Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Miniatur Prasasti Talang Tuwo dengan ukuran 14 cm x 9 cm. Foto: Taufik Wijaya [www.mongabay.co.id/]
Persoalan lingkungan hidup sangat menonjol di Indonesia, mulai dari kebakaran dan perambahan hutan, banjir, kekeringan, hingga terancamnya keanekaragaman hayati, yang diyakini sebagai dampak dari eksplorasi sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan. Permasalahan ini ternyata memberikan dampak bagi bumi, yakni mendorong terjadinya perubahan iklim.

Ironinya, salah satu wilayah yang lingkungannya mengalami kerusakan tersebut adalah Sumatera Selatan. Disebut ironi, lantaran Sumatera Selatan dulunya merupakan wilayah yang sangat baik penataan lingkungannya. Saat wilayah ini masuk dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Ini berdasarkan catatan sejarah, tidak pernah disebutkan Sumatera Selatan di masa kuno mengalami bencana alam yang luar biasa, seperti banjir, kekeringan, atau juga terserang wabah penyakit yang mematikan banyak manusia dan hewan.

“Kita sebenarnya tidak perlu heran mengenai kondisi Sumatera Selatan di masa Sriwijaya. Penataan lingkungan ini sudah diamanahkan Raja Sriwijaya melalui Prasasti Talang Tuwo, sebuah prasasti penanda dari penataan lingkungan. Prasasti dibuat beberapa tahun setelah didirikan wanua yang saat ini diyakini sebagai Kota Palembang,” kata  Dodi Suwandi R, seniman yang membuat miniatur Prasasti Talang Tuwo, Kamis (25/02/2016).

Dengan pemahaman ini, seniman yang juga aktif dalam gerakan lingkungan dengan penanaman bambu, langsung bersedia melakukan pembuatan miniatur Prasasti Talang Tuwo saat ditawarkan Tim Kerja Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan. Tim Kerja Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan merupakan kelompok kerja sejumlah pekerja budaya, sejarawan dan aktivis lingkungan hidup berdasarkan nilai-nilai keluhuran Sriwijaya, seperti Dr. Najib Asmani, Nurhadi Rangkuti, Maulina, dan Dr. Yenrizal.

“Saya percaya dengan membuat miniatur ini, yang kemudian dibagikan kepada para penyelenggara negara, pimpinan perusahaan, pendidik, dan tokoh masyarakat, baik di Indonesia maupun international, amanah menjaga lingkungan hidup yang tercermin dalam prasasti tersebut akan membangun kesadaran kita bersama untuk menjaga bumi,” kata Dodi.

Dodi Suwandi menunjukkan miniatur Prasasti Talang Tuwo yang dibuatnya. Sebuah upaya membangun spirit Sriwijaya untuk menjaga lingkungan. Foto: Taufik Wijaya [www.mongabay.co.id]

Jaga alam untuk kemakmuran

Budayawan Nurhadi Rangkuti, menuturkan bahwa spirit penjagaan lingkungan hidup dari Prasasti Talang Tuwo adalah kemakmuran. “Kemakmuran! Itulah kata pembuka isi Prasasti Talang Tuwo yang diterbitkan oleh Raja Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada 23 Maret 684 Masehi. Sebelumnya kata yang sama tersebut pula pada Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 16 Juni 682 Masehi ketika sang raja mengadakan perjalanan suci dari Minanga Tamwan dan sampai di ibukota kerajaan beliau meletakan batu pertama pembangunan permukiman (vanua) baru. Kemakmuran menjadi kata kunci bagi Raja Sriwijaya masa itu. Kemakmuran tidak sekadar kata atau janji, melainkan suatu  tindakan nyata yang dilakukan raja untuk membahagiakan semua mahluk yang hidup di muka bumi.”

Artinya, guna mencapai kemakmuran tersebut, manusia harus memperlakukan alam atau lingkungan secara baik. “Prasasti ini memuat peristiwa pembangunan Taman Sriksetra atas perintah raja. Di taman itu ditanam berbagai tumbuhan seperti  pohon kelapa, pinang, aren, sagu, bambu haur, wuluh dan sebagainya. Taman Sriksetra menjadi acuan untuk pengembangan taman-taman atau kebun-kebun lainnya yang dilengkapi dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolam,” kata Nurhadi

Pada masa itu taman, kebun, bendungan dan kolam tersebar di berbagai tempat. Semua itu untuk kebahagian semua manusia, tumbuhan dan hewan. Raja menginginkan semua kebun dengan berbagai tumbuhan hidup subur dan berlebih panennya, demikian pula ternak-ternak yang dipelihara penduduk terus bertambah. Raja mempunyai komitmen tidak ada lagi orang yang lapar, tidak ada lagi pencuri, pembunuh atau pezinah.

Amanat Dapunta Hyang Sri Jayanasa melalui Prasasti Talang Tuo sangat jelas, “Kelola lingkungan untuk kemakmuran semua mahluk. Andai amanat itu dilaksanakan di zaman ini, alangkah bahagianya semua mahluk yang hidup di Bumi Sriwijaya sekarang,” kata Nurhadi.

Dr. Najib Asmani, menilai bangsa Indonesia, umumnya bangsa di Asia Tenggara, harus bangga telah memiliki amanah dari pemimpin Sriwijaya tersebut. “Prasasti Talang Tuwo jelas amanah bagi kita. Jika kita ingin selamat di dunia maupun akhirat, jagalah lingkungan, jagalah Bumi,” paparnya.

Prasasti Talang Tuo yang merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya [sumber: Wikipedia]
Wallahu a’lam

***Sumber: Laman web Mongabay

• telah dilihat 180 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Miniatur Prasasti Talang Tuwo, Simbol Spirit Sriwijaya Menata Lingkungan Hidup

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *