» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Sebuah lagi pula Buyung, tentang adab dan tertib yang patut kita pakaikan.

Adapun adab yang pertama, patut kita berkasih-kasihan antara sesama hamba Allah dengan sahabat kenalannya, dengan kaum kerabatnya serta sanak-saudaranya.

Adapun adab yang kedua, hormat kepada ibu dan bapak, serta guru dan raja, baik pun mamak dengan ninik, serta Orang mulia-mulia.

Adapun adab yang ketiga, yang tua wajib dimuliakan, yang muda patut dikasihi, sesama remaja dibasa-basikan. (diperbasakan; dipersilakan/dilayani dengan baik).

Adapun adab yang keempat, adat berkorong dan berkampung, adab berkaum berkerabat, jika sukacita sama-sama ketawa, kalau dukacita sama-sama menangis. Benolong-tolongan pada jalan kebaikan, jangan benolong-tolongan pada jalan maksiat, atau jalan aniaya, jangan memakai khizit dan khianat serta loba dan tamak, tidak usah berdengki-dengkian sesama hamba Allah, pada jalan yang patut-patut; janganlah memandang kepada segala manusia, dengan cara bermasam muka, itulah dia yang bersama adat yang patut, yang kita pakaikan setiap hari.

Adapun tertib kepada raja-raja dan orang-orang besar serta kepada alim-ulama; kepada ibu dan bapak; dan kepada ninik mamak dan orang tua-tua dengan orang mulia-mulia; jikalau menyambut barang sesuatu hendaklah meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.

Sewaktu mengunjukkan barang sesuatu, duduk menghadap dengan cara bersimpuh, jika berjalan mengiring di belakang; jikalau sama-sama minum dan makan, hendaklah kemudian daripadanya, jangan meremas-remas nasi, jangan “menggelatikkan tangan” *); lebihkanlah menekur (kepala; Pent.) daripada menengadah (menghadapkan muka ke atas; Pent.) kepadanya, dan apabila berkata-kata hendaklah dengan suara yang lemah lembut.

*) menggelatikkan tangan (jari tangan); biasanya apabila makan dengan memakai tangan saja maka baik sebelum apa lagi sesudah selesai makan, jari-jari tangan akan dicuci pada sebuah tempat cuci tangan (kobokan) yang sudah tersedia; apabila tidak tersedia serbet untuk pengeringkan tangan tadi maka sertantiasa timbul kecenderungan untuk mengeringkan jari-jari tangan itu dengan cara mengibas-ngibaskan tangan itu ke arah belakang atau samping kanan belakang sehingga besar sekali kemungkinan ada orang lain atau sekurang-kurangnya dinding rumah akan kejipratan air bekas pembasuh tangan yang masih melengket pada jari-jari tangan tersebut (kecuali makan dengan tangan ini maka caranya pun duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar dan sebagainya dan duduk ini biasanya membelakangi dinding ruangan/rumah).

SIFAT PEREMPUAN

Adapun segala wanita itu hendaklah dia berhati sabar; menurut perintah suaminya, serta ibu dan bapaknya; baik pun ninik mamaknya; kalau dia berkata-kata hendaklah merendahkan diri terhadap mereka itu.

Dan wajib baginya untuk mempelajari ilmu dan tertib sopan, serta kelakuan yang baik-baik; menghindarkan segala macam perangai yang akan menjadi cela kepadanya, atau kepada suaminya, atau kepada kaum kerabatnya, yang timbul oleh karena tingkah laku dan perangainya yang kurang “mardesa” (tertib, hemat cermat; Pent.); Kalau dia sudah bersuami, hendaklah dia berhati mukmin terhadap suaminya itu.

 

PERANGAI

Adapun perangai yang wajib, berlaku atas segala makhluk, baik laki-laki maupun perempuan; ialah menuntut ilmu, dan mempelajari adat dan hormat, dan merendahkan dirinya pada tempatnya juga, dan wajib dia berguru, sifat berkata-kata yang “mardesa” (tertib sopan; hemat cermat; Pent.) bagaimana bunyi yang akan baik, didengar oleh telinga si Pendengar, serta dengan perangai yang lemah-lembut juga dilakukan, dengan halus budi bahasanya, karena kita berlaku hormat kepada orang-orang besar dan orang-orang mulia dan orang-orang tua, supaya terpelihara daripada umpat dan caci; itulah kesempumaan perbasaan bagi orang baik-baik, yang terpakai dalam nagari, atau dalam alam ini.

HUTANG BAGI ORANG TUA-TUA

Adapun yang menjadi hutang bagi orang tua-tua dan cerdik pandai serta orang mulia-mulia dan segala arif bijaksana; yaitu harus baginya mengingatkan kepada segala ahlinya, dan kepada segala orang nan percaya kepadanya, dan segala kaumnya, yang tidak ikut melakukan perangai dan tertib (sopan; Pent.) yang baik-baik.

Maka hendaklah dibantahinya; segala kelakuan mereka itu, yang bersalahan dengan kata kebenaran juga, memberi petunjuk ia akan segala kaumnya itu, supaya dia melakukan segala perangai yang baik-baik dan membuangkan segala perangai yang kurang baik itu, supaya mudah sekalian mereka itu mengetahui akan “ke-endahannya” (keindahan; Pent.) dan kemuliaan yang terpakai oleh orang besar-besar yang membawa kepada jalan kebajikan, dan kesempumaan hidupnya, supaya ingat segala anak kemenakannya itu kepada yang baik, dan lembut hatinya yang keras itu, karena hati lebih keras dari batu dan besi. Apabila sudah berkata-kata dengan orang tua-tua dan orang cerdik pandai itu; dengan ilmunya dan pengetahuannya yang sempuma, tidak boleh tidak akan lembutlah orang yang keras-keras itu oleh muslihatnya, dan kendorlah yang tegang itu, sebab kepandaiannya berkata-kata, melakukan nasihat nan baik-baik itu. Karena itu wajiblah bagi orang yang tua-tua dan cerdik pandai itu akan mengajak segala kaum keluarganya, dan orang yang percaya kepadanya, dengan perkataan yang lemah-lembut juga, serta tutur kata yang baik-baik, akan menarik hati sekalian mereka itu, kepada sekalian jalan kebajikan, memberi suka hatinya mendengarkan; serta wajib juga kepada orang tua-tua dan cerdik pandai itu, akan bercerita dan memberi ingat kepada segala kaum kerabatnya, apapun cerita dan kabar; baik buruk maupun baik; menceritakan kabar-kabar yang dahulukala, yang dilihat dan didengamya, dengan menyatakan kesankesannya yang baik ataupun yang jelek. Supaya menjadi pengajaran dan peringatan juga untuk semua ahli baitnya itu; yakni kabar-kabar yang kira-kira cocok dengan pendapat dan pikiran si Pendengar. Demikianlah yang wajib dipakaikan oleh orang tua-tua dan cerdik pandai serta arif bijaksana; “menyigai-nyigaikan” (sigai = diusut, diselidiki sebaik-baiknya; di dalam ini berani mende-katkan/menghampirkan dirinya; Pent.) aninya, janganlah dia mengatakan jauhnya dengan mereka itu, melainkan wajib dia menyatakan hampimya juga, supaya tenambah-tambah kasih sayangnya, kaum kerabatnya itu dan murah baginya melakukan segala nasihat dan petunjuk yang dilakukannya kepada sekalian orang.***tdb/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Mustika Adat Alam Minangkabau; Datuak Sangguno Dirajo; Balai Pustaka

• telah dilihat 141 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Sebagian Adab dan Tertib Minangkabau

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *