» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang
Inilah lokasi situs Prasasti Talang Tuwo di Talang Kelapa Palembang yang duplikatnya hilang. (foto: Tribun Sumsel)

TRIBUNSUMSEL.COM – IRONIS, Itulah kesan yang dirasakan saat mengunjungi situs Prasasti Talang Tuwo di Dusun Talangkelapa, Kecamatan Talangkelapa, Palembang, Minggu (27/03/2016) pagi.

Prasasti Talang Tuwo yang bicara tentang ekologi melalui pembangunan Taman Sriksetra oleh Raja Sriwijaya Baginda Śrī Jayanāśa di Palembang barat di atas lahan berbukit-bukit dan dikelilingi anak sungai yang mengalir ke Sungai Musi, kini sebagian besar menjadi perkebunan sawit dan perumahan, serta sebagian besar anak sungai itu hilang.

Bahkan situs ini pun berada di area perkebunan sawit tua milik masyarakat. Lokasi situs yang ditutupi atap seng dan terdapat dua makam tua ini, dikurung pagar kawat yang sebagian besar sudah rusak dengan luas 20 x 20 meter.

“Lahan ini wakaf dari keluarga kami,” kata Yahya Zakaria (76), cucu H. Dungtjik, Kriyo Talangkelapa di masa pemerintahan Belanda yang turut berperan menyelamatkan Prasasti Talang Tuwo.

Dijelaskan Yahya, prasasti tersebut ditemukan Alwi Lihan, seorang petani asal Dusun Meranjat, dusun yang kini masuk Kabupaten Ogan Ilir, pada 17 November 1920. Menurut cerita orangtuanya, Alwi menemukan “batu bertulis” tersebut saat dia tengah menggarap kebun di Hutan Adat Talang Tuwo, hutan adat milik marga Talangkelapa.

Penemuan ini kemudian dilaporkan ke penguasa Palembang saat itu Louis Constant. “Batu bertulis tersebut beberapa tahun kemudian dibawa dengan perahu melalui Sungai Talang Tuwo oleh Alwi Lihan didampingi kriyo H. Dungtjik serta punggawa Rozak. Batu bertulis itu dibawa ke Bukit Siguntang,” kata Zakaria.

Sungai Talang Tuwo yang berada sekitar tiga kilometer dari lokasi situs saat ini tidak lagi mengalir ke kaki Bukit Siguntang. Sebab sebagian badan sungainya sudah ditimbun untuk perumahan dan Jalan Soekarno-Hatta.

Hutan Marga

Talang Tuwo merupakan hutan adat milik Marga Talangkelapa. Selain dijadikan perkebunan pangan, di bawah tahun 1970-an, sebagian besar masih hutan rimba.

Hutan adat Talang Tuwo mulai dibuka oleh masyarakat menjadi perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1974. “Saat itu orangtua saya mengingatkan masyarakat tidak merusak tempat ini. Pemerintah kemudian membuat replika batu bertulus ini, tapi tahun 1980 replikanya hilang,” kata Yahya.

Tanaman yang paling banyak tumbuh di hutan adat Talang Tuwo antara lain beragam jenis bambu, kelapa, aren, manggis, simpur, petai, kemang, sepang, dan lainnya.

“Harimau sumatera juga banyak di Talang Tuwo. Tahun 1980-an akhir masih sering warga bertemu atau menemukan jejak harimau sumatera di sini,” katanya.

Dr. Yenrizal dari UIN Raden Fatah Palembang, mengatakan lokasi situs Talang Tuwo yang saat terakhir berada di hutan adat, itu membuktikan jika amanat Raja Sriwijaya Baginda Śrī Jayanāśa tetap dijaga masyarakat Palembang hingga masa pemerintah Kolonial Belanda.

“Artinya baru di masa pemerintahan Indonesia amanat tersebut dilecehkan. Bahkan lokasi tempat raja Sriwijaya menyatakan amanat tersebut turut dirusak. Ini benar-benar memalukan bagi kita,” kata Yenrizal.

“Saya berharap pemerintah pusat maupun pemerintah Sumsel harus menyelamatkan situs ini. Sehingga di masa mendatang, anak dan cucu kita terus menjaga kelestarian lingkungan hidup berdasarkan amanat raja Sriwijaya tersebut,” katanya.***

***Sumber: Tribun Sumsel

• telah dilihat 126 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Ironis, Situs Ekologi Talang Tuwo Dikepung Perkebunan Sawit dan Perumahan

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *