Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Mitos Penambah Daya Pikat Gerhana
oleh NAWA TUNGGAL DAN RHAMA PURNA JATI

Kisah kuno di dalam mitos yang jauh dari rasionalitas kekinian tetap memiliki fungsi sebagai sumber inspirasi kreatif untuk menambah hiburan masyarakat. Salah satunya, mitos seekor naga menelan matahari yang diadaptasi dari budaya Tiongkok. Mitos ini akan menambah daya pikat gerhana matahari total yang dapat disaksikan pada 9 Maret 2016 di Palembang, Sumatera Selatan.

“Sungai Musi di Palembang menjadi media untuk mitos keluarnya sang naga ketika hendak menelan matahari. Setelah berhasil menelan matahari, dalam kegelapan total, masyarakat menakut-nakuti naga dengan membunyikan petasan dan bebunyian lainnya sehingga naga pun mengeluarkan kembali matahari sampai langit terang kembali,” kata Henky Honggoh, pemerhati budaya Tionghoa di Palembang, Jumat (5/2/2016).

Pemerintah dan masyarakat Palembang mengemas mitos ini menjadi salah satu acara utama Festival Gerhana Matahari Total pada 9 Maret 2016. Sebuah tarian barongsai sebagai naga dengan panjang 18 meter dikisahkan keluar dari Sungai Musi dan bergerak menelan matahari.

Dentuman musik dan bunyi petasan digemakan untuk menakut-nakuti naga supaya segera mengeluarkan kembali matahari. Naga pun akhirnya mengeluarkan kembali matahari.

Simbol suci

Hengky mengatakan, naga merupakan simbol suci bagi masyarakat Tionghoa dan banyak cerita yang berkaitan dengannya. Naga memiliki makna kehidupan dan keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa. Beragam simbol naga ada di segala aspek kehidupan masyarakat Tionghoa.

“Di dalam mitos naga memakan matahari itu terkandung makna yang buruk karena sinar matahari menghilang yang diartikan menjadi sebuah bencana. Namun, membunyikan petasan dan bebunyian lainnya menjadikan simbol kekuatan lain dari manusia yang mampu mengusir kekuatan yang jahat itu,” ujarnya.

Perihal naga yang murka diwujudkan dengan keinginan menelan matahari, menurut Hengky, tidak diketahui asal usul kejadian yang melatarbelakangi kemurkaan naga. Namun, kemurkaan naga yang diyakini sebagai pelindung dan segala hal yang baik itu menggambarkan bahwa sosok pemilik aspek segala kebaikan pun tetap bisa memiliki aspek kemurkaan.

Kemurkaan dari sosok yang baik di dalam pewayangan, misalnya, disebut sebagai tiwikrama. Tokoh baik yang melakukan tiwikrama, misalnya, Yudhistira dan Kresna. Tiwikrama sebagai wujud murka, bukan angkara murka demi memenuhi nafsu semata.

Naga dalam mitologi Tiongkok dikisahkan menguasai tiga dunia, yaitu air, darat, dan udara, dengan sembilan karakter pada sosok fisiknya. Naga memiliki kepala seperti unta, bersisik seperti ikan, bertanduk seperti rusa, bermata seperti siluman, bertelinga seperti lembu, memiliki leher seperti ular, memiliki lapisan perut seperti tiram, memiliki telapak seperti telapak harimau, dan memiliki cakar seperti rajawali.

Ada yang mengisahkan, naga memiliki 117 sisik dengan 81 di antaranya memiliki karakter Yang atau positif dan 36 lainnya memiliki karakter Yin atau negatif. Murka adalah bagian dari karakter negatif ini.

Dari kutipan literatur Tiongkok, keberadaan naga disebutkan menjadi empat jenis, meliputi sebagai Naga Langit (Tien Lung) yang bertugas menjaga istana para dewa. Naga Spiritual (Shen Lung) berkuasa atas hujan dan angin. Naga Bumi (Ti Lung) berkuasa atas air dan permukaan bumi. Naga Dunia Bawah Bumi (Fucang Lung) bertugas menjaga harta di dalam bumi.

1.000 lampion dan balon

Sebagai tanda kegembiraan dan awal kehidupan yang baru, setelah adanya kegelapan akibat gerhana matahari total di Palembang, akan diterbangkan 1.000 lampion dan 1.000 balon. “Ini sebagai bentuk kegembiraan setelah matahari bersinar kembali dan kehidupan baru pun dimulai,” kata Hengky.

Pergelaran Festival Gerhana Matahari Total di Palembang akan dilangsungkan di Benteng Kuto Besak Palembang. Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Sumatera Selatan Kurmin Halim mengatakan, mitos naga menelan matahari yang dipertunjukkan itu nanti memang telah ada sejak zaman dahulu.

“Kisah ini diracik untuk memberikan kesan spektakuler pada gerhana matahari 9 Maret 2016,” kata Kurmin.

Mitos naga, menurut Kurmin, juga hadir sebagai pelindung dan penolong. Budaya yang terkait mitologi naga di Palembang ini terjadi ketika pada masa lalu terdapat migrasi penduduk Tiongkok ke Palembang.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatera Selatan Farida R Wargadalem mengatakan, sampai saat ini belum ditemukan arsip atau bukti tertulis yang menunjukkan awal mulanya diperoleh dan dikembangkannya mitos naga memakan matahari di Palembang.

“Kita bisa menilik dari sejarah keberadaan warga Tionghoa, mulai dari situs permukiman hingga artefak keramik yang ada di Karang Agung Tengah, Musi Banyuasin,” kata Farida.

Situs budaya Tionghoa di Karang Agung Tengah diperkirakan ada sejak abad keempat Masehi. Ini berdasarkan catatan I Tsing, peristiwa kedatangan Laksamana Chen Ho, dan pembangunan tambang timah di masa Kesultanan Palembang, membuktikan warga Tionghoa sudah ada di Palembang sejak lama.

“Festival Gerhana Matahari Total berdekatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Kami menggunakan mitos naga untuk menambah hiburan bagi wisatawan yang datang ke Palembang untuk menyaksikan gerhana matahari total,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan Irene Camelyn Sinaga.

Menurut Irene, selain tarian barongsai yang mengilustrasikan naga memakan matahari untuk peristiwa gerhana matahari total, juga digelar pertunjukan lain. Festival Ogoh-ogoh juga akan digelar untuk menyambut hari raya Nyepi, bertepatan dengan peristiwa gerhana matahari total, 9 Maret 2016.

Agenda Glowing Night Run, pertunjukan supranatural, dan perlombaan fotografi juga digelar untuk meramaikan pariwisata berkaitan gerhana matahari total tahun ini di Palembang.

Memahami semesta

Mitos naga menelan matahari untuk mengisahkan peristiwa gerhana matahari total sesuai budaya Tiongkok ini ternyata tercatat sejak sekitar 4.000 tahun silam. Pada 22 Oktober tahun 2134 sebelum Masehi, daratan Tiongkok pernah disinggahi gerhana matahari total.

Akibat peristiwa tersebut, berkembanglah mitos adanya naga murka dan berupaya melahap matahari. Masyarakat membunyikan suara-suara keras seperti petasan. Para prajurit Tiongkok kuno dikerahkan untuk menembakkan meriam ke arah matahari pada saat gerhana matahari berlangsung. Tindakan itu dilakukan agar matahari kembali bersinar.

Kisah kuno naga menelan matahari yang kini terkesan jauh dari rasionalitas itu dibingkai sesuai zaman untuk memahami keadaan semesta yang sangat jauh dari jangkauan kemampuan pikiran manusia. “Mitos terlahir salah satunya sebagai usaha manusia memahami peristiwa semesta,” kata Dwi Woro Retno Mastuti, pengajar mitologi pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Mitologi dipergunakan para etnolog dan antropolog untuk memahami berbagai ritual dan konsepsi dasar kepercayaan masyarakat. Di dalam mitologi ditemukan simbol-simbol. Kisah dijalin dengan merangkaikan simbol.

Di era modern, kisah dan simbol itu masih memiliki daya pikat untuk menjadi sumber inspirasi dan kreasi hiburan terkini. Mitos tidak akan lekang oleh waktu.

***Sumber: Kompas cetak

• telah dilihat 164 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Mitos Penambah Daya Pikat Gerhana

Tulisan Terkait

Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *