» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Al-hamduli I-lahi I-maliki I-jabbar, segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Besar; al-‘azizi I-ghaffar, Yang Maha Mulia lagi mengampuni segala dosa hambaNya; al-muhaimin s-sattar, Yang mengkaruniai, menutupi segala hai hambaNya; wa s-salatu wa s-salamu ‘ala Muhammadin wa alihi t-tayyibina I-akhyar, dan rahmat Allah atas Muhammad dan atas segala keluarganya sekalian yang suci lagi pilihan.

MAJLIS yang mengatakan kehendak segala raja-raja itu atas delapan perkara:

  • pertama kehendak raja khazanahnya sentiasa tiada berputus perginya dan datangnya
  • kedua perkara kehendak raja kepada sehari-sehari makin bertambah-tambah kebesarannya dan kemuliaannya
  • ketiga perkara kehendak raja kepada sebulan-sebulan makin bertambah-tambah menterinya dan hulubalangnya
  • keempat perkara kehendak raja kepada setahun-setahun makin bertambah rakyatnya
  • kelima perkara kehendak raja beberapa tahun tinggi kotanya dan dalamkan paritnya
  • keenam perkara kehendak raja akan benda yang baik-baik dan bunyi-bunyian yang garib-garib syahdan senjata yang ajaib
  • ketujuh perkara kehendak raja melakukan kesukaannya pada barang sekehendaknya
  • kedelapan perkara kehendak raja itu masyhur namanya.

Pada barang tempat itulah kehendak sekalian raja-raja itu maka sempurna kerajaan baginya.

Adapun murad khazanahnya itu yang tiada berputusan pergi datang itu hendaklah raja mengeluarkan dari pada khazanahnya akan memberi karunia kepada segala hambanya yang berbuat kebaktian atau memberi sedekah akan segala fakir dan miskin dan dari pada belanja negeri dan barang sebagainya, itulah arti keluar dari pada khazanahnya.

Adapun murad tiada berputusan datangnya itu hendaklah dibicarakan raja dari pada unsur negeri dengan sebenarnya itu, hendaklah dibicarakan dalamnya atau di luarnya. Inilah murad daripada datangnya tiada berputusan.

Sebermula jikalau tiada dibicarakan raja khazanahnya perginya datangnya itu, niscaya bertambah akhirnya kekejian negeri raja itu, wa l-lahu a’lam.

Adapun murad kehendak raja kepada sehari-sehari makin bertambah kebesarannya dan kemuliaannya itu hendaklah, pertama raja yang besar dirinya segala barang lakunya tiada dengan barang itu jua. Sebermula jikalau ia semayam pada penghadapan yang di dalam itupun sekalian dengan perintah kebesaran juga, dan jika semayam pada penghadapan yang di luar itupun demikian lagi pada sehari makin bertambahan tahta kebesarannya. Sebermula jikalau ia bertitah masyhur berbuat dengan seketika itu juga dikehendakinya hasil, dan jikalau seseorang hamba dikaruniainya dengan seketika itu juga menjadi kaya dan mulia, jikalau seseorang hamba itu dimurkainya dengan seketika itu juga jadi binasanya.

Syahdan hendaklah dibicarakan raja segala raja yang dapat dimaklumkannya dan beberapa rimba yang terbaik menjadi negeri dan beberapa diperbuatnya mesjid, demikianlah kehendak sekalian raja-raja maka bertambah-tambah kebesarannya dan kemuliaannya, wa I-lahu a’lam bi s-sawab.

Àdapun murad pada tahta kemuliaannya itu, hendaklah raja itu menghiasi dirinya dengan pakaian yang indah-indah dan yang mulia-mulia, kedua hendaklah raja-raja itu menghiasi istananya dengan perhiasan yang indah-indah, ketiga hendaklah raja-raja itu menghiasi penghadapan dengan perhiasan yang indah-indah lagi garib, keempat hendaklah raja-raja itu menghiasi negerinya dari pada mesjid dan lebuh pekan pada sehari-hari diperhiasinya dan barang sebagainya, perhiasi akan menambahi kemuliaan.

Adapun murad daripada bertambah-tambah hulubalang kepada sebulan-sebulan itu yakni hendaklah dipilih raja daripada mereka yang banyak itu, jikalau ada hartanya dan baik sikapnya syahdan tahu pada hal bermain-main senjata lagi pada hikmat peperangan, jikalau miskin sekalipun maka diberi nama oleh raja dijadikan hulubalang supaya bertambah-tambah hulubalang, raja-raja jadi hebat pada segala seteru. Kedua hendaklah dicari raja pada antara orang muda-muda yang baik af’alnya dan tahu perintah majlis segala raja raja, maka jadikan ia biduanda.

Adapun murad pada setahun-setahun makin bertambah-tambah rakyat raja itu yakni hendaklah berbuat adil dan perkasa, pelihara segala menteri dan dari pada segala orang kaya-kaya dan makmur nikmat dalam negeri itu, dan hendaklah raja mengubungkan kasi pada segala negeri dan limpah karunia pada segala dagang dan berbanyak saudagar dalam negeri itu dan mengarang pekerjaan pada segala miskin, karuniai pada kesakitan dan memberi sedekah kepada segala fakir.

Adapun murad daripada beberapa tahun makin luas kota raja dan gahnya itu yakni hendaklah dibicarakan raja pada tatkala berbuat kota itu. Pada ketiga tahun sengenimpang. Syarat berbuat tadi segala orang yang bekerja itu sengenimpang itu juga dibanyakkannya pada tiga tahun setelah sengenimpang diperbuatnya seperti adat dahulu itu. Keempatnyapun demikian juga supaya rakyat sentosa dipergilir dan berbuat parit itupun demikian juga.

Adapun kehendak raja akan yang tabarruk dan bunyi-bunyian yang garib itu yakni hendaklah raja menyuruh pada segala negeri mencari sesuatu perkakas tahta kerajaan dari pada hamparan dan permadani yang keemasan atau pakaian dari pada gajah dan kuda dan barang sebagainya. Apabila didengar nakhoda kehendak raja itu maka dicarinya akan kebaktian, maka menjadi dua manfaat akan raja, pertama beroleh raja benda tabarruk, kedua hendaklah karuniai raja akan nakhoda itu syahdan perbaiki hatinya bagi menjadi hambalah, mudah-mudahan ia ke bawah duli raja.

Adapun murad sehari-hari melakukan kebesarannya itu yakni hendaklah raja membukakan hati segala isi negeri dan isi istananya dan penghadapan dan barang sebagainya. Adapun murad itu yakni hendaklah raja berbuat adil dan bermulia ia segala pendata, dan hendaklah raja mengasi segala fakir dan miskin dan yatim, demikian lagi kehendak segala raja-raja itu maka sempurnalah kebesarannya dan kemuliaannya, wa l-lahu a’lam.

***Rujukan: Adat Aceh, Drs. Ramli Harun, Dra. Tjut Rahma, 1985

Buku ini merupakan naskah Adat Aceh yang sudah dialih aksarakan ke dalam huruf Latin berdasarkan naskah yang diperoleh dari Pusat Dokumentasi Dan Informasi Aceh bulan Agustus 1983. Naskah ini merupakan reproduksi yang dimuat dalam Verhandelingen Van Het Koninklijk Instituut Voor Taal Land En Volkenkunde Deel XXIV tahun 1958 dengan kata pengantar dan catatan-catatan oleh G.W.J. Drewes dan P. Voorhoeve. Mereka menyebutkan bahwa naskah ini milik India Office Library London bertanggal 3 Desember 1815 dan berasal dari W.E. Philips yang menemukannya di Pulau Pinang ketika ia menjadi gubernur di koloni Inggris itu sampai tahun 1824.

• telah dilihat 74 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Inilah Kehendak Segala Raja dalam Adat Aceh

Tulisan Terkait

Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *