Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

seminar_panelis_2

“Energy for Life, Environment to Live, Earth Day is Everyday”
HARUS JADI LIFESTYLE SELURUH ELEMEN BANGSA INDONESIA
Rosyidah Rozali
Rakyat Merdeka Online Sumsel (RMOLSumsel)

Makalah ini disampaikan pada kesempatan Seminar Nasional Peringatan Hari Bumi dengan tema “Energy for Life, Environment to Live, Earth Day is Everyday” tanggal 23 Maret 2016 di Kuto Besak Theater Restaurant (KBTR), Palembang, yang diselenggarakan oleh Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (Malaya) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Kementerian Pariwisata RI dan Ametis Institute.

Seminar Internasional dengan tema “Energy for Life, Environment to Live, Earth Day is Everyday” ini jelas mengingatkan kita pada peristiwa besar tahun lalu; Kebakaran Hutan dan Llahan (Karhutla) 2015. Selama berbulan-bulan Kota Palembang diselimuti kabut asap dan debu akibat karhutla, yang telah menimbulkan kerugian finansial, gangguan kesehatan serta psikologis.

Secara kebangsaan, Indonesia juga dipermalukan oleh bangsa-bangsa lain akibat bencana kabut asap itu. Pemerintah Indonesia dituding tidak mampu mengatasi bencana yang hampir setiap tahun terjadi itu. Sementara rakyat Indonesia dianggap sebagai kaum primitif yang tidak tahu cara memelihara lingkungan hidup dengan baik.

Kita semua tidak ingin peristiwa itu terulang kembali. Kita harus melakukan langkah-langkah preventif terjadinya karhutla. Sebab upaya memadamkan karhutla itu telahmenguras dana, tenaga, waktu, dan pikiran sedemikian besar. Segala teknologi yang mungkin sudah dicoba, termasuk dengan mendatangkan perangkat, teknologi, serta para ahli dari luar negeri.

Memasyarakatkan Peringatan Hari Bumi

Sehubungan langkah preventif terjadi karhutla di atas, Peringatan Hari Bumi Sedunia 2016 menjadi sangat penting artinya. Sebab peringatan ini harus dijadikan momentum meningkatkan kesadaran mencintai bumi ini. Semua lapisan dan golongan masyarakat di Indonesia harus diajak untuk senantiasa menjaga agar tidak melakukan segala tindakan yang tergolong dalam global warming (pemanasan global).

Sayangnya, di Indonesia Peringatan Hari Bumi Sedunia setiap 20 Maret  ataupun 22 April kurang begitu dikenal.  Masyarakat awam tidak peduli sebab tujuan peringatan Hari Bumi Sedunia belum tersosialisasikan dengan baik di negeri ini.

Berbeda dengan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap tanggal 6 Juni. Peringatan ini jadi gegap gempita karena Pemerintah Pusat memberikan Penghargaan Adipura, Kalpataru, dan Adiwiyata. Akibatnya Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi moment yang ditungguh-tunggu di seluruh Indonesia. Penghargaan Adipura memberi kebanggaan politis sangat besar bagi pemerintah daerah yang menerimanya.  Demikian pula dengan Penghargaan Adiwiyata, yang bisa menjadi salah satu nilai jual sekolah-sekolah yang menerimanya.

Terkait dengan Penghargaan Adipura dan Penghargaan Adiwiyata itu, Peringatan Hari Lingkungan Hidup seolah dikerdilkan. Karena masyarakat memaknai pelestarian lingkungan hidup itu sebatas Menjaga Kebersihan, Melakukan Penghijauan, serta Tidak Menebangi Pohon Secara Liar.

Agar upaya pelestarian lingkungan hidup optimal, Peringatan Hari Bumi harus disosialisasikan dengan baik. Masyarakat perlu disadarkan untuk mencintai Bumi  ini mengaplikasikan Energy for Life, Environment to Live, Earth Day is Everyday dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menyosialisasikan ini, Pers atau Media Massa bisa berperan besar. Media Elektronik dan Cetak sama-sama dapat menyampaikan visi dan misi pelestarian lingkungan hidup serta gaya hidup mencintai bumi ini dengan baik dan efektif. Sebab mereka sama-sama memiliki segmen pasar (pembaca, pendengar, pemirsa, atau viewer) fanatik.

Media Massa memiliki empat fungsi yaitu Informasi; Edukasi; Entertainment; dan Social Control. Untuk menyosialisasikan Gerakan Cinta Bumi dan atau Cinta Lingkungan Hidup ini, keempatnya dapat difungsikan secara optimal.  Untuk itu Pemerintah, Para Aktivis Lingkungan, NGO dalam dan luar negeri, dan Korporat hendaklah saling berkerjasama dengan Media Massa.  Dengan kerjasama yang erat dan baik, sosialiasi terlaksana dengan efektif sehingga masyarkat well-informed (terinfo dengan baik).

Sosialisasi berkelanjutan menjadikan masyarkat well-educated (teredukasi dengan baik).Masyarakat yang telah teredukasi dengan baik ini menjadikan konsep Energy for Life, Environment to Live, Earth Day is Everyday gaya hidup mereka.  Mereka akan merasa malu atau merasa bersalah jika tidak mengadopsi konsep tersebut dalam keseharian.

Manfaatkan Pers untuk Pencitraan

Pada masyarakat yang sudah memahami pentingnya memelihara lingkungan hidup serta mencintani bumi tempat mereka tinggal, pers tetap tidak kehilangan peran sosialisai.  Pers bisa memainkan peran sebagai agen Penggiring Opini maupun Pencitraan.

Dalam hal menamkan kecintaan pada bumi dan menggalakkan pelestarian lingkungan, semua pemangku kepentingan dapat memanfaatkan pers untuk membangun opini atau citra. Di antaranya Orang Hebat selalu menjaga kelestarian lingkungan; Orang Elite gunakan energi ramah lingkungan; Orang Berpendidikan Tinggi hemat energi; dan sebagainya. Nanti, rakyat akan memilih presiden maupun kepala daerah yang tercitra sebagai pencinta lingkungan hidup***

***Ditulis oleh Rosyidah Rozali di Palembang, 22 Maret 2016 untuk disampaikan pada Seminar International, 23 Maret 2016

• telah dilihat 72 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
“Energy for Life, Environment to Live, Earth Day is Everyday” Harus Jadi Lifestyle Seluruh Elemen Bangsa Indonesia

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *