» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

MAKNA RAGAM HIAS

Ragam hias hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam bentuk visual, yang proses penciptaannya tidak lepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan. Ia ditujukan sebagai pelengkap rasa estetika. Rupanya di dalam bentuk ragam hias itu terdapat pula makna simbolik tertentu menurut apa yang berlaku syah secara konvensional, di lingkungan masyarakat pendukungnya (Toekio M, 1987:9).

Ragam hias Sumatera Selatan sudah dikenal sejak zaman prasejarah dan merupakan bagian dari kebudayaan prasejarah. Kemudian, pada zaman Neolitikum ragam hias menunjukkan sifat monumental dan simbolis. Masyarakat telah mengenal ukiran yang terdapat pada bangunan dan benda-benda lainnya, misalnya kayu berukir, perahu berukir, hiasan-hiasan pada bubungan rumah dan pada bagian-bagian lainnya yang menunjukkan “lambang” sebagai penolak bala, mendatangkan kebahagiaan dan kemakmuran.

Pada zaman kebudayaan Dongson keterampilan untuk menghias makin intensif antara lain berupa pinggirawan, pilin, swastika dan meander. Bentuk-bentuk ragam hias zaman kebudayaan Dongson itu terus berkembang dan mempengaruhi kebudayaan hingga kini. Pada kurun waktu abad 7 – 10 Masehi, pada zaman Kerajaan Sriwijaya, seni ragam hias yang berkembang dipengaruhi oleh kebudayaan asing yaitu dari India dan Cina. Masuknya pengaruh luar dari India dan Cina tersebut memberikan corak atau gaya dalam kebudayaan Sumatera Selatan dan berpengaruh sampai saat ini.

Berdasarkan sejarah pada masa Kesultanan, seni ragam hias khususnya seni ukir adalah sebagai perlambang kebudayaan. Pada masa Kesultanan tersebut, Sang Sultan mempunyai satu kebiasaan mengadakan perlombaan ketangkasan berukir dan bagi yang berhasil diberikan gelar menurut kedudukan. Pada waktu ini motif yang khas adalah motif yang diambil dari tumbuh-tumbuhan, karena tumbuh-tumbuhan merupakan perlambang dari kehidupan, dan manusia juga hidup dari tumbuh-tumbuhan (Susanto, 1993: 3-5).

Pada dasarnya macam atau jenis ragam hias terdiri dari ragam hias yang bercorak geometris (geometrical ornament) antara lain berwujud unsur-unsur ilmu ukur yang terdiri dari garis-garis, bidang segi empat, bujur sangkar, pilin, tumpal dan lain-lain; serta ragam hias yang bercorak non geometris yaitu antara lain berwujud penggayaan dari tumbuh-tumbuhan dan penggambaran makhluk hidup seperti hewan. Ragam hias yang bercorak geometris seperti garis-garis yang berbentuk bujur sangkar, pucuk rebung, pilin dan lain-lain banyak terdapat pada seni ragam hias Sumatra Selatan khususnya seni ukir yang terdapat pada rumah tradisional.

Menurut Toekio M, bentuk ragam hias geometris yang berbentuk garis-garis juga ada makna simboliknya. Bentuk-bentuk garis yang disusun atau digubah dapat disampaikan kesan tentang kedalaman atau dimensi, tentang gerak, atau bahkan kesan lain yang bersifat menggugah perasaan, menggugah rasa semangat, religious ataupun metafisik yang abstrak.

Dari semua itu jelaslah bahwa garis tidak sekedar satu bentuk dari unsur utama sebuah gambar yang demikian sederhana. Garis-garis tersebut mempunyai makna yang memberi kesan seperti: garis melengkung atau lentur memberi makna kelelahan, istirahat dan diam; benturan diagonal menyatakan makna peperangan, kebencian dan kebingungan; lengkungan berirama berkesan menggembirakan; garis spiral bermakna perputaran, kelahiran dan berpusar; garis vertikal berkesan stabil, kemuliaan, kokoh dan tegar; garis horizontal berirama melambangkan sifat kemalasan dan bersenandung; garis-garis radiasi merupakan ungkapan letupan, letusan, spontan dan pemusatan; garis diagonal bermakna bergerak dan labil; garis-garis zig zag lambang kegairahan dan semangat; garis mencuat berarti kebangkitan dan menerjang keatas; garis perspektif mengecil berkesan perluasan, pelebaran dan tebal; garis perspektif terbalik memberikan makna berat dan menyerang; garis-garis yang berbentuk piramida merupakan lambang yang menyatakan berkekuatan, berbobot dan tegar; garis-garis lengkung memusat berkesan gembira dan mengembang; garis-garis yang berbentuk lengkung kubah sebagai lambang kekerasan, berat dan kekuatan; garis-garis yang meliuk-liuk bermakna kebangkitan; garis-garis lengkungan gothik merupakan lambang yang menyatakan keagamaan, meninggi dan sakral; serta garis lengkung mengembang bermakna ceria, fantastis dan kegembiraan (Toekio M, 1987; 15-30).

Ragam hias geometris merupakan ragam hias yang cukup tua usianya. Hal tersebut ditunjang oleh bukti-bukti dari peninggalan masa lampau. Adanya karya-karya yang indah yang pemah dibuat manusia pada masa lampau diantaranya terbukti dari benda-benda purbakala. Pada waktu itu, ragam hias geometris diciptakan sebagai suatu karya yang berlatar belakang pada kebudayaan yang sangat berakar pada nada spiritual beserta landasan imajinasi yang begitu mengesan. Bentuk-bentuk itu dituangkan mulai dari yang kaku sampai pada bentuk yang demikian plastis serta gemulai beriramakan ekspresi dari tangan-tangan trampil. Pada kelompok ragam hias geometris ini, setiap goresan itu mempunyai peran tersendiri, bahwa antara garis yang lurus dan yang lengkung serta goresan-goresan tajam dan keras dengan torehan ringan dan tipis itu bergumul dalam satu kaitan bentuk yang indah. Ragam hias geometris dipakai untuk menghias bagian tepi atau pinggiran, dan juga diterakan sebagai isian. Di samping itu, ragam hias geometris juga ditemukan sebagai inti atau bagian yang berdiri sendiri (Toekio M,1987: 33-38).

Ragam hias geometris antara lain berbentuk jajaran genjang, tumpal, pilin berganda, meander, swastika dan lain-lain. Ragam hias jajaran genjang yang sering juga disebut motif wajik yang dalam istilah setempat disebut motif bubur talam pada dasamya merupakan garis-garis zig-zag beraturan yang membentuk jajaran genjang.

Motif tumpal atau dalam istilah setempat disebut motif pucuk rebung berbentuk segi tiga sama kaki. Motif tersebut ada yang berposisi tegak atau ujungnya di atas baik secara tunggal maupun yang terdiri dari beberapa motif tumpal yang disusun secara berderetan. Ada juga motif tumpal yang dibuat terbalik atau ujungnya di bawah. Seringkali ditemukan pula motif tumpal yang disusun secara berhadap-hadapan antara yang tegak dan yang terbalik, yang dibuat berselang-seling. Motif tumpal ini ada yang dibuat polos, ada juga yang didalamnya diisi dengan motif lain, baik berupa garis-garis, bunga, bintang atau sulur-suluran. Motif pucuk rebung merupakan lambang pertumbuhan.

Motif pilin, baik pilin tunggal maupun pilin berganda (double spiral) merupakan motif yang tua, sudah ada sejak kebudayaan perunggu. Motif ini berbentuk seperti huruf “S”. Bentuk pilin ini dapat dibuat dengan berbagai macam variasi, sehingga ada yang tidak kelihatan menyerupai huruf “S”, tetapi lebih menyerupai bentuk spiral. Ada juga yang berbentuk pita, untaian, berumbai dan memusar. Pada ukiran rumah tradisional, motif ini seringkali dibuat sebagai pelengkap yang dipasang di pinggiran motif utama, yang umumnya dibuat lebih kecil dibandingkan motif utamanya. Ada kalanya motif pilin ini merupakan motif utama, dalam arti merupakan motif yang dominan yang di buat lebih besar dibandingkan motif yang dianggap sebagai motif pendukung.

Ragam hias motif meander mempunyai beberapa bentuk. Motif meander ada yang menyerupai huruf “T” yang dibuat tegak dan terbalik, yang disusun berselang-seling. Sebagaimana motif pilin, motif meander pada umumnya sebagai motif pelengkap yang dibuat lebih kecil dari motif utamanya, meskipun ada juga motif meander yang merupakan motif utama.

Ragam hias motif swastika juga ditemukan pada ukiran tradisional. Swastika merupakan lambang peredaran bintang-bintang. Swastika juga mempunyai makna atau sering dipercayai sebagai tanda pembawa tuah bagi kehidupan. Swastika ini diperkirakan datangnya dari Cina.

Selain ragam hias geometris, ragam hias non geometris banyak dijumpai pada ukiran-ukiran yang terdapat pada rumah tradisional Sumatera Selatan. Ragam hias non geometris ini umumnya merupakan penggayaan dari tumbuh-tumbuhan atau flora.

Peranan flora sangat besar artinya bagi manusia, baik ia merupakan sumber kehidupan atau sebagai sumber untuk penciptaan ragam hias. Manfaat yang dapat diambil untuk kegiatan seni ini bukan hanya merupakan sumber ide dan simbolis tetapi banyak pula nilai estetis lain yang terkandung padanya secara alami. Tumbuh-tumbuhan dan segala strukturnya mampu memberikan berbagai bentuk sebagai pokok garapan pada sekian banyaknya ragam hias. Berbagai bentuk penggambaran yang diwujudkan sebagai ragam hias ini diciptakan dengan pengalihan benda asal berupa daun-daun, bunga-bunga, pohon serta buah-buahan. Tumbuh-tumbuhan sebagai faktor yang menentukan kelanjutan hidup makhluk lain juga besar peranannya di dalam mengisi perjalanan budaya manusia. Karena itu tumbuh-tumbuhan sebagai suatu karunia yang tak dapat dinilai dan betapa tinggi nilainya dalam kaitannya dengan hidup manusia.

Tidak dapat disangkal bahwa alam sangat kaya akan sumber inspirasi yang dapat dituangkan ke dalam karya seni. Semua itu merupakan satu ikatan yang dilandasi oleh rasa kekaguman, kecintaan atau kesan lain yang betolak dan alam pikiran dan perasaannya terhadap alam. Berbagai cara untuk mengungkapkan rasa kecintaan ini yang pada akhirnya ada juga di antaranya mewakili sebagai bentuk-bentuk simbolis dan perasaan manusia terhadap sesuatu yang lebih, sesuatu yang luhur. Tentang kehidupan misalnya, diungkapkan dengan bentuk ragam hias pohon hayat (Teokio M, 1987 : 74-94 ).

Motif atau ukiran yang umum dijumpai pada rumah tradisional Sumatera Selatan adalah berupa bunga yang dilingkari oleh daun, dahan, batang dengan bermacam-macam variasi. Motif-motif yang khas adalah berupa motif bunga matahari, bunga tanjung, bunga melati, bunga teratai, bunga mawar, buah delima, buah srikaya dan banyak lagi yang lainnya. Kesemua motif-motif tersebut di atas di samping merupakan ungkapan rasa seni dan keindahan juga dianggap mempunyai makna atau sebagai perlambang.

Motif yang paling banyak dijumpai pada ukiran yang terdapat pada rumah tradisional adalah motif sulur-suluran yang melambangkan kehidupan terus menerus. Begitu pun, motif-motif yang berbentuk bunga juga dianggap merupakan simbol atau perlambang.

Bunga tanjung dan bunga teratai merupakan lambang ucapan selamat datang. Bunga melati merupakan lambang kesucian. Bunga mawar dilambangkan sebagai penawar baik penawar rasa sakit maupun penawar rasa rindu. Sedangkan bunga matahari merupakan lambang kehidupan, karena manusia tidak bisa hidup tanpa sinar matahari.

Motif-motif tersebut di atas, baik yang berupa sulur-suluran maupun yang berbentuk buah dan bunga di gambarkan dalam berbagai macam variasi. Sebagai contoh, ragam hias dengan motif bunga matahari, di dalamnya diisi dengan berbagai macam variasi baik ragam hias geometris maupun yang non geometris ( Gambar 20, 21 dan 23 ).

Ragam hias motif fauna jarang sekali dijumpai, karena pengaruh agama Islama yang kuat di Sumatera Selatan. Kalau tokh ada, sudah distilir sedemikian rupa sehingga tidak menyerupai bentuk aslinya, bahkan seringkali hanya merupakan bagian dari organ hewan yang digambarkan. Sebagai contoh, ragam hias yang mengandung motif fauna yang sering dijumpai pada ukiran tradisional adalah motif “paruh burung enggang” yang sudah distilir.

MOTIF – MOTIF RAGAM HIAS

Pada rumah tradisional Sumatera Selatan terdapat beraneka ragam motif ragam hias, baik yang bercorak geometris maupun yang non geometris. Ragam hias non geometris yang seringkali dijumpai pada ukiran rumah tradisional adaiah penggayaan dari tumbuh-tumbuhan atau flora, sedangkan motif fauna jarang sekali dijumpai karena adanya pengaruh agama Islam yang kuat di Sumatera Selatan.

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, berikut akan ditampilkan beberapa motif ragam hias yang terdapat pada ukiran rumah tradisional Sumatera Selatan.

Ragam hias motif suiur-suluran yang menghiasi ukiran pada rumah tradisional Sumatera Selatan. Pada gambar ragam hias tersebut nampak pada bagian alang (tapak putrì), sako, dan pada bagian peminggang (bebat putri). Bagian sako didominasi oleh stilasi bunga dan daun, dengan pola yang sama yang dibuat secara bersusun. Bagian pinggir baik pada bagian alang, sako maupun bagian peminggangnya terdapat motif yang sama yaitu ragam hias geometris motif meander, yang mempunyai renda

Ragam hias motif sulur-suluran yang menghiasi bagian alang, sako, dan peminggang . Pada bagian alang nampak motif lunglungan terdiri dari tangkai dan daun yang dibuat dengan arah bolak-balik. Pada sako bagian atas yaitu berada pada pertengahan antara bagian peminggang kiri dan kanan nampak ada ragam hias motif buah nanas yang distilir. Ragam hias pinggirannya, baik pada bagian alang maupun pada bagian peminggang berupa motif pucuk rebung, yang antara pinggir atas dan pinggir bawah disusun secara berhadapan. Sedangkan pinggiran bagian sako berupa motif yang menyerupai renda

Ragam hias atau ukiran yang menghiasi bagian sako pinggir atau pojok, bagian alang serta bagian peminggang. Pojok kiri bagian alang motifnya merupakan stilasi dan bunga teratai, yaitu yang merupakan pangkal dari lunglungan, berarti lunglungan tersebut dari kiri ke kanan. Lunglungannya dibuat dengan pola ukel yang antara satu dengan yang lain dibuat dengan arah yang berlawanan. Pada setiap ukelnya, dekatnya diberi ragam hias motif paruh burung enggang. Pada bagian pinggir-pinggirnya, baik bagian kiri, kanan, atas maupun bawah diberi ukiran dengan motif yang sama yaitu menyerupai renda. Motif pada bagian peminggang sama dengan motif pada bagian alang, hanya saja arahnya dibuat berlawanan. Stilasi bunga teratai pada bagian peminggang dibuat di pojok kanan, sedangkan lunglungannya ke arah kiri. Pada bagian sako terdapat motif cakra (roda) yang dikelilingi oleh motif paruh burung enggang. Di samping itu ada motif bubur talam, motif pucuk rebung yang diisi dengan motif sulur-suluran dan ada juga yang diisi dengan motif paruh burung enggang, motif stilir jantung pisang serta berbagai macam motif yang lain

Ragam hias motif “matahari” yang terdapat di pintu. Pada bagian lingkar luarnya terdapat motif tumpal (pucuk rebung), yang bagian runcing menghadap ke dalam. Motif pucuk rebung tersebut tanpa isian atau polos. Bagian dalam merupakan motif bubujalan atau pusar. Pada bagian paling tengah terdapat lubang yang berfungsi sebagai ventilasi dan juga untuk melihat dari dalam apabila ada orang yang mengetuk pintu

Ragam hias motif swastika yang terdapat dibagian pagar garang. Ukiran pada pagar garang motif swastika yang nampak pada gambar tersebut terdapat pada rumah yang pemiliknya keturunan Pangeran. Motif-motif ukiran tersebut di atas adalah motif-motif ukiran yang berada pada rumah ulu pada umumnya. Berikut akan ditampilkan motif-motif ukiran yang khusus terdapat pada mmah ulu koleksi Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan ” Balaputra Dewa “

Ragam hias ” matahari ” yang berada pada pintu yang menghubungkan antara ruang pemidangan depan dengan ruang dalam. Pada ukiran tersebut didominasi oleh ragam hias geometris terutama motif tumpal atau pucuk rebung

Ragam hias yang terdapat di kitau. Ragam hiasnya tidak berupa ukiran, tetapi hanya merupakan “permainan wama”. Lingkaran paling dalam (lingkaran Pertama) berwarna merah. Lingkaran kedua berwarna putìh. Lingkaran ketìga berwarna merah lagi. Ketìga lingkaran tersebut polos tidak beragam hias. Lingkaran keempat wama dasarnya putih, sedangkan ragam hiasnya berwarna biru, berupa stilasi daun yang berjumlah 24 buah dengan bentuk yang sama. Motif stilasi daun tersebut disusun dengan cara bagian runcing menghadap kedalam. Lingkaran kelima berwarna putih dan lingkaran keenam berwarna merah. Kedua lingkaran tersebut terakhir polos, tidak beragam hias. Ragam hias pada kitau tersebut sebagai lambang “persatuan pedati”, yang menandakan bahwa rumah tersebut adalah “rumah tumpangan” bagi para kusir pedati

Ukiran yang berada pada bagian alang, sako dan peminggang pada dinding bagian tengah. Pada bagian alang, tcpat berada di tengah-tengah adalah ragam hias motif stilasi buah nanas. Motif tersebut merupakan pangkal dan lunglungan yang mengembang ke arah kiri dab ke arah kanan.Pada bagian sako terdapat motif kuncup bunga yang disusun dari bawah ke atas yang beijumlah delapan buah. Pada bagian pinggimya, baik pada bagian alang maupun pada sako terdapat motif yang sama yaitu berupa lengkungan-lengkungan yang menyerupai renda. Pada bagian peminggang sebelah kanan terdapat motif yang berupa susunan kelopak-kelopak bunga yang terdiri dari empat lapis yang menyerupai bentuk kipas. Di samping itu terdapat motif sulur-suluran. Pada bagian pinggir peminggang, baik pada bagian bawah, atas, kiri maupun kanan terdapat ragam hias geometris dengan bentuk yang sama yang menyerupai lengkungan-lengkungan gothik

Ragam has atau ukiran yang terdapat pada bagian peminggang. Tepat pada bagian tengah terdapat motif stilasi buah nanas yang pada bagian atas kiri dan kanannya diberi kuncup bunga yang bertangkai. Buah nanas tersebut merupakan pangkal lunglungan yang mengembang ke arah kiri dan ke arah kanan. Bagian pinggimya merupakan lengkungan-lengkungan yang mirip lengkungan gothik

Ukiran bagian alang dan peminggang yang terdapat pada dinding sebelah kiri. Baik pada bagian alang maupun bagian peminggang motifnya sama yaitu pada bagian tengahnya berupa garis-garis zig zag yang membentuk jajaran genjang, yang dalam istilah setempat disebut motif bubur talam. Motif tersebut ada isiannya yaitu berupa empat buah daun yang disusun dengan empat arah yaitu ke arah atas, bawah, kiri dan kanan, yang bagian runcingnya ke arah keluar, sehingga kalau dilihat sebagai kesehiruhan menyerupai bentuk bunga. Bagian pinggir-pinggirnya merupakan lengkungan-lengkungan yang menyerupai lengkungan gothik

Ukiran yang terdapat pada bagian atung, alang dan sako. Ukiran yang terdapat pada bagian atung sama dengan ukiran yang terdapat pada bagian alang dan peminggang dinding sebelah kiri, yaitu berupa motif bubu talam yang diisi dengan empat buah daun yang disusun dengan cara empat arah, sehingga sebagai kesatuan menyerupai bentuk bunga. Hanya saja, pada bagian atung ini tidak ada motif pinggirannya. Di atas atung adaiah tanggai putri ( pada gambar nampak empat buah ). Di atasnya adaiah bagian alang dengan motif stilasi buah nanas sebagai pangkal dari suhir-suluran yang mengembang ke arah kiri dan ke arah kanan

Wallahu a’lam

***Rujukan: Sukanti, Zulbiati dan Emawati; Rumah Ulu Sumatera Selatan; Balai Pustaka; 1993

• telah dilihat 4.014 kali • total 17 kunjungan untuk hari ini •
Makna dan Motif Ragam Hias Rumah Ulu OKU

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *