» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Rumah atau sering disebut dengan istilah “papan” merupakan kebutuhan dasar manusia disamping pangan dan sandang. Manusia mulai mengenal pemukiman dan membangunan rumah sejak zaman neolitikum, kemudian berkembang sebagaimana dengan perkembangan zaman. Semakin kompleks perkembangan yang ada dalam masyarakat maka semakin kompleks pula bangunan tempat tinggal yang dimilikinya.

Tempat yang menarik bagi manusia untuk membuat permukiman umumnya di daerah-daerah yang memberikan sumber-sumber makanan. Tempat-tempat yang menarik untuk dihuni adalah yang cukup mengandung bahan-bahan makanan dan air, terutama yang sering dikunjungi atau dilalui binatang. Tempat-tempat semacam ini berupa padang-padang rumput dengan semak belukar dan hutan kecil yang terletak berdekatan dengan sungai atau danau (Kartodirjo, 1975 : 110-111).

Keadaan lingkungan akan mempengaruhi bentuk rumah tempat tinggal. Begitupun bentuk rumah ulu, dibuat diselaraskan dengan lingkungan dan tujuannya. Ulu berasal dari kata “uluan” sebagai lawan dari pemerintah pusat. Rumah ulu pada umumnya dibuat di atas tiang, yaitu sebagai pengaman untuk menjamin keselamatan penghuninya agar tidak diganggu oleh binatang buas dan banjir. Sehubungan dengan hal tersebut, Hamzuri (1978 :1) mengungkapkan sebagai berikut :

“Kehadiran rumah sebagai harta kekayaan, menuntut pula agar bahan-bahan yang digunakan terbuat dari kayu yang menurut pemahaman mereka adalah baik. Salah satu yang umum adalah bentuk rumah panggung, ini dikarenakan keadaan alam dengan banyaknya sungai-sungai dan hutan-hutan yang lebat. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari ganguan binatang dan banjir”.

Meskipun begitu, tujuan rumah tempat tinggal tidak hanya sampai di situ. Sebenarnya tujuan membangun rumah melampaui fungsi tempat bernaung. Rumah tempat tinggal berupaya memberikan makna kepada kegiatan-kegiatan tertentu, seperti menyatakan kekuasaan, status atau hal-hal pribadi, dan menunjukkan identitas sesuatu masyarakat. Rumah juga membawa konsep pemisahan wilayah (domain), yang membedakan antara yang di sini dengan di sana, yang suci dan yang profane, lelaki dan wanita, depan dan belakang, domain pribadi dan umum, dan sebagainya melalui ruang-ruang yang sengaja diwujudkan dan diaturrupakan dari gabungan struktur dan teknik bangunannya (Ismail, 1992 : xix).

Mengingat rumah ulu merupakan bangunan tempat tinggal warisan nenek moyang maka bangunan tersebut tergolong arsitektur tradisional. Arsitektur Tradisional adalah suatu bangunan yang bentuk struktur, fungsi, ragam hias, dan cara pembuatannya, diwariskan secara turun-temurun, serta dapat dipakai untuk melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya (‘Alimansur; Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Selatan’).

Rumah Ulu Sumatera Selatan menggambarkan bangunan tempat tinggal dari daerah “uluan” atau pedesaan Sumatera Selatan. Secara umum bentuk rumah ulu ini adalah rumah panggung. Apabila dilihat secara sekilas maka secara garis besar bentuk-bentuk rumah di desa menunjukkan kesamaan yaitu berupa panggung. Yang membedakan hanyalah besar kecilnya. Namun apabila diamati secara lebih mendetail, ada beberapa perbedaan.

Ada dua prinsip dalam membangun rumah yang dipakai dan ditaati oleh warganya pada waktu itu yaitu rumah siapa dan rumah untuk apa. Rumah untuk apa maksudnya adalah rumah tersebut akan digunakan untuk rumah tinggal, rumah tumpangan (penginapan) atau yang lain. Sedangkan rumah siapa maksudnya siapa yang akan menghuni rumah itu, keturunan apa, mempunyai gelar atau tidak dan sebagainya. Itu berarti bahwa status sosial temyata mempengaruhi bentuk tempat tinggal.

Perbedaan antara golongan bangsawan dan rakyat biasa antara lain tampak pada bangunan tempat tinggal terutama pada bentuk atau susunan lantainya. Lantai pada rumah yang pemiliknya rakyat biasa dibuat rata, sedangkan lantai rumah yang pemiliknya keturunan pangeran umumnya dibuat berundak yang terdiri dari tiga tingkatan. Tiap tingkatan disebut pangrat. Pangrat I merupakan lantai paling atas; pangrat II berada dibawahnya ( pada bagian tengah ); sedangkan pangrat III terletak paling bawah (paling dekat dengan pintu masuk). Antara pangrat satu dan pangrat yang lainnya dibatasi dengan gedongan yang berketinggian antara 20 dan 30 Cm.

Rumah keturunan Pangeran dengan lantai yang terdiri dari 3 pangrat

Pada saat ada acara seperti perkawinan atau selamatan, maka keluarganya atau sesama keturunan Pangeran berada pada pangrat I. Pangrat II ditempati oleh orang-orang yang pakai adukan (mempunyai marga). Sedangkan pangrat III untuk rakyat biasa. Meskipun bukan merupakan aturan yang tertulis, akan tetapi masing-masing tamu yang datang sudah tahu harus duduk di tingkat mana; walaupun tuan rumah belum mengatur atau mempersilakan. Di samping itu juga memperhatikan faktor usia. Meskipun keturunan Pangeran, kalau usianya masih muda maka ia akan duduk di pangrat yang lebih bawah.

Perbedaan lain yang sering dijumpai adalah keberadaan sako guru atau dalam istilah setempat disebut sake penjuhu. Pada rumah milik rakyat biasa jarang sekali dijumpai adanya sake penjuhu dalam ruang rumahnya; sedangkan pada rumah yang pemiliknya keturunan pangeran umumnya dijumpai sake penjuhu. Sake penjuhu ini umumnya berjumlah 4 (empat) buah, berada di tengah-tengah ruangan yaitu dua buah pada pangrat I dan dua buah pada pangrat II. Sake penjuhu berukuran lebih besar dibandingkan dengan sako biasa atau sake pemangku.

Disamping dua hal tersebut di atas, perbedaan lain yang sering tampak adalah ragam hias atau ukiran pada rumahnya. Rumah keturunan pangeran pada umumnya berukir dan ukirannya relatif banyak dan beragam dibandingkan dengan rumah yang lain. Bahkan, dijumpai pula ukiran rumah keturunan pangeran yang diperado dengan wama keemasan sehingga memberikan kesan lebih mewah; sedangkan rumah yang lain, baik pada rumah yang pemiliknya pakai adukan (mempunyai marga) maupun rakyat biasa ukiran rumahnya jarang sekali diperado.

Agar lebih jelas, berikut sedikit gambaran tentang rumah ulu salah seorang keturunan pangeran koleksi Museum Balaputra Dewa yang berasal dari desa Asem Kelat, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Ada dua buah tangga untuk naik ke garang atau lintut, yaitu masing-masing di sebelah kiri dan kanan. Masing-masing tangga jumlahnya tujuh buah (tujuh tapakan). Lintut berada di bagian depan, tepatnya di tengah-tengah. Pada sepanjang lintut tersebut ada tiga buah pintu untuk masuk ke ruang dalam. Pada hari-hari biasa pintu bagian tengah selalu dibuka untuk keluar masuk rumah. Lantai ruang dalam terdiri dari tiga tingkatan atau tiga pangrat. Pada bagian tengah pangrat I terdapat empat buah sake penjuhu (sako guru) yang lebih besar dibandingkan dengan sako yang lainnya. Pada ruang dalam setelah pangrat I terdapat kamar-kamar (ruangan-ruangan) yang dibatasi dengan papan kayu, yang bagian atasnya diukir yaitu berupa ukir terawangan. Ruangan paling tengah merupakan gudang, yang didalamnya terdapat tangga untuk naik ke pagu (tempat penyimpanan barang). Pintu masuk ke ruangan dapur berada di sebelah kiri. Pada dinding dalamnya kiri dan kanan, berada di atas jendela juga dibuat pagu. Pada pagu ruang dalam tersebut tersimpan barang-barang berharga seperti terbangan. Ukir terawangan tersebut adalah berbentuk sulur-suluran dan kipas yang sedang mengembang. Sulur-saluran merupakan lambang sumber kehidupan manusia, sedangkan kipas dimaksudkan agar penghuninya selalu mengembang dalam berbagai kehidupan keluarga, terutama kehidupan ekonomi. Risplangnya dibuat berhias sehingga disebut “uncak-uncak putri”. Plafonnya, baik gelemat maupun pemangku kasaunya dibuat permanen dan berkesan mewah, terbuat dari kayu Merbau sehingga nampak mengkilat. Susunan gelemat dibuat rapi, berhadapan antara kanan dan kiri pemangku kasau. Keadaan tersebut di atas berbeda dengan rumah penduduk yang puyang-nya rakyat biasa.

Rumah tersebut pertama kali dibangun, atapnya memakai atap ijuk berlapis 5 (lima). Lapis pertama ijuk, kemudian atasnya diberi pasir. Lapis kedua ijuk ditumpangi pasir lagi. Lapis ketiga sampai lapis keempat sama, kemudian lapis kelima atau lapis yang penutup adalah ijuk. Pada waktu itu bubungannya ada dua buah, yaitu pada bagian depan dan bagian belakang. Pada bubungan bagian depan terpasang ragam hias “tanduk rusa” yang menandakan bahwa pemiliknya pakai adukan (mempunyai marga). Dapurnya dibuat secara terpisah di belakang rumah yang dihubungkan dengan jembatan kecil.

Sebagaimana rumah-rumah yang Iain di daerah uluan, rumah tersebut dibangun dengan cara gotong-royong baik dengan keluarga maupun dengan tetangga, baik dalam hal pengumpulan bahan maupun dalam hal pembangunannya. Sedangkan pengukirnya adalah pemiliknya sendiri. Sayang sekali keahlian mengukimya tidak diturunkan kepada generasi berikutnya.

Pada generasi kedua ini ada bagian rumah yang mengalami perubahan. Atap yang dahulunya terbuat dari ijuk diganti dengan genteng. Sedangkan bubungannya diubah (dijadikan satu). Dapur dihilangkan dan sebagai penggantinya dibuat dapur di dalam rumah, satu ruangan dengan ruang makan. Pada sebelah luar dekat dapur dibuat tundan (tempat mencuci piring dan lain-lain).

 

Ilustrasi Rumah Ulu yang berbentuk rumah panggung (gambar tampak depan dengan skala 1:50)

 

Gambar bukaan Rumah Ulu (Gambar tampak samping dengan skala 1:50)

Persiapan Pembuatan Rumah Ulu OKU

  • Musyawarah mufakat keluarga terkait pemilihan tempat (lokasi) dan waktu pelaksanaan yang juga melibatkan Tua-tua atau Ketua Adat. Pemilihan tempat untuk pendirian rumah ini menganut konsep ulu-ulak (ilir). Apabila tempat tersebut masih luas dan diharapkan akan digunakan juga untuk pembangunan rumah berikutnya maka pembangunan rumah yang pertama berada pada bagian ulu. Penghormatan kepada yang lebih tua untuk tinggal di sebelah ulu; berarti juga bahwa yang lebih tua harus melindungi atau menjadi pengayom bagi yang lebih muda. Konsep Ulu-ulak mempunyai nilai yang positif dalam ikatan kekeluargaan. Masing-masing anggota keluarga tahu akan kedudukannya dalam keluarga.
  • Pembersihan lokasi dari semak belukar dan pembersihan dari roh-roh halus yang menghuni tempat tersebut. Mereka percaya bahwa setiap tempat ada penghuninya yaitu makhluk halus. Diadakanlah upacara selamatan yang dihadiri oleh Ketua Adat, Kepala Marga, Tua-tua serta segenap anggota keluarga yang terdekat.

Pengumpulan Bahan Rumah

  • Bahan bangunan seperti kayu dan bambu pada umumnya diambil dan hutan sekitarnya. Sebelum berangkat ke hutan, terlebih dahulu salah satu anggota keluarga, terutama kepala keluarga, menghadap Kepala Marga dan menyatakan maksudnya untuk menebang kayu di hutan sebagai bahan bangunan. Pada saat itu sekaligus diadakan musyawarah mengenai penentuan waktu yang baik untuk berangkat ke hutan, siapa saja yang akan berangkat, serta penentuan siapa yang akan memilih kayu yang baik serta membacakan mantera-mantera sebelum menebang kayu. Orang yang ditunjuk untuk memilih kayu yang baik dan membacakan mantera-mantera umumnya adalah Tua-tua yang dianggap mengetahui, berpengalaman dan mempunyai kekuatan bathin untuk berhubungan dengan roh-roh halus.
  • Yang perlu diperhatikan dalam memilih kayu di hutan yang akan digunakan untuk bahan bangunan bahwa pohon yang condong tidak baik jika kayunya digunakan untuk bangunan rumah. Hal tersebut akan membuat penghuni rumah menjadi tidak tegar dan mudah terserang penyakit. Pohon yang dililit akar-akaran juga dikatakan tidak baik untuk bahan bangunan rumah, karena hal tersebut akan membawa penghuni rumah selalu dililit kesulitan-kesulitan dalam hidup. Sedangkan pohon yang mati tegak dipercayai akan mendatangkan sial apabila kayunya dipergunakan untuk bangunan tempat tinggal.
  • Pemilihan kayu untuk tiang dan kitau dipilih kayu yang terkuat yaitu kayu gehunggang. Bentuknya yang besar dan kuat, sehingga cocok digunakan sebagai tiang penyangga dan sebagi kitau. Di samping itu, kayu gehunggang juga tahan panas dan air. Apabila musim hujan, biasanya banjir dan tiangnya tergenang air. Meskipun tergenang air sampai relatif lama, kayu gehunggang tidak lapuk atau tetap bertahan. Pemakaian kayu gehunggang untuk tiang juga ada makna simbolisnya, yaitu penghuni rumah akan tetap tegar dan selamat meskipun harus menerima cobaan-cobaan dalam hidup ini. Di samping kayu-kayu tersebut, ada pula jenis kayu yang lain yang digunakan sebagai bahan bangunan, yaitu kayu petaling, kayu medang tanahan, kayu medang sela hitam dan kayu tampahegis.
  • Jenis bambu yang digunakan adalah bambu mayan kelingi. Keistimewaan bambu tersebut adalah tidak perlu direndam. Bambu lain yang dipergunakan adalah jenis ulung. Hanya saja, untuk bambu jenis ini perlu direndam di dalam air terlebih dahulu. Merendamnya pada umumnya selama satu bulan. Bambu umumnya digunakan untuk ring, lantai dan tiber angin. Dahulu ringnya menggunakan kulit kayu seluha. Akan tetapi pada masa sekarang ini populasi kayu tersebut semakin berkurang, bahkan hampir punah, jadi diganti dengan bambu. Pemakaian bahan-bahan untuk bangunan tersebut pada masa sekarang ini mengalami perubahan.

Bahan-bahan bangunan yang dipergunakan pada waktu itu adalah kayu, bambú, rotan, ijuk serta bahan lain yang didapatkan dari hutan sekitamya. Pengetahuan mengenai jenis-jenis bahan bangunan yang baik diperoleh secara turun temurun. Pada masa sekarang, jenis-jenis kayu seperti tersebut di atas semakin langka dan sulit didapatkan, sehingga bahan-bahan bangunan seperti kayu didapatkan dengan cara pembelian. Hal tersebut berakibat bahwa generasi sekarang semakin tidak mengetahui warisan pengetahuan nenek moyang mengenai pemilihan bahan-bangunan yang baik seperti kayu serta hal-hal yang berhubungan dengan itu.

Bahan bangunan yang dipergunakan banyak mengalami perubahan. Misalnya, atap yang dahulu menggunakan ijuk, sekarang diganti dengan genteng atau asbes; tangga yang dahulu dibuat dari kayu, sekarang diganti dengan semen atau keramik dan lain-lain.

Pembuatan Rumah Ulu OKU

  • Konsultasi dengan Ketua Adat atau Tua-tua yang dianggap mengetahui untuk menetapkan saat yang baik untuk mendirikan rumah.
  • Upacara selamatan yang biasanya dihadiri oleh Ketua atau Pemangku Adat, Kepala Marga, Tua-tua dan anggota keluarga terdekat. Upacara selamatan ini umumnya dipimpin oleh Pemangku Adat yang dibantu oleh Lebai atau Ketip. Syarat selamatan pendirian bangunan atau peletakan tiang adalah penyembelihan hewan. Hewan yang disembelih umumnya ayam jantan. Bagi keluarga yang secara ekonomi mampu, biasanya yang disembelih bukan ayam jantan tetapi kambing atau kerbau atau sapi. Penyembelihan hewan tersebut dimaksudkan agar para pekerja yang akan membangun rumah bisa selamat terhindar dari segala malapetaka. Setelah upacara selesai, baru dimulai pekerjaan pendirian bangunan.
  • Pembangunan Rumah Ulu tersebut dimulai dengan peletakan tiang. Sebelum tiang dipasang terlebih dahulu tiang bagian atas diseping untuk pemasangan kitau. Tiangnya berbentuk bulat dari kayu gehunggang, dengan diameter antara 50 – 60 Cm, sedangkan tingginya 137 Cm. Tiang tersebut berjumlah 15 buah, yaitu tersusun tiga deretan dari kiri ke kanan dan lima deretan dari depan ke belakang. Tiang-tiang tersebut tidak dimasukkan pada lobang galian di dalam tanah untuk tapakan, tetapi yang merupakan “galang tiang” atau “pendudukan tiang” adalah tiga buah batu kali, dengan tujuan sebagai imbangan terhadap goncangan gempa.
  • Di atas tiang terpasang kitau. Kitau dipasang secara memanjang dari depan ke belakang. Sebagaimana bentuk tiang, kitau juga berbentuk bulat dengan jenis kayu yang pada umumnya sama dengan jenis kayu yang digunakan untuk tiang. Diameter kitau antara 20 – 25 Cm. Pemasangan kitau di atas tiang tidak menggunakan paku atau engsel besi, tetapi kitau tersebut dipasangkan pada bagian atas tiang yang telah diseping. Kitau ini jumlahnya lima buah, yaitu sejumlah deretan tiang dari depan ke belakang. Di atas kitau terpasang kung atau atung, yang dipasang dengan arah yang berlawanan dengan kitau. Kitau dipasang dari depan ke belakang, sedangkan atung dipasang dari kiri ke kanan. Atung paling depan diukir, dan hanya dibuat sepanjang tiga deretan tiang. Atung yang diukir tersebut berbentuk bulat. Sedangkan kung yang lain tidak diukir dan berbentuk empat persegi panjang.
  • Pemasangan belandar, yaitu yang dipasang di atas atung. Pada bagian depan, belandarnya dibuat melengkung semakin ke depan semakin runcing sehingga berkesan indah dengan jarak yang sama sehingga menyerupai tangga yang dipasang secara horizontal. Oleh karena itu belandar tersebut dinamakan “tanggai putri”. Jumlah keseluruhan “tanggai putri” dari kiri ke kanan adalah 34 buah, yaitu 17 buah berada di tengah, 9 buah di bagian kiri dan 8 buah pada bagian kanan. Pada atas belandar dipasang lungser. Paling atas adalah dasar atau lantai. dasar atau lantai terbuat dari bambú yanag dibelah, kemudian dijalin dengan rotan yang disebut nylampit.
  • Pekerjaan bagian atas dilaksanakan setelah pekerjaan bagian bawah seperti pemasangan tiang dan pekerjaan bagian tengah (bagian badan) yang utama seperti pemasangan kitau, atung, belandar dan sako selesai. Pekerjaan bagian atas yang utama adalah menaikkan bubungan. Pekerjaan ini dilaksanakan untuk pemasangan bagian atap seperti tiang bubungan dan yang lainnya. Pada saat melakukan pekerjaan naik bubungan ini dilaksanakan upacara selamatan yaitu upacara naik atap atau naik bubungan. Syarat-syarat yang harus dipenuhi antara lain kendi yang diisi air dari tujuh sungai sebagai lambang tujuh penjuru angin dengan maksud agar iblis, setan, roh-roh halus pergi dan tidak mengganggu. Air tersebut juga sebagai lambang “obat segala obat” dan juga supaya dingin. Dalam arti hidupnya tenang; kelapa tumbuh dengan maksud supaya murah rezeki dan selalu tumbuh atau mengembang dalam kehidupan ekonomi; pisang masak agar tidak putus bahan makan; beringin yang bermakna supaya subur seperti beringin; serta kembang pelangi sebagai lambang keindahan dan tidak sembarang dalam mengurus keluarga atau rumah tangga.
  • Apabila semua pekerjaan telah selesai maka diadakan selamatan lagi, yaitu yang dinamakan selamatan “tunggu rumah”. Selamatan ini dipimpin oleh Ketua Adat yang dihadiri oleh Tua-tua Kepala Marga, dan sanak keluarga yang terdekat. Hidangan yang utama berupa serabi, ketan dan buah-buahan. Bagi keluarga yanag mampu, biasanya diadakan selamatan yang lebih mewah dengan undangan yang relatif banyak, bahkan juga dihadiri oleh para bujang dan gadis. Pada umumnya keluarga dan tetangga terdekat yang datang sambil membawa kue-kue atau bahan makanan.

Keseluruhan dari bagian-bagian rumah ulu menggunakan teknik-teknik yang dinamakan meruang atau menyambung, teknik jalu, teknik jalin, teknik tumpu, jepit dan sambung kait. Jadi, tidak menggunakan paku atau engsel besi.

Gambar denah peletakan tiang. Tiang rumah ulu terdiri dari 15 buah, yang tersusun tiga deretan dari kiri ke kanan dan lima deretan dari depan kebelakang
Ilustrasi Sistem pemasangan tiang, kitau dan sako

Bentuk dan Bagian Rumah Ulu OKU

  • Pada halaman bawah sejajar dengan tiang terdapat pance untuk tempat duduk, dengan ukuran lebar 100 cm, panjang 236 cm dan tinggi 71 cm Pance diletakkan di depan rumah.
  • Terdapat tangga untuk naik ke lintut atau garang. Tangga tersebut berjumlah tujuh buah dengan ukuran masing-masing panjang 146 cm dan lebar 19 cm. Tangga untuk rumah tradisional di Sumatera Selatan pada umumnya berjumlah ganjil, yaitu berpedoman pada empat filosofi atau dalam istilah setempat disebut empat sukatan, yaitu : pertama taka, kedua tangga, ketiga tunggu dan keempat tinggal. Taka berarti bertingkat atau meningkat; tangga bermakna sekedar tangga atau tidak ada perkembangan; tunggu berarti selalu ditunggu atau kerasan; sedangkan tinggal berarti selalu ditinggalkan atau tidak kerasan. Dari empat filosofis tersebut, akan baik apabila jatuh pada angka ganjil. Atas dasar tersebut maka jumlah tangganya dibuat ganjil.
  • Setelah naik melalui tangga maka ruang pertama yang dijumpai adalah lintut atau garang, yaitu yang merupakan mangan terbuka dengan ukuran panjang 217 cm dan lebar 194 cm. Lintut tersebut diberi pagar dengan tinggi 60 cm. dari lintut untuk memasuki ruang pemidangan depan melewati pintu yang berukuran tinggi 142 cm dan lebarnya 70 cm.
  • Dari ruang pemidangan depan ke ruang pemidangan tengah melewati satu pintu yang berukuran tinggi 112 cm dan lebar 80 cm. Pada bagian bawah pintu terdapat langkahan dengan ukuran tinggi 40 cm dan lebar 23 cm. Pada daun pintu bagian tengah dipasang ukiran “matahari” yang merupakan lambang kehidupan. Pemasangan pintu memakai pasak, tidak menggunakan engsel. Dengan demikian, apabila pintu tersebut dibuka akan menimbulkan bunyi; dan hal tersebut dimaksudkan agar apabila terjadi serangan akan ketahuan. Pintu dibuat satu bukaan, dan pembukaan pintu adalah dari kiri ke kanan atau tangan kiri yang membuka, yaitu dengan maksud apabila orang yang mengetuk pintu ternyata tiba-tiba menyerang, maka tuan rumah atau yang membukakan pintu akan bisa menangkis atau menyerang balik dengan tangan kanan.
  • Lantainya terbuat dari bambu bilah yang dijalin dengan rotan. Pada ruang pemidangan tengah, di antara lantainya dipasang kayu empat persegi panjang dengan ukuran tinggi 12,5 cm dan lebar 8,5 cm, sedangkan panjangnya adalah sepanjang ruang pemidangan tengah yaitu 580 cm. Kayu empat persegi panjang tersebut berfungsi sebagai pijakan atau tempat lalu lintas yang disebut “pengerat”. Pengerat tersebut membelah lebar lantai ruang pemidangan, sehingga lantai tersebut terbagi menjadi dua. Pada sebelah kiri (dekat ruang tempuan) lebar lantainya 112 cm, sedangkan pada sebelah kanan (dekat ruang gedongan) lebar lantainya 278 cm. Itu berarti lebar keseluruhan lantai ruang pemidangan tengah 390 cm.
  • Pada dinding bagian depan terdapat dua buah jendela, yaitu pada dinding ruang pemidangan depan dan pada dinding ruang gedongan, yang masing-masing dengan satu arah bukaan. Dua buah jendela tersebut menghadap ke arah depan rumah. Pada ruang tempuan terdapat sebuah jendela dengan dua arah bukaan ke samping kiri dan kanan yang dinamakan jendela ingkap, dengan ukuran lebar 132 cm dan tinggi 74 cm. Jendela tersebut menghadap ke arah belakang rumah. Pada waktu pertama kali dibangun jendela rumah hanya ada satu buah yaitu pada dinding depan yang berukuran relatif kecil. Pada zaman dahulu jendela tersebut dipergunakan untuk mengeluarkan mayat. Ada kepercayaan bahwa mayat yang dikeluarkan melalui jendela kecil tersebut rohnya tidak akan kembali lagi. Pada bagian atas ruang pemidangan tengah terdapat pagu atau tempat penyimpanan barang, baik berada pada sebelah kiri maupun pada sebelah kanan.
  • Lantai ruang gedongan dibuat lebih tinggi dibandingkan dengan lantai ruang lainnya. ruang gedongan berukuran lebar 220 cm sedangkan panjangnya 574 cm. jarak ketinggian antara lantai ruang pemidangan tengah dengan lantai gedongan adaiah 19 cm.
  • Pada bagian luar (dekat dengan dapur) terdapat tundan. Dari dapur ke tundan melewati pintu yang berukuran tinggi 153 cm dan lebar 71 cm. Bagian bawah pintu yang menghubungkan antara dapur dan tundan tersebut dibuat “langkahan” atau pijakan dengan ukuran tinggi 12 cm dan lebar 7 cm.
  • Pada bagian bubungan kiri dan kanan terdapat “tiber angin” yang terbuat dari anyaman bambu.
Denah lantai rumah ulu

Rumah ulu berbentuk rumah panggung yang pada umumnya susunan ruangannya tidak dibuat berupa kamar-kamar secara tertutup tetapi ruangan-ruangan secara terbuka. Meskipun ada bagian-bagian ruangan tertentu untuk memenuhi fungsi tertentu, tetapi ruangan tersebut tidak dibuat secara tertutup seperti kamar.

Pada masa sekarang bentuk rumah ulu tidak banyak mengalami perubahan yaitu masih berupa rumah panggung. Perubahan banyak terjadi pada susunan ruang-ruang pada rumah tersebut. Pada masa sekarang banyak dijumpai bahwa pada rumah ulu terdapat kamar-kamar tertutup seperti kamar tidur untuk orang tua, kamar tidur untuk anak-anak dan lain-lain.***tdb/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Sukanti, Zulbiati dan Emawati; Rumah Ulu Sumatera Selatan; Balai Pustaka; 1993

• telah dilihat 662 kali • total 2 kunjungan untuk hari ini •
Rumah Ulu Sumatera Selatan dari Ogan Komering Ulu

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *