Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Menggali, meneliti, mengkaji, serta menulis tentang Melayu rasanya tiada pernah akan habis-habisnya karena bangsa Melayu telah memainkan peran yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia bahkan dunia. Seyogianya, kita yang sekarang sebagai bangsa Indonesia adalah bangsa Melayu. Namun, dalam perjalanannya, definisi Melayu sebagai bangsa kian memudar dan menciut sebagai suku bangsa atau etnis.

Pengertian Melayu telah berkembang mengikut langgam zaman dan dinamika sejarah sejak dahulu kala sampai sekarang, diantaranya dapat disenaraikan sebagaimana berikut:

  1. Sebutan Melayu berasal dari “himalaya” lalu kemudian disingkat menjadi “malaya”. “Hima” berarti “salju” atau “sejuk” sedangkan “alaya” bermakna “tempat”. Dengan demikian dapat disimpulkan “tempat yang sejuk seperti di puncak gunung yang tinggi”.
  2. Frasa Melayu dapat pula berasal dari perkataan “malaiyur-pura” yang berarti “kota malaiyur” atau “kota gunung”.
  3. Kata Melayu dapat pula berasal dari kata “mala” dan “yu”. “Mala” artinya “mula” atau “permulaan” dan “yu” artinya “negeri”. Melayu berarti “negeri mula”; negeri asal mula atau negeri asal-usul. Disebutkan bahwa Bukit Siguntang di Palembang diyakini sejarah sebagai negeri asal-usul raja-raja Melayu yang memerintah di Kerajaan Melayu Singapura dan Kemaharajaan Melayu Melaka serta Kemaharajaan Melayu yang kelak berpusat di Johor, Riau dan Lingga.
  4. Melayu adalah nama sebuah kerajaan tua yang pernah ada di muara Sungai Melayu (kini bernama Sungai Batang Hari, Jambi) dalam abad ke-7. Penamaan sebuah kerajaan berdasarkan nama sungai hal yang biasa dalam tradisi Melayu, karena bangsa Melayu zaman dulu selalu membangun kerajaan di pinggir sungai. Sedangkan penamaan sungai sebagai “Melayu” berasal dari sifat air sungai itu sendiri yang deras atau kencang atau melaju seperti orang berlari.
  5. Melayu juga untuk menyebut bahasa yaitu bahasa Melayu yang berkembang di tengah masyarakat Melayu mulai dari zaman Kerajaan Melayu Jambi Tua, Kemaharajaan Melayu Sriwijaya, Kerajaan Melayu Singapura, Kerajaan Melayu Melaka, Kerajaan Melayu yang meliputi Riau, Johor, Lingga dan Pahang serta seluruh daerah taklukannya serta di seluruh kerajaan Melayu di Tanah Semenanjung (Malaysia dan Thailand Selatan), dataran tanah Sumatera dan Kalimantan Barat, termasuk Brunei Darussalam, Sabah dan Serawak. Pada suatu masa, bahasa Melayu pernah menjadi lingua franca atau bahasa pergaulan antar bangsa dalam dunia perdagangan di kawasan Nusantara, bahkan Asia Tenggara.
  6. Dalam konteks prilaku, frasa “melayu” diartikan pula “layu” yang bermakna “rendah”; Melayu selalu “merendah”. Tapi bukan rendah diri. Bangsa Melayu itu rendah hati. Menghormati pemimpin dan yang lebih tua dari dirinya. Menyebut “patik” untuk diri sendiri bila berhadapan dengan raja. Mengatakan dirinya “hamba” ketika berhadapan dengan orang tua-tua. Namun dalam pergaulan dengan teman sebaya tetap menyebut dirinya “aku” atau “saya”. Dalam pergaulan di zaman sekarang “aku” atau “saya” sering pula diganti dengan sebutan “kami”, dan untuk menyapa lawan bicara disebut “awak” yang artinya “kita”. Begitulah cara Melayu yang selalu merendah.

Bukit Siguntang

Melayu sebagai Identitas Kolektif

Tanpa disadari, menjadikan Melayu sebagai identitas kolektif atau milik bersama telah dan sedang berlaku di tengah masyarakat, diantaranya:

  1. Bagi keturunan Bugis yang sudah lama bermastautin (bertempat tinggal) di kawasan Tanah Melayu seperti Kepulauan Riau, Riau, Malaysia dan Singapura, sudah mengaku dirinya Melayu, bahkan bangga menjadi orang Melayu, apalagi cicit-buyut bangsawan Bugis yang moyangnya turut malang melintang dalam pentadbiran kerajaan Melayu di masa lampau, sudah sangat-sangat Melayu. Demikian juga orang Banjar yang sudah lama bermukim di Tembilahan, Riau, juga mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Melayu.
  2. Di Malaysia, orang China atau India serta bangsa lain yang sudah memeluk agama Islam diakui dan digolongkan sebagai orang Melayu. Sementara orang Bugis, Jawa, Bawean, dan beragam entitas etnis lainnya yang berasal dari Indonesia dan beragama Islam serta sudah menjadi warga negara Malaysia juga digolongkan sebagai orang Melayu. Di Melaka, Malaysia, sekelompok peranakan China-Melayu dan beragama Islam menyebut dirinya Melayu-Baba, dan dalam kesehariannya berbahasa Melayu. Kesenian Melayu bernama “Dondang Sayang” bahkan lahir dari puak Melayu-Baba ini.
  3. Beraneka ragam suku bangsa termasuk keturunan China yang bermukim di Kepulauan Riau dan Riau serta Malaysia, bahkan mungkin juga di tempat lain, dengan sukarela menyelenggarakan kebudayaan Melayu dengan ikut serta dalam berbagai tradisi Melayu, misalnya:
  • Turut mengenakan pakaian Melayu pada hari dan peristiwa tertentu mengikuti anjuran dan kebijakan pemerintah setempat.
  • Berperan aktif dalam peristiwa kebudayaan Melayu. Mulai pertengahan tahun 90-an sampai sekarang. Riau dan Kepulauan Riau amat gencar menyelenggarakan peristiwa kebudayaan dan gerakan kemelayuan. Lintas etnis yang ada di Riau dan Kepulauan Riau turut terbabit dalam peristiwa dan gerakan ini, baik secara aktif maupun partisan. Hal yang demikian mungkin juga berlaku di kawasan Melayu yang lain.
  1. Menggunakan bahasa Melayu dalam pergaulan sehari-hari. Hal yang demikian mungkin juga berlaku di kawasan Melayu yang lain di Nusantara.
  2. Terlibat dalam menyusun kebijakan pemerintah berkenaan dengan memajukan kebudayaan Melayu.
  3. Munculnya para tokoh lintas etnis di Riau, Kepulauan Riau, atau mungkin juga di kawasan Melayu yang lain, yang berjuang memajukan kebudayaan Melayu dan mengangkat harkat dan martabat Melayu melalui karya dan gerakan kemelayuan lainnya.

 

Melayu pernah pula menjadi indentitas kolektif sebelum kita menyandang identitas keindonesiaan:

  1. Orang Bugis yang merantau ke Afrika Selatan pada masa kolonial dulu yang dipimpin Syeikh Muhammad Yusuf al-Maqasari, seorang ulama terpandang berasal dari Goa atau Makassar yang dalam hidupnya banyak mengembara, mengidentifikasi diri sebagai Bangsa Melayu, sehingga ketika mereka menjadi warga negara Afrika Selatan, digolongkan sebagai ras Malay (Melayu) dalam undang-undang negara tersebut.
  2. Demikian juga di zaman penjajahan Belanda, yang digolongkan Melayu mencakup semua suku bangsa di Indonesia untuk menyandingkannya dengan warga keturunan China, India, Arab dan keturunan bangsa asing lainnya. Artinya, Melayu sebagai identitas kolektif di masa lalu sama dengan identitas kolektif sebagai orang Indonesia asli di zaman sekarang.

melaka

Banyak sungguh nilai positif yang dapat dipungut sepanjang perjalanan bangsa Melayu, diantaranya:

  1. Menumbuhkan rasa hormat kepada cicit buyut mereka yang sekarang disebut sebagai suku terasing, karena mereka lah yang sepantasnya disebut orang asli karena mereka lebih dulu bermukim di kawasan Melayu atau Nusantara.
  2. Kejayaan Kemaharajaan Sriwijaya di buana Asia Tenggara sebagai negara maritim terbesar yang menguasai perdagangan di zamannya dapat juga menjadi kebanggaan dan inspirasi generasi Melayu hari ini.
  3. Kisah semasa Kerajaan Melayu Singapura seperti cerita Singapura Dilanggar Todak dan Badang Perkasa, sedikit banyak tentu dapat memberi hiburan dan pelajaran bagi generasi Melayu hari ini.
  4. Kebesaran Kemaharajaan Melayu yang meliputi Riau, Johor, Lingga dan Pahang serta seluruh daerah taklukannya, disamping perlu diketahui generasi Melayu hari ini, juga banyak yang dapat direnungkan. Bahwasanya sejarah dan budaya sejak lama mengikat kuat antara Indonesia, Malaysia dan Singapura sehingga tiada perlu dipertelagahkan ketika bangsa serumpun ini memiliki kebudayaan yang sama antara yang satu dan yang lain.
  5. Demikian juga kepahlawanan Raja Haji Fisabilillah yang berani mara menyongsong Belanda ke markasnya di Melaka, serta heroiknya Hang Nadim mengawal Bumi Melayu ini dari serangan Portugis. Tentulah sedikit banyak dapat menjadi infus pembangkit semangat patriotisme generasi Melayu hari ini.
  6. Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga yang pada suatu masa menjadi tempat berhimpunnya para ulama dan cendikiawan, juga perlu diketahui generasi Melayu hari ini, termasuk perjuangan mereka menentang penjajahan Belanda dengan cara intelektual dan ketunakan para cendikiawan tersebut dalam dunia sastra.

Wallahu a’lam

***Rujukan: Sejarah Melayu; Ahmad Dahlan

• telah dilihat 249 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Memaknai Melayu

Tulisan Terkait

Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *