» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Hamka (1963) dalam bukunya yang berjudul Dari Perbendaharaan Lama telah membicarakan secara singkat cerita Nur Muhammad dan latar belakang timbulnya cerita itu. Cukup menarik keterangannya sehingga mendorong kami untuk menelitinya dalam sastra Indonesia lama dengan jalan mencari naskah cerita itu, mengetahui isi ceritanya. Pada kesempatan ini akan dibicarakan secara singkat latar belakang dan kedudukan “Hikayat Nur Muhammad” ini dalam sastra Indonesia lama, disamping menyajikan salah satu singkatan isi ceritanya berdasarkan naskah yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Cerita mengenai Nabi Muhammad saw. banyak terdapat dalam perbendaharaan naskah sastra Indonesia lama seperti “Hikayat Nabi Muhammad”, “Hikayat Nabi Mikraj”, “Hikayat Bulan Berbelah”, “Hikayat Nabi Bercukur”, “Hikayat Seribu Masalah”, “Hikayat Nabi Wafat”, “Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah”, “Hikayat Nabi Mengajar Ali”, “Hikayat Nabi dan Iblis”, dan “Hikayat Nur Muhammad” ini (Lihat van Ronkel, 1909: 222—234; dan Sutaarga, 1972: 172—182). Berdasarkan hal ini dapatlah kita menempatkan kedudukan “Hikayat Nur Muhammad” ini dalam golongan Cerita Nabi Muhammad dan Keluarganya dalam sastra Indonesia lama pengaruh Islam. Semua cerita itu dimaksudkan untuk mengagungkan dan memuliakan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad dalam cerita itu diceritakan mempunyai banyak keistimewaan dan kelebihan dari nabi-nabi lainnya.

Menurut Hamka (1963:155—156), Nur Muhammad itu ialah insan kamil, manusia yang mahasempurna, dialah permulaan ujud dan dia pulalah kesudahan nabi yaitu Nabi Muhammad saw. Nur Muhammad itu menyatakan dirinya dalam bentuk yang berlain-lainan: menjadi tubuh Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Isa dan lain-lain sampai kepada kesempurnaannya yaitu kepada tubuh Nabi Muhammad saw. Setelah sampai kepada Nabi Muhammad, Nur Muhammad itu terus menjelma kepada tubuh yang lain yaitu kepada Ali, Hasan, Hussen, dan lain-lain. Kepercayaan seperti ini bukanlah berasal dari agama Islam. Dia adalah inti filsafat Hinduisme yang bernama atman yang masuk pengaruhnya ke dalam tasawuf Islam. Dia adalah pantheisme. Insan Kamil adalah tasaufnya Al-Haiaj, difilsafatkan Ibnu Arabi dan dilanjutkan oleh Abdul Karim Jili dalam bukunya yang berjudul Al Insan Kamil. Selanjutnya cerita Nur Muhammad digunakan pula sebagai dongeng kaum tasawuf untuk mendewakan raja.

Sebagaimana diketahui, atman dalam sejarah alam pikiran dan keagamaan Hindu mempunyai arti yang bermacam-macam. Mula-mula diartikan sebagai sebab rohani dari realitas-realitas yang sadar maupun tidak sadar. Kemudian dipakai terutama untuk dasar dari manusia yang sadar. Arti lainnya (upanisaad) jiwa, jiwa dunia, yang Ilahi, aku. Seringkali atman diberi sifat yang kontras seperti yang lebih besar dari yang terbesar. Kadang-kadang disamakan dengan Brahman sebagai dasar terdalam dari aku manusia maupun dari segala-galanya (Eksiklopedi Indonesia I, 1980).

Agaknya atman dalam arti jiwa dunia atau sebagai asal dari segala-galanya inilah yang dikatakan sama dengan Nur Muhammad ini. Dalam “Hikayat Nur Muhammad” diceritakan Nur Muhammad adalah asal segala sesuatu yang diciptakan Tuhan. Ia merupakan asal nabi, malaikat, surga, bulan, matahari, dan sebagainya. Tidak banyak bedanya dengan atman ini ialah pantheisme. Pantheisme ialah suatu aliran filsafat keagamaan yang beranggapan bahwa seluruh kosmos ini adalah Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya ialah Tuhan, dan Tuhan ialah semua yang ada dalam keseluruhannya (Nasution, 1979: 41—42).

Selanjutnya dijelaskan oleh Nasution (1979:41—42), karena Tuhan adalah kosmos ini dalam keseluruhannya dari karena benda-benda adalah bagian-bagian dari Tuhan, maka Tuhan itu, berlainan dengan faham deisme, adalah dekat sekali dengan alam. Tuhan adalah immanent yaitu berada dalam alam ini, bukan di luar, sebagai yang disebut oleh deisme. Karena seluruh kosmos ini adalah satu, maka Tuhan dalam pantheisme mempunyai bagian-bagian.

Memang dasar pemikiran atau pandangan golongan pantheisme ini terlihat pengaruhnya dalam “Hikayat Nur Muhammad” ini, misalnya terciptanya bagian-bagian alam ini berasal dari Nur Muhammad. Dasar kepercayaan yang dikemukakan di atas agaknya cocok sekali dengan kepercayaan golongan Syiah yaitu golongan yang mempunyai kepercayaan bahwa hanya orang-orang dari keturunan Nabi Muhammad saw. sajalah yang berhak memerintah umat Islam. Sekte Syiah ialah golongan orang Islam yang mengakui Ali pemimpin Islam. Mereka mengikuti Ali dan menaruh kepercayaan kepadanya (Morgan, 1963: 175). Syiah menaruh keimanan kepada Nabi Muhammad saw dan sesudah itu kepada Ali dan keturunannya.

Dalam “Hikayat Nur Muhammad” jelas sekali Ali lebih ditonjolkan dari khalifah atau sahabat Nabi yang lain. Diceritakan dalam hikayat itu Allah menciptakan Nur Muhammad seumpama burung, kepala burung itu Ali, matanya Hasan dan Hussein, lehernya Fatimah, ekornya Usman, dan seterusnya. Sedang kalau kita teliti salah satu ciri golongan Syiah ialah orang-orang yang menonjolkan Ali serta keluarganya. Keluarga Nabi Muhammad saw. seperti Fatimah (anak Nabi, istri Ali), Ali (menantu Nabi), Hasan dan Hussein (cucu Nabi) disebut ahl ‘l-bait. Bagi golongan Syiah memuliakan mereka yang termasuk ahl ‘l-bait itu termasuk perintah agama.

Satu hal lagi yang memperkuat dugaan kita terhadap pengaruh Syiah dalam “Hikayat Nur Muhammad” ini ialah dijumpainya keterangan pada permulaan naskah “Hikayat Nur Muhammad” yang bernomor v.d.W. 76 (Ml. 643) yang menyatakan bahwa hikayat ini berasal dari bahasa Parsi. Sebagaimana diketahui Syiah merupakan aliran resmi yang diakui negara Parsi sejak abad ke-16 sampai sekarang. Cerita-cerita sastra Indonesia pengaruh Islam yang berasal dari Parsi memang banyak masuk dalam sastra Indonesia lama.

Hasil-hasil sastra Indonesia lama yang lain yang diduga mendapat pengaruh Syiah antara lain: “Hikayat Nabi Mengajar Ali”, “Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah”, “Hikayat Bulan Berbelah”, “Hikayat Nabi Wafat”, “Hikayat Ali Kawin”, “Hikayat Fatimah Berkata-kata dengan Pedang Ali”, “Cerita Tabut”, “Hikayat Muhammad Hanafiah”, dan “Hikayat Hasan dan Husein”. Dalam cerita-cerita itu dikisahkan Nabi Muhammad dan keluarganya dan dengan jelas Ali sangat ditonjolkan keunggulannya, kepahlawanannya, serta kesaktiannya. Cerita-cerita itu sebagian besar merupakan saduran atau terjemahan dari bahasa Parsi. Semua cerita yang dikemukakan di atas naskahnya terdapat di Museum Nasional Jakarta.

Cerita mengenai Nur Muhammad ini juga terdapat dalam beberapa hikayat. Menurut Juynboll (1899: 202) riwayat kejadian Nur Muhammad terdapat dalam “Hikayat Muhammad Hanafiah” dan “Hikayat Syah-i Mardan”. Di samping itu dalam beberapa naskah “Undang-undang Minangkabau” terdapat pula cerita Nur Muhammad ini. Misalnya dalam naskah “Undang-undang Minangkabau” yang ternomor Cod. or. 12.125 (OPH 3.8°) dan Cod. or. 12.139 (Oph. 17.8°) (van Ronkel, 1921: 247—249) terdapat cerita Nur Muhammad. Di dalamnya diceritakan kedudukan Nur Muhammad di sisi Tuhan. Segala sesuatu di alam ini diciptakan oleh Tuhan dan Nur Muhammad itu. Sedang dalam naskah “Undang-undang Minangkabau” yang lain yang bernomor Cod. or. 12.132 (Oph. 10 A 12°) (van Ronkel, 1921: 249) diceritakan hubungan Nur Muhammad dengan asal adat. Adat itu berasal dari Nur Muhammad. Hal ini dimaksudkan agar kedudukan adat dipandang tinggi dan mulia.

Sekarang baiklah kita bicarakan naskah-naskah cerita Nur Muhammad di Museum Nasional Jakarta. Di Museum Nasional Jakarta tercatat tujuh naskah yang berjudul “Hikayat Nur Muhammad” ini. (van Ronkel, 1921: 222—224); dan Sutaarga, 1972: 172—173). Ketujuh naskah ini dapat digolongkan dalam dua versi yaitu versi panjang dan versi pendek. Naskah versi panjang ini terdiri atas dua naskah. Isinya lebih dari 100 halaman. Naskah itu bernomor v.d.W. 76 (Ml.543) 111 halaman dan C.St. 119 (Ml. 644) 177 halaman.

Naskah versi pendek terdiri atas lima naskah. Isinya tidak lebih dari 18 halaman yaitu: (1) Bat Gen. 96 (Ml. 96) 18 halaman, (2) Bat. Gen. 406 B (Ml. 406 B) 9 halaman, (3) v.d.W. 75 (Ml. 642) 11 halaman, (4) Bat. Gen. 388 F (Ml. 388 F) 17 halaman, dan(5) Bat. Gen. 378 C(Ml. 378 C) 11 halaman.

Naskah versi panjang yang pertama v.d.W. 76 berukuran 20 X 32 cm, 111 halaman, 19 baris tiap halamannya, tulisan naskah Arab-Melayu, dan keadaan naskah masih baik. Isinya dapat disimpulkan pada keterangan yang terdapat pada halaman pertama naskah itu sebagai berikut.

“Kemudian daripada itu maka inilah suatu tarikh yang mukhtasar, padahal keadaannya kami pindahkan daripada bahasa Parsi pada menyatakan segala peraturan turun-temurun nasab Nabi kita sala ‘l-Lahu alayhi wa sallam dan pada menyatakan berpindah-pindah cahaya yang amat elok daripada salbi yang baik kepada segala roh yang suci, dan pada menyatakan segala kenyataannya yang turun temurun daripada niniknya yang amat tinggi martabatnya dan pada segala ibunya yang suci.”

Dari kutipan pendahuluan naskah itu, kita mendapat kesan bahwa dalam naskah itu tidak hanya diceritakan kejadian Nur Muhammad sebagai sumber segala sesuatu yang ada tetapi juga diceritakan bagaimana Nur Muhammad itu sampai kepada Nabi Adam, kemudian berpindah kepada anak Nabi Adam yang bungsu, terus kepada Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan sampai kepada ujudnya yang sempurna yaitu kepada Nabi Muhammad saw. sebagai nabi akhir zaman. Setelah Nabi Muhammad saw. wafat, Nur Muhammad itu berpindah kepada Ali, Hasan, Husein, dan seterusnya kepada keturunan Nabi Muhammad.

Naskah versi panjang yang kedua yaitu C. St. 119 berukuran 19 X 24 cm, 177 halaman, 13 baris tiap halaman, tulisan Arab-Melayu, jelas, dan keadaan naskah masih baik. Pendahuluannya berbunyi: “Inilah kitab risalah yang dinamai kitab Judul Karam di dalam menyatakan permulaan suatu kejadian sampai akhirnya yaitu hari kiamat.”

Yang dimaksud dengan permulaan suatu kejadian itu ialah Nur Muhammad, Diceritakan bagaimana Nur Muhammad itu terjadi. Setelah itu diselingi dengan cerita mengenai iman, tauhid, makrifat, dan Islam. Selanjutnya cerita berpindahnya Nur Muhammad itu kepada Nabi Adam, Nabi Sulaiman, Nabi Musa, dan lain-lainnya. Juga diceritakan tentang penciptaan malaikat, surga, neraka, dan sebagainya.

Jelaslah bahwa kedua naskah itu panjang lebar isinya, tidak saja mengenai permulaan ciptaan Tuhan yaitu Nur Muhammad tetapi juga cerita yang dihubungkan dengan Nur Muhammad itu. Naskah versi pendek hanya berisi tentang kejadian Nur Muhammad dan kejadian alam semesta ini berasal dari Nur Muhammad itu. Pada kesempatan ini akan disajikan singkatan isinya berdasarkan naskah yang bernomor Bat.Gen.378 C. Naskah ini dapat dianggap yang terbaik dari kelima naskah versi pendek yang dikemukakan di atas. Naskah ini berukuran 15 X 20 cm, 58 halaman, 11 baris tiap halaman, tulisan naskah Arab-Melayu, cukup jelas, kertasnya sudah agak lapuk, sebagian sudah dilapisi dengan kertas minyak, beberapa halaman berlubang-lubang, kolofon: Kampung Bali, 6 Ramadhan 1872. Dalam naskah ini terdapat 7 cerita, Hikayat Nur Muhammad terdapat pada bagian ketiga yaitu pada halaman 15—25. Singkatan isi Hikayat Nur Muhammad ini sebagai berikut.

Cerita ini dimulai dengan kalimat bismillah dan selanjutnya penjelasan bahwa cerita ini mengenai Nur Muhammad. Nur Muhammad itu sudah ada sebelum adanya segala sesuatu di alam ini. Nur Muhammad merupakan asal segala sesuatu yang diciptakan Allah. Nur Muhammad sujud kepada Allah selama 50 tahun, setelah itu barulah ia bangkit atas perintah Allah. Diwajibkan oleh Allah terhadap Nur Muhammad dan umat-Nya sembahyang lima kali sehari semalam, puasa dalam bulan Ramadan, zakat, dan naik haji ke Mekah. Allah menciptakan Nur Muhammad itu seperti burung: kepalanya Ali, matanya Hasan dan Husein, lehernya Fatimah, ekornya Usman bin Affan, belakangnya Abbas, dan kedua kakinya Aisyah dan Khadijah.

Allah menganugrahkan kepada Nur Muhammad tujuh laut yaitu laut ilmu, laut latif, laut pikir, laut sabar, laut akal, laut rahman, dan laut cahaya. Nur Muhammad diperintahkan oleh Allah berenang pada tujuh laut itu. Ketika ia keluar dari laut itu Nur Muhammad menggerakkan tubuhnya sehingga titiklah air dari tubuhnya. Titik-titik air itulah yang menjadi asal nabi, malaikat, ruh, qalam, arasy, surga, matahari, bulan, nyawa manusia, dan lain-lain. Allah menciptakan Nur Muhammad dari unsur air, api, angin, dan tanah. Nur Muhammad itu diperintahkan oleh Allah pergi kepada tiap unsur itu. Setelah bertemu dengan Nur Muhammad, air menyombongkan dirinya, demikian pula api, dan angin karena masing-masing merasa bahwa dialah yang paling berkuasa. Nur Muhammad menjelaskan kepada tiap unsur itu bahwa semua ciptaan Allah ada celanya, hanya Allah Taala yang tiada bercela. Api, air, dan angin akhirnya bertobat dan mengucapkan syahadat. Tanah tiadalah menyombongkan dirinya dan dengan hormatnya menyambut kedatangan Nur Muhammad. Nur Muhammad memohonkan kepada Allah agar Allah Taala menciptakan semua makhluk dari tanah.

Segala sesuatu di dunia ini mempunyai empat sifat sesuai dengan kodrat air, api, angin, dan tanah yaitu dingin, hangat, basah, dan kering. Sebagai penutup dijelaskan bahwa pahala orang yang membaca “Hikayat Nur Muhammad” itu sama dengan pahala orang naik haji atau pahala orang mati sahid. Sultan Muhammad Azzanuwi dilepaskan Allah dari siksa hari kiamat sebab bertemu dengan hikayat kejadian Nur Muhammad itu.

Wallahu a’lam

***Rujukan: Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik; Dr. Edwar Djamaris; Balai Pustaka

• telah dilihat 836 kali • total 4 kunjungan untuk hari ini •
Latar Belakang dan Kedudukan Hikayat Nur Muhammad dalam Sastra Indonesia Lama

Tulisan Terkait

Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *