» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Dewasa ini, adat istiadat mandi keris bagi sebagian masyarakat umum tak lagi populer, bahkan terkadang masih mempertanyakan relevansinya dengan kehidupan modern seperti sekarang ini. Lebih jauh ada juga yang menghubungkan amalan mandi keris ini dengan perbuatan khurafat, syirik dan menyekutukan Allah SWT. Lain pendapat mengatakan bahwa amalan ini ada hubungannya dengan suatu kekuatan ghaib pada keris tersebut.

Untuk itu, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu, perkara apa saja yang diperbuat pada saat amalan mandi keris ini dilakukan, sebagai salah satu adat istiadat warisan leluhur bangsa Melayu, agar apa yang kita tetapkan memiliki dasar dan tidak menghukum dan menetapkan suatu perkara tanpa kita tahu perkara sesungguhnya. Adat ini kami sadur secara bebas dari blog farulazri pada alamat http://blog.farulazri.com.

Pada umumnya, adat istidat mandi keris ini dilakukan pada setiap awal bulan Muharrom (bulan pertama dalam kalender hijriah), dari tanggal 1 hingga 10 Muharrom. Sebagaimana diketahui, bahwa bulan Muharrom ini adalah bulan yang diharamkan berperang oleh Allah SWT. Dari sinilah awal mula adat ini berlaku dan diwarisi secara turun temurun oleh bangsa Melayu dan kaum muslimin, karena hanya pada bulan Muharrom ini para pejuang, tentara, pendekar, dan panglima tidak berperang, bertarung dan hal sejenisnya, sehingga bulan Muharrom ini diisi dengan berkhalwat, bertasbih, berdzikir, dan mengabdi kepada sang Khaliq.

Seiring dengan itu juga, dalam perjalanan satu tahun, keris yang disimpan atau pun digunakan sebagai senjata, akan memiliki kotoran atau berkarat atau bahkan telah hilang bisa/racun yang terkandung pada keris. Maka pada kesempatan ini lah, setahun sekali dilazimkan mencuci, membersihkan atau pun memberi bisa/racun pada mata bilah keris.

Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. Namun menghalang (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh.
(QS AL-Baqarah (2) :217)

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan Mizan (keadilan, keseimbangan, keselarasan, kesepadanan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
(al-Hadid 57: 25).

Adapun tata cara memandikan keris itu sendiri tidak terbatas hanya pada satu cara saja. Ada banyak cara memandikan keris yang merupakan adat turun temurun dari nenek moyang kita sebagai suatu warisan budaya. Dalam kesempatan ini, tata cara memandikan keris merujuk pada salah satu tradisi masyarakat Melayu lama yang dikenal dengan nama Sintuk Limau, yang kami kutip dari blog farulazri (http://blog.farulazri.com). Bahan-bahan yang diperlukan adalah dari jenis yang mudah didapati dan tidak melanggar syariat Islam. Berikut tahapan dan penjelasannya:

  1. Sediakan bilah keris yang akan dicuci.
  2. Sediakan batang pisang yang segar berukuran 3 hingga 4 kaki panjang.
  3. Beberapa biji limau nipis.
  4. Air kelapa tua / cuka makanan (bagi memberi ketahanan pada besi sekaligus membuang karat). Ini juga akan bertindak sebagai penebat besi dari karat.
  5. Seruas buluh (bambu) yang berukuran sama panjang dengan mata bilah keris yang ingin dicuci.
  6. Air mawar (bagi mewangikan bilah) ATAU seeloknya Minyak Atar (Unsur minyak bagi memberi ketahanan pada besi. Jenis atar bagi mewangikan).
  7. Proses pengeringan bilah dari air. Jangan dilap atau sapu dengan kain kerana itu bukan adat dan adapnya ‘berkeris’. (Dahulukala orang Melayu menggunakan asap kemenyan yang secara perlahan-lahan akan mengeringkan air pada bilah).

Apabila bilah keris sudah tersedia, tikamkan mata serta bilah keris itu tadi pada batang pisang beberapa kali bagi membuang karat peringkat pertama. Setelah keris itu basah dari hasil batang pisang tersebut, kita masuk ke peringkat kedua dengan menggosok mata bilah dengan limau nipis sehingga hilang karat tersebut. Dari sini, bilah keris akan kelihatan putih berseri-seri dan adakalanya binaan pamor juga akan hilang dari bilah keris. Tetapi jangan risau, pamor yang indah itu akan kembali semula.

Kemudian, pecahkan sebiji kelapa tua dan masukkan airnya (atau cuka makanan) di dalam ruas buluh yang tersedia tadi (yang sama panjangnya dengan mata bilah keris) dan rendam. Seeloknya, biarkan ianya semalaman bagi mendapatkan hasil. Kebiasaan yang dilakukan ialah rendaman 3 hari 3 malam. Selepas proses merendam bilahnya, keluarkan bilah keris itu dari ruas buluh, basuhkan dengan air mawar (atau air rendaman beras) bagi mencuci sisa karat yang masih berbaki. Jika ingin mewangikan bilah keris itu pula, maka sapukan dengan minyak atar dan yang sebaik-baik minyak bagi tujuan ini adalah minyak Zafaron, minyak Misik, minyak Gaharu, minyak Cendana atau kalau ada kenalan dari Indonesia, cuba dapatkan ‘Warangan’. Dengan penyapuan minyak tersebut, bilah keris akan kembali menjadi hitam dan pamor akan kembali kelihatan. Akhir sekali, proses pengeringan mata bilah tersebut.

Mata bilah keris disediakan bersama batang pisang
Tikamkan mata bilah keris pada batang pisang bagi membuang karat peringkat pertama
Air kelapa tua digunakan bagi merendam mata bilah keris
Rendamkan mata bilah keris di dalam ruas buluh berisi air kelapa tua
Sediakan limau nipis yang dibelah bagi memudahkan proses mencuci
Gosokkan limau nipis pada mata bilah keris bagi membuang karat peringkat kedua

Wallahu a’lam

***Sumber: blog.farulazri.com/

• telah dilihat 232 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Mandi Keris Sintuk Limau

Tulisan Terkait

Tag pada:                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *