Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Hikayat Seribu Masalah ialah suatu cerita yang banyak berisi ajaran agama secara umum. Dalam cerita ini dijelaskan bermacam-macam masalah agama, khususnya yang menyangkut masalah kepercayaan. Jenis sastra seperti ini termasuk jenis sastra kitab. Dalam golongan ini termasuk “Hikayat Lukmanul Hakim”, “Hikayat Fartana Islam”, “Siratal Mustaqim”, dan lain-lain.

Naskah “Hikayat Seribu Masalah” ini cukup banyak, isi ceritanya menarik dan populer. Isi ceritanya amat luas, mencakup bermacam-macam masalah, sesuai dengan judulnya “Seribu Masalah”. Di Museum Nasional, Jakarta terdapat sebanyak delapan naskah “Hikayat Seribu Masalah” ini, terdaftar dalam katalogus van Ronkel (1909: 240—243).

Naskah tersebut diberi nomor sebagai berikut.

  1. Hal. Gen. 19  |  27 X 21 cm, 34 hlm., 17 baris, kolofon: 31 Juli 1866
  2. Bat. Gen. 200  |  20 X 15 cm, 68 hlm., 16 baris, kolofon: tidak ada
  3. Bat. Gen. 200  |  20 X 15 cm, 205 hlm., 11 baris, kolofon: 23 Muharram 1171
  4. v.d.W. 82  |  33 X 21 cm, 105 hlm., 19 baris, kolofon: lidak ada
  5. v.d.W. 83  |  33 X 21 cm, 96 hlm., 18 baris, kolofon: lidak ada
  6. v.d.W. 84  |  38 X 21 cm, 160 hlm., 16 baris, kolofon: tidak ada
  7. v.d.W. 85  |  20,5 X 16 cm, 129 hlm., 14 baris, kolofon: Penulisnya Ki-Agus Muhammad Mizan anak Haji Khatib Taha di Palembang
  8. v.d.W. 86  |  20,5 X 16 cm, 37 hlm., 13 baris, kolofon: tidak ada

Di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat empat naskah, tiga di antaranya didaftar oleh van Ronkel (1921: 33—34), sedang sebuah naskah lagi terdaftar dalam katalogus yang disusun oleh Juynboll (1899: 264—265).

Naskah ini tercatat dengan nomor sebagai berikut.

  1. Kl. 26  |  20 X 16 cm, 109 hlm., 15 baris
  2. 6064 D. 8°, 14 hlm.
  3. OPH. 72: 8°: 24 hlm., 15 baris
  4. Cod. 1960 (I)

Cerita ini dimulai dari peristiwa kedatangan Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah. Seorang pendeta Yahudi bernama Abdullah ibn Salam (dalam naskah kadang-kadang disebut Abdullah Samud ibn Salam) datang ke Madinah setelah ia menerima surat dari Nabi Muhammad saw. Abdullah ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nabi untuk meyakinkan dirinya dan kaumnya memeluk agama Islam. Karena pertanyaan itu banyak jumlahnya, disebut “seribu” masalah, yang sebetulnya tidak sampai seribu jumlah masalahnya.

Nabi Muhammad saw. dapat menjawab semua pertanyaan Abdullah itu dengan pertolongan para malaikat, khususnya Malaikat Jibrail. Setelah mendengar jawaban dan penjelasan dari Nabi, yakinlah ia beserta 700 orang pendeta Yahudi itu bahwa Nabi Muhammad saw. benar-benar nabi akhir zaman. Oleh karena itu, mereka tidak ragu-ragu lagi mengucapkan syahadat dan menyebarkan agama Islam kepada kaumnya.

Dalam naskah yang hendak disajikan singkatan isinya ini yaitu naskah yang bernomor v.d.W. 84, terdapat kira-kira 200 pertanyaan. Jumlah pertanyaan itu agak sukar menghitungnya karena ada suatu pertanyaan yang terdiri atas beberapa pertanyaan. Misalnya, pertanyaan, “Adapun langit yang pertama itu daripada apa, langit yang kedua daripada apa, langit yang ketiga daripada apa” dan seterusnya sampai pada langit yang ketujuh.

Dalam hal ini, pertanyaan itu dapat dihitung satu pertanyaan tetapi dapat pula dihitung tujuh pertanyaan.

Cerita ini cukup populer karena tidak saja terdapat dalam bahasa Arab dan Parsi tetapi juga karena telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Sebagaimana dijelaskan dalam permulaannya, hikayat ini diterjemahkan dari bahasa Parsi ke bahasa Jawi (Melayu). Dalam bahasa Parsi hikayat ini berjudul “”Kitab Hazar Masail” (Kitab Seribu Masalah). Selain itu, hikayat ini antara lain juga terdapat dalam bahasa Hindustan dan Turki (Pijper, 1924: 55—71).

Perkembangan cerita ini sebagai berikut. Cerita ini ditulis dalam bahasa Arab sebelum tahun 963 Masehi, seperti yang dikemukakan oleh ahli sejarah Abu Ali bin Muhammad al Bel’ami. Pada tahun 1143 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Hernjan Delmatia di Toledo dengan judul “Book of Eight and Twenty Questions”. Di samping itu, dari bahasa Parsi diterjemahkan ke dalam bahasa Turki pada abad ke-16 dan ke bahasa Melayu pada abad ke-17. Cerita ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, Belanda, dan Jawa abad ke-18 (Winstedt, 1969: 149—150).

Tokoh cerita dalam hikayat ini ialah Abdullah ibn Salam, seorang tokoh setengah historis setengah legendaris dari suku Samud di daerah Khaibar dekat Medinah. Cerita ini isinya memuat ajaran agama Islam dalam arti yang luas. Banyak kita jumpai ayat Al-Quran di dalam cerita ini untuk menguatkan keterangan Nabi.

Menurut Winstedt (1969: 150—151) riwayat Abdullah ibn Salam masuk Islam ini sama dengan riwayat seorang pendeta Yahudi yang bernama Nicodemus yang masuk agama Nasrani.’ Persamaannya sampai kepada hal-hal yang kecil-kecil.

Pertanyaan-pertanyaan dalam cerita ini dapat kita bagi dalam beberapa jenis.

  1. Pertanyaan kosmogonis yaitu mengenai kejadian bumi, langit, bulan, matahari, dan bintang.
  2. Pertanyaan eskatologis yaitu mengenai hal-hal yang gaib misalnya surga, neraka, hari kiarriat, malaikat, dan iblis
  3. Pertanyaan yang berupa teka-teki, misalnya, Apa yang keras dari bapaknya, apa yang panas daripada api”, dan apa yang mulia tiada berguna.”
  4. Pertanyaan mengenai arti bilangan, misalnya, “Apa yang esa tiada jadi dua, yang dua tiada jadi tiga” dan seterusnya sampai bilangan seratus.

Cerita ini banyak menambah pengetahuan kita karena begitu luasnya masalah yang dikemukakan, khususnya mengenai hal-hal yang gaib sehingga mempertebal kepercayaan dan keyakinan kita terhadap agama Islam. Cerita mengenai siksa neraka, umpamanya, dapat mempengaruhi orang untuk tidak berbuat dosa, sedang cerita mengenai nikmat surga akan mendorong orang berbuat baik dan beramal saleh. Inilah agaknya fungsi cerita ini.

Untuk lebih jelasnya, baiklah kita sajikan singkatan isi cerita “Hikayat Seribu Masalah” berdasarkan naskah Museum Nasional yang bernomor v.d.W. 84 itu.

Singkatan Naskah

Dimulai dengan bismillah dan kepada Allah minta petunjuk. Cerita ini berasal dari Abbas yaitu cerita mengenai Rasulullah ditanyai oleh pendeta Yahudi Abdullah ibn Salam dari negeri Khaibar. Abdullah membawa 700 orang pendeta Yahudi menanyakan seribu masalah kepada Rasulullah yang dimuliakan Allah dengan ilmu pengetahuan.

Ceritanya berasal dari bahasa Quraisy (dalam naskah lain disebut dari bahasa Parsi) dipindahkan ke bahasa Jawi (Melayu).

Ceritanya dimulai ketika Nabi Muhammad datang ke Medinah dari Mekah. Sesampainya di Medinah, Jibrail datang membawa firman Allah menyuruh Nabi membuat surat kepada seorang pendeta Yahudi yang bernama Abdullah ibn Salam di negeri Khaibar. Atas petunjuk Jibrail Nabi menyuruh Qadi Said membuat surat itu. Setelah Abdullah menerima surat itu, tahulah ia bahwa nabi akhir zaman telah iahir karena telah diketahuinya tanda-tanda kenabiannya sebelumnya dalam Taurat, Zabur dan Injil.

Abdullah menghimpunkan kaum Yahudi, kemudian menjelaskan isi surat Nabi Muhammad. Isi surat Nabi itu sama dengan pesan Nabi Musa yaitu apabila sudah datang agama yang dibawa Nabi Muhammad supaya mengikuti agama itu dan meninggalkan agama selain agama yang dibawa Nabi itu. Kaum Yahudi tiada mau mengikutinya karena belum yakin. Mereka menjadi sedih mendengar ajakan pendetanya Abdullah ibn Salam itu. Untuk meyakinkan kaumnya itu Abdullah akan menemui Nabi dan akan menanyakan seribu masalah yang terdapat dalam Taurat, Zabur, Injil, dan Furqan. Apabila Nabi dapat menjawab seribu masalah itu betullah ia nabi akhir zaman. Mendengar keterangan itu kaum Yahudi menyetujuinya. Pada waktu itu Nabi baru berumur 6 tahun.

Maka datanglah Abdullah dengan 700 orang pendeta Yahudi yang pilihan ke Medinah menyampaikan maksudnya hendak menanyakan seribu masalah itu. Nabi menyetujuinya dan bersedia menjawab semua pertanyaan itu. Jibrail sudah duduk di kanan Nabi dan Mikail di kiri Nabi yang akan menyampaikan jawabannya kepada Nabi (hlm. 1—9).

Mulai tanya-jawab antara Abdullah dengan Nabi Muhammad. Mula-mula ditanyakannya kedudukan Nabi, apakah ia nabi atau rasul, bagaimana caranya Nabi menerima firman Tuhan, apakah Nabi berkata langsung dengan Tuhan, apakah agama Islam itu agama Allah atau agama Nabi, berapa banyak agama itu, apakah orang masuk surga itu karena kebajikannya, apakah orang kafir yang berbuat kebajikan diterima pahalanya, apakah kitab yang dianugerahkan Allah kepada Nabi, di mana Nabi dapat cerita-cerita yang ajaib itu, Jibrail itu laki-laki atau perempuan, bagaimana rupanya dan berapa tingginya.

Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh Nabi satu per satu. Nabi menjawab bahwa beliau adalah nabi juga rasul, Nabi tidak berkata secara langsung dengan Tuhan, firman diterima oleh Nabi melalui Jibrail berupa wahyu dan ilham, agama Islam itu agama Allah, agama itu banyak, tiap Nabi berlainan agamanya, tetapi semuanya itu berhimpun pada syarak karena Esa zat-Nya Allah, orang yang masuk surga itu bukan hanya karena kebajikannya tetapi karena menyebut kalimah syahadat, orang kafir yang berbuat kebajikan tidak diterima pahalanya, kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi yaitu Furqan, cerita-cerita ajaib itu diterima Nabi dari Jibrail, kemudian berturut-turut dari Mikail, Israfil, Luh Mahfuz, Qalam yang berasal dari sabda Tuhan. Jibrail itu malaikat yang paling dekat dengan Tuhan, bukan laki-laki atau perempuan, tiada tinggi tiada rendah, mukanya bercahaya seperti bulan purnama, sayapnya sangat besar. Ditambahkan pula tatkala Baginda Ali memotong sayap Jibrail waktu berperang dengan raja Khaibar (10—16).

Selanjutnya ditanyakan pula mengenai arti bilangan: apa yang esa tiada jadi dua, dua tiada jadi tiga, tiga tiada jadi empat dan seterusnya sampai tiga puluh. Selanjutnya apa yang tiga puluh tiada jadi empat puluh, empat puluh tiada jadi lima puluh dan seterusnya sampai bilangan seratus.

Nabi menjawab, yang esa tiada jadi dua ialah zat Allah SWT, yang dua tiada jadi tiga yaitu Adam dan Hawa, yang tiga tiada jadi empat yaitu tiang Ka’batullah, yang empat tiada jadi lima yaitu kitab suci Taurat, Zabur, Injil dan Quran, lima tiada jadi enam yaitu sembahyang lima kali sehari semalam, enam yaitu lamanya Allah menciptakan dunia, tujuh bilangan hari, delapan yaitu jumlah malaikat menanggung Arasy, demikian seterusnya sampai tiga puluh. Tiga puluh yaitu hari bulan Ramadan, empat puluh yaitu kiamat empat puluh hari dan seterusnya sampai seratus yaitu barangsiapa berbuat zina dihukum dera seratus kali (17—25).

Selanjutnya berdasarkan pertanyaan Abdullah, dijelaskan oleh Nabi tentang kejadian Nabi Adam. Adam diciptakan daripada bumi, bumi dari buah, buah dari air; dan seterusnya berturut-turut dari Nur, mutiara, mutiara dari alamat, alamat dari surat, surat dari Yakub, Yakub dari kun fayakun, kun fayakun adalah kodrat Allah.

Tiap manusia diawasi oleh dua malaikat yaitu Malaikat Kiraman di sebelah kiri dan Malaikat Katiban di sebelah kanan. Kedua malaikat ini mencatat semua pekerjaan manusia. Perihal langit diterangkan oleh Nabi bahwa langit itu berada di bawah Luh Mahfuz, terdiri atas 7 lapis. Langit itu berasal dari Bukit Kaf dari suatu permata zamrut yang hijau. Langit itu diciptakan dari asap. Asap dari mutiara, mutiara dari cahaya. Mutiara itu dengan kodrat Allah hancur jadi air, air mendidih jadi asap, asap itu jadi langit 7 lapis. Pintu langit itu dari emas, kuncinya dari yakub. Langit I dari perak, langit II dari emas yang merah, langit III dari mutiara yang putih, langit IV dari tembaga dan suasa, langit V dari manikam, langit VI dari yakub, dan langit VII dari jamrut yang hijau. Jarak antara langit itu 500 tahun perjalanan.

Di dalam langit itu tinggal malaikat. Di atas 7 lapis itu Laut Hayawanan, Laut Qamqam, Laut Haibat, Laut Rida, Bahril Mahsur Nurus Syuhur, Sijratul Muntaha, hijab, Arasy, hijab dari Nur. Matahari terletak pada langit yang keempat, dan bulan pada langit pertama, keduanya mengaku beragama Islam dan senantiasa berbuat ibadah pada Allah. Cahayanya tidak bersamaan, gunanya untuk membedakan siang dan malam. Matahari dan bulan itu ditarik oleh malaikat. Bintang itu bergantung sendirinya, gunanya sebagai tanda segala makhluk berlayar.

Angin yang besar itu dua perkara, pertama angin yang membinasakan kaum Hud dan Samud, kedua angin yang bertiup pada hari kiamat (25—38).

Sifat-sifat neraka itu diceritakan oleh Nabi tujuh puluh ribu kakinya, setiap kaki tujuh puluh ribu khaliqah, tiap khaliqah tujuh puluh ribu malaikat. Makhluk yang durhaka bertangis-tangisan di dalamnya menanggung azab dan menyesali nasibnya. Jika manusia melihat siksa neraka itu niscaya hancurlah hatinya dan berjanji berbuat bakti pada Allah. Angin yang ketiga ialah angin yang ada di dunia. Selanjutnya diceritakan, jikalau api neraka itu diletakkan di atas bukit niscaya hancurlah bukit itu sampai pada lapis bumi yang ketujuh. Api neraka itu tujuh puluh kali disiram oleh malaikat sebelum didatangkan ke dunia.

Matahari itu masuk pada Bukit Kaf, bukit itu di tangan Malaikat Hafiz. Langit dan bumi dijadikan Allah SWT dari permata zamrut yang hijau.

Tatkala ditilik oleh Allah permata itu hancur, asapnya naik ke udara menjadi langit tujuh lapis, yang tinggal jadi bumi.

Di bawah Malaikat Hafiz 18.000 alam, tempat malaikat berdiri ada sebuah permata, besarnya hanya Allah yang tahu. Di bawah permata itu seekor lembu seribu kakinya, seribu ekornya, dan seribu tanduknya. Di bawah lembu itu seekor ikan melingkar sehingga ekornya bertemu dengan kepalanya. Malaikat Hafiz itu 70.000 sayapnya yang besar, mukanya seperti matahari. Besarnya malaikat itu sejauh burung terbang setahun. Arasy diangkat oleh malaikat setelah 5000 tahun tasbih pada Allah. Dunia ini sama dengan neraka Hawiyah, sehingga orang mukmin benci pada dunia itu.

Pada hari kiamat Israfil diperintahkan oleh Allah meniup sangkakala sehingga makhluk mati semuanya, kemudian disuruh meniup sekali lagi maka hiduplah segala makhluk itu. Sangkakala itu panjangnya 700 tahun perjalanan. Ada tujuh tempat nyawa itu: pertama, tempat nyawa malaikat, kedua, tempat nyawa manusia, ketiga, tempat nyawa jin, keempat, ikan, kelima, binatang, keenam, margasatwa di tanah, dan ketujuh, segala ikan. Untuk ketiga kalinya Israfil diperintahkan meniup sangkakala, maka masuklah nyawa kepada tubuhnya masing-masing seperti semula, sehelai rambut pun tiada hilang, keluar dari kubur dan berkumpul di Padang Mahsyar. Bulan dan matahari terbit seperti biasa, hanya lamanya satu hari di Padang Mahsyar itu 50.000 tahun di dunia ini (38—47).

Bermacam-macam siksa hari kiamat: ke luar otak melalui hidung, badannya hancur, tubuh penuh darah dan nanah, berbaju besi dari api, matahari di atas kepala dan sebagainya. Anak tiada kenal pada ibu bapaknya. Sehari di Padang Mahsyar itu 5000 tahun di dunia, tetapi bagi yang beramal banyak terasa hanya sekejap mata saja.

Dunia ini dijadikan Allah dari hari Ahad sampai hari Jumat, langit dan bumi lengkap dengan isinya dalam tujuh hari. Pada hari Ahad dijadikan Allah langit, bumi, bulan, matahari, bintang; pada hari Senin bintang dan laut, serta dengan isinya, pada hari Selasa sekalian hutan dan bukit dengan isinya, dan pada hari Arbaa dan Kamis lengkap semua isi dunia dan langit.

Ada pula pertanyaan Abdullah berupa teka-teki yaitu apa yang lebih keras dari bapaknya. Jawabnya besi, karena asalnya dari batu; yang lebih keras dari batu yaitu angin; burung yang senantiasa terbang ke udara bernama Batara, rupanya putih, ada yang mengatakan seperti kuda, bulunya seperti rambut manusia. Apabila burung itu hendak bertelur, ia terbang ke udara ke luar telurnya dan segera menjadi anak. Anaknya itu dibunuhnya dan ia kembali terbang ke udara serta mengucapkan tasbih.

Kejadian Adam itu diceritakan oleh Nabi dari tanah segenggam yang diambil oleh malaikat dari hati bumi. Mula-mula disuruh oleh Allah Malaikat Jibrail mengambil hati bumi itu, tetapi bumi tiada mau memberikannya.

Kemudian berturut-turut Malaikat Israfil, Mikail disuruh mengambil, bumi tetap menolaknya. Akhirnya Allah memerintahkan Malaikat Izrail mengambil. Ia berhasil mendapat hati bumi itu. Tanah itu direndam selama 40 tahun lamanya, kemudian tanah itu tawaf ke hadirat Allah dan masuklah nyawa ke dalamnya melalui mulutnya. Nyawa itu juga ke luar nanti melalui mulut, bukan main sakitnya ke luar nyawa itu.

Dijelaskan pula sebab-sebab Adam keluar dari surga. Ia memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah memakannya. Buah khuldi itu sebesar telur burung, panjangnya tiga jengkal. Buah khuldi itu tinggal 2 buah lagi, sebuah dibawa oleh Nabi Adam ke dunia. Bijinya ada 6 buah, ditanamkan oleh Nabi Adam di dunia. Biji itu tumbuh menjadi padi, jagung, kacang dan sebagainya. Nabi Adam diturunkan di dunia di negeri Hindi hampir negeri Keling dekat Bukit Sailan. Hawa diturunkan di tanah Isfahan, ular di Benua Isfahan. Nabi Adam bertelanjang di dunia dan sebagai penutup auratnya diambilnya tiga helai daun kayu. Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri Nabi Adam, “rambufnya terurai sampai tumitnya. Sebelum Adam, jin tinggal di dunia. Ia durhaka kepada Tuhan sehingga Tuhan menyuruh Izrail mencabut nyawa semua jin itu (47—61).

Malaikat Izrail tinggal pada langit yang keempat. Malaikat Jibrail mencukur dan menyunat Nabi Adam dengan sayapnya. Nabi Adam juga pergi naik haji ke Mekah. Anak Nabi Adam, Habil membunuh saudaranya Kabil, kemudian menguburkannya sendiri setelah melihat burung gagak menguburkan saudaranya yang dibunuhnya. Hawa itu beranak kembar, tiap anaknya kawin dengan saudaranya.

Selanjutnya dijelaskannya pula tentang Nabi Musa. Nabi Musa berperang dengan Firaun. Musa dikejar Firaun tetapi dapat menyelamatkan diri dengan membelah laut dengan tongkatnya. Tongkat ajaib itu dipalukannya pada batu, maka keluarlah 12 mata air untuk minuman kaumnya. Tongkat Nabi Musa itu juga dapat menjadi ular (61—69).

Pertanyaan berupa teka-teki: orang tiada berbapak yaitu Isa; perempuan yang beranak tiada dengan laki-laki yaitu Maryam beranak Nabi Isa; perempuan yang keluar dari laki-laki yaitu Hawa; orang yang hidup dalam kuburnya yaitu Nabi Yunus, pusat dunia ialah Baitul Muqaddis, di sana manusia berkumpul pada hari kiamat.

Anak serupa dengan bapaknya apabila lebih berahi bapaknya dari ibunya, demikian pula sebaliknya (70—74).

Diceritakan, kapal Nabi Nuh itu panjangnya 180 depa, Iebarnya 60 depa, pangkatnya dua belas laksa empat ribu. Tatkala zaman Nabi Nuh itu terjadi topan selama 6 bulan, kapal Nabi Nuh itu pecah tiga: satu ke Masyrik, satu ke Bukit Ruslan, dan yang satu lagi ke Bukit Kufah. Kapal itu juga tawaf di Mekah.

Bumi dijadikan Allah dari mutiara, mutiara hancur menjadi air, angin meniup air sehingga berasap dan menjadi buih, buih itu menjadi gersik, gersik menjadi bumi tujuh lapis, jaraknya 500 perjalanan. Bukit di dunia asalnya dari Bukit Kaf. Bukit Kaf merupakan paku bumi. Bumi terletak di atas tanduk lembu. Tanduk lembu itu 4 buah, bumi di atas satu tanduknya, tiap tanduk itu 70.000 cabangnya dan panjangnya 5.000 tahun perjalanan, jarak antara tanduk itu 500 tahun perjalanan. Di atas lembu itu batu, di atas batu itu ada sebuah Bukit Suud, jalan orang durhaka masuk neraka. Tinggi bukit itu 1.000 tahun perjalanan dan di bawahnya api neraka.

Di hadapan lembu itu ada seekor nyamuk menunggu lembu itu. Sekali peristiwa, lembu itu digoda oleh iblis supaya menjatuhkan bumi, lalu dijatuhkannya; seketika itu juga masuk nyamuk ke dalam lobang hidung lembu itu. Lembu itu merasa sakit sekali dan bertobat atas kesalahannya.

Bumi diangkatnya kembali dengan tanduknya. Sebuah bukit bernama Gadaban tempat orang durhaka yang menyembah berhala dan api, terdiri atas 70.000 padang dari api, satu padang 70.000 negeri, satu negeri 70.000 mahligai, satu mahligai 70.000 tabir, satu tabir 70.000 rumah dari api; satu rumah 70.000 gudang, satu gudang 70.000 peti, satu peti 70.000 ular dan kala di dalamnya. Panjang ular itu 500 tahun perjalanan, satu ular 1.000 kepalanya, satu kepala 70.000 sayap. Apabila digigitnya bukit di dunia ini, niscaya hancur menjadi abu. Di bawah Bukit Gadaban itu ada bumi Ajiblah putih seperti perak, harum baunya, cahayanya seperti bulan purnama sebagai tempat orang yang saleh. Di bawah bumi itu Laut Kamkam, di bawahnya ada Bumi Azrah, di bawahnya laut darah dan nanah untuk minuman orang durhaka.

Apabila diminum orang air laut itu luruh dagingnya, putus perutnya. Di bawah Laut Kamkam itu Neraka Jahim, di bawah Neraka Jahim Nur seperti bulan purnama, di bawah nur itu nur besar seperti matahari, di bawah dinding matahari itu ada bukit, dan di bawah bukit itu, yang paling bawah Tahlas Syara.

Negeri yang masuk surga ialah Mekah, Medinah, Baitul Mukaddas, dan Baitul Haram. Negeri saudara surga yaitu Rum, Mesir, Qadawiyah, dan Asfal (Armih). Negeri yang serupa surga yaitu Bukit Andakini, Bukit Kaf, Bukit Anan, dan Bumi Kabirhurasan. Sungai yang masuk surga, yaitu Furad di Bagdad, Sungai Nil di Mesir, Jihun di Hawariah, Sungai Sikun di Hindi (75—86).

Negeri yang masuk neraka yaitu Qasa, Afsali, Intali, Malain; bumi neraka terletak di dalam negeri Syam, dekat negeri Rum, Roman, Sahwurusi dan Garkan.

Bukit Kaf itu panjangnya 200 tahun perjalanan di laut, darat, dan hutan. Di belakang Bukit Kaf itu 70.000 bumi perak, 70.000 kasturi. Di sana tinggal malaikat, panjang dan lebar bumi itu 70.000 tahun perjalanan, di belakangnya ada ular naga.

Neraka lebih dahulu diciptakan dari surga. Surga itu 8 pintunya, tingginya 1000 tahun perjalanan, luasnya 500 tahun perjalanan. Tiap pintu dijaga oleh malaikat. Luasnya surga itu dari bumi sampai ke langit. Tanah surga itu perak, yakut, jauhar, zamrut dan sebagainya. Besar mahligai di surga itu 70 kali dunia. Surga dijaga oleh Malaikat Ridwan. Empat buah sungai di surga, pasirnya dari emas, batunya perak, yakut, mutiara, zamrut.

Setitik airnya diminum 70 tahun tidak akan hilang rasanya dan tidak haus. Sungai yang paling lebar ialah Sungai Kalkausar. (86—95).

Adapun Borak dijadikan Allah dari Nur, kepalanya dari emas, matanya yakut, gagangnya seperti kuda, sayapnya bercahaya-cahaya. Borak itu kendaraan Nabi Muhammad dan umatnya, diiringkan oleh Jibrail dan Israfil. Setelah melihat nur mereka masuk surga yang ditunggu bidadari.

Pohon kayu surga itu suasa, cabangnya emas, banyak jumlahnya dan harum seperti kasturi. Apabila orang hendak mengambil, dahan kayu itu merunduk, rasanya enak sekali, lebih manis dari madu. Di dalam surga itu tidak tidur, tidak sakit, tiada marah, tiada sembahyang, puasa, duduk saja dalam kesukaan makan minum dengan bidadari.

Orang yang dalam surga itu sebesar Nabi Adam, rupanya seperti Nabi Yusuf, kelakuannya seperti Nabi Muhammad, muda seperti berumur 8 tahun. Orang yang masuk surga bukan karena bangsanya atau rupanya tetapi karena amal baiknya. Tiap orang dilayani oleh 70 bidadari.

Kembali diceritakan mengenai neraka. Neraka itu ada 7 macam yaitu Neraka Jahanam, Laza, Khutamah, Saqar, Sair, Jahim, dan Neraka Hawiyah. Panjang neraka itu 1000 tahun perjalanan, lebarnya 500 tahun perjalanan, pintunya dari besi. Apabila jatuh neraka itu agak sedikit ke dunia niscaya hancur dunia ini menjadi abu. Apabila orang mengetahuinya niscaya orang tidak akan mau berbuat maksiat. Neraka itu tempat orang durhaka, tiada sembahyang, puasa, bayar zakat, dan orang yang suka berbuat zina, minum arak, munafik, zalim, kafir, Nasrani, Yahudi, dan lain-lain (95—105).

Neraka Hawiyah itu di dalamnya ular dan kala. Besar ular itu seperti gajah. Malaikat Zabaniah memasukkan orang durhaka itu ke dalam neraka, ada yang digantung melintang, diikat lehernya dengan rantai, ada yang menangis menyesali nasibnya. Mereka dimarahi Malaikat Zabaniah karena dulu tidak mengikut firman Allah dalam Quran. Setelah badan mereka hancur dihidupkan pula kembali, dituang dengan tembaga hancur pada mulutnya, ada yang diberi minum darah dan nanah, ada yang perutnya seperti bukit berisi ular dan kala. Berlain-lainan dosa yang ditanggung manusia, semuanya menurut kadar dosanya.

Bermacam-macam dosa perempuan: perempuan yang berzina digantung dengan rambutnya, dirantai, dipalu mukanya, perutnya seperti bukit berisi ular dan kala. Perempuan yang melawan kepada suaminya digantung lidahnya; perempuan yang suka bernyanyi dipukul mulutnya dengan api, telinganya dipotong dengan tembaga hancur; perempuan yang tiada memuliakan ibu-bapaknya diiris dagingnya dengan pisau api, dan disuruh makan daging itu; dan bermacam-macam lagi siksa dalam neraka itu (105—117).

Orang yang munafik itu neraka yang ketujuh tempatnya, dimatikan dan dihidupkan seribu kali. Orang munafik itu lahirnya Islam, batinnya kafir, kerjanya berbuat zina, berdusta, makan yang haram, minum arak, bersumpah palsu, dan sebagainya sama dengan perbuatan iblis dan tempatnya pun sama dengan iblis dalam neraka. Penghuni neraka dipertemukan oleh malaikat dengan iblis. Setelah mereka bertemu disesalinya perbuatan iblis yang telah menyesatkannya itu. Iblis menjawab dan menyesali penghuni neraka itu, mengapa dulu mau saja mengikutinya dan tiada mau mengikut ajaran Islam dalam Quran dan hadis dan petunjuk orang alim, syekh dan imam; tiada percaya hari kiamat, siksa neraka, nikmat surga; sudah jelas iblis membawa orang ke jalan yang salah, mengapa mau juga mengikutinya. Pada waktu itu tiada berguna lagi nasihat. Apabila manusia melihat siksa neraka itu niscaya hancurlah hatinya.

Israfil meniup sangkakala sebagai tanda hari kiamat. Tanda hari kiamat dikatakan oleh Rasulullah, yaitu keluarnya Dajal, banyak orang alim tiada berbuat amal, banyak perempuan tiada menaruh malu, banyak orang yang durhaka, suka minum arak dan tuak, banyak anak lebih pandai dari orang tua dan sebagainya. Matahari dan bulan jadi hitam, gelap, bukit bertaburan, langit digulung, bumi dibalik dan neraka pun datang (117—127).

Selanjutnya atas pertanyaan Abdullah diceritakan turunnya Dajal. Dajal itu turun pada negeri Ajam. Ia mengendarai keledai. Jika keledai itu berjalan di tengah laut tiada basah mata kakinya. Segala orang kafir, orang menyembah berhala, Yahudi, Nasrani, dan segala orang durhaka sujud menyembah Dajal itu. Ia berjalan membawa dua buah bukit, sebuah di sebelah kanannya berisi segala macam kenikmatan dan segala macam perhiasan, makanan, minuman, pakaian, bidadari; sebuah lagi di sebelah kirinya berisi segala macam siksa neraka, ular kala dan api yang bernyalanyala.

Siapa yang percaya dan bertuhan kepadanya dimasukkannya ke dalam surganya itu, dan siapa yang tiada mau bertuhan kepadanya dimasukkannya ke dalam nerakanya itu.

Empat negeri tiada mengikut Dajal itu, yaitu Mekah, Medinah, Baitul Mukaddas, dan Bukit Tursina. Kemudian datang Nabi Isa dari langit IV. Dajal itu takut dan lari, tetapi kakinya dapat ditangkap oleh bumi. Dajal itu dipukul oleh Nabi Isa hingga ke luar otaknya. Imam Mahdi ke luar, semua umat mengucap syukur. Ia menjadi raja dan banyak umat masuk Islam kembali (127—133).

Yayuj dan Mujuj ke luar meminum semua air dan memakan semua buah-buahan sampai habis. Semua negeri ditaklukkannya kecuali empat negeri tersebut di atas. Ia memanah ke atas langit, anak panahnya diambil oleh malaikat dan dilumurinya dengan darah. Yajuj dan Majuj senang karena ia mengira anak panahnya telah membunuh makhluk di langit. Berkat doa orang di negeri Mekah, Medinah, Baitul Mukaddas dan Bukit Tursina, turunlah hujan api membinasakan kaum Yujuj dan Majuj itu. Setelah kaum Yujuj dan Majuj habis, datang pula Dabbatul Ard membawa tongkat Nabi Musa dan cincin Nabi Sulaiman, lalu ditaklukkannya pula seluruh negeri kecuali empat negeri itu. Tuhan memerintahkan meniup sangkakala, maka matilah semua makhluk, begitu juga Dabbatul Ard itu. Angin keras pun turun sehingga semua bukit hancur. Malaikat memanjangkan tangannya ke atas sampai pada langit yang ketujuh dan ke bawah sampai pada Tahtas Syara, lapis bumi yang ketujuh.

Israfil meniup sangkakala lagi hingga matilah makhluk yang berada di langit dan di bumi: jin, manusia, malaikat, binatang, dan sebagainya, kecuali empat malaikat yaitu Jibrail, Mikail, Israfil, dan Izrail. Setelah Izrail mengambil nyawa ketiga malaikat itu, akhirnya ia sendiri mengambil nyawanya.

Direbahkannya badannya, diletakkannya tangannya di bawah kepalanya, kemudian dimasukkannya tangannya ke dalam mulut. Berseru-seru ia menahan sakitnya mati. Seandainya ia mengetahui begitu sakitnya mati, niscaya ia tidak berani mengambil nyawa orang. Setelah menderita beberapa lamanya, barulah ia mati. Bumi ini menjadi datar, semua makhluk sudah mati.

Yang pertama kali dihidupkan kembali ialah Malaikat Izrail, kemudian Jibrail, Mikail, dan Israfil. Allah menurunkan hujan Ma’al hayat 40 hari sehingga semua makhluk hidup kembali. Keempat malaikat itu disuruh Allah menjemput Nabi Muhammad. Nabi bangkit dari kuburnya, lalu dibawa oleh malaikat ke Ursatul Kiamah. Israfil meniup sangkakala lagi, Bilal menyeru manusia, hingga keluarlah makhluk dari kuburnya berkumpul bersaf-saf, panjangnya 4000 tahun perjalanan. Umat Islam banyaknya 40 saf. Orang yang beramal saleh masuk surga, segala orang yang kafir dan durhaka masuk neraka. Di Ursatul Kiamah itu tiada berguna anak dan ibu. Semua amal dibalas menurut kadarnya. Rupa maut itu seperti kambing hitam, tempatnya antara surga dan neraka (133—151).

Terhadap anak kafir yang masih kecil, ada yang masuk surga ada yang tidak. Pada suatu kali Allah mencoba imannya. Allah memeiintahkan mereka masuk ke dalam api yang bernyala-nyala, sebagian dari mereka itu mengikuti perintah Allah, sebagian tiada mengikut. Anak yang masuk ke dalam api tadi dimasukkan Allah ke dalam surga karena patuh, dan yang tiada mengikut dimasukkan ke dalam neraka. Segala harta dunia, kemewahan, kemuliaan tiada berguna di akhirat.

Pertanyaan berupa teka-teki: yang bernafas tiada bernyawa yaitu subuh; yang mulia tiada berguna yaitu dunia; yang tiada beribu dan berbapa yaitu Adam, Hawa, Nabi Saleh, kambing yang jadi korban Nabi Ibrahim; yang lebih tiada kurang yaitu surga; ayam jantan berkokok itu artinya menyuruh orang menyebut nama Tuhan.

Dikatakan oleh Nabi bahwa semua pertanyaan itu dapat dijawabnya karena diberitahu oleh Malaikat Jibrail, Malaikat Jibrail menerimanya dari Mikail, Mikail dari Israfil, Israfil dari Izrail, dan Izrail dari Luh Mahfuz. Diceritakan umur para nabi yaitu Nabi Adam 939 tahun, Nabi Nuh 1000 tahun, Nabi Hud 95 tahun, dan seterusnya sampai pada umur Nabi Muhammad yaitu 63 tahun.

Setelah itu, Abdullah ibn Salam beserta 700 orang pendeta Yahudi itu yakinlah akan kenabian Nabi Muhammad dan mengakui Allah esa tiada sekutu bagi-Nya, tiada beranak dan tiada diperanakan dan tiada berupa.

Dijunjungnya telapak kaki Nabi Muhammad dan diciumnya serta ia mengucap syahadat dan mengaku memeluk agama Islam sampai hari kiamat.

Akhirnya Nabi Muhammad menjamu Abdullah dan mengajarkan tauhid beserta 700 orang pendeta Yahudi itu dan sama-sama mengucapkan alhamdulillah. Abdullah beserta pendeta Yahudi lainnya itu kembali ke negeri Khaibar dan menyebarkan agama Islam.

Tamat hikayat pada 15 Jumadil Awal, hari Sabtu, jam 4 petang (151—160).***tdb/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik; Dr. Edwar Djamaris; Balai Pustaka

• telah dilihat 653 kali • total 8 kunjungan untuk hari ini •
Sinopsis Singkat – Hikayat Seribu Masalah

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *