

Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi semata seperti kebanyakan etnis-etnis lain. Di Malaysia, tetap mengaku berbangsa Melayu walau moyang mereka beragam muasal. Beberapa tempat di Sumatera, ada beberapa masyarakat bersusur galur di luar Melayu yang mengaku dan diterima sebaik Puak Melayu. Ini semua karena diikat oleh kesamaan agama yaitu Islam, Bahasa dan Adat Resam Melayu.

Jadi Melayu adalah: “Beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu”. Karena ikatan Islam itulah, Orang melayu yang masih berpegang pada konsep kosmologi tradisi namun akan takut jika tidak disebut Islam.
Kosmologi Melayu modern lebih dipengaruhi oleh Kosmologi Islam, namun tamadun Melayu berada di bawah pelbagai pengaruh budaya sebelum Islam, turut mengambil tempat dicelah-celah pentafsiran kosmologi Melayu Islam.

Orang Melayu silam turut mempunyai konsep kosmologi yang dipengaruh oleh budaya animisme, Hindu dan Buddha. Mereka memuja semangat, dan penunggu; mereka membaca jampi yang menyebut asal kejadain alam dan makhluknya.

Berturai, Bergagan, Bersyahadat

Orang Melayu memegang filsafat: “Berturai, Bergagan, Bersyahadat”.

Berturai bermakna mempunyai sopan santun baik bahasa dan perbuatan dan memegang teguh adat resam, menghargai orang yang datang,serta menerima pembaharuan tamaddun yang senonoh.

“Usul menunjukkan asal,
Bahasa menunjukkan bangsa.
Taat pada petuah,
Setia pada sumpah,
Mati pada janji,
Melarat karena budi.
Hidup dalam pekerti,
Mati dalam budi”.

“Tak cukup telapak tangan, nyiru kami tadahkan”.

“Apabila meraut selodang buluh
Siapkan lidi buang miangnya
Apabila menjemput orang jauh
Siapkan nasi dengan hidangnya”.

“Sekali air bah, sekali tepian berubah”.

Bergagan bermakna keberanian dan kesanggupan menghadapi tantangan, harga diri dan kepiawaian.

“Kalau sudah dimabuk pinang,
Daripada ke mulut biarlah ke hati
Kalau sudah maju ke gelanggang
Berpantang surut biarlah mati”.

“Bermula dari hulu, haruslah berujung pula ke hilir”.

“Apa tanda si anak melayu
matinya di tengah gelanggang
tidurnya di puncak gelombang
makannya di tebing panjang
langkahnya menghentam bumi
lenggangnya menghempas semak
tangisnya terbang ke langit
isaknya ditelan bumi
yang tak kenalkan airmata
yang tak kenalkan tunduk kulai”.

Bersahadat bermakna Orang Melayu disebut Melayu jika sudah mengucap kalimat syahadat, yaitu mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul panutan. Anak Melayu lebih dahulu diperkenalkan mengaji al Qur’an, baru mengenal ilmu pengetahuan yang lain. Kata “Laailaha Illallah Muhammadarosulullah” sebagai gerbang keislaman, selalu dipakai Orang Melayu dalam berbagai amalan, karena melayu percaya bahwa semua amalan akan tidak tertolak dalam pemahaman Islam jika mengucap Laailaha Illallah Muhammadarosulullah.

Makanya jika seorang anak berkelakuan menyimpang dari kaedah yang diatur, maka ia disebut, “Macam anak siarahan, Macam anak tak disyahadatkan”.

“Bergantung kepada satu, berpegang kepada yang Esa”.

“untuk apa meramu samak
kalau tidak dengan pangkalnya
untuk apa berilmu banyak
kalau tidak dengan amalnya”.

“Budak jambi sedang menampi
Alahai budak tinggal sanggulnya
Banyak jampi perkara jampi
Allah jua letak kabulnya”.

Jampi Serapah Orang Melayu

Orang Melayu, menyebut mantera dengan sebutan beragam, misalnya Jampi, Tuju dan lain-lain. Mantera sebagai ujar-ujaran religi dan magi, sebenarnya berarti Pesona.
Kedua kata ini sering muncul dalam membicarakan mantera. Secara sederhana perbedaan dua kata ini adalah bahwa religi berarti agama sedangkan magi berarti ilmu gaib.

Dr.H.Th. Fischer menganggap lahirnya konsep religi dan magi berasal dari timbulnya kepercayaan terhadap animisme dan dinamisme. Animisme dimaksudkan sebagai kepercayaan terhadap adanya roh. Orang yang percaya kepada roh merasa terikat dan bersikap menghamba kepada roh itu. Sementara dinamisme dimaksudkan sebagai kepercayaan terhadap adanya tenaga tidak berpribadi di dalam diri manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, atau benda-benda. Tenaga atau kekuatan itu dapat juga terdapat pada kata-kata yang diucapkan atau dituliskan atau direkamkan (dimasukan) pada objek lainnya. Kepercayaan terhadap tenaga tidak berpribadi atau dinamisme ini menjadi magi (lihat Fischer, 1980:153).

Perbedaan kepercayaan yang mendasari timbulnya dua konsep itu akibatnya adanya perbedaan sikap orang yang memiliki kepercayaan tadi. Pada religi manusia bersikap mengabdi atau menghamba kepada kekuasaan atas alami. Pengabdian atau penghambatan menjadikan manusia melakuakan sembahyang dan penyerahan, penghambatan, pemuja, permohonan, dan terima kasih. Upacara religius juga merupakan ungkapan pengabdian manusia kekuasaan luhur yang menggembang kehidupan manusia.

Sementara itu, pada magi, manusia bersikap mempengaruhi kekuasaan atas alam untuk menggenggam nasibnya sendiri atau mungkin nasibnya orang lain. Upacara magis di maksudkan untuk mendapatkan pengaruh yang dilaksanakan menurut aturan-aturan yang tertentu. Cara yang betul, perlengkapanyang sesuai dengan aturan, pemilihan waktu dan tempat yang benar, pembawa atau pelaku yang berwenang akan membawa keberhasilan dalam dapatkan pengaruh. ( lihat Fischer, 1980:142-143 ).

A. Pemilik Jampi/Mantera

Hubungan antara manusia dengan dunia gaib sebagaimana dalam praktek perbuatan religius dan magis, dapat dilaksakan oleh siapa pun namun, jika urusan berkomunikasi dengan dunia gaib itu berkenaan dengan urusan yang penting, orang akan meminta bantuan kepada orang yang di anggap ahli, berwenang atau professional. Di masyarakat Melayu, orang yang dianggap ahli tersebut disebut Tok Pawang, Tukang Ceritera, Tuan Guru mempunyai arti yang bisa disamakan dengan Tok Bomo ( dukun ).

Jampi/Mantera dapat di pakai oleh siapa saja. Namun, dalam hal-hal khusus atau luar biasa, pada saat seseorang merasa tidak mampu melakukannya, misalnya karena ‘sesuatu yang menghalangi, maka urusan menggunakan jampi diserahkan kepada ‘Orang Pintar’ atau Bomoh yang berfungsi sebagai perantara atau seorang yang memilik maksud tertentu atau menderita penyakit dengan dunia gaib.

Koentjaraningrat membedakan pemilik mantera profesional sesuai dengan karakteristik tugasnya menjadi tiga yaitu pendeta, dukun, dan syaman.Sementara itu Fischer membedakan pemilik mantra sesuai dengan efek positif dengan efek negatif dari hasil pekerjaannya itu menjadi dua yaitu pawang dan tukang sihir. Pendeta, dukun, dan syaman ini jika dikorelasikan ke Melayu maka disamakan dengan ‘Tuan Guru’, ‘Tok Pawang’ dan ‘Bomoh’.

B. Diksi dan Strukturalisme

Scott menyebutkan kata diction berasal dari kata latin dicere, dictum, yang berasal mengatakan. Secara singkat diksi didefinisi sebagai pilihan dan penyusunan kata-kata di dalam pidato dan karangan tertulis ( Scott, 1997: 77 ). Sementara itu, Abrams mendefinisikan diksi sebagai pilihan kata-kata, fase dan kiasan. Diksi dapat di analisis dengan menggunakan beberapa kategori sesuai dengan tingkat kosa kata dan frasenya, misalnya abstrak atau konkret, keseharian atau formal, teknis atau umum, liberal atau figurati, asing atau kedaerahan, dan kuno atau kontemporer( Abrams, 1981: 140 ).

Mantera memiliki bahasa yang khas, yang dapat disebut sebagai diksi mantra. Misalnya penggunaan dan pemanfaatan potensi bunyi, kata-kata, frase, tipe-tipe kiasan dan simbolisme, masuknya kata-kata tabu atau sacral, serta sejumlah pilihan kata lainnya yang berbeda dan berlainan dari ungkapan verbal di luar mantra. Kekhasan diksi mantra bertolak dan efek khusus yang ingin di capai atau referensi khusus yang ditunjuk. Mantra menunjuk pada dunia gaib dan ingin mendapatkan efek magis dari dunia itu.

Jika kita berpandangan sempit, mungkin kita akan berfikir bahwa pembahasan ini akan mengembalikan Orang Melayu ke era jahiliah. Namun jampi/mantera sebagai karya sastra, merupakan bahan kajian, sebagai salah satu poin pengungkap zaman dimana jampi/mantera itu dipergunakan.

Robet Scholes mengatakan bahwa strukturalisme menempati kedudukan yang istimewa dalam studi sastra karena berusaha membangun suatu model sistem sastra sebagai referensi eksternal bagi karya individual yang dikaji.

Jantung ide structural adalah gagasan tentang sistem (the idea of system), suatu realitas yang lengkap memiliki aturan sendiri, yang disesuaikan dengan kondisi baru dengan mentransformasikan ciri-ciri utamanya sejauh mempertahankan struktur sistemnya. Setiap nilai sastra mulai dari kalimat individual sampai pada keseluruhan urutan kata dapat dipandang dalam hubungannya dengan konsep sistem. Secara khusus dapat dilihat karya individual, genre sastra, dan keseluruhan sastra sebagai sistem yang berhubungan, serta kesusastraan sebagai suatu sistem di dalam sistem yang lebih luas dari kultur manusia (Scholes, 1976 : 10-11).

Konsep dan gagasan strukturalisme, sebagaimana diterangkan oleh Abrams dan Scholes di atas, dijadikan titik tolak dalam menyikapi objek kajian. Dengan pendekatan structural maka operasional kajian diarahkan pada elemen-elemen mantra sebagai struktur verbal yang otonom, yang meliputi diksi, kalimat, dan komposisi seutuhnya. Dengan cara kerja ini dapat dideskripsikan ciri-ciri wujud komposisi mantra beserta seperangkat aturan estetikanya.

Memahami mantra sebagai suatu sistem yang tersangkut di dalam sistem yang lebih luas dari kultur manusia, dapat pula dideskripsikan keseluruhan resitasi mantra yang juga melibatkan komponen-komponen lain di luar mantra, sebagaimana tampak dalam praktek upacara magis sebagai satu keutuhan penyajian.

Konsep pendekatan fungsional dalam penelitian ini mengambil konsep pendekatan fungsional dalam studi antropologi. Di bawah ini merupakan kutipan tentang fungsionalisme oleh Malinowski.

“Malinowski mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan fungsionalisme, yang beranggapan atau berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu terdapat. Dengan kata lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan. Menurut Malinowski fungsi dari satu unsure budaya adalah kemampuan untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan sekunder dari para warga suatu masyarakat”. (Ihromi,ed. 1981:59-60.).

Berbeda dari Malinowski, A.R. Radcliffe-Brown memandang timbulnya bebagai aspek perilaku sosial didorong untuk mempertahankan struktur sosial masyarakat. Struktur sosial dari suatu masyarakat adalah seluruh jaringan dari hubungan-hubungan sosial yang ada (Ihromi, ed. 1981: 61).Teori fungsionalsme Redcliffe Brown ini lazim disebut teori fungsionalisme struktural.

Dalam bukunya Struktur dan Fungsi Masyarakat Primitif (terjemahan Ab. Rajak Yahya), Redcliffe-Brown menyebutkan bahwa konsep fungsi melibatkan struktur yang terjadi dari satu rangkaian hubungan di antara unit entity. Dengan kata lain, konsep fungsi berkaitan dengan peranan dan sumbangan suatu unit entity pada keseluruhan yang lebih luas. Penerapan konsep itu akan menghadapkan tiga masalah yang saling berkaitan. Ketiga masalah itu adalh sebagai berikut:

(a) Masalah Morfologi
Bagaimanakah jenis struktur yang ada?Apakah perbedaan dan Persamaannya?Bagaimanakah klasifikasinya?

(b) Masalah Fisiologi
Bagaimanakah struktur itu menjalankan fungsinya?

(c) Masalah Evolusi
Bagaimanakah jenis yang baru dapat terjadi?(Redcliffe-Brown, 1980: 208-209).

Bertolak dari metode ethnografi berintegrasi secara fungsional, Kaberry (1957) membagi fungsi sosial adat, tingkah laku manusia, dan pranata-pranata sosial ke dalam tiga tingkatan abstraksi:

(a) Tingkatan Abstraksi I

Fungsi sosial dari adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan, pengaruh atau efeknya terhadap adat, tingkah laku manusia dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat.

(b) Tingkatan Abstraksi II

Fungsi sosial dari adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan, pengaruh atau efeknya terhadap kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, seperti yang sikonsepsikan oleh warga masyarakat yang bersangkutan.

(c) Tingkatan Abstraksi III

Fungsi sosial dari adat atau pranata sosial, pengaruh efeknya terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu (Koentjaraningrat, 1982: 167).

Dalam penelitian yang termasuk ke dalam ruang lingkup kajian bahasa dan sastra ini, teori fungsional dalam lapangan kajian antropologi tidak akan diambil secara utuh, tetapi akan dipilih sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya.

Berdasarkan gagasan aliran fungsionalisme yang tertera di atas, Jampi atau tuju dapat dianggap sebagai suatu lembaga dari suatu masyarakat tertentu.Jampi atau tuju memiliki bentuk dan teknik tertentu, sementara itu juga memiliki kegunaan dan pemakaian dalam masyarakat.Lebih jauh Jampi dapat dikaji kaitannya dari sudut ekonomi, sosiologi, religi, dan magi. Namun, kajian Jampi dalam penelitian ini tidak akan masuk sejauh itu.

“Anyut buluh dari hulu anyutlah dengan ala intan urat – uratnya,
anak diayun indung diburu menunggu tunam jadi ubatnya. …”
Penggalan jampi tersebut menyiratkan dan mengungkap bahwa disaat itu sudah dipakai jasa sungai untuk menghanyutkan bambu yang diambil dari hulu bersama dengan akar-akarnya, menuju ke hilir.Dalam jampi ini juga mengenalkan kita, jika berburu maka anak binatang buruan tidak turut diburu, namun dirawat dengan baik untuk menjaga ekosistem.

‘Hai Datuk nan besemayam di tengah rebat, bantah usah engkai diaku, turut hendakku…’
Kalimat pada jampi ini bisa kita telaah dari sisi modalitas epistemik ’keharusan’ dalam berbahasa. Dinyatakan dengan keterangan menjelaskan verba, atau inti dari predikat, seperti dua kata ‘Bantah usah” yang berarti ’harus’ patut dan perlu yang berarti mestinya. Kata Bantah usah lebih keras dari pada kata patut dan seharusnya.‘Kami harus berbicara’, sehingga bisa dilihat bahwa Orang Melayu saat itu telah mempunyai ketegasan dalam berbicara namun tetap beretika.

Ada pula beberapa kosa kata yang kita temukan dalam beberapa jampi yang membuat pemahaman bahwa sezamannya telah atau ada sesuatu itu.Dalam jampi kita bisa menemukan bahwa masyarakat Melayu bersentuhan dengan masyarakat luar di zaman itu. Misalnya kita menemukan doa kata Arab dan sebagainya.

Melayu dan Spiritualitas Mantra

Orang Melayu sangat dekat kehidupannya dengan dunia spritual. Ini mungkin dikarenakan selain Islam sebagai agama wajib orang Melayu, Pagan, Hindu dan Buddha pernah mempengaruhi peradaban Melayu. Hampir setiap perguliran kehidupan, tidak terlepas dari ritual atau pun do’a sebagai mantera.

“Rentus tabiat buat main,
Timbul berantung pada niat;
Putus makrifat bulat yakin,
Makbul bergantung pada minat”.

Keyakinan nan bulat dan mengenal keimuan berbanding dengan anasir, begitu penting bagi Orang Melayu. Niat sebagai ‘minat’, yang menjadi arah kepastian sebuah tujuan mantra itu.

Pada masyarakat Melayu Sumatera Utara di tepi pantai seperti : Tanjungbalai, Batubara, Pagurawan, Pantai Cermin, Bedagai, Belawan, atau pun di pesisir timur Langkat. Para nelayan percaya lautan dikuasai oleh kuasa gaib.Mereka menyebutnya Mambang Laut.

Mambang laut terbagi atas delapan penguasa dan tinggal 8 penjuru mata angin, yaitu
Mayang Mengurai, Laksemana, Mambang Tali Arus, Mambang Jeruju, Katimanah, Panglima Merah, Datuk Panglima Hitam dan Baburrahman di Baburrahim.

Datuk Panglima Hitam penguasa utara sering juga disebut sebagai Datuk Hitam.Beliau adalah penghulu dari sekalian Mambang.

Masyarakat Melayu yang tidak bersentuhan dengan kebudayaan pantai juga mempercayai adanya Jembalang sebagai penguasa air, tanah atau pun angin.Walau pun budaya Islam sangat melekat bagi kehidupan orang Melayu, kepercayaan terhadap Mambang atau pun Jembalang masih tetap terpelihara dan dicampurbaurkan dengan tradisi keislaman.

Ritual Tepung Tawar sebagai warisan Pagan (Hinduisme ?) masih memakai awalan mantera “Kuurs Semangat” walau pun kemudian dikombinasiakn dengan bacaan – bacaan Islam seperti Syalawat. Pembuktian bahwa perguliran kehidupan orang Melayu tidak terlepas dari dunia supranatural bisa kita contohkan sebagai berikut :

“Tongon…tongon…tongon…, betolur engkau sebijik kalau tak betolur kujual kau ke pasar limo. Rindu kau samo Omak engkau, rindu kau samo Ayah engkau”,
Ini merupakan mantera untuk ayam yang lambat bertelur.

“Sirihku siranting kuning, kumakan di rumpung tolang, cahayo gigiku seperti omas yang kuning.Cahayo mukoku seperti matoari colang cemorlang, tidak dapat ditontang nyato.Cahayo gigiku roguh nasi moncorhong dayang dayad.”
Mantera di atas digunakan untuk memutihkan gigi dan menguatkannya.

“Wali wali batungkat, batang geledek waktu syetan menggamit si fulan disitu jugo semangat si fulan pulang. Jangan engkau lalai di tongah rimbo, jangan engkau lalai di pinggir sungai, Jangan engkau lalai di topi pantai, jangan engkau lalai di tongah balai, Jangan engkau lalai di laman, Jangan engkau lalai di tongah rumah, pulang engkau ke tompat engkau sendiri di anjung yang tinggi di balai yang bosar.”
Mantara di atas digunakan dalam ritual jemput semangat.

“Assalamualaikum aku kirim salam pado jin tanah aku tahu asalmu keluar dari air ketuban, bukan aku melopas balo mustako, sangkakah, sangkipad melopas balo mustako. Bukan aku melopas balo mustako, jin baru melopas balo mustako. Jin yang tuo melopas balo mustako.”
Mantra di atas untuk persembahan jamu laut.

“Menyio Muhammad, Allah lalu”
Mantera singkat di atas digunakan untuk ilmu penderas pukulan.

“Diam Muhammad Allah lalu”
Digunakan dalam ilmu cuca untuk penampar.

Mantra berasal dari bahasa sansekerta yang bermakna pesona.Ianya semakna dengan do’a atau pun jampi orang Melayu di rantau ini menjadikan mantera sebagai pembuka laku agar tuah Sang Maha tercucur restu dalam setiap kegiatan.

Adalah lazim apabila bahasa mantera menggunakan bahasa sansekerta yang dibawa Hinduisme dan Budhaisme, bahasa Melayu Tambo yang dipengaruhi aliran penghayat tempatan serta bahasa Arab atas pengaruh kebudayaan Islam.Dalam pengucapan mantera orang Melayu mempunyai kiat yang agak unik, ada ucapan dalam bentuk narasi biasa, ada ucapan dalam bentuk narasi berlagu bahkan ada ucapan dalam bentuk bersenandung.

Lukah Menari
“Tahasih…tahasih mak sibanding siatlukah jumpa bamban si kutarih. Kalau nak tengok lukah menari, nak tengok kaya Allah.Keceti kambing keceti ketasik kegumba jangan.Ingat…ingat… dalam hati kataku tadi lupa jangan.Ingat – ingat dalam hati kataku tadi lupa jangan.Kekebon kita kekebon jangan dibeli mangkuk kerang berhimpun kita ke balai datuk mak sibanding gila sorang.Hilir lugoh mudik lugoh jumpa bembam betali – tali, bukan mudah pekara mudah ada lukah pandai menari.”

Mantera di atas dipergunakan agar lukah atau bubu bisa menari sendiri sambil dibisikkan pada lukah : “usah kau bagi malu bangkitlah menari”. Mantera di atas diawali dengan Bismillah dan diakhiri berkat Laaailahaillallah.Jika pembaca mencoba mantera ini pada lukah, jangan terkejut jika luka itu menari sendiri. Jika lukah diikat dengan pena ia akan mampu menulis sendiri apa saja yang kita pertanyakan.

Memindahkan Penunggu Kayu
“Assalamualaikum, walaikumsalam al habib gulkarim, aku tau asal mulamu jadi tatkala loh pun belum, kalam pun belum. Kala laut pupak pupakan gunung lumpat kijangan. Tatkala rumput ngarum – ngarum, hujan merenyai renyaian tunggulah kunun ahoi si buah telor kulit bernama alah intan ahoi kayu selemak kening menanam kayu sialang ahoi oi akar menama kancing bumi banir manaham galah bejuang kulit mename Allah intan ahoi si mali nidai jalan mename ampailah tuan li puulr mename dian sebatang cabang mename alah payung lerang buah mename alah intan ahoi. Silayang – layang ranting mename payung Fatimah”
Mantra di atas dijadikan lagu untuk memuja kayu.Oleh pawang untuk menebang kayu yangn diyakini punya penunggu.

Mengambil Madu Lebah
“Anyut buluh dari hulu anyutlah dengan ala intan urat – uratnya,
anak diayun indung diburu menunggu tunam jadi ubatnya.
Lama sudah tidak ke ladang, habislah padi alah intan ahoi dililit kangkung
lama sudah pawang tidak di pandang hatiku beramuk sedih yang di jantung.
Rancung rancunglah kaki cendawan jangan terancung sayang ahooooiii.
Sibuku buluh, kalaulah ada kasih di awan bintanglah jangan tumbuh di beri tumbuh.
Kalau gugur gugurpun nangka jangan ditimpa alah intan ahoi si cabang pawoh.
Jikalau tidur tidurlah mata jangan bercintalah pawang yang jauh.
Baik – baiklah memegang kemudi supaya usah telangar karang.
Baik – baiklah memegang kemudi supaya jangan orang di dengar orang”.

Mantera di atas dilagukan oleh pawang pengambil madu lebah. Diyakini lebah tidak akan menyerang walau tanpa menggunakan asap atau pun penutup kepala.

Memanggil Angin
“Angin Barat gelombang barang oiiii, angin memecah di pintu karang.
Sedayangku tinggal dendam melarat kekasihku lahku pergi okurung dendam bekurung habis tunam tujuh pengikat putus disambar si raja wali,
maksud sedangku sudahlah dapat rayalah musim kembali lagi.
Anak cina menjual bawang.
Bawang dijual halia juga.
Sedayangku gagah melewang takut marah kunun pawang sedia.”
Mantera di atas dibaca sambil bersenandung untuk memanggil angin.Ini biasanya digunakan untuk mendatangkan hujan atau menghalau hujan.Bagi nelayan digunakan juga sebagai pedoman arah tangkapan. Tok bomoh atau dukun mengawali terawangannya terhadap ulah bomoh yang lain juga memakai mantera ini.

Penawar Bisa
“Bismillahirrahmanirrahim, aku tau asal mulamu bisa darah haid siti hawa, surga akan tempatmu, cabut bisamu, naikkan bisa tawarku, kabul do’a pengajar guruku, mustajab kepada aku, menawari bisa…………dikulit jangan si polan. Tawar Allah tawar Muhammad, tawar baginda Rasullah berkat Lailahaillallah”.

Ini adalah mantra tawar bisa digunakan untuk mengobati seseorang yang tersengat bisa atau racun binatang.Seperti : ular, lipan, kalajengking dan binatang buas lainnya. Biasanya digunakan bahan bunga berwarna merah atau pun juga air liur yang diambil dengan telunjuk tangan kanan yang ditampung dengan telapak tangan.

Kewibawaan
“Hai manusia, aku tahu asal engkau, mulajadi tatkala engkau ditatang Jibrail di sore ke Magrib, empat puluh empat hari Nur Allah namanya engkau, tujuh hari engkau engkau dikandung Bapak engkau sir Allah namanya engkau, tiga bulan sepuluh hari dikandung ibu engkau kamarullah namanya engkau, jangan engkau melawan aku, jika engkau melawan aku durhaka engkau kepada Allah, durhaka engkau kepada Muhammad, durhaka engkau kepada aku, kabullah aku memakai do’a cuca semula jadi, kabul do’a pengajar guruku, mustajab akan aku berkat Lailahaillallah”

Di atas adalah mantra semula jadi digunakan untuk menimbulkan kharisma, kewibawaan agar disegani oleh manusia.

Wajah Berseri
“Bismillahirrahmanirrahim, hai embun mustika embun, embun bernama Jalalullah, aku memakai mustika embun, aku anak aminullah.”
Mantra mustika embun ini dinaikkan kira – kira pukul 5.30 pagi.Ambil embun dengan kedua telapak tangan, lalu bacakan mantra di atas dan sapukanlah ke wajah searah jarum jam.Mantra mustika embun ini bermanfaat untuk menaikkan seri muka.

Pemanis
“Hai simanggur bulan dan bintang.Matahari terbit di ubun – ubunku, bulan purnama di mukaku, bintang tujuh di keningku, bintang penabur di dadaku.Hai Allah tiada penabur di dadaku.Hai Allah tiada aku kelindihan duduk mak inang canang yang banyak berkat aku memakai si awang yang lebih.Jika aku duduk aku juga yang lebih, jika berdiri aku juga yang lebih.Jika aku berjalan aku juga yang lebih. Dilebihkan Allah, dilebihkan Muhammad, diebihkan baginda Rasullah berkat Lailahaillallah”.
Mantera di atas adalah salah satu dari mantera si awang yang lebih yang bermanfaat untuk pemanis.Dinaikkan pada subuh dengan mengambil air liur dengan ibu jari kanan setelah dimantrai sapukan pada wajah, tangan dan dada.

Pelet

“Hai nisan menggarang, nallah mengangkangkan Sariah namanya, engkau yang kata Tuhan mari engkau kemari aku tahu asalmu mula jadi, wadi, muni, mani, maknikam, mari engkau kemari ini tempatnya engkau berkat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.”
Mantera di atas disebut mantera pelepas digunakan untuk memelet seseroang. Caranya adalah tentanglah biji mata seseorang yang akan dipelet sambil membaca mantra pelepas di atas satu nafas kemudian tariklah ke dalam jantung. Anda bisa membuktikan sendiri seseorang itu dengan tiba – tiba akan cinta kepada anda.

Besi Kursani
“Bismillahirrahmanirrahim terdirilah besi kursani di dalam batang tubuhku dak aku mengetahui lahaula walakuwata illabillahi aliulajim yahum kanda dek aku mengetahui. Pil amri saina nan bangkit dek aku lahaula walakuwata illabillahi aliulajim. Sanda manjud Rasullullahi sallallahi alaihi wassallam kullahum sai’an alfatihah”

Mantra di atas adalah salah satu mantera besi kursani. Mantra ini dinaikkan untuk kekebalan pada purnama 13, 14, dan 15. Pengguna mantra ini tidak dibenarkan memulai perkelahian dan dilarang membakar besi ketika dibutuhkan. Pembaca tinggal membaca mantera : “Besi pasak besi kursani, tegang teguh selera dalam badanku berkat Lailahaillallah”.

Dalam adat berilmu orang Melayu mempunyai syarat kemakbulan diantaranya adalah kunci ilmu adalah yakin, dengan yakin ilmu akan makbul, tak boleh mendurhaka orang tua dan guru, ilmu dinaikkan pada saat – saat mustajab yang sudah dinaikkan saja. Dalam ilmu kedigjayaan melayu dikenal langkah panglima yaitu : Saat pelaksanan pengizasahan dengan ritual mandi minyak. Pelaksanaan ritual diselenggarakan pada pukul 18.00 – 01.11 tengah malam dan dikecualikan pada hari Sabtu malam Minggu karena dipercayai hari ini kurang dingin dalam tuah keilmuan.Arah dan duduk sila juga menentukan kemakbulan dari sebuah mantera.Orang Melayu percaya bahasa bercarut atau ucapan makian mengurangi kaidah keilmuan. Di samping itu ibadah kepada sang Ilahi adalah penguat dari suatu ilmu.

Hantu Orang Melayu

Orang Melayu mengenal istilah “Keteguran/Ketoguran” atau “Disapa/Disapo hantu”, untuk menyatakan demam sepulang berjalan-jalan, sesudah mandi di sungai atau sesudah bermain-main di panas matahari.

Ada istilah “Seluk/Soluk atau Kesulukan/Kesoluk-an”, yaitu kesurupan. Keselukan hantu atau kesurupan, kerasukan, kerawuhan, keranjingan menggambarkan keadaan sesuatu yang berasal dari luar masuk ke dalam dan mengisi ruang dalam. Psikologi memberikan penjelasan mengenai fenomena keselukan hantu sebagai :
1) Keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya,
2) Hysteria, saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya,
3) Split personality , saat pada diri seseorang tampil beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda.

Dalam bahasa Melayu, Hantu berarti makhluk gaib yang diceriterakan jahat dan dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu.

Kata hantu dipakai beragam dalam kiasan dan pepatah, seperti:

Rupanya seperti hantu (rupanya sangat buruk),
Ia berhantu makan durian (Ia gemar sekali makan durian);
Takut di hantu , terpeluk ke bangkai (mendapat kesusahan atau kecelakaan karena takut akan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti).

Orang Melayu mengenal, kata:

  1. Akuan: orang halus (hantu dsb) yg menjadi pelindung atau yg memasuki orang. Orang jawa mengenal istilah ‘perewangan’ untuk katayang sama dengan kata Akuan ini.
  2. Puaka: Penunggu gaib, yaitu makhluk gaib yang dahulu dijadikan akuan, lalu ia merasuk ke tubuh seseorang dari waris pemilik akuan hingga 7 turunan. Jika tubuh yang dimasuki tidak sebadan, maka si pemilik tubuh diyakini akan sakit atau terlihat aneh.
  3. Biadi: sesuatu yang bersarang di tubuh, jika arti sebenarnya boleh saja berarti cacing yang bersarang di perut. Namun makna kiasnya adalah sesuatu keburukkan yang bersarang, jika meninggal boleh menularkan.

Saat ini, mungkin kita tak lah perlu percaya adanya hantu, namun sekedar berbagi khazanah, dahulu kita sering mendengar nama-nama hantu menurut bahasa orang Melayu:

  1. Mambang: makhluk halus yg menurut kepercayaan sebagian orang membinasakan manusia, penghulu sekalian hantu, dengan bermacam-macam warnanya. Di laut ada 8 petala dengan 8 Mambang, yaitu: Mayang Mengurai, Laksemana, Mambang Tali Arus, Mambang Jeruju,Katimanah, Panglima Merah, Datuk Panglima Hitam dan Baburrahman di Baburrahim.
  2. Jembalang: makhluk halus penunggu anasir, seperti tanah, air, angin.
  3. Si jambu rakai : Hantu penjaga buaya
  4. Penanggalan (Tenggalong): sesuatu yang ditanggalkan atau keluar dari sesuatu, yang diyakini mampu menghisap darah bagi orang yang baru beranak. Bahasa sastranya adalah: Sedangbela.
  5. Langsuir: hantu yang beragam bentuk yang terbang, bisa seperti kepala beserta usus, seperti elang, kunun dari bayi mencari bayi. Jika di Bali disebut Leak.
  6. Puntianak: hantu perempuan, suka mengambil anak kecil atau mengganggu orang melahirkan. Di jawa disebut Kuntilanak.
  7. Pelesit: hantu yang masuk ke dalam belalang, menghisap darah atau menyakitkan orang. Kunun boleh juga suruhan orang. Pepatah: Macam punyi pelesit (Tak merdu)
  8. Polong: hantu atau roh jahat yg suka mengganggu orang hingga menyebabkan penyakit, penyakit saraf yg disebabkan oleh guna-guna.
    Pepatah: Seperti polong kena sembur (berlari cepat-cepat krn ketakutan dsb), Seperti kena polong (kelakuan tak terajar).
  9. Hantu Dengut: hantu menyuruk terdiam namun seperti berbunyi gema memanjang spt bunyi burung puyuh, gung, dsb.
  10. Sanai: hantu berbentuk tikar, api, batang kayu di laut atau di darat (sungai).
  11. Kalimair: Sanai api.
  12. Hantu Guni/Hantu Hitam: bila bersampan tengah malam, kadang ia ikut disampan, menyengetkan arah sampan.
  13. Kalimbidai: Hantu tikar yang menggulung korban, sampai korban tak berdarah lagi.
  14. Kalimuning: ia berbentuk ikan dondong di lubuk.
  15. Birik-birik: Burung malam berbunyi : berek berek, bila melintas rumah, di rmah konon jadi sakit.
  16. Burung Tujuh: burung malam juga, bertuju membawa sakit.
  17. Udang Gara: semacam tahi bintang sebagai kiriman.
  18. Anggau: wujud lelaki besar lagi seram, berbau anyir.

Prof. Emeritus Dr. Norhisham Wahab, Ia adalah Orang Melayu Pahang, memperoleh gelaran Professor pada tahun 2002 dengan “Ruang, Masa dan Sel ”, mengatakan bahwa hantu dan jin tidak memiliki unsur jasad menyebakan mereka tidak dapat dilihat, tetapi kewujudan mereka dapat dibuktikan dengan ilmu sains fisika quantum dan bisa dideteksi dengan teknologi gelombang.

“Hantu dan jin wujud secara tidak nyata karena tidak terikat kepada jisim, gravitasi bumi serta bebas daripada ikatan karbon, molekul dan atom. Berbeda dengan manusia yang terbentuk daripada partikel atom atau unsur yang menyusun semua benda”.

“Hantu dan jin bagaimanapun termasuk dalam ghaib nisbi dan bisa diukur dengan menggunakan gelombang bunyi dan gema”.

“Membantu manusia menghindari gangguan jin dan hantu dapat dilakukan pembuatan penawar dan pemulihan menggunakan teknologi. Jin dan hantu terdiri daripada unsur gelombang, mereka dapat menguasai ruang dan waktu di dalam tubuh manusia yang mampu memberi/menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan hingga ke tahap mental”.

“Tubuh manusia yang memerangkap gelombang ‘tidak sehat’ memberikan kesan pada seseorang yaitu kesan negatif terhadap jiwa seperti mengalami kelesuan kronik, gangguan mental, merasa sakit ini sakit itu dsb. Ketika si pesakit memeriksakan diri kedokter, dokter malah bilang tidak ada penyakit apa-apa, tetapi anehnya si pesakit merasa dia ada mengidap suatu penyakit. Hal ini adalah salah satu tanda dari gangguan jin”, demikian Norhisham Wahab.

Nilai-Nilai Spiritual Melayu

Kata spiritual adalah kata sifat yang berasal dari kata benda ‘spirit’. Spirit itu sendiri, setidaknya meliputi semangat, ruh, jiwa atau sukma. Sehingga orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan memiliki kecerdasan jiwa, semangat dan ruh yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif.

Nilai spiritual memiliki hubungan dengan sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan sakral suci dan agung.Karena itu termasuk nilai kerohanian, yang terletak dalam hati (bukan arti fisik), hati batiniah mengatur psikis.Hati adalah hakekat spiritual batiniah, inspirasi, kreativitas dan belas kasih.Mata dan telinga hati merasakan lebih dalam realitas-realitas batiniah yang tersembunyi di balik dunia material yang kompleks.Itulah pengetahuan spiritual.Pemahaman spiritual adalah cahaya Tuhan ke dalam hati, bagaikan lampu yang membantu kita untuk melihat (Robert Frager 2002: 70).

Orang Melayu yang takut bila tidak disebut Islam, maka nilai-nilai spiritual keislaman, cukup merasuk dalam nilai-nilai spiritual Melayu.Disamping nilai-nilai tradisi yang sepadan dengan nilai spiritual tersebut; sehingga menjadi mental spiritual khas Melayu.

Begitu pentingnya nilai spiritual bagi orang Melayu, dalam memimpin dan dipimpinpun, Melayu tak akan melepas nilai itu.

Mochtar Naim membagi pola kepemimpinan masyarakat nusantara atas:
• Pola kepemimpinan Jawa, yang menjungjung tinggi nilai-nilai keserasian, keselarasan dan keseimbangan dengan menjunjung tinggi hirarkis antara raja dan rakyat, di mana kekuasaan merupakan sesuatu yang sifatnya adi kodrati; dan
• Pola kepemimpinan Melayu yang bercirikan demokratisasi; egaliter dan menghargai kritik yang berorientasi pada keahlian dan keunggulan mental spiritual dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan.

Pola Nilai Spiritual Melayu sebagai nilai kehidupan, begitu merasuk dan terekam dalam Tunjuk Ajar, serta karya sastra warisan zaman berzaman, seperti Pantun, Syair, Gurindam, dan lain sebagainya.

Ada tiga istilah yang penerapannya begitu penting bagi Orang Melayu:
1. Minat
Secara bahasa, Minat bermakna kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, atau juga keinginan.
Secara nilai spiritual Melayu, minat adalah niat seseorang yang dicenderungkannya dalam hati, fikiran dan ucapannya. Berbaik sangka, berbaik fikir, dan berbaik cakap akan melahirkan kebaikan itu. Demikian pula sebaliknya.

Seseorang yang mengatakan: “Saya sial sekali”, maka kesialan itulah yang dating padanya.

Makanya muncul pepatah, “Meludah ke langit kena muka sendiri”.

2. Muasal
Secara bahasa, Muasal bermakna mula-mula sekali, keadaan yang semula, yang menjadi sebab mulanya.
Secara nilai Melayu, ia adalah ‘Anasir’ atau unsur semulanya.

Spiritual Melayu memandang adanya unsur Bumi/Tanah, Air, Angin, Api, dan lainnya.
Adanya Petala atau lapisan dan penjuru.
Serta adanya tempat dan letak berdasarkan kaidahnya.

Bila ia digeser dari anasirnya, maka bergeserlah tujuannya.

3. Misal
Misal secara bahasa bermakna sesuatu yang menggambarkan sebagian dari suatu keseluruhan.

Dalam istilah spiritual Melayu, ia sepadan dengan putusnya keyakinan yang digambarkan dan mampu mewujudkan permisalan itu. Ia tersebut pula dengan istilah Putus Makrifat.

Bila jeruk purut dipergunakan sebagai misal Si Udin, maka jeruk purut itu bukan lagi jeruk purut.Fikiran, hati, dan visual telah menyatu dalam permisalan dan yakin adanya bahwa itu adalah Si Udin.

Dalam tunjuk ajar (manner) orang Melayu, Minat, Muasal, dan Misal begitu teramat penting dalam penerapan nilai spiritual yang termanifestasi pada serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang sistematis mengenai manusia dan alam semesta seisinya (kosmologi).

Jika tiada puas Tuan dapatkan
Harap hamba, Tuan maafkan
Jika salah tolong betulkan
Itulah saja hamba mohonkan

(Disampaikan pada Seminar Kosmologi Budaya Nusantara, Palembang 23 April 2016)

Daftar Pustaka:
Effendy, Tenas (2006).Tunjuk Ajar Melayu, Penerbit, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Penerbit AdiCita.
Henry Pratt Fairchild (1960), Dictionary of Sociology and Related Sciences, (Littefield Adam & Co, Peterson, New Jersey, ).
Husny, H. M. Lah, Tengku (1978), Lintas Sejarah Peradaban dan Budaya Penduduk Melayu-Pesisir Deli. Sumatra Timur
Luckman Sinar, Tengku (1994), Jati Diri Melayu.
Omtatok, T Muhar (2015), Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Melayu.
Omtatok, T Muhar (2002), Puak Melayu.
Peursen, Van C.A,(1976), Strategi Kebudayaan, BPK Gunung Mulia Jakarta dan Yayasan Kanisius,Yogyakarta.
Radcliffe-Brown, A.R (1980), Struktur dan fungsi dalam Masyarakat Primitif.
Serta berbagai sumber cyber.
Shafritz, Jay M dan J. Steven Ott.(1987). Classics of Organization Theory, Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove, California.
Syahputra, T Matdin (1990).Makalah Adat Resam Melayu di Sumatera Timur.
Kiat Kepemimpinan dalam Abat-21( Jakarta, Murai Kencana).
Weber, Max (1946). Bureaucracy, dalam Shafritz, Jay M dan J. Steven Ott. 1987. Classics of Organization Theory, Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove, California.

Wallahu a’lam

Donwload Makalah  «klik di sini»

• telah dilihat 644 kali • total 14 kunjungan untuk hari ini •
Nilai-Nilai Spiritual dalam Budaya Melayu

Tulisan Terkait

Satu gagasan untuk “Nilai-Nilai Spiritual dalam Budaya Melayu

  • 1 Mei 2016 pukul 08:23
    Permalink

    Dibahas sekilas tetapi menyeluruh mengenai melayu dari beberapa sisi. Trims Tengku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *