Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa hasil sastra Indonesia lama itu cukup besar jumlahnya. Hal ini dapat dengan mudah kita ketahui dan kita buktikan dari beberapa katalogus naskah yang mendaftarkan dan menguraikan serba ringkas isi naskah itu yang umumnya terdapat di perpustakaan universitas dan bagian naskah di museum di Jakarta, Leiden, London, Munich, Brusel, Kuala Lumpur, dan lain-lain (Lihat Howard, 1966).

Sebagai contoh di Museum Nasional Jakarta saja naskah Melayu itu terdaftar sebanyak 953 naskah (Lihat Sutaarga, 1972), di Leiden lebih banyak lagi, terdaftar dalam dua katalogus, yaitu katalogus Juynboll (1899) dan van Ronkel (1921), dan di London terdaftar dalam katalogus yang disusun oleh Ricklefs (1977). Masa waktunya pun cukup lama yaitu sejak orang Melayu mengenai tulisan, khususnya tulisan Arab, yang biasa disebut tulisan Arab-Melayu, kira-kira abad ke-17, kemudian tulisan Latin sampai dengan masa kita mengenai mesin cetak yang digunakan untuk menerbitkan karya sastra itu, yaitu zaman Balai Pustaka sekitar tahun 20-an. Sastra Indonesia Modern mulai pada zaman Balai Pustaka ini. Sebelum zaman Balai Pustaka itu karya sastra yang ditulis dengan bahasa Melayu itu disebut sastra Melayu klasik atau sastra Indonesia lama.

Hasil sastra Melayu klasik itu ditulis dengan tangan pada kertas, dan diperbanyak dengan menyalin. Tulisan-tulisan pada kertas inilah yang disebut naskah. Dalam bahasa Inggris naskah ini disebut dengan istilah manuscript sedang dalam bahasa Belanda disebut handschrift. Beruntunglah kita, karya sastra Melayu diwariskan oleh nenek moyang kita berupa naskah ini yang sekarang tersimpan di berbagai perpustakaan dan museum sehingga dapat kita baca dan kita teliti.

Sudah umum pula diketahui bahwa sastra Melayu klasik itu tidak bisa digolongkan berdasarkan jangka waktu tertentu (periode) karena hasil sastra Melayu klasik itu tidak mencantumkan waktu penciptaannya dan siapa penciptanya. Karya sastra pada zaman itu dianggap milik bersama. Penggolongan yang biasa dilakukan yaitu berdasarkan bentuk, penggolongan berdasarkan isi cerita, dan penggolongan berdasarkan pengaruh asing.

Baiklah kita coba menjelaskan penggolongan ini secara sepintas.

1.1 Penggolongan Berdasarkan Bentuk

Penggolongan berdasarkan bentuk ini sudah umum sekali dikenal. Dalam penggolongan ini karya sastra Melayu klasik dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu prosa dan puisi, sedang drama tidak kita kenal dalam sastra Melayu klasik.

Yang termasuk puisi lama yaitu mantra, peribahasa, pantun, syair, gurindam, talibun, dan lain-lain, Puisi Melayu klasik ini sudah dibicarakan oleh S. Takdir Alisjahbana dalam bukunya yang berjudul Puisi Lama (1952). Dalam buku ini akan dibicarakan secara agak panjang hanya mengenai mantra dan peribahasa saja.

Yang termasuk prosa lama banyak jumlahnya. Prosa Melayu klasik ini umumnya disebut hikayat karena pada umumnya judul prosa Melayu klasik itu didahului dengan kata hikayat ini. Prosa Melayu klasik ini dapat pula kita golongkan berdasarkan isi ceritanya dan penggolongan berdasarkan pengaruh kebudayaan asing.

1.2 Penggolongan Berdasarkan Isi

Dalam penggolongan berdasarkan isi ini dijumpai hasil sastra berisi sejarah, hasil sastra berisi undang-undang, dan hasil sastra berisi petunjuk bagi raja.

(1) Hasil Sastra Berisi Sejarah

Hasil sastra Melayu klasik yang berisi sejarah ini banyak jumlahnya, di antaranya yaitu Hikayat Aceh, Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, Hikayat Banjar, Tambo Minangkabau, Hikayat Patani, Hikayat Merong Mahawangsa (Sejarah Negeri Kedah), dan Silsilah Kutai.

(2) Hasil Sastra Berisi Undang-undang

Dalam golongan ini akan ditemukan naskah-naskah yang berjudul “Undang-undang Malaka”, “Undang-undangMinangkabau”, “Undang-undang Palembang”, “Undang-undang Jambi”, “Undang-undang Pelayaran”, dan sebagainya. Perlu dicatat di sini sebuah disertasi yang berjudul Undang-undang Malaka disusun oleh Liaw Yock Fang, diterbitkan oleh Martinus Nijhoff, The Hague, 1976. Di samping itu sebuah buku suntingan naskah berjudul Naskah Undang-undang dalam Sastra Indonesia Lama disusun oleh Edwar Djamaris, dkk. (1981). Dalam buku ini disajikan tujuh suntingan naskah undang-undang yang berjudul “Undang-undang Minangkabau”. “Undang-undang Perbuatan Datuk Besar Dahulu”, “Undang-undang Jambi”, “Peraturan Bambang dalam Negeri Bangkahulu”, “Undang-undang Pelayaran”, “Undang-undang Palembang”, dan “Undang-undang Pasumah”.

Di samping itu, penelitian mengenai sastra undang-undang ini dapat kita temukan dalam buku A History of Classical Malay Literature (Winstedt, 1969: 167—172). Winstedt yang menyebut sastra undang-undang ini Digest of Law telah membicarakan secara singkat beberapa hasil sastra berisi undang-undang ini yaitu “Undang-undang Malaka”, “Undang-undang Pahang”, “Undang-undang Kedah”, “Undang-undang Perak”, dan “Undang-undang Johor”. Demikian pula Liaw Yock Fang dalam bukunya berjudul Sejarah Sastra Melayu Klasik itu membicarakan tujuh buah hasil sastra Melayu yang berisi undang-undang ini yaitu “Undang-undang Malaka”, “Undang-undang Laut”, “Undang-undang Minangkabau”, “Undang-undang Pahang”, “Undang-undang Perak”, “Undang-undang Minangkabau Sungai Ujung (Negeri Sembilan)”, dan “Undang-undang 99”.

Yang dimaksud dengan undang-undang di sini bukanlah undang-undang seperti kata yang dalam bahasa Inggris disebut law, melainkan adat kebiasaan atau adat istiadat yang dipakai sejak dahulu secara turun-temurun yang disebut customary law. Adat istiadat itu disajikan dalam bentuk cerita serta diselingi dengan pantun, petatah-petitih, peribahasa dan sebagainya. Dengan membaca hasil sastra yang berisi undang-undang ini kita akan mengetahui latar belakang cara berpikir dan falsafah hidup masyarakat zaman dahulu serta adat istiadatnya, adat raja-raja, adat yang dilakukan dalam upacara tertentu.

(3) Hasil Sastra Berisi Petunjuk bagi Raja

Hasil sastra yang berisi petunjuk bagi raja atau pengusaha dalam menjalankan pemerintahan, yaitu Tajussalatin dan Bustanussalatin. Kedua hasil sastra ini sudah banyak dibicarakan oleh para ahli dan beberapa kali diterjemahkan di dalam dan di luar negeri.

Tajussalatin yang berarti mahkota segala raja-raja ditulis oleh Bukhari al-Johari di Aceh pada tahun 1603. Naskah ini pernah diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 1966 berupa suntingan naskah, yang bernomor Cod. or. 3053, yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden (lihat Khalid Husein, 1966). Baru-baru ini karya sastra ini diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, berdasarkan naskah Museum Nasional. Suntingan naskah ini dikerjakan oleh Jumsari Jusuf. Di Yogyakarta juga pernah diterbitkan 3 fasal dari 24 fasal isi Tajussalatin ini oleh Asdi S. Dipodjojo, penerbit Lukman, 1981. P.P. Roorda van Eysinga pernah menerbitkan dan menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Belanda, sedang M.A. Marre menerjemahkannya ke dalam bahasa Perancis.

Liaw Yock Fang menjelaskan bahwa buku sejenis ini di Eropa berjudul It Principe karya Machiavelli; dan Kautilia Artha Sastra karya Kautilia di India. Syed Nasir bin Ismail dalam kata pengantar Tajussalatin yang diterbitkan di Kuala Lumpur itu menjelaskan bahwa Tajussalatin ini banyak persamaannya dengan buku bahasa Arab berjudul Al-Taj al-Akhlak al-Muluk yang ditulis pada zaman pemerintahan Harun Al-Rasyid.

Tajussalatin merupakan hasil karya sastra lama yang memberi pelajaran tentang kewajiban-kewajiban moral yang harus dilakukan oleh raja-raja, menteri, hulubalang, bendahara, penulis, pembawa berita, para duta, dan pejabat kerajaan lainnya terhadap rakyat dan kepada Allah; demikian juga sebaliknya, bagaimana kewajiban yang harus dilaksanakan oleh rakyat terhadap negara dan Allah. Pedoman itu diuraikan berdasarkan ajaran Islam dengan uraian yang dilengkapi contoh-contoh dalam bentuk hikayat, yang di sana-sini disertai dalil-dalil dari kitab suci Al-Quran dan hadis (Dipodjojo, 1981:3).

Sebagai contoh diceritakan dalam buku ini, syarat utama dari seorang raja itu ialah berbuat adil dan mengutamakan kepentingan orang yang melarat, miskin, dan teraniaya. Pahala bagi raja adil itu lebih besar daripada pahala orang naik haji 60 kali atau pahala orang yang sembahyang sunat selama 60 tahun. Demikian besar pahalanya raja yang adil itu. Diceritakan, Nabi Yusuf kurus badannya dan pucat mukanya karena kurang makan walaupun di istananya banyak makanan. Hal ini disebabkan tiada nafsu makannya karena ia selalu memikirkan dan menyertai rakyatnya yang melarat, miskin, dan lapar.

Demikian pula halnya Bustanussalatin yang berarti taman segala raja-raja ditulis oleh Nuruddin Ar-Raniri, pengarang terkemuka di Aceh.

T. Iskandar (1966) pernah menerbitkan Bab II fasal 13 buku yang terdiri atas tujuh bab ini berdasarkan naskah Cod. or. 5443, yang tersinipan di perpustakaan Universitas Leiden. Dua naskah lagi dapat kita temui di perpustakaan Royal Asiatic Society, London.

1.3 Penggolongan Berdasarkan Pengaruh Asing

Dalam penggolongan berdasarkan pengaruh kebudayaan asing kita akan membedakan atau menggolongkan hasil sastra Melayu itu dalam beberapa golongan pula. Pertama, hasil sastra Melayu asli yaitu hasil sastra yang belum atau sedikit sekali mendapat pengaruh asing, khususnya Hindu dan Islam. Golongan ini biasanya juga disebut sebagai sastra tradisional. Kedua, sastra Melayu pengaruh Hindu. Dan ketiga, sastra Melayu pengaruh Islam. Di samping itu, keempat, kita kenal pula sastra-sastra Melayu pengaruh Jawa yang biasa dikenal cerita-cerita Panji.

(1) Sastra Melayu Asli

Sastra Melayu asli atau sastra tradisional ialah suatu golongan cerita yang hidup dan berkembang secara turun-temurun, dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Istilah lain yang biasa digunakan untuk menyebut golongan karya sastra ini ialah cerita rakyat. Disebut cerita rakyat atau folklor karena cerita ini hidup di kalangan rakyat. Semua lapisan masyarakat mengenai cerita ini. Cerita ini milik masyarakat bukan milik seseorang. Sedang sastra keraton sebagai pembeda sastra rakyat, biasanya dan diciptakan untuk kalangan istana, seperti cerita-cerita sejarah atau babad dalam masyarakat yang mengenai sistem kerajaan.

Cerita rakyat itu biasanya disampaikan secara lisan oleh orang yang hafal ceritanya. Itulah sebabnya cerita rakyat itu disebut sastra lisan (oral literature). Cerita disampaikan oleh seorang tukang cerita sambil duduk-duduk di suatu tempat kepada siapa saja, anak-anak dan orang dewasa. Ceritanya bersifat umum, mudah dicerna, dan tidak panjang. Pada waktu itu cerita belum dituliskan karena orang belum mengenai tulisan.

Cerita tradisional ini dapat dianggap sebagai karya sastra pada taraf permulaan sebelum adanya pengaruh asing, seperti pengaruh Hindu dan Islam. Dalam sastra tradisional itu pengaruh asing boleh dikatakan sedikit sekali.

Sastra tradisional atau cerita rakyat ini juga merupakan objek penelitian ahli folklor. Folklor merupakan cabang ilmu antropologi. Dari penelitian folklor itu dapat diketahui kebudayaan suatu bangsa sebelum adanya pengaruh asing, seperti kepercayaan, pandangan hidup, adat istiadat, dan cara berpikir masyarakat itu. Inilah tujuan ahli folklor meneliti cerita rakyat itu.

Dalam golongan ini, kita jumpai beberapa jenis karya sastra, seperti mantra, peribahasa, pantun, teka-teki, cerita binatang, cerita asal-usul, cerita jenaka, dan cerita pelipur lara. Jenis cerita ini sedikit dibicarakan orang sehingga sudah tidak begitu dikenal lagi. Demikian pula usaha pengumpulan cerita rakyat ini masih sangat sedikit dilakukan. Kita hanya mengenai cerita kancil sebagai cerita binatang, cerita Pak Pandir sebagai cerita jenaka, dan Hikayat Malin Deman sebagai cerita pelipur lara. Amatlah jauh dari memadai pengetahuan kita mengenai jenis karya sastra ini.

(2) Sastra Pengaruh Hindu

Dalam perkembangan selanjutnya, kita akan menemukan karya sastra Melayu klasik pengaruh Hindu. Pengaruh Hindu merupakan pengaruh asing pertama dan lama di Nusantara ini. Diperkirakan oleh ahli sejarah bahwa sejak abad I sudah ada pengaruh Hindu ini di Nusantara. Bukti tertulis berupa piagam, kita temukan sekitar abad kelima, di antaranya piagam Raja Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur; dan piagam Raja Purnawarman di Jawa Barat, sebagai bukti sudah berakarnya pengaruh Hindu itu di Nusantara. Sampai abad keenam belas sastra Hindulah yang berperan di daerah Melayu ini.

Hasil sastra Hindu yang terkenal, seperti Ramayana, Mahabharata, dan Pancatantra yang di dalam sastra Melayu dikenal dengan judul Hikayat Sri Rama, Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Sang Boma, dan Hikayat Kalilah dan Daminah juga populer dalam Sastra Melayu. Selain dari itu, bersumber dari cerita Hindu yang dikemukakan di atas, dalam sastra Melayu klasik kita kenal lagi beberapa versi cerita itu, seperti “Hikayat Pandawa”, “Hikayat Pandawa Panca Kelima”, “Hikayat Pandawa Jaya”, “Hikayat Pandawa Lebur”, “Hikayat Darmawangsa”, “Hikayat Pandu”, “Hikayat Gelaran Pandu Keturunan Pandawa”. “Hikayat Agung Sakti”. “Hikayat Maharaja Boma”, dan “Hikayat Maharaja Rawana”. Jenis sastra Melayu pengaruh Hindu ini sudah agak banyak dibicarakan yaitu oleh Winstedt (1969) dan Liaw Yock Fang (1975). Di samping itu, kita akan mendapatkan sebuah pembahasan yang mendalam mengenai salah satu karya sastra ini yaitu Hikayat Sri Rama yang diteliti oleh A. Ikram (1980) berupa disertasi.

(3) Hasil Sastra Pengaruh Peralihan

Yang dimaksud dengan sastra pengaruh peralihan dalam sastra Indonesia lama ialah hasil sastra Indonesia lama yang mengandung unsur Hindu dan Islam. Liaw (1982:102) menyebutnya “Hikayat Zaman Peralihan” sedangkan Winstedt (1969:70—91) membicarakan golongan karya sastra ini dalam bab yang berjudul “From Hinduism to Islam: Malay Romances of Transition”.

Sebetulnya agak sukar menentukan golongan sastra Indonesia pengaruh peralihan ini. Hal ini disebabkan oleh karya sastra Indonesia lama itu tidak mempunyai angka tahun, sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan unsur Islam yang berupa kata atau kalimat yang bernafaskan Islam dalam bahasa Arab ada pada hampir setiap karya sastra Indonesia lama.

Hal ini diakui oleh Liaw (1982:102). Meskipun demikian tentu ada ciri-ciri sastra pengaruh peralihan yang dapat dengan mudah diketahui, di antaranya sebagai berikut:

(a) Cerita berasal dari India

Ciri-ciri cerita yang berasal dari India ini sebagai berikut:

  • benda-benda keramat yang digunakan oleh tokoh cerita, misalnya kemala hikmat, batu ajaib, dan senjata sakti,
  • tokoh raksasa atau binatang yang menawan putri raja,
  • garuda yang membinasakan negeri,
  • sayembara untuk memilih suami,
  • tokoh yang bertapa untuk mendapatkan kesaktian, dan
  • orang yang mati dapat hidup kembali.

(b) Unsur Islam dalam cerita

Misalnya: (1) pemberian nama yang bernafaskan Islam pada judul cerita, seperti “Hikayat Marakarma” diganti dengan nama “Hikayat si Miskin”, “Hikayat Indra Jaya” diganti dengan nama “Hikayat Syah Mardan”, dan “Hikayat Serangga Bayu” diganti dengan nama “Hikayat Ahmad Muhammad”; (2) tokoh cerita ditambah dengan tokoh para nabi, atau pahlawan Islam, seperti Nabi Sulaiman, Nabi Khidir, Iskandar Zulkarnain, dan Lukman Hakim; (3) ajaran Islam ditambahkan dalam cerita, seperti cara sembahyang, rukun Islam, rukun Iman, dan doa kepada Allah; (4) kata-kata dan kalimat bahasa Arab yang bernafaskan Islam dalam teks cerita; dan (5) penggunaan kata Allah Taala atau Allah Subhanahu wa Taala sebagai pengganti nama dewata mulia raya.

Cerita yang tergolong sastra Indonesia lama pengaruh peralihan ini cukup banyak jumlahnya. Liaw (1982; 102—128) membicarakan empat belas cerita hasil sastra Indonesia lama pengaruh peralihan, sedangkan dalam katalogus Melayu yang disusun oleh Sutaarga (1972) diperkirakan lebih dari tiga puluh judul cerita, di antaranya yaitu “Hikayat Ahmad Muhammad”, “Hikayat Bikrama Cindra”, “Hikayat Bikrama Sakti”, “Hikayat Bujangga Maharaja Indra Maharupa”, “Hikayat Candra Hasan”, “Hikayat Cindabaya”, “Hikayat Dewa Mandu”, “Hikayat Indra BangsaWan”, “Hikayat Indra Dewa”, “Hikayat Indra Jaya Pahlawan”, “Hikayat Indra Laksana”, “Hikayat Indra Maulana”, “Hikayat Indra Nata”, “Hikayat Isma Yatim”, “Hikayat Langlang Buana”, “Hikayat Raja Kerang”, “Hikayat Syah Mardan”, dan “Hikayat Syahrul Indra”.

Hingga sekarang baru ada sebuah disertasi mengenai karya sastra Indonesia lama pengaruh peralihan ini yaitu Hikayat Indra Putra oleh Mulyadi (1983). Di samping itu beberapa cerita golongan ini sudah diterbitkan yaitu Hikayat Indra Dewa dalam Sastra Indonesia Lama oleh Hani’ah (1984), Hikayat Raja Kerang oleh Putri Minerva Mutiara Nimah Sunardjo (1982), Hikayat Indra Putra oleh Ahmad (1979), Hikayat Indra Bangsawan oleh Balai Pustaka (1978), dan Hikayat Dewa Mandu oleh Chambert-Loir (1980 dan 1982).

(4) Sastra Pengaruh Islam

Setelah pengaruh Hindu, pengaruh Islam masuk dalam sastra Indonesia Lama. Dengan masuknya agama Islam ke Indonesia, mulailah zaman baru dalam sastra Indonesia lama. Sastra Indonesia lama yang sebelumnya didominasi oleh sastra Hindu, mulai beralih haluan ke dalam sastra yang berasal dari negeri Islam. Kesusastraan Melayu secara tertulis mulai pada zaman Islam ini. Cerita-cerita pada waktu itu ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Agama Islam berkembang dengan pesat di Nusantara ini sejak abad ke-13, akan tetapi kesusastraan tertulis sampai kepada kitabaru pada permulaan abad ke-17.

Hasil sastra Indonesia lama pengaruh Islam ini dapat digolongkan dalam beberapa golongan yaitu: (1) kisah tentang para nabi, (2) hikayat tentang Nabi Muhammad saw. dan keluarganya, (3) hikayat tentang pahlawan-pahlawan Islam, (4) cerita tentang ajaran dan kepercayaan Islam, (5) cerita dongeng dan legende Islam, dan (6) cerita mistik atau tasawuf.

(5) Sastra Pengaruh Jawa

Sastra Jawa juga ada pengaruhnya dalam sastra Indonesia lama. Pengaruh sastra Jawa, khususnya cerita-cerita Panji, memperkaya lagi khazanah sastra Indonesia lama. Cerita-cerita Panji ini terkenal di Sumatera, Sulawesi, dan Lombok; juga di Kamboja dan Thailand (Liaw, 1982:83).

Dalam sastra Indonesia lama, cerita Panji terdapat dalam beberapa versi, di antaranya yang penting yaitu “Hikayat Cekel Wanengpati”, “Hikayat Panji Kuda Semirang”, “Hikayat Panji Semirang”. Di samping itu di Museum Nasional Jakarta dijumpai beberapa judul cerita Panji yaitu “Hikayat Jaran Kinanti Asmarandana”, “Hikayat Misa Susupan Sira Panji Kelana Asmarapati”, “Hikayat Raden Panji”, “Hikayat Kelana Anakan”, “Hikayat Galuh Digantung”, “Hikayat Kelana Raden Galuh Daha”, “Hikayat Mesa Gimang”, “Hikayat Prabu Anom”, dan “Hikayat Naya Kusuma”.

Perlu dicatatkan di sini sebuah disertasi mengenai cerita Panji disusun oleh W.H. Rassers (1922) berjudul De Pandji Roman. Nafron Hasjim (1984) membicarakan struktur Hikayat Galuh Digantung.

Demikianlah uraian ringkas mengenai sastra Indonesia lama secara keseluruhan. Dari uraian itu jelaslah betapa luas dan kayanya khazanah sastra Indonesia lama ini. Dan dapat pula diketahui bahwa baru sebagian kecil saja hasil sastra Indonesia lama ini yang berupa naskah tulisan tangan yang sudah diteliti dan diterbitkan. Sebagian naskah hasil sastra Indonesia lama itu tersimpan di Museum Nasional Jakarta, dan sebagian lagi tersimpan di luar negeri, khususnya di Leiden dan London.***tdb/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama); Dr. Edwar Djamaris; Balai Pustaka; 1993

• telah dilihat 1.670 kali • total 11 kunjungan untuk hari ini •
Penggolongan Sastra Melayu Klasik

Tulisan Terkait

Satu gagasan untuk “Penggolongan Sastra Melayu Klasik

  • 29 November 2015 pukul 17:58
    Permalink

    informasi tersebut sangat bermanfaat bagi saya. Hal tersebut berkaitan dengan penelitian yang akan saya lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *