Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Sastra Daerah di Daerah Istimewa Aceh

Tema, Amanat, dan Nilai Budaya dalam Cerita Asal-Usul Gajah Putih

Sastra daerah Aceh sama halnya dengan sastra daerah lain, yakni terbagi dalam bentuk puisi dan bentuk prosa. Sastra daerah Aceh yang berbentuk puisi pada umumnya masih disajikan dalam bahasa asli, bahasa Aceh, sedangkan yang berbentuk prosa sebagian besar sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehubungan dengan itu, sastra daerah Aceh yang menjadi sumber data penyusun “Nilai Budaya dalam Sastra Nusantara” ini adalah sastra daerah Aceh yang berbentuk prosa.

1) Ringkasan Isi Cerita

Di Kerajaan Linge, pusat kekuasaan tertinggi di seluruh Aceh, tinggal dua kakak beradik, cucu Sultan Syah, anak Raja Genali, yang bernama Bener Meriah dan Sengeda. Suatu hari kedua kakak beradik itu ingin mengetahui asal-usul nenek moyang mereka. Oleh sebab itu, mereka pergi mengembara dan akhirnya mereka menemukan kuburan nenek moyangnya di daerah Serule. Di situ Bener Meriah dan Sengeda menjadi pusat perhatian seluruh penduduk sehingga Cik Serule dan Raja Linge, penguasa daerah itu iri hati, kemudian mereka berniat membunuh kedua anak itu, Raja Linge membunuh Bener Meriah dan Cik Serule membunuh Sengeda. Raja Linge membawa Bener Meriah ke sebuah hutan dan melaksanakan niatnya membunuh Bener Meriah, sedangkan Cik Serule tidak tega membunuh Sengeda, tetapi dia membohongi Raja Linge dengan mengatakan bahwa dia sudah membunuh Sengeda dan menunjukkan darah tempat pembunuhan, padahal darah itu adalah darah seekor harimau yang dibunuhnya. Lama-kelamaan ketahuan bahwa Cik Serule belum membunuh Sengeda dan darah yang dilihatnya adalah darah harimau. Akhimya Cik Serule berterus terang bahwa dia tidak tega membunuh anak yang tidak berdosa dan kasihan pula melihat kenyataan bahwa kakaknya yang tidak berdosa pun telah dibunuh oleh Raja Linge.

Sengeda akhirnya dibiarkan hidup dan tinggal di daerah Serule dan dia makin mendapat perhatian dari seluruh penduduk karena dia berhasil membuat lukisan yang indah, yaitu lukisan seekor gajah putih. Lukisan itu sangat dikagumi karena seolah-olah mempunyai nyawa sehingga semua orang terkagum-kagum melihatnya dan berita itu tersebar ke seluruh wilayah Aceh hingga ke telinga Sultan Aceh. Kemudian Sultan memanggil Raja Linge, Cik Serule, dan Sengeda untuk mencari binatang yang ada dalam lukisan itu. Sultan Aceh ingin sekali melihat gajah putih itu karena seumur hidupnya Sultan Aceh, Raja Linge, Cik Serule, dan Sengeda sendiri belum pemah melihat binatang itu. Kemudian mereka kembali mengembara untuk mencari binatang itu. Sengeda sendiri tidak terlalu bingung karena dia tahu bahwa lukisan itu adalah penjelmaan kakaknya yang dibunuh oleh Raja Linge. Gajah putih itu akhimya ditemukan di Gayo.

Timbul kesukaran saat akan membawa gajah itu ke hadapan Sultan karena gajah itu sangat besar. Raja Linge dan Cik Serule berusaha dcngan berbagai cara, tetapi tidak berhasil. Akhirnya Sengeda yang mengatasinya dan dengan sepotong tali dibawanya gajah itu ke hadapan Sultan. Sengeda tidak tahu bahwa Raja Linge dan Cik Scrule mempunyai niat jahat terhadapnya, tetapi gajah jelmaan Bener Meriah mengetahui sehingga gajah tidak mau beranjak lagi. Raja Linge, Cik Serule, dan Sengeda kembali merayu gajah itu agar mau berjalan kembali. Akhimya Raja Linge dan Cik Serule menipu gajah itu dengan suatu janji. Mendengar janji itu, gajah akhimya mau dituntun oleh Sengeda menuju kerajaan Aceh.

Di hadapan Sultan Aceh, Raja Linge dan Cik Serule mengaku bahwa merekalah yang membawa dan menemukan gajah itu, tetapi Sultan tahu mereka berbohong karena di pintu masuk istana gajah tidak mau masuk kecuali dibawa oleh Sengeda. Melihat gelagat yang tidak baik ini, kemudian Sultan mempunyai kebijaksanaan sendiri, yaitu dengan menanyai tugas mereka masing-masing selama dalam perjalanan dan mereka akan diberikan hadiah berupa sebuah pangkat yang sesuai dengan tugas mereka.

Semua rombongan pencari gajah ditanyai oleh Sultan satu-persatu, ada yang diberi pangkat Penghulu Bedak, Raja Mungkur, Raja Meluem, Raja Gunung, dan Penghulu Batin, sedangkan Raja Linge sendiri belum diberikan pangkat dan dijanjikan akan menyusul, dia hanya diperintahkan untuk melantik semua orang itu dengan jabatan masing-masing. Selang beberapa saat Raja Linge memerintahkan Empu Beru yang terkenal bijaksana untuk menemui Sultan dan membicarakan pangkat bagi Raja Linge. Ternyata dalam perjalanan pulang dari istana Aceh, Empu Beru dibunuh orang. Akhimya Raja Linge tidak mendapatkan pangkat yang sangat diidamkannya.

2) Tema dan Amanat

Cerita Asal-Usul Gajah Putih mengisahkan kejahatan dan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh Raja Linge karena ia merasa iri hati dengan kesuksesan yang dicapai oleh Sengeda. Untungnya di tempat mereka tinggal, berkuasa seorang sultan yang bijaksana, yaitu Sultan Aceh. Tema cerita Asal-Usul Gajah Putih (selanjutnya AUGP) adalah bahwa iri hati dan dengki atas keberuntungan orang lain itu tidak baik dan tercela. Seperti halnya yang terjadi pada diri Raja Linge, tokoh antagonis dalam cerita ini, mempunyai sifat yang tidak baik, yaitu iri hati, dengki, dan suka menipu. Hal itu terjadi karena dia ingin meraih sesuatu yang menjadi dambaannya, yaitu jabatan yang tinggi. Temyata angan-angannya itu hilang karena kelicikannya.

Amanat yang terkandung dalam cerita AUGP ini adalah janganlah iri atas keberuntungan orang lain. Sifat yang seperti itu tidak baik. Cucu Sultan Syah, yang menjadi tokoh protagonis dalam cerita ini memperlihatkan sifat yang baik dalam hidupnya, dia tidak pernah iri hati atas keberhasilan yang diraih Raja Linge, tetapi Raja Linge sendiri selalu merasa iri atas keberuntungan yang diperoleh Sengeda. Hai itu terjadi pada saat Sengeda dan Bener Meriah menjadi pusat perhatian rakyat Senile, kemudian dia berniat membunuh kedua kakak beradik itu. Perhatikan kutipan berikut ini.

Karena keesokan harinya terlihat juga keadaan daerah Serule bagaikan lautan api layaknya, maka Raja Linge berpikir bahwa keadaan ini tentu ada kaitannya dengan kehadiran kedua orang muda itu. Raja berpikir kalau mereka itu terus berada di Senile, tentu kelak akan terjadi sesuatu. Orang itu memiliki suatu kelebihan, pikir Raja Linge. Lalu ia memutuskan untuk bertemu muka langsung dengan mereka “Cik, saya berpendapat, baiklah kedua anak ini saya bawa dahulu ke Linge. Saya khawatir bilamana mereka lama di sini, tentu mereka akan mempengaruhi penduduk di sini. Lebih baik mereka dibunuh saja,” kata Raja Linge . . . . “Karena mereka dua orang, baiklah saya membunuh yang besar, Cik membunuh yang kecil,” Raja menegaskan keputusannya (AUGP, hlm. 152).

3) Nilai Budaya

Nilai budaya yang dapat dijumpai dalam cerita ini akan diuraikan secara terperinci berikut ini.

(1) Kesetiaan

Yang dimaksud dengan kesetiaan di sini adalah ketetapan dan keteguhan hati, baik dalam persahabatan, persaudaraan, maupun dalam perhambaan. Kesetiaan yang dilukiskan dalam AUGP adalah kesetiaan seorang hamba kepada rajanya. Karena raja merupakan pemimpin bagi rakyatnya, maka segala perintah raja wajib ditaati oleh rakyat sebagai bawahan. Hal seperti itu teijadi pada rakyat yang dipimpin oleh Sultan Aceh, yaitu pada waktu Sultan menginginkan agar gajah putih yang ada dalam lukisan, yang belum pernah dilihatnya, dibawa ke hadapannya. Raja Linge, Cik Serule, Sengeda, dan rakyat lain sebagai hamba harus melaksanakan perintah itu, meskipun agak sukar dilakukan, tetapi karena rasa setia, segala usaha dijalankan sehingga gajah itu berhasil dibawa ke hadapan Sultan Aceh.

Karena Sultan Aceh menaruh kepercayaan terhadap kata-kata Sengeda, Sultan lalu berpesan kcpada Cik Serule, “Karena anak ini mengaku bahwa di Linge terdapat gajah seperti ini, saya ingin agar Cik dapat membawanya kemari, Cik dapat membawa Sengeda ke Linge. Carilah gajah itu seperti yang dikatakan oleh Sengeda.”… Rombongan terus berjalan dengan petunjuk dari Sengeda. Pada suatu ketika Cik bertanya, “Di mana gerangan gajah putih yang kau katakan itu, Sengeda?” Tiba-tiba Sengeda menjawab, “Nah itu dia!” (AUGP, hlm. 154-155).

Kesetiaan yang lain dalam cerita inilah kesetiaan antara Bener Meriah sebagai kakak dan Sengeda sebagai adik. Meskipun Bener Meriah, kakak Sengeda telah dibunuh oleh Raja Linge, Bener Meriah tetap menjaga adiknya selama dalam pengembaraan. Hai itu dilakukan karena dia merasa sedih dan khawatir terhadap nasib adiknya. Setelah dibunuh, Bener Meriah dua kali mengadakan penjelmaan, yang pertama menjelma dalam sebuah lukisan dan yang kedua menjelma menjadi seekor gajah putih. Penjelmaan itu dilakukan Bener Meriah karena rasa setianya terhadap saudara kandungnya. Hal itu tersirat dalam kutipan berikut.

Tentang alasannya, Sengeda tidak mengemukakan kepada siapa pun baik kepada raja maupun kepada Cik Serule. Gambar yang dibuat Sengeda itu berasal dari mimpi tentang abangnya Bener Meriah yang telah mati dibunuh oleh Raja Linge. Roh Bener Meriah yang telah menjelma serupa seekor gajah, berpesan kepada Sengeda, katanya, “Sengeda adikku, baik, naiklah engkau agar kau dapat menjadi pemimpin kelak di kemudian hari. Karena jasadku telah tiada, maka kini rohku telah menjelma menjadi gajah putih yang dapat bertemu denganmu.” Keterikatan jiwa inilah yang memberi kemampuan bagi Sengeda untuk menciptakan rupa seekor gajah putih (AUGP, hlm. 154).

Karena melihat lukisan seekor gajah putih, Sultan memerintahkan Sengeda dan yang lainnya untuk mencarinya, sebab dia belum pemah melihat binatang itu seumur hidupnya. Sengeda, Raja Linge, dan Cik Serule sendiri belum pernah melihat bentuk binatang itu, tetapi karena perintah raja, mereka ikut mengembara mencari binatang itu. Bener Meriah, sebagai kakak, sangat kasihan melihat Sengeda bingung mencari binatang itu. Karena rasa setianya kepada adiknya, maka dia memberitahukan tempat gajah itu berada. Hai itu dilakukan karena dia sangat mencintai adiknya.

Dalam perjalanan mencari gajah putih, rombongan lalu liba di kampung Kebayakan. Ketika bermalam di kampung Kebayakan, Sengeda bcrmimpi mendapat pesan yang mengatakan, “Sengeda, janganlah khawatir, janganlah ragu. Ikutilah aku melalui kampung Linung Bulen Bintang terus ke Linge. Jika belum bertemu di Linge, teruskan perjalananmu hingga ke Gayo. Pangkal peristiwa inilah yang menjadi sebab terjadinya nama kampung Kebayakan. . . Gajah ternyata bersedia turut setelah dielus-elus oleh Sengeda. Gajah itu seolah-olah mengeni dan memang demikian keyakinan mereka, bahwa Sengeda adalah adiknya. Karena demikian keadaannya, gajah lalu dibawa ke Linge (AUGP, hlm. 154-155).

(2) Cinta Tanah Air

Dalam cerita ini perasaan rindu terhadap negeri asal terdapat pada diri dua pemuda kakak beradik, yaitu Bener Meriah dan Sengeda. Kedua pemuda itu sangat mencintai daerah atau tempat asal kelahirannya, terutama terhadap nenek moyangnya. Hal itu terjadi karena adanya ketidakpastian hati melihat diri sendiri, tanpa tahu asal-usul mereka. Itulah sebabnya timbul niat keduanya untuk mengembara dengan membawa bakal sebuah layang-layang untuk mencari tanah kelahiran mereka. Perhatikan kutipan berikut.

Kegemaran cucu Sultan Syah, yaitu Bener Meriah dan Sengeda, adalah bermain layang-layang. Karena ingin mengetahui asal-usul keturunan mereka, maka pada suatu hari terjadi percakapan antara Bener Meriah dan Sengeda. Amar keduanya terdapat persamaan pendapat bahwa bilamana layang-layang mereka putus, maka tempat layang-layang itu mendarat kelak menjadi pertanda asal-usul nenek moyang mereka. Tempat mendarat layang-layang itu kelak dikenal dengan nama Serule (AUGP, hlm. 151).

Di daerah Serule itulah akhirnya kedua kakak beradik itu menemukan sebuah kuburan, yang temyata adalah kuburan nenek moyang mereka. Setelah mengetahui asal-usulnya, mereka merasakan adanya kepuasan batin untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Oleh sebab itu, mereka mencapai keberhasilan dalam pengembaraan selanjutnya sehingga mereka mendapat banyak perhatian dari seluruh penduduk Serule.

(3) Kebijaksanaan

Raja berkedudukan paling tinggi dalam lapisan sosial di masyarakat. Oleh sebaba itu, dia harus bijaksana dan arif. Di tangannyalah semua harapan rakyat bertumpu. Raja yang bijaksana berarti raja yang mengetahui, pandai, selalu menggunakan akal budinya, baik pengalaman dan pengetahuan, tajam pikiran, dan pandai mengingat-ingat. Dalam kisah AUGP peran raja yang bijaksana dilakukan oleh Sultan Aceh, sebagai penguasa tertinggi di seluruh Aceh.

Sultan Aceh sebagai pemimpin rakyat mempunyai kebijaksanaan tersendiri dalam menghadapi berbagai tingkah laku para bawahannya, baik yang berniat jahat maupun yang berniat baik. Raja Aceh mempunyai sikap yang lain dalam menghadapi Sengeda di satu sisi dan Raja Linge di sisi lain karena kedua orang itu mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Sengeda adalah seorang anak yang jujur dan watak itu terpancar dalam segala tingkah lakunya. Oleh sebab itu, Sultan tidak percaya waktu ada berita yang mengatakan bahwa Raja Linge yang menemukan gajah putih. Dia meminta kepada Sengeda untuk menyerahkan segalanya di tangannya. Kebijaksanaan Sultan itu dapat diketahui dari kutipan berikut.

Setelah tiba di Ujung Aceh, rombongan bermaksud menghadap Sultan di istana untuk melaporkan kedatangan mereka. Akan tetapi, setibanya di pintu istana, gajah tidak bersedia masuk pintu. Hai itu langsung diberitahukan kepada Sultan. Sultan merasa heran akan peristiwa di balik semua keadaan ini. Menurut Sengeda, Sultan telah diberi tahu oleh seseorang bahwa yang membawa gajah putih ke Ujung Aceh adalah Raja Linge dan Cik Serule. Akan tetapi Sultan menentukan kebijaksanaan lain, setelah diberi tahu Sengeda bahwa ialah yang bawa gajah putih itu semenjak dari Linge. Oleh karena gajah putih masih tetap bertahan di pintu gerbang, maka Sultan menganjurkan agar Sengeda mencoba mengiringkan gajah itu melewati pintu istana. Benarlah, gajah putih itu lalu bergerak melewati pintu gerbang setelah diiringkan oleh Sengeda (AUGP, hlm. 157).

Kebijaksanaan Sultan Aceh juga terlihat saat menghadapi kelicikan, penipuan, dan kedengkian Raja Linge. Sultan tahu bahwa Raja Linge mempunyai sifat-sifat jelek. Oleh sebab itu, saat dia mengaku bahwa dia yang membawa gajah, Sultan tidak mempercayainya. Dia tidak terus terang membenci Raja Linge tetapi dia menjanjikan sesuatu jabatan yang belum tentu, demikian juga Raja Linge mengutus bawahannya untuk menagih janji. Sultan hanya memberikan jabatan semula yang tidak jelas dan utusan Raja Linge yang bernama Empu Baru pun meninggal diracun di tengah jalan karena membawa pangkat Raja Linge yang tidak jujur.

Pada saat rombongan pembawa gajah sampai di istana, Sultan ingin memberi hadiah sesuai dengan janjinya. Oleh sebab itu, satu-persatu rombongan itu ditanyai tugasnya agar hadiah yang disampaikan sesuai dengan kerja mereka masing-masing. Perhatikan kutipan berikut.

Akan tetapi sebelum menyampaikan hadiah itu Sultan merasa perlu terlebih dahulu mengetahui tugas mereka masing-masing selama dalam perjalanan, semenjak dari Linge hingga ke istana Sultan. “Sebelum saya menyampaikan hadiah ini saya terlebih dahulu ingin mendapat penjelasan dari saudara saudara secara perorangan,” demikian kata Sultan. “Oleh karena itu, saya ingin mengajukan pertanyaan,” Sultan menambahkan . . . “Saudara, apa tugas Saudara dalam rombongan?” tanya Sultan kepada yang lain. “Pekerjaan saya boleh dikatakan sedikit saja, yaitu memandikannya dan membedakinya. Gajah perlu dibedaki agar bersedia jalan lagi,” jawab orang ini merendahkan diri. “Kalau begitu pangkat Saudara adalah penghulu bedak”. “Pekerjaan saya memandikan gajah dengan memberinya pangir,” jawab yang lain. “Kalau begitu pangkat Saudara Raja Mungkur,” jawab Raja (AUGP, hlm. 158).

Begitulah kebijaksanaan yang diambil oleh Sultan Aceh untuk para rombongan pembawa gajah. Semua mendapat pangkat yang harus diresmikan atau dilantik di Linge oleh Raja Linge, padahal Raja Linge sendiri belum mendapat apa-apa karena dia bersikap tidak baik.

(4) Kejujuran

Kejujuran berarti kelurusan dan ketulusan hati dalam menjalankan segala sesuatu. Kejujuran dalam cerita AUGP terungkap pada tokoh Sengeda, scorang anak yang selalu menerima tugas apa adanya yang diberikan padanya. Oleh sebab itu, dia mendapat hasil yang menggembirakan, kembali tinggal di istana. Kemujuran pertama yang ditemukan Sengenda adalah berhasil lolos dari pembunuhan keji yang direncanakan oleh Cik Serule dan Raja Linge. Kemudian setelah lepas dari pembunuhan itu, dia mendapatkan kemujuran lain yaitu mendapat banyak perhatian penduduk karena berhasil menciptakan lukisan yang sangat bagus dan bernyawa. Hadiah yang paling besar yang ditemukannya adalah berhasil menemukan gajah putih yang belum pernah dilihat orang lain. Keberhasilan tersebut diraih Sengeda semata-mata karena dia melakukan segala tugas dengan kejujuran dan ketulusan sehingga semua orang, termasuk Sultan suka kepadanya.

Berlainan halnya dengan Raja Linge orang yang tidak pernah jujur dalam melaksanakan tugas. Usaha apa pun dijalankannya demi tercapai segala maksud hatinya. Pertama, karena rasa iri dia membunuh Bener Meriah, abang Sengeda. Kedua, menipu Sengeda, Bener Meriah yang sudah menjelma menjadi gajah, dan menipu Sultan Aceh dengan mengaku bahwa gajah putih itu dia yang menemukan. Hasil dari segala ketidakjujurannya itu tidak membawa kebahagiaan. Dia tidak mendapat segala yang menjadi angan-angannya. Perhatikan kutipan berikut.

Karena dengan cara dibedaki, dimongiri, dan acara lain gajah belum juga bergerak sedikit pun, Raja Linge dan Cik Serule berjanji, “Sekarang gajah … kami tidak lagi bertipu daya. Sekarang . . . kalaulah engkau mau bergerak . . . baiklah . . . , jika tidak pun sudahlah . . . kami tidak lagi memaksamu. Kami berjanji, kita semua, termasuk Sengeda juga bersama-sama akan mengunjungi sultan ke ujung Aceh.” Begitulah janji raja dan cik. Padahal semua ini adalah tipu daya belaka. Dengan janji itu, gajah pun lalu bangun dari tempatnya. Segala tipu muslihat itu agaknya diketahui oleh gajah putih. la lari lagi hingga ke daerah Palit tidak jauh dari daerah Tenamak. Usaha mereka gagal lagi karena tali-tali pengikat gajah itu putus semuanya (AUGP,hlm. 156).

Karena ketidakjujuran Raja Linge, rakyatnya yang bemama Empu Beru, orang yang terkenal sangat bijaksana terkena akibat ulah raja yang jahat itu. Dia meninggal diracun orang karena orang tidak simpatik pada Raja Linge.

Diceritakan bahwa orang iri hati terhadap pangkat yang dititipkan Sultan Empu Beru. Karena itu orang lalu berusaha merebutnya dari Empu Beru. Empu Beru dibunuh dengan tunyang. Itulah sebabnya tempat itu bernama Tunyang hingga saat ini. Ada pula orang yang mengatakan bahwa Empu Beru meninggal karena termakan racun. la diracun karena membawa pangkat Raja Linge yang ternyata bersikap tidak jujur itu (AUGP, hlm. 159).

(5) Gotong-Royong

Gotong-royong berarti bekerja bersama-sama saling tolong menolong antara satu dan yang lainnya. Biasanya dengan bekerja sama ini segala hai yang menjadi tujuan mudah tercapai. Dalam AUGP bergotong-royong tergambar dengan nyata pada saat akan mencari seekor gajah putih yang ada di dalam lukisan. Gajah itu pada waktu itu merupakan binatang yang hampir tidak mungkin ditemukan karena hampir semua orang belum pernah melihatnya, tetapi karena tekad yang kuat dari para pencari, dalam hai ini adalah Sengeda, Cik Senile, dan Raja Linge, binatang itu berhasil ditemukan. Di samping itu juga karena mencari gajah putih ini adalah perintah yang datangnya dari seorang raja, maka segala usaha dikerahkan untuk menemukannya. Rombongan pencari gajah itu bekerja masing-masing sesuai dengan tugasnya sehingga gajah putih yang mustahil ditemukan itu, temyata akhimya ditemukan. Kerjasama yang baik di antara anggota rombongan itu terungkap dalam kutipan berikut.

“Raja Linge! Apa tugas Saudara dalam rombongan?” “Saya, Baulat. Pekerjaan saya sesuai dengan kedudukan saya adalah mengikuti perintah. Bilamana gajah hilang saya perintahkan supaya gajah dicari,” jawab Raja Linge… “Pekcrjaan saya boleh dik sedikit saja, yaitu memandikannya, dan membedakinya. Gajah perlu dibedaki agar ia bersedia berjalan lagi,” jawab orang itu merendahkan diri. . . “Pekerjaan saya memandikan gajah dengan memberikan pangir,” jawab yang lain… “kalau gajah lari ke gunung, tugas saya adalah berusaha mengikuti jejaknya dari satu gunung ke gunung lain,” jawab yang lain . . . “Kalau ada pertengkaran antara anggota rombongan, maka tugas saya adalah mengadili mereka.”

Sumber Data

Hanafiah, Sulaiman, et al. 1985. “Asal-Usul Gajah Putih”. Dalam Sastra Lisan Gayo. Jakarta. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kcbudayaan.

(Mu’jizah)

***Rujukan: Sastra Daerah di Sumatera; Dr. Edwar Djamaris; Tim Penyusun Sastra Daerah; Balai Pustaka; 1994

• telah dilihat 425 kali • total 3 kunjungan untuk hari ini •
Tema, Amanat, dan Nilai Budaya dalam Cerita Asal-Usul Gajah Putih

Tulisan Terkait

Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *