» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Salah satu jenis hasil sastra Indonesia lama pada taraf permulaan ialah mantra. Mantra itu tidak lain daripada suatu gubahan bahasa yang diresapi oleh kepercayaan kepada dunia yang gaib dan sakti. Gubahan bahasa dalam mantra itu mempunyai seni kata yang khas pula. Kata-katanya dipilih secermat-cermatnya, kalimatnya tersusun dengan rapi, begitu pula dengan iramanya. Isinya dipertimbangkan sedalam-dalamnya. Ketelitian dan kecermatan memilih kata-kata, menyusun larik, dan menetapkan iramanya itu sangat diperlukan, terutama untuk menimbulkan tenaga gaib. Hal ini dapat kita pahami karena suatu mantra yang diucapkan tidak dengan semestinya, kurang katanya, salah lagunya, dan sebagainya, akan hilang pula kekuatannya, tidak akan dapat menimbulkan tenaga gaib lagi. Sedang tujuan utama dari suatu mantra ialah untuk menimbulkan tenaga gaib.

S. Takdir Alisjahbana (1952:92) menggolongkan mantra ini ke dalam golongan bahasa berirama. Sedang bahasa berirama ini termasuk jenis puisi lama. Dalam bahasa berirama itu, irama bahasa sangat dipentingkan, terutama dalam mantra diutamakan sekali irama yang kuat dan teratur untuk membangkitkan tenaga gaib.

Mantra itu timbul dari suatu hasil imaginasi dalam alam kepercayaan animisme. Mereka percaya kepada hantu, jin, setan, dan benda-benda keramat dan sakti. Hantu, jin, dan setan itu menurut anggapan mereka ada yang jahat yang mengganggu kehidupan manusia tetapi ada pula yang baik, membantu manusia waktu berburu, menangkap ikan, dan sebagainya.

Pada waktu panen dan menangkap ikan, pada waktu berburu dan mengumpulkan hasil hutan, ia harus membujuk hantu-hantu yang baik dan menolak hantu-hantu yang jahat (Hooykaas, 1952:20). Demikianlah misalnya pada waktu berburu rusa, diucapkan mantra terlebih dahulu agar mereka dapat menangkap rusa dengan mudahnya dan tidak beroleh bahaya.

Sirih lontar pinang lontar
Terletak di atas penjuru
Hantu buta, jembalang buta
Aku mengangkatkan jembalang rusa
(Hooykaas, 1952:9)

Pada waktu berburu rusa itu tentu mereka akan berhadapan pula dengan binatang buas, penghuni hutan rimba seperti harimau, singa, dan ular. Untuk itu ada pula mantra yang dibacakan untuk memberanikan diri melawan harimau itu. Mereka beranggapan dengan mempergunakan mantra, harimau yang ada di hutan akan lari atau menghindarkan diri sehingga tidak mengganggu orang yang berburu rusa lagi.

Cobalan perhatikan mantra di bawah ini.

Hai, si gempar alam
Gegap gempita
Jarum besi akan rumahku
Jarum tembaga akan rumahku
Ular bisa akan janggutku
Buaya akan tongkat mulutku
Harimau menderam dipengriku
Gajah mendering bunyi suaraku
Suaraku seperti bunyi halilintar
Bibir terkatup, gigi terkunci
Jikalau bergerak bumi dengan langit
Bergeraklah hati engkau
Hendak marah atau hendak membinasakan aku
(Wilkinson, 1907: 42—43)

Di samping untuk berburu, dijumpai pula mantra yang dipergunakan pada waktu menyadap nira yang terdapat dalam pohon nyiur atau enau. Mantra yang dibacakan oleh pawang itu dimaksudkannya supaya pohon nyiur akan mengeluarkan nira yang banyak. Untuk maksud tersebut perlulah terlebih dahulu diucapkan mantra untuk membujuk-bujuk dan memuji-muji pohon nyiur itu dengan kata-kata yang manis dan lagu yang merdu.

Perhatikanlah mantra di bawah ini.

Al-salamu alaikum putri sa-tokong besar
Yang beralun berkilir si mayang
Se gedabah mayang
Putri tujuh dara dang mayang
Mari kecil kemari
Mari senik kemari
Mari burung kemari
Mari halus kemari
Aku memaut lehermu
Aku membawa sedap gading
Aku membasuh mukamu
Sadap membasuh mukamu
Sadap gading merancong kamu
Kaca gading menadahkanmu
Kalam gading menanti di bawahmu
Bertepok berkecar di dalam kolam gading
Kalam bernam’a maharaja bersalin
(Skeat’s Malay Magic, p 612-3)
(Wilkinson, 1907:43)

Di pihak lain, di samping untuk keperluan berburu, menyadap nira dan sebagainya, dipergunakan pula mantra untuk menghindari pengaruh jahat hantu-hantu yang berada di mana-mana. Dalam pandangan orang Melayu, hantu, jin itu ada yang tinggal di hutan, gunung, sungai, di atas pohon yang besar, di dalam gua, dan sebagainya. Untuk menghadapi hantu-hantu itu mereka selalu siap sedia dengan bermacam-macam mantra pula untuk menghindari segala kemungkinan yang akan terjadi apabila hantu-hantu itu hendak mengganggu mereka. Mereka menyerapah dan mengutuk hantu-hantu yang jahat.

Sebagai contoh kita ambil sebuah mantra sebagai berikut:

Assalamu alaikum, anak cucu hantu pemburu
Yang diam di rimba sekampung
Yang duduk di ceruh banir
Yang bersandar di pinang burung
Yang berteduh di bawah tukas
Yang berbulukan daun resam
Yang bertilamkan daun lirik
Yang berbuai di medan jelawai
tali buaya semambu tunggal
kurnia Tengku Sultan Berumbingan
yang diam di Pagarruyung
rumah bertiang terus jelatang
rumah berbendul bayang-bayang
bertaburkan batang purut-purut
yang berbulu roma sungsang
yang menaruh jala lalat
yang bergendang kulit tuma
Janganlah engkau mungkir setia padaku!
Matilah engkau ditimpa daulat empat penjuru alam!
Mati ditimpa malaikat yang empat puluh empat?
Mati ditimpa tiang Ka’bah.
Mati disula Besi Kawi
Mati dipanah Halilintar
Mati disambar kilat senja
Mati ditimpa Qur’an tiga puluh jus
Mati ditimpa Kalimah
(Hooykaas, 1952:19)

Dalam mantra tersebut di atas terasa sekali iramanya kuat dan teratur oleh susunan kalimat yang pendek-pendek, kata permulaan kalimat yang sama, dan banyak pula terdapat aliterasi dan asonansinya.
Permulaannya, baris 2 sampai dengan baris 8, dengan jelas menunjukkan bahwa hantu itu berada di mana-mana, juga dijelaskan rupa hantu yang menakutkan itu misalnya: yang berbulu roma sungsang, yang bergendang kulit tuma, dan sebagainya. Bagian akhir mengancam hantu tersebut apabila berkhianat alau mengganggu manusia. Kata “mati ditimpa” disebut berulang-ulang, dimaksudkan sebagai ancaman yang mengerikan.

Akhirnya kita ambil pula sebuah mantra dalam suatu roman “Doa si Awang Lebeh”, sebagai berikut:

Duduk aku di bawah arasy Allah
Poyangku Muhammad sertaku
Jibrail di kananku
Mikail di kiriku
Sedang Malaikat mengiringkanku
Khalifat Allah
Ya Hanan, Ya Manan
Ya din, Ya Burhan
Yasin ul Qor’an
Tertutup terkunci
Mati sekalian setru lawanku
Memandangku
Terbuka terkembang
Hati sedap mu’min
Memandangku
Berkat aku serta Allah berdiriku
Serta Muhammad bermarah Allah
Maka bermarah aku bermarah Muhammad
Maka aku bermarahlah
Ular tedong akan cawatku
Gajah meta akan kendaraanku
Kilat pantas akan tentangku
Harimau buas akan bayangku
Berkat aku memakai doa si Awang Lebeh
Duduk pun aku lebeh
Berdiri pun aku lebeh
Berjalan pun aku lebeh
berkata-kata pun aku lebeh
Berkat doa si Awang Lebeh
Akulah dilebehkan Allah di dalam dunia
Aku bernama mutia Allah
Aku bernama Geliga Muhammad
Akulah Tuhan segala manusia di dalam dunia
Berkat aku memakai doa si Awang Lebeh
Kabul berkat la ilaha ila’llah
Muhammad rasul Allah
(From a Ms. Charm Book).
(Wilkinson, 1907, 43—44)

Mantra ini dipergunakan oleh pawang yang sudah beragama Islam. Kepercayaan lama kepada benda-benda gaib yang menimbulkan tenaga gaib dan sakti rupanya masih belum bisa dilepaskan sama sekali. Dajam mantra ini disebutnya nama Allah, Nabi Muhammad, Malaikat Jibrail, Mikail, juga disebut Yasin ul-Quran yaitu salah satu surat dalam Al-Quran yang dianggap tinggi kedudukannya daripada surat-surat yang lain. Semuanya itu tidak lain dimaksudkannya untuk menimbulkan tenaga gaib.

Dengan membaca mantra ini terasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain karena kesaktian mantra itu. Ia menyebut dirinya mutia Allah, Geliga Muhammad, Tuhan segala manusia. Semuanya itu berkat doa si Awang Lebeh.

Sudah barang tentu sesudah agama Islam berkembang dengan baik dan telah meresap dalam hati rakyat, mantra tidak dipergunakan lagi, karena dalam kepercayaan agama Islam tidak ada benda-benda gaib dan sakti yang menimbulkan kekuatan yang luar biasa yang harus dimantrai, kecuali kekuatan Allah semata yang menguasai seluruh alam ini. Dengan demikian orang sudah tidak perlu lagi minta pertolongan kepada hantu, jin, setan, gunung yang tinggi, sungai-sungai yang besar, dan sebagainya. Maka berakhir pulalah mantra sebagai salah satu hasil kesusastraan lama.***tdb/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik; Dr. Edwar Djamaris; Balai Pustaka; 1993

• telah dilihat 559 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Mantra dalam Sastra Indonesia Lama

Tulisan Terkait

Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *