Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Ruang-ruang dalam rumah tradisional dibuat untuk memenuhi beberapa fungsi. Dijelaskan bahwa pembangunan rumah tidak sekedar tempat bernaung dari hujan, panas dan serangan binatang buas. Menurut Ismail, pembangunan rumah tempat tinggal bukanlah sekedar memberi keperluan perlindungan saja tetapi ia mempunyai perhubungan penting dengan psikologi manusia, sosialisasi masyarakatnya, kehendak-kehendak pribadi, agama, adat istiadat, dan sebagainya. Oleh karena itu, reka bentuk sesuatu bangunan dan susun letak ruangnya menitikberatkan aspek-aspek tersebut (Ismail, 1992 : 31).

Sebagai contoh adalah Rumah Ulu salah seorang keturunan pangeran koleksi Museum Balaputra Dewa yang berasal dari Desa Asem Kelat, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang dibuat dengan tujuan disamping sebagai rumah tempat tinggal juga dimaksudkan sebagai rumah penginapan atau “rumah tumpangan” khusus bagi para kusir pedati. Oleh karena itu, dalam menjelaskan fungsi ruang akan mengacu pada dua hal tersebut.

Rumah ulu contoh ini, rumah ulu koleksi Museum “Balaputra Dewa”, terdiri dari beberapa ruangan. Meskipun begitu, antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya jumlah ruangannya tidak selalu sama. Berikut adalah ruangan-ruangan yang ada pada rumah ulu koleksi Museum “Balaputra Dewa” yang berasal dari desa Asem Kelat, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) sebagaimana terlihat pada ilustrasi di bawah ini.

Denah Rumah Ulu

Dengan melihat ilustrasi di atas, maka akan lebih jelas dan lebih mudah dalam menjelaskan fungsi pada masing-masing ruangan. Pada ruangan terbuka bagian bawah rumah, di sela-sela tiangnya, ternyata mempunyai beberapa fungsi atau dipergunakan untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Pada ruangan tersebut sering dijumpai adanya peralatan seperti isaran padi, pipisan kapas, apitan (alat pembuat minyak kepayang), kilangan (alat pembuat manisan tebu) dan nggahe (kandang ayam), serta banyak lagi yang lainnya. Peralatan-peralatan tersebut merupakan cermin dari aktivitas yang dilakukan pada ruangan-ruangan tersebut; meskipun adakalanya tempat tersebut hanya merupakan gudang atau tempat untuk menyimpan, sedangkan pemakaian peralatan tersebut di tempat lain.

Pada waktu siang atau sore hari, apabila tidak ada pekerjaan di kebun, para wanita biasanya melakukan pekerjaan mengetam padi yang dilakukan di ruang bawah tersebut. Keadaan ini dilakukan terutama setelah musim panen padi. Pekerjaan tersebut dilakukan baik oleh ibu rumah tangga maupun anak gadis. Mereka seringkali bekerja sambil ngobrol dan bercanda sehingga di samping terdengar suara lesung juga terdengar canda tawa mereka. Namun dewasa ini, keadaan tersebut jarang sekali dijumpai karena pada daerah tersebut sudah ada “selepan” padi.

Pipisan kapas merupakan peralatan yang umumnya dimiliki oleh penduduk di desa Asem Kelat, OKU. Itu berarti bahwa daerah tersebut merupakan penghasil kapas. Pipisan kapas umumnya diletakkan pada ruang bawah. Alat tersebut, yang dipergunakan untuk membersihkan kapas dari bijinya, juga dipergunakan di tempat tersebut. Pekerjaan membersihkan kapas ini dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Adanya alat untuk membuat minyak kepayang (apitan) menunjukkan bahwa ruang tersebut juga dipergunakan untuk kegiatan tersebut. Di samping itu, terdapat kilangan atau alat untuk membuat manisan tebu menandakan bahwa daerah tersebut juga menghasilkan tebu, yang hasilnya diolah di ruang bawah.

Terdapatnya nggahe (kandang ayam) menandakan bahwa ruang bawah juga dipergunakan untuk ternak ayam. Di samping itu, tempat tersebut juga dipergunakan untuk melakukan akativitas-aktivitas lain baik aktivitas keluarga yang menghasilkan maupun untuk sekedar anak-anak bermain, tempat duduk santai bagi para bujang dan lain-lain. Oleh karena itu di depan rumah sejajar dengan tiang-tiang atau dekat dengan tangga umumnya dipasang pance yaitu tempat untuk duduk.

Pada saat orang tua atau anak-anak yang sudah gadis melakukan pekerjaan di ruang bawah, anak-anak biasanya juga ikut berada di ruang bawah. Mereka bermain seperti “gasing” untuk anak laki-laki, masak-masakan untuk anak perempuan dan lain-lain. Adakalanya mereka bermain ayun-ayunan sambil bernyanyi atau berpantun. Seni berpantun dan menyanyi ini, pada daerah ini nampaknya sudah terbiasa dilakukan sejak mereka masih anak-anak. Sambil bermain ayun-ayunan, mereka berpantun yang seringkali pantun tersebut dilagukan. Seorang narasumber menceritakan pengalamannya semasa masih berumur 9 tahun. la bermain ayunan di ruang bawah sambil melagukan pantun. Pantun-pantun yang dilagukan sebenarnya banyak sekali tetapi sudah banyak yang lupa. Pantun yang masih diingatnya antara lain :

Yun ayun kempek diayun, ayam mulek
Belalang gabus sumpah juare, ayam mulek
Wak mane pecak nak kamu, ayam mulek
Ui serimit ngadang jalan, ayam mulek
Mane pecak nak lupe, ayam mulek
masih teringat siang malam, ayam mulek

Disamping untuk bermain ayun-ayunan, ruang bawah juga sering digunakan untuk melatih anak-anak yang belum bisa berjalan agar cepat bisa berjalan. Alat yang dipergunakan terbuat dari kayu atau bambu yang kuat, dibuat agar bisa berputar yang dinamakan “isaran anak”. Anak yang akan dilatih didirikan dekat alat tersebut, tangannya disuruh memegang kayu atau bambù yang sudah disediakan, dan diajari melangkah secara berputar. Alat tersebut hanya dapat dipergunakan untuk arah putaran yang sama. Dalam arti, kalau arah putarannya ke kiri berarti hanya bisa dijalankan ke arah kiri saja. Begitu sebaliknya, kalau putarannya ke kanan berarti hanya dapat dijalankan dengan arah putaran ke kanan. Dalam membuat alat ini nampaknya mereka mempertimbangkan keselamatan, bahwa kalau alat tersebut dibuat untuk dua arah putaran maka anak bisa terpelanting ke belakang.

Pada waktu sore hari, para bujang seringkali duduk-duduk di pance. Apalagi, kalau di rumah tersebut ada bujangnya. Teman-temannya, baik teman sedesa maupun teman dari desa tetangga, sering kali berkunjung dan duduk-duduk santai di pance sambil ngobrol. Pada saat seperti ini, apabila di rumah tersebut ada gadisnya, seringkali mereka berpantun, meskipun pada waktu itu gadis tersebut tidak turun atau tidak ikut duduk di pance, seorang narasumber mengungkapkan pengalamannya semasa masih bujang. Waktu itu dia berkunjung ke tempat temannya, duduk di pance. Kebetulan di situ ada gadis yang ditaksir. Dia melantunkan pantun sebagai berikut:

Mudik perahu lintang-lintang
Sampai ditunggang baru mandi
Numpang betanye ke bulan bintang
Tiding kemane matakhi.

dari dalam rumah gadis itu menjawabnya dengan lantunan pantun sebagai berikut :

Dekde begune bepance-pance
serinde gadis pandan dulang
Baktula nian amun dikate
Karene lidah dek betulang.

Diungkapkan oleh narasumber lebih lanjut, bahwa dengan jawaban seperti itu berarti cintanya ditolak. Meskipun kecewa, dia mengungkapkan tidak sakit hati. Bagi dia, ditolak itu merupakan hal yang wajar. Ketika ditanya apakah pantunnya tersebut pernah dilantunkan juga untuk gadis yang lain, dijawab bahwa pantun tersebut memang pernah juga dilantunkan untuk gadis lain di desa tetangga, ternyata dengan pantun yang sama, untuk gadis yang berbeda, cintanya diterima, gadis tersebut menjawab dengan pantun sebagai berikut :

Mudik perahu lintang lintang
Sampai ditunggang baru mandi
Dimane tiding bulan bintang
Tiding kesane matakhi.

Pantun-pantun tersebut diatas diucapkan secara spontan. Bagi bujang dan gadis di desa Asem Kelat, OKU pada waktu itu, berpantun merupakan hal yang umum. Orang yang pandai berpantun umumnya banyak disenangi oleh lawan jenisnya karena dikatakan cerdas. Sebab, pantun-pantun tersebut dibuat dan dilantunkan secara spontanitas. Begitu melihat keadaan, langsung dipantunkan.

Jadi pance yang berada di depan rumah ternyata bukan sekedar tempat duduk santai tetapi merupakan tempat yang mempunyai nilai tersendiri bagi para bujang. Di samping itu, pance juga dipergunakan untuk menenun bagi para gadis. Apabila ada waktu senggang atau tidak membantu orang tua di kebun, para gadis umumnya melakukan pekerjaan menenun yang seringkali dilakukan di pance. Pada sore hari si gadis menenun di pance sambil santai dan ngobrol bersama teman-temanya.

Tidak jauh dari pance, dekat dengan tangga pada umumnya disediakan guci yang diisi air. Air tersebut digunakan untuk mencuci kaki baik oleh anggota keluarga maupun oleh tamu yang datang. Pada waktu itu orang jarang memakai sandal dan jalannya masih berupa jalan tanah. Jadi, sebelum naik tangga umumnya kaki dicuci terlebih dahulu. Bagi keluarga yang rumahnya memiliki dua tangga, misalnya untuk menuju ke lintut (garang) tersedia dua tangga kanan dan kiri, maka bagi tamu yang datang naiknya melalui tangga yang didekatnya ada gucinya. Apabila di dekat tangga keduanya disediakan guci, maka tamu bebas memilih salah satu tangga untuk naik ke garang. Jika rumah tersebut terdapat dua lintut, misalnya kanan dan kiri, maka biasanya di dekat tangga yang disediakan untuk naik apabila ada tamu yang datang yang diberi guci. Sedangkan pada dekat tangga yang satunya, yang hanya dipergunakan untuk anggota keluarga biasanya tempat airnya lain, misalnya paso (tempat air dari tanah/gerabah).

Setelah naik tangga, maka ruang pertama yang dijumpai adalah lintut atau garang. Garang ini juga dipergunakan untuk memenuhi beberapa fungsi. Garang bisa dipergunakan untuk menerima tamu yang masih bujang baik di rumah tersebut ada anak bujangnya atau tidak. Tamu yang masih bujang tersebut bisa duduk santai sambil ngobrol di garang. Apabila ada tamu laki-laki yang sekedar tetangga, umumnya juga duduk di garang. Namun, jika tetangga tersebut datangnya pada malam hari maka tidak jarang diajak masuk ke dalam rumah.Terutama pada waktu sore hari, apabila sudah pulang dari kebun dan tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan di rumah biasanya kaum Bapak (kepala rumah tangga) main ke tempat tetangga. Mereka saling ngobrol menceritakan tentang keadaan kebunnya sambil merokok dan lain-lain. Melalui obrolan tersebut mereka saling tukar pengalaman terutama mengenai penanaman dan pemeliharaan tanaman di kebunnya. Tidak jarang di garang tersebut juga dilakukan musyawarah kecil-kecilan antar tetangga yang terdekat agar saling membantu dalam pengelolaan kebunnya. Musyawarah kecil-kecilan dalam arti bahwa mereka berkumpul tanpa diundang dan mereka secara spontan membicarakan rencana-rencana kerja mereka di kebun atau di sawah.

Seorang narasumber menceritakan, pada waktu sore sekitar jam 17.00 sore kedatangan seorang tetangga sebelah, akhimya mereka ngobrol. Tetangga lain kebetulan lewat, ditawari agar mampir dan kebetulan mau; akhirnya jumlah mereka menjadi tiga orang. Tidak lama kemudian datang tetangga yang lainnya, yang pada akhirnya berjumlah tujuh orang. Dari tujuh orang tersebut, setelah ngobrol kesana kemari tentang berbagai macam hal, akhirnya juga membicarakan keadaan tanaman di kebunnya masing-masing.

Dari situ diketahui bahwa sebenarnya di antara mereka perlu saling membantu karena kekurangan tenaga dalam melakukan pekerjaan di kebun. Akhimya mereka sepakat untuk saling membantu dengan menyusun jadwal giliran. Umpanya, hari Senin dan Selasa mereka serentak melakukan pekerjaan di kebun A; hari Rabu dan Kamis serentak menyelesaikan pekerjaan di kebun B dan seterusnya. Jadwal pekerjaan tersebut dibuat secara lisan (tanpa tertulis), disepakati dan dilaksanakan secara konsekuen.

Tamu yang masih asing atau belum pernah dikenal oleh keluarga tersebut dan belum tahu tentang tujuannya bertamu atau tujuan datang biasanya pertama-tama juga dipersilakan duduk di garang. Hal tersebut untuk menjaga kemungkinan kalau ternyata tamu tersebut mempunyai maksud yang kurang baik. Seorang responden ketika ditanya apakah pernah menerima tamu asing dalam arti tidak dikenal, ternyata diungkapkan bahwa hal tersebut beberapa kali terjadi. Dinyatakan lebih lanjut, bahwa tamu tersebut baik-baik saja, dalam arti tidak punya maksud yang tidak baik. Sebagai contoh, pada suatu saat dia menerima tamu yang ternyata hanya sekedar istirahat sebentar karena kecapaian dalam melakukan perjalanan. Pada waktu itu kendaraan belum ada, sehingga masih banyak orang yang melakukan perjalanan dengan jalan kaki.

Garang juga kadang-kadang digunakan untuk tidur bujang pada malam hari. Pada saat ada acara seperti perkawinan, sunatan atau yang lain, dan keluarga tersebut mengundang saudara dari desa lain atau daerah lain; biasanya pada saat ada acara seperti itu banyak saudara yang menginap. Ruangan-ruangan di dalam biasanya dipergunakan untuk tidur orang yang sudah berumah tangga, para gadis dan anak-anak. Pada saat seperti itu para bujang tidur di garang.

Pada saat yang lain, garang juga dipergunakan oleh anak-anak atau sebagai tempat duduk anak-anak yang menyaksikan acara yang ada di dalam rumah. Pada saat di dalam rumah dipakai untuk acara seperti bedikir, terbangan, selawatan, dan lain-lain. Biasanya anak-anak duduk di garang menyaksikan acara tersebut. Sebagai contoh, pada saat ada acara seperti bedikir, yaitu acara berbalas pantun yang diikuti para bujang dan gadis, biasanya anak-anak tidak diperbolehkan masuk, oleh karena itu hanya menyaksikan dari garang.

Garang juga dipergunakan untuk tidur bujang yang sedang ngule atau ngana dalam. Ngule merupakan kewajiban bagi bujang untuk membantu melakukan segala pekerjaan di rumah orang tua gadis yang akan dipinangnya. Ngule berlangsung antara 3 bulan sampai satu tahun tergantung penilaian orang tua gadis. Apabila orang tua gadis menyatakan selesai maka sang bujang dinyatakan lulus dan boleh pulang, dan biasanya pulangnya diantar oleh pihak keluarga gadis. Apabila pihak orang tua gadis menggagalkan atau menilai bahwa bujang tersebut tidak lulus, maka pihak orang tua gadis harus mengembalikan kerugian atau membayar tenaga bujang selama menjalankan ngule.

Selama ngule bujang berkewajiban membantu segala pekerjaan orang tua gadis baik pekerjaan di rumah, di kebun maupun di sawah. Selama menjalankan ngule, untuk keperluan makan di garang. Pada saat ini sang gadis mempelajari kesukaan (makanan) calon suaminya. Gadis yang akan dipinang biasanya masak setiap hari untuk calon suami. Apabila yang dihidangkan tersebut tidak dimakan, berarti masakan seperti itu tidak disenangi oleh calon suaminya.

Seorang narasumber menceritakan pengalamannya selama ia dalam posisi menjadi gadis yang akan dipinang. Pada waktu itu calon suaminya menjalankan ngule di rumahnya. Pada suatu saat ia masak pindang ikan dan dihidangkan untuk calon suaminya. Temyata masakan berupa pindang ikan tersebut tidak dimakan oleh calon suaminya. Dari situ sebenamya ia sudah tahu bahwa calon suaminya tidak senang masakan pindang ikan; tetapi ia belum yakin benar karena waktu itu ada beberapa masakan yang lain. Kemudian, pada saat yang lain ia masak pindang ikan lagi. Setelah dihidangkan; temyata tidak dimakan lagi. Akhirnya ia yakin bahwa calon suaminya tidak senang masakan pindang ikan.

Alasan mengapa bujang harus tidur di garang selama menjalankan ngule, tidak tidur di dalam atau ruang pemidangan karena bujang tersebut belum tentu lulus dalam menjalankan ngule. Disamping itu, apabila bujang tidur di luar akan lebih muda bagi orang tua gadis untuk mengawasi. Dalam arti, antara bujang dan gadis tidak boleh terlalu akrab sebelum ada pernikahan secara resmi. Jadi, hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mencegah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Selama ada bujang ngule di rumahnya, orang tua gadis sebenamya mempunyai tanggung jawab yang berat. Dia harus mengawasi anak gadisnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, kalau ia gagal menjaga anak gadisnya maka masyarakat akan mengutuknya. Ada kepercayaan, bahwa jika ada bujang dan gadis melakukan pergaulan bebas, maka akan mendatangkan sial bagi 40 rumah ke samping kiri dan 40 rumah ke samping kanan. Apabila itu sampai terjadi, maka orang tua gadis sebagai orang yang ketempatan harus mengadakan selamatan dengan cara menyembelih kambing.

Adanya norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang tidak menerima adanya pergaulan yang bebas antara bujang dan gadis, membuat orang tua gadis merasa mempunyai beban moral yang berat selama ada bujang yang menjalankan ngule di rumahnya. Kadang-kadang, untuk menghindari beban tanggung jawab yang berat tersebut, pihak orang tua gadis memutuskan mengambil waktu minimal bagi bujang dalam hal lama menjalankan ngule yaitu selama tiga bulan. Bahkan kadang-kadang terjadi, belum mencapai waktu minimal (belum tiga bulan) sang bujang sudah dinyatakan lulus dan diijinkan pulang, untuk kemudian diadakan nakok yaitu untuk menentukan hari, tanggal dan bulan pemikahan.

Rumah ulu dari Desa Asem Kelat, OKU yang menjadi koleksi Museum “Balaputra Dewa” merupakan “rumah tumpangan” atau tempat penginapan khusus bagi para kusir pedati, disamping sebagai rumah tempat tinggal. Sebagai rumah tumpangan, hal tersebut berpengaruh terhadap fungsi ruang-ruangnya, termasuk juga pemakaian ruang terbuka seperti garang. Meskipun para kusir pedati yang menginap tersebut tidur di ruang pemidangan, akan tetapi pada saat-saat santai mereka duduk-duduk di garang sambil ngobrol baik dengan sesama kusir pedati maupun dengan tuan rumah. Pada saat seperti ini, tanpa sengaja terjadi tukar pengalaman dan saling tukar informasi mengenai keadaan daerah masing-masing, baik keadaan ekonomi, sosisal budaya, maupun keadaan politik. Keadaan seperti ini tentunya menguntungkan terutama bagi tuan rumah karena mereka menjadi mengetahui situasi ekonomi dan politik yang terjadi di daerah lain pada waktu itu.

Dan garang masuk ke rumah, maka ruang pertama yang akan dijumpai adalah ruang pemidangan depan yang berbentuk empat persegi panjang. Ruang ini pun dipergunakan untuk memenuhi beberapa fungsi. Ruang pemidangan depan antara lain dipergunakan untuk menerima tamu. Pada ruang tersebut tidak disediakan meja kursi. Para tamu duduk di atas lantai yang seringkali dibentangkan tikar. Sebelum ada tikar anyaman seperti sekarang, dahulu tikarnya menggunakan kulit kayu lengkanang. Kulit kayu tersebut dipanggang di atas api supaya kering, dijemur sambii dipukul-pukul, dianyam, yaitu yang dinamakan tikar lengkanang. Apabila tidak ada acara seperti selamatan dan tidak ada tamu, ruang pemidangan depan ini pada malam hari dipergunakan untuk tidur anak bujang. Teman anak bujang, apabila datang bertamu dan menginap juga tidur di ruang pemidangan depan. Mereka cukup mengelar tikar serta berselimut sarung.

Ruang pemidangan depan juga sering digunakan pula untuk menenun. Menenun biasanya dilakukan oleh para gadis. Pada waktu siang hari mereka seringkali menenun di pance, tetapi pada malamnya jika akan melanjutkan biasanya dilakukan di ruang pemidangan depan. Menenun di ruang pemidangan depan dilakukan apabila pada malam tersebut tidak ada tamu yang menginap.

Khusus bagi “rumah tumpangan” atau rumah penginapan, maka ruang pemidangan depan ini yang dipergunakan untuk tidur para tamu yang menginap. Ruang pemidangan depan ini merupakan ruang terbuka tanpa kamar, oleh karena itu apabila ada tamu atau kusir pedati yang menginap lebih dari satu orang biasanya untuk memberi batas dipasang bebar untuk sekat atau dipasang kain tabir.

Ruang pemidangan depan ini juga dipergunakan untuk menampung aktivitas adat, kebudayaan dan agama. Pada daerah ini, terdapat berbagai macam aktivitas seperti selamatan-selamatan sebagai satu kaidah dalam merapatkan hubungan sosial dalam hidup bermasyarakat. Sesuai dengan bentuk ruangnya yaitu empat persegi panjang, pada saat ada acara selamatan kaum laki-laki duduk bersila berhadap-hadapan, sedangkan hidangan berada di tengah-tengah. Pada ruangan ini pula dapat dipergunakan untuk menjalankan amalan-amalan agama. Kaum laki-laki berkumpul untuk menjalankan amalan agama seperti marhaban, bertadarus dan sebagainya.

Ruang pemidangan depan dipergunakan juga sebagai tempat untuk meletakkan mayat apabila salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia. Pada zaman dahulu ada kepercayaan bahwa orang yang meninggal dunia harus dikeluarkan melalui jendela (pada waktu itu jendela rumah hanya dibuat satu buah), agar rohnya tidak kembali lagi. Sebelum dikeluarkan melalui jendela, terlebih dahulu mayat diletakkan di ruang pemidangan depan untuk dibungkus kain kafan, disembahyangkan dan sebagainya. Pada masa sekarang kepercayaan seperti itu tidak ada lagi. Meskipun begitu, pada umumnya mayat tetap diletakkan pada ruang pemidangan depan sebelum dibawa kepemakaman.

Orang yang sakit, terutama jika sakitnya parah biasanya ditidurkan di ruang pemidangan depan. Hal tersebut dimaksudkan agar penyakitnya cepat keluar sehingga orang yang sakit cepat sembuh. Sebaliknya, apabila penyakitnya memang sudah tidak bisa disembuhkan lagi, maka diharapkan bahwa rohnya atau nyawanya akan cepat dijemput sehingga orang tersebut akan mengalami proses kematian dengan mudah. Orang yang sakit tersebut biasanya ditunggui oleh kerabat dan tetangga yang terdekat. Apabila yang sakit seorang wanita, maka yang mengelilingi orang tersebut adalah kaum wanita terutama kaum ibu; sedangkan kaum laki-laki biasanya membuat kalangan tersendiri di sebelah luar tidak jauh dari orang yang sakit tersebut.

Apabila yang sakit seorang laki-laki, maka yang mengelilingi adalah kaum laki-laki terutama yang sudah berumah tangga; sedangkan kaum ibu membuat kalangan tersendiri di sebelah dalam tidak jauh dari orang yang sakit. Apabila yang sakit anak-anak (baik laki-laki maupun wanita) maka akan dikelilingi baik oleh orangtuanya maupun saudara-saudaranya; sedangkan kerabat atau tetangga yang datang akan membuat kalangan tersendiri tidak jauh dari anak yang sakit. Kaum laki-laki membuat kalangan di bagian luar dari anak yang yang sakit, sedangkan kaum wanita membuat kalangan di sebelah dalam.

Pada saat ada acara seperti perkawinan atau ada anggota keluarga yang melangsungkan pernikahan, tidak jarang kedua mempelai didudukkan di ruang pemidang depan. Kedua mempelai duduk di ruang pemidangan depan terutama pada saat akad nikah. Pada waktu itu para saksi, tamu laki-laki yang umumnya sudah berumah tangga serta kedua mempelai duduk di ruang pemidangan depan. Sedangkan kaum ibu duduk di ruang pemidangan tengah. Selesai akad nikah kedua mempelai duduk di pelaminan yang umumnya berada di ruang pemidangan tengah. Ruang pemidangan depan juga digunakan untuk acara tindik bagi anak wanita dan berkhitan bagi anak laki-laki, serta untuk acara yang lainnya.

Dari ruang pemidangan depan untuk menuju ke ruang dalam melalui sebuah pintu. Pada ruang tengah tersebut akan langsung terlihat tiga ruang yang berderet dari depan ke belakang, yaitu ruang gedongan, ruang pemidangan tengah dan ruang tempuan. Pada ruang yang lebih dalam adalah ruang makan, sederetan dengan dapur.

Ruang pemidangan tengah dapat dikatakan merupakan ruang keluarga. Pada waktu malam hari selepas maghrib, keluarga biasanya berkumpul di ruang pemidangan tengah. Kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga seringkali berlainan. Ibu rumah tangga duduk ngobrol dengan suami dan anak-anak sambil menjahit baju atau melakukan pekerjaan lain, ayah (kepala keluarga) duduk sambil merokok atau membuat jala, anak-anak bermain dan lain-lain. Kegiatan tersebut dilakukan sampai akhirnya mereka tidur. Sebagai pengaman, sambil melakukan kegiatan-kegiatan tersebut di atas mereka duduk pada dulang.

Pada zaman pemilik rumah generasi pertama, keadaan atau situasi masih rawan, masih sering adanya perampokan, serangan dan lain-lain. Oleh karena itu untuk melindungi din, pada umumnya sebuah keluarga memiliki dulang yang terbuat dari kayu dan umumnya berbentuk bulat. Dulang yang berada poda rumah ulu koleksi Museum “Balaputra Dewa” diameternya 88 cm (lihat gambar). Dulang tersebut berfungsi sebagai tempat duduk, dengan maksud agar kalau terjadi serangan atau tusukan dari bawah tidak terkena. Itu berarti dulang tersebut berfungsi sebagai perisai. Hal tersebut dikarenakan lantainya terbuat dari anyaman bambu, dan dibuat seperti itu agar ada udara langsung dari bawah.

Dulang untuk tempat duduk yang berfungsi untuk melindungi diri dari serangan, atau jika ada tusukan dari bawah

Satu buah dulang dapat dipergunakan oleh beberapa orang, tergantung pada besamya dulang tersebut. Pada saat tidak dipakai, dulang diletakkan secara berdiri di dekat pintu. Pada masa sekarang dulang berubah fungsi, bukan lagi sebagai perisai untuk melindungi diri dan serangan tetapi sebagai tempat parutan kelapa.

Pada saat acara seperti selamatan, perkawinan dan lain-lain, beberapa kaum ibu melingkari dulang sambil memarut dan memeras parutan kelapa. Dulang pada masa sekarang lebih dikenal dengan nama capa. Capa yang dibuat pada masa sekarang umumnya berukuran lebih kecil.

Ruang pemidangan tengah sering pula dipergunakan untuk menenun. Pada waktu malam hari, apabila ruang pemidangan depan dipergunakan sebagai kamar tidur tamu atau ada tamu yang menginap, maka gadis biasanya menenun di ruang pemidangan tengah. Dia menenun sambil ngobrol dengan anggota keluarga yang lain. Pada saat berkumpul malam seperti itu, hubungan di antara anggota keluarga terjalin erat. Tidak jarang, mereka masing-masing saling menceriterakan pengalamannya yang dialami selama seharian.

Aktivitas keluarga pada malam hari yang dilakukan pada ruang pemidangan tengah ini antara lain dapat dilihat pada alat-alat yang terdapat pada ruang tersebut, yaitu seperti tandean (alat untuk menggulung benang), kolang (alat untuk tempat benang), alat untuk merapatkan benang, epur (alat untuk menenun), serta alat untuk menghaluskan benang ada dua macam yaitu untuk ibu rumah tangga atau wanita yang sudah berumah tangga dan alat yang khusus untuk gadis. Kedua macam tersebut masing-masing mempunyai ciri yang berlainan. Tidak jarang pada ruang tersebut juga terdapat alat untuk membuat jala.

Pada saat ada tamu yang menginap, apabila tamu tersebut pakai adukan (mempunyai marga), maka tamu akan dipersilahkan tidur di ruang pemidangan tengah. Hal tersebut sebagai penghormatan terhadap tamu tersebut. Apabila tamu tersebut seorang laki-laki yang sudah berumahtangga, maka tuan rumah (kepala keluarga) menemani tidur di ruang pemidangan tengah. Apabila tamunya wanita yang sudah berumah tangga, maka tidak jarang ibu rumah tangga menemani tamu tersebut. Jika tamu tersebut suami istri, maka tuan rumah tidak menemani, tetapi tetap tidur di mang gedongan.

Pada waktu keluarga mempunyai hajat seperti perkawinan, sunatan atau yang lainnya, ruang pemidangan tengah merupakan tempat yang ramai. Berbagai macam aktivitas dilakukan di ruang pemidangan tengah mulai dari persiapan sampai selesai. Pada saat ada acara upacara perkawinan misalnya, pelaminan untuk kedua mempelai seringkali dipasang di ruang pemidangan tengah, sedangkan akad nikahnya di mang pemidangan depan. Setelah akad nikah selesai, kedua mempelai masuk ke ruang pemidangan tengah dan duduk di pelaminan. Para saksi serta tamu laki-laki yang umumnya sudah berumah tangga tetap duduk di ruang pemidangan depan. Pada saat kedua mempelai sudah duduk di pelaminan, kaum ibu memainkan “terbangan”. Nama tersebut diambil dari alat musik yang dipergunakan yaitu “terbangan”.

Ditinjau dari sisi undangannya, pesta perkawinan di daerah ini dibagi menjadi tiga macam yaitu : sambai merupakan pesta perkawinan yang undangannya khusus sekampung atau sedusun; gandai adalah pesta perkawinan yang mengundang orang-orang sedusun dan juga dusun tetangga; sambai-gandai, yaitu pesta perkawinan yang undangannya tujuh dusun ke ulu dan tujuh dusun ke ulak.

Pada malamnya, diadakan acara yang dinamakan bedikir yaitu pertemuan bujang gadis. Pada waktu itu acara utamanya adalah berbalas pantun. Kelompok gadis duduk di ruang gedongan, sedangkan kelompok bujang duduk di ruang pemidangan tengah. Antara kedua ruangan tersebut diberi batas atau sekat berupa kain tabir. Pada saat seperti ini para bujang dan gadis yang ikut acara bedikir saling melontarkan pantun untuk mencari perhatian pasangan yang ditaksimya. Gadis yang dianggap tendikar yaitu yang cantik dan pandai membalas pantun, biasanya banyak memperoleh perhatian dan menerima pantun dari para bujang.

Pantun-pantun tersebut antara lain :

Pantun dari bujang :
Kami ndak sambang dabok
Kami naik sambang kajut aji
Kami ndak gadis langgok
Kami nak gadis pacak ngaji.

Jawaban gadis:
Yun ayun buluh direjang
patah satang kurempaskan
Bukan kami mencari bujang
Kami meregai sukat malam.

Pantun dari bujang:
Si alur baju kebayak
Sirih gading bepantak lidi
Pantun layangan betali pandak
Mane ka pacak ngambung tinggi.

Jawaban gadis:
Teresik menjale kite
Meranai pauh sekeruntung
Berusik tetawe kite
Becerai jauh dikde kan urung.

Pada saat acara bedikir atau berbalas pantun, kedua mempelai duduk di pelaminan sambil menyaksikan acara tersebut. Pada umumnya pantun-pantun diucapkan secara spontan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila para bujang dan gadis di daerah ini pada waktu itu pandai berpantun, serta pandai melantunkan pantun yang dilagukan.

Pada saat ada acara seperti perkawinan, sunatan dan lain-lain, masing-masing ruangan di rumah dipergunakan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, sehubungan dengan acara tersebut. Begitu pun, ruang pemidangan tengah juga ramai oleh tamu-tamu yang hadir.

Ruang pemidangan tengah tersebut merupakan tempat untuk lalu lalang, misalnya dari ruang makan mau ke ruang pemidangan depan (membawa hidangan), dari ruang pemidangan akan ke ruang tempuan dan sebaliknya harus melewati ruang pemidangan tengah. Oleh karena itu di ruang pemidangan tengah tersebut dipasang kayu empat persegi panjang yang disebut pengerat. Pengerat berfungsi sebagai tempat lalu lalang, antara lain melewati tempat tersebut untuk membawa hidangan.

Sederetan dengan ruang pemidangan tengah adalah ruang tempuan. Pada saat ada acara, apabila tamunya relatif banyak (undangannya banyak), maka ruang tempuan juga dipergunakan untuk menampung tamu yang hadir. Apabila tamu yang hadir diperkirakan dapat ditampung di ruang pemidangan depan, ruang pemidangan tengah dan ruang yang lainnya, maka ruang tempuan seringkali dipakai sebagai ruang persiapan yaitu untuk tempat makanan atau kue-kue yang akan dihidangkan. Pada dinding ruang tempuan terdapat jendela ingkap yang berfungsi untuk mengeluarkan makanan yang akan dihidangkan apabila pada ruang bawah atau pada halaman juga dipakai untuk tempat duduk tamu yang hadir.

Pada waktu yang lain atau pada hari-hari biasa, apabila ada tamu yang menginap, jika tamu tersebut rakyat biasa, maka ruang tempuan dipakai untuk tempat tidur tamu tersebut. Namun jika pada waktu itu ruang pemidangan tengah kosong, maka tidak jarang tuan rumah mempersilahkan tamunya tersebut untuk tidur di ruang pemidangan tengah.

Ruang yang berfungsi sebagai kamar tidur keluarga adalah ruang gedongan. Ruang tersebut bersebelahan dengan ruang pemidangan tengah. Ruang gedongan lantainya dibuat lebih tinggi dari ruang yang lainnya. Seluruh anggota keluarga kecuali anak bujang dapat tidur di ruang gedongan. Meskipun begitu, ada aturan-aturan dalam menggunakan ruang gedongan ini. Konsep ulu-ulak berlaku pula di sini. Bapak-lbu tidur di tempat paling ulu. Apabila di rumah tersebut masih ada Kakek-Nenek atau salah satu di antaranya, maka Kekek-Nenek Iah yang berhak tidur di tempat paling ulu.

Ruang gedongan merupakan ruangan los tanpa sekat. Sebagai penyekat, umumnya dipasang bebar atau kain tabir. Antara tempat untuk tidur Kakek-Nenek dengan tempat untuk tidur Bapak-Ibu dipasang kain tabir. Begitu pun, antara tempat untuk tidur Bapak-Ibu dengan tempat untuk tidur anak (dewasa atau gadis) dipasang kain tabir. Anak yang masih kecil tidur bersama orang tuanya. Apabila pada keluarga tersebut anak pertama menikah, maka tidurnya di tempat paling ulu di antara tempat tidur anak.

Pada daerah ini, terdapat tiga macam sistem perkawinan yaitu : ambek anak, apabila pihak laki-laki mengikuti pihak perempuan; lanang ambek betino, apabila pihak laki-laki membawa pihak perempuan; seanak-anak, berarti bisa mengikuti keduanya, dalam arti sewaktu-waktu pihak perempuan ikut pihak laki-laki, begitu pun sebaliknya pihak laki-laki sewaktu-waktu dapat ikut pada keluarga pihak perempuan.

Apabila pada keluarga tersebut anak pertama perempuan sedangkan sistem perkawinan yang dianut adalah lanang ambek betino, maka setelah melangsungkan perkawinan ditahan dahulu, yaitu yang dikenal dengan istilah ambek anak angkit. Setelah anak kedua menikah, maka anak pertama beserta suaminya tersebut dibebaskan atau boleh pergi ke keluarga pihak laki-laki.

Apabila ada anak yang menikah, maka untuk memberi kesempatan kepada pengantin baru tersebut biasanya anggota keluarga yang lain pergi ke kebun, serta menginap (tidur) di kebun selama beberapa hari. Adakalanya mereka menumpang di rumah saudara terlebih dahulu.

Ruang gedongan juga berfungsi sebagai tempat sosialisasi anak. Anak yang masih bayi biasanya dibuatkan ayunan di ruang gedongan. Bayi tersebut seringkali diayun-ayunkan sambil dinyanyikan atau dilantunkan pantun yang dilagukan yang sesuai dengan kebutuhan yaitu pantun untuk meninabobokkan anak.

Tempat tersebut juga dipergunakan untuk tempat mendongeng bagi orang tua kepada anak-anaknya atau bagi Kakek-Nenek kepada cucunya. Materi dongeng umumnya diwariskan secara turun-temurun sejak nenek moyang mereka. Dongeng-dongeng tersebut pada umumnya berupa amanat yang inti isinya umumnya adalah bahwa “perbuatan yang baik akan memperoleh balasan yang baik, sedangkan perbuatan yang jahat akan mendapat balasan yang jahat”. Di samping itu banyak pula dongeng yang akhir ceritanya dapat disimpulkan bahwa “perbuatan yang jahat akan dapat dikalahkan oleh perbuatan yang baik”.

Ruangan paling dalam adalah ruang makan yaitu sederetan dengan dapur. Sesuai dengan namanya, ruang tersebut dipergunakan sebagai tempat untuk makan bagi keluarga. Dalam hal menggunakan ruang makan ini pun ada aturannya. Konsep ulu-ulak juga berlaku di sini. Pada saat makan bersama, Kakek-Nenek berada pada tempat paling ulu, kemudian diikuti Bapak-Ibu, baru kemudian anak-anak. Seorang narasumber menceriterakan bahwa pada saat makan bersama, Kakek-Nenek berada pada tempat paling ulu dengan menggunakan piring hijau bergambar naga dengan ukuran yang relatif besar. Pada piring tersebut terletak nasi dan berbagai lauknya yang diletakkan pada piring-piring yang relatif kecil. Bapak-Ibu pada sebelah ulaknya dengan menggunakan talam yang juga berisi nasi dan berbagai macam lauknya. Sedangkan anak-anak membuat kalangan tersendiri pada bagian paling ulak. Nasi dan lauknya juga diletakkan pada piring-piring yang berlainan, tetapi piring-piring tersebut tidak diletakkan di atas talam, melainkan langsung diletakkan di atas tikar.

Pada ruang makan paling ulak dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan kering seperti beras dan lain-lain. Apabila pada ruang makan tersebut tidak ada pagu, maka peralatan makan seperti piring, cangkir dan lain-lain juga diletakkan pada tempat tersebut. Pada saat keluarga mengadakan hajatan, ruang makan pada umumnya dipergunakan sebagai tempat persiapan. Bahan-bahan yang akan dimasak dipersiapkan di ruang makan. Pada saat seperti itu ruang makan dan dapur dipenuhi oleh kaum wanita, yaitu kaum ibu dan para gadis yang membantu.

Sederetan dengan ruang makan adalah dapur. Sesuai dengan namanya, dapur dipergunakan untuk kegiatan memasak. Oleh karena itu berbagai macam peralatan memasak ada di situ. Peralatan dapur tersebut antara lain : periuk, singkup (untuk tutup membuat kue), kuali, belanga, ceret, pernai (piring tanah, sendok beling, kehe (sendok dari kulit kerang), sendok irus dari batok kelapa dengan gagang kayu atau bambu, kukuran (parut kelapa), saringan santan, hekit (alat untuk mengaduk nasi dari bambu), sujin (jepitan untuk mengambil rebusan yang panas) dan lain-lain.

Peralatan yang kecil-kecil seperti sujin, hekit dan lain-lain diletakkan pada bambu yang dinamakan tuntung hekit. Tuntung hekit di gantung pada tiang dapur sebelah kanan. Meletakkan tuntung hekit harus di sebelah kanan karena sebelah kiri dipercayai sebagai tempat yang tidak bagus untuk tempat peralatan tersebut atau dianggap kide atau pamali atau tabu. Dapur dibuat dengan berbagai cara. Adakalanya dapur dibuat langsung di atas lantai, sehingga si pemasak pada waktu memasak dalam posisi duduk atau jongkok. Namun adakalanya dapur dibuat lebih tinggi, sedangkan bawahnya dipergunakan untuk penyimpanan barang-barang. Pada dapur yang demikian, maka sipemasak posisinya berdiri.

Dekat dengan dapur adalah tempat yang dinamakan tundan. Tundan merupakan tempat mencuci piring dan lain-lain, biasanya terletak pada bagian luar atau dibuat secara terbuka. Oleh karena itu, pada tundan biasanya terdapat tempat air berupa paso atau yang lainnya. Disamping ruang-ruangan tersebut, ada tempat yang dinamakan pagu, yaitu tempat penyimpanan barang-barang. Pagu bisa dibuat di ruang mana saja di dalam rumah, baik di dapur, di ruang makan, di ruang pemidangan atau yang lainnya. Yang membedakan hanyalah jenis barang-barang yang diletakkan pada pagu tersebut. Barang yang diletakkan pada pagu yang berada di ruang pemidangan tentu lain dengan barang yang diletakkan pada pagu dapur.

Barang-barang yang diletakkan pada pagu yang berada di ruang pemidangan tengah antara lain terbangan, aneka keranjang berhias, keramik, dan lain-lain. Pagu pada ruang gedongan umumnya berisi keranjang pakaian, tikar, selimut dan lain-lain. Pagu di ruang makan berisi peralatan seperti piring, cangkir dan lain-lain. Sedangkan pagu di dapur tentunya berisi peralatan dapur.

Pagu pada ruang pemidangan, pada saat ada acara seperti perkawinan, sunatan, atau pada saat lebaran (Idul Fitri) berisi gelok (setoples) atau tempat-tempat lain yang berisi aneka macam kue-kue kering yang akan dihidangkan pada tamu yang hadir.***tdb/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Sukanti, Zulbiati dan Emawati; Rumah Ulu Sumatera Selatan; Balai Pustaka; 1993

• telah dilihat 124 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Fungsi Ruang dan Aktivitas Sosial Rumah Ulu Daerah OKU

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *