Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Sastra Daerah di Daerah Istimewa Aceh
Tema, Amanat, dan Nilai Budaya dalam Cerita Si Kepar

Sastra daerah Aceh sama halnya dengan sastra daerah lain, yakni terbagi dalam bentuk puisi dan bentuk prosa. Sastra daerah Aceh yang berbentuk puisi pada umumnya masih disajikan dalam bahasa asli, bahasa Aceh, sedangkan yang berbentuk prosa sebagian besar sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehubungan dengan itu, sastra daerah Aceh yang menjadi sumber data penyusun “Nilai Budaya dalam Sastra Nusantara” ini adalah sastra daerah Aceh yang berbentuk prosa.

1) Ringkasan Isi Cerita

Dahulu di sebuah kampung dalam wilayah Alas, Koia Cane ada seorang anak bernama Si Kepar. Ketika baru berumur satu tahun, ia ditinggal cerai oleh ayahnya. Setelah selesai perceraian, ayahnya pergi meninggalkan anaknya, Si Kepar. Sejak kecil Si Kepar tidak mengenal ayahnya.

Pekerjaan Si Kepar sehari-harinya bermain gasing dengan teman-temannya. Ketika sedang bermain, ia diejek oleh teman-temannya, dengan menyatakan bahwa Si Kepar anak jadah, tidak mempunyai ayah yang syah. Ia merasa sakit hati dan malu. Kemudian ia pulang bertanya tentang ayahnya kepada ibunya, tetapi tidak dijawab oleh ibunya. Si Kepar semakin penasaran dan semakin mendesak bertanya kepada ibunya. Dengan berat hati, ibunya menceritakan kepada anaknya, bahwa Si Kepar masih mempunyai ayah dan sekarang ayahnya berkebun dan berternak di seberang lautan. Atas jawaban ibunya, Si Kepar bersenang hati dan puas bahwa ia merasa masih mempunyai ayah kandung yang masih hidup.

Keesokan harinya, Si Kepar minta izin kepada ibunya akan mencari ayahnya ke seberang lautan. Berbekal dengan doa dan kemauan keras, Si Kepar dapat berjumpa dengan ayahnya yang tinggal di seberang lautan.

Ayahnya bersenang hati dan terharu dapat bertemu dengan anaknya yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Setelah lama Si Kepar tinggal di tempat ayahnya, ia merindukan ibunya yang tinggal di kampung sendirian. Pada pagi harinya. Si Kepar minta izin kepada ayahnya untuk pulang ke kampung ibunya sambil membawa oleh-oleh dari kebun ayahnya. Ibunya terkejut ketika melihat anaknya datang. Setelah masuk rumah, Si Kepar bercerita kepada ibunya selama perjalanan sampai ia berjumpa dengan ayahnya di seberang lautan.

Keberhasilan Si Kepar dapat berjumpa dengan ayahnya belum membawa kepuasan di hatinya. la masih merasa mengganjal pada dirinya, yakni ia berkeinginan merujukkan kembali rumah tangga kedua orang tuanya yang telah lama cerai. Pada saat itu, Si Kepar menyusun siasat dan cara agar berhasil merujukkan kembali kedua orang tuanya itu. Tidak lama berselang, Si Kepar berhasil membujuk ibu dan ayahnya agar mau kawin. Ibunya mau kawin asalkan yang mencarikan calon suami Si Kepar, demikian juga ayahnya, ayahnya mau kawin asalkan yang mencarikan calon istrinya Si Kepar.

Melalui kecerdikan, siasat, dan kesabaran, Si Kepar dapat berhasil merujukkan kembali kedua orang tuanya. Sejak rujuk kembali itu, kedua orang tuanya menemukan kebahagiaan dan keharmonisan.

2) Tema dan Amanat

Peristiwa yang diceritakan dalam “Cerita Si Kepar” (selanjutnya disingkat CSK) adalah perjuangan seorang anak yang ingin merujukkan kembali kedua orang tuanya yang sudah sekian lama bercerai. Tema cerita ini adalah perceraian suami-istri itu tidak baik.

Amanat yang dapat ditangkap dalam cerita ini adalah seorang suami hendaklah selalu rukun dan bersatu dengan istrinya. Tema dan amanat itu terlihat pada diri Si Kepar, setelah ia berhasil beijumpa dengan ayahnya, ia berusaha keras agar orang tuanya itu rujuk kembali demi kebahagiaan bersama. Perhatikan kutipan berikut.

Setelah itu Si Kepar sering berkunjung kepada ayahnya malah ia tinggal silih berganti, kadang-kadang di tempat ibunya dan kadang-kadang di tempat ayahnya. Sekarang Si Kepar sudah merasa bahagia, namun masih ada satu masalah lagi yang masih mengganjal dirinya yaitu keinginannya untuk mempersatukan kembali ayah dan ibunya. Ia berusaha merujukkan ayah dan ibunya, dengan berbagai usaha. Usahnya antara lain dengan menyampaikan kepada ayahnya bahwa ibunya telah meninggal dunia dengan maksud agar ayahnya pergi melayat ibunya yang telah meninggal dunia. Sebaliknya kepada ibunya dikatakannya pula bahwa ayahnya telah meninggal dengan harapan agar ibunya pergi melayat. Ternyata segala siasat yang ditempuhnya tidak membawa hasil. Setelah berbagai usaha telah gagal, maka pada suatu malam ia sembahyang tahajut memohon kepada Tuhan agar ayah dan ibunya dipersatukan kembali demi kebahagiaan bersama (CSK, hlm. 61).

Harapan yang diimpi-impikan Si Kepar temyata membawa hasil, yakni dapat merujukkan kembali rumah tangga orang tuanya, sebagaimana dapat diketahui dati kutipan berikut ini.

Setelah Si Kepar mendatangi ibunya lagi mengabarkan kepada ibunya bahwa telah menemukan calon ayahnya yang sangat mirip dengan ayahnya yang telah meninggal. Akhimya ibunya dapat menyetujui sepenuhnya dan pelaksanaan diserahkan sepenuhnya kepada Si Kepar. Selain itu ibunya juga menyarankan agar paman Si Kepar diajak ikut berunding. Si Kepar sangat senang hatinya setelah memperoleh persetujuan dari ibunya.

Selanjutnya Si Kepar mendatangi pula ayahnya. Kepada ayahnya dikatakannya ia telah menemukan calon ibu tirinya yang sangat mirip dengan ibunya dahulu. Lalu ayahnya pun menyetujuinya kepada Si Kepar. Si Kepar pun bertambah senangnya karena siasat yang dijalankannya temyata membawa hasil.

Kemudian setelah segala persiapan telah rampung lalu ditetapkan hari perkawinan ibunya dan ayahnya (CSK, hlm. 61-62)

3) Nilai Budaya

Nilai-nilai budaya yang dapat dijumpai dalam “CSK” ini akan diungkapkan secara agak terinci berikut ini.

(1) Kemauan Keras dan Tahan Penderitaan

Tidak semua orang memiliki sikap berkemauan keras dan tahan penderitaan. Sikap itu merupakan ujian dalam kehidupan manusia yang harus dikerjakan melalui ketekunan dan kesabaran. Oleh karena itu, manusia yang tidak tekun dan sabar tidak akan memiliki kedua sikap itu. Kedua sikap itu dapat diketahui dalam cerita ini, terutama pada diri tokoh Si Kepar. Ketika Si Kepar ditinggal cerai orang tuanya, ia baru berumur satu tahun. Setelah dewasa, ia berkemauan keras ingin mencari ayahnya yang telah lama meninggalkan ibunya. Dengan kemauan keras dan tahan penderitaan. Si Kepar memberanikan diri berangkat untuk mencari ayahnya yang bertempat tinggal di gunung yang pekerjaannya berkebun dan bertemak. Perhatikan kutipan berikut.

Setelah mendengar pemyataan yang sangat memilukan hati itu, ibunya terpaksa menjelaskan dan menceritakan masalah yang sebenamya. Dengan berderai air mata ibunya berkata, “Benar anakku bahwa kamu mempunyai ayah kandung yang sah, tetapi ayahmu sadah lama bercerai dengan ibu, menurut berita, ayahmu masih hidup dan sekarang berkebun di gunung, jauh di sana.”

Keesokan harinya ia minta izin kepada ibunya untuk mencari ayahnya. La yakin dan percaya bahwa dengan kemauannya yang keras pasti ia merasa mampu untuk menemukan ayahnya. Dengan perasaan yang sangat sedih ibunya terpaksa mengabulkan permintaannya. Ibunya beipikir, “sudah sewajarnyalah jika seorang anak berkeinginan untuk mencari dan berjumpa dengan ayahnya, walaupun si ayah tidak lagi memikir tentang nasib anaknya. Demikian pula halnya anakku Si Kepar yang berkeinginan untuk mencari berjumpa dengan ayahnya (CSK, hlm. 58-59).

Di samping kedua sikap itu, Si Kepar sejak kecil sudah mempunyai jiwa yang cinta kepada Tuhan, mempunyai kecerdasan, dan pandai bergaul. Dengan landasan jiwa itu, Si Kepar mampu menghadapi tantangan hidupnya. Di sinilah pembaca akan mendapatkan sikap hidup dan jiwa manusia yang percaya pada dirinya, dan tahan uji. Baca kutipan berikut.

“Konon lagi Si Kepar adalah anak yang patuh, cerdas serta beribadàh”, pikir ibunya lagi.

Setelah mendapat izin dari ibunya lalu Si Kepar memulai perjalanannya dengan menyerahkan diri kepada Tuhan disertai dengan doa semoga Tuhan dapat memenuhi keinginannya untuk dapat berjumpa dengan ayahnya yang tercinta (CSK, hlm. 59).

(2) Kasih Sayang dan Saling Menghormati

Hidup manusia tidak akan lepas dari kasih sayang kepada sesama.

Sikap itu merupakan nilai kehidupan yang dalam, terutama untuk menumbuhkan rasa keharmonisan dalam berhubungan dengan sesama manusia atau di lingkungan keluarga dan masyarakat. Keluarga harmonis itu tumbuh karena adanya sikap kasih sayang yang timbal balik antara kedua belah pihak, yakni suami kepada istrinya dan kedua orang tua kepada anaknya, sebagaimana dapat diketahui pada kutipan berikut.

Belum selesai Si Kepar bercerita orang itu ternyata tidak sabar lagi lalu menyela, “Sayalah ayahmu.” Kedua insan itu lalu berangkul-rangkulan sambil meneteskan air mata karena tidak tertahan rasa haru. Kemudian dibawanyalah Si Kepar masuk ke dalam rumah dan ditunjukkannyalah semua harta bendanya seprrti sawah, ladang, dan binatang temak. Kepada Si Kepar ayahnya berkata, “Ambillah harta ini semua untukmu Nak! Pergunakanlah sehendak hatimu. Di sinilah kita tinggal bersama dan janganlah pulang ke kampung”. Demikianlah keinginan ayah Si Kepar yang telah disampaikan kepadanya (SCK, hlm. 60).

Sebaliknya, sikap kasih sayang orang tua kepada anaknya akan menumbuhkan sikap hormat kepada diri anaknya. Seperti tokoh Si Kepar, setelah ia menjadi dewasa sikap menghormati kepada kedua orang tuanya dimilikinya secara mendalam. Dalam cerita ini tercermin anak yang rindu dan hormat terhadap ibunya, sebagaimana dapat diketahui dari kutipan berikut.

Setelah hari berganti hari, timbullah rasa kekhawatiran terhadap ibunya yang telah lama ditinggalkannya seorang diri di kampung. Lalu iapun minta izin kepada ayahnya untuk pulang ke kampung. Pada mulanya ayahnya tidak menginzinkannya, rupanya sang ayah tidak mungkin menahannya lagi walaupun rasa rindunya belum mereda. Akhimya, anaknya dibekali dengan bermacam ragam hasil kebunnya (CSK, hlm. 60).

Tumbuhnya rasa kasih sayang dan saling mcnghormati di dalam lingkungan keluarga, ternyata dapat menumbuhkan keluarga bahagia dan sejahtera. Hal itu terungkap dalam cerita ini, sesudah Si Kepar berhasil merujukkan kembali kedua orang tuanya, sebagaimana terungkap pada kutipan berikut.

Ayah dan ibu Si Kepar lalu rangkul-merangkul dengan penuh rasa haru karena telah dapat dipersatukan kembali oleh Si Kepar, anak yang cerdik lagi bijaksana serta jujur. Sejak saat itu berbahagialah kembali keluarga yang sudah sempat berantakan untuk sekian lama, (CKS, hlm. 62).

(3) Sikap Tegas

Sikap tegas merupakan sikap yang baik karena sikap tegas dapat menjaga harga diri seseorang dari fitnahan orang lain. Seperti tokoh cerita ini. Si Kepar dituduh mencuri oleh pemilik kebun ketika ia sedang mencari ayahnya. Ia menjawabnya dengan tegas bahwa ia datang ke kebun tidak bermaksud mencuri, tetapi akan mencari ayahnya. Sikap tegas itu dapat dibaca pada kutipan berikut.

Kemudian ia mendekati Si Kepar dengan sangat cepat dia menangkap tangan Si Kepar sambil mengeluarkan kata-kata “Kiranya engkaulah yang selalu mencuri hasil kebunku ini”.

“Saya datang kemari bukan bermaksud ingin mencuri Pak, tetapi saya datang ingin mencari ayahku yang sudah sangat lama meninggalkan aku” (CSK, hlm. 59-60).

(4) Menuntut Malu

Si Kepar ketika sedang bermain diejek oleh teman-temannya dengan mengatakan bahwa dia anak jadah, tidak mempunyai ayah yang sah. Oleh sebab itu, ia merasa malu dan ia tidak mau lagi bermain bersama teman-temannya.

Kemudian ia pulang menanyakan ayahnya kepada ibunya. Dengan berat hati, ibunya menjelaskan bahwa ia masih mempunyai ayah yang sah dan masih hidup di seberang lautan. Setelah ibunya menjelaskan hal itu, ia merasa bersenang hati. Sejak itu ia berusaha mencari ayahnya dan berusaha menyatukan kembali ayah dan ibunya. Usahanya itu berhasil, ayah dan ibunya itu bersatu kembali, ia tidak merasa malu lagi terhadap teman-temannya. Hal itu dapat diketahui pada kutipan berikut.

Pada suatu hari seorang teman sepermainannya yang telah dikalahkan oleh Si Kepar menghinanya dengan mengeluarkan kata-kata bahwa Si Kepar adalah anak jadah yang tidak berayah. Kata-kata penghinaan itu sangat menusuk hatinya sehingga ucapan itu selalu temgiang-ngiang di telinganya.

Akibatnya ia memutuskan tidak akan bermain lagi dengan teman-temannya. Kemudian ia pulang ke rumah. Dalam keadaan tak sabar lalu ia menanyakan kepada ibunya. “Ibu! Apakah benar saya adalah anak yang tidak berayah seperti yang dikatakan oleh teman saya?” Pertanyaan tersebut temyata tidak dijawab oleh ibunya. Kemudian ia bertanya lagi sambil terus mendesak ibunya supaya pertanyaan tersebut dijawab. Rupanya ibunya tetap membisu.

“Apakah benar saya anak jadah?” Kalau benar saya akan membunuh diri, dan kalau tidak benar maka tunjukkanlah yang mana ayah saya”, ujar Si Kepar kepada ibunya, (CSK, hlm. 58).

Demikianlah nilai yang terdapat dalam “CSK”. Nilai-nilai luhur inilah yang ingin disampaikan pengarang kepada masyarakat atau pembaca.

Sumber Data:
Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1978. b “Si Kepar”. Dalam Gerita Rakyat Daerah Istimewa Aceh. Aceh. Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
(Amir Mahmud)

***Rujukan: Sastra Daerah di Sumatera; Dr. Edwar Djamaris; Tim Penyusun Sastra Daerah; Balai Pustaka; 1994

• telah dilihat 461 kali • total 3 kunjungan untuk hari ini •
Tema, Amanat, dan Nilai Budaya dalam Cerita Si Kepar

Tulisan Terkait

Tag pada:                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *