Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

ALKISAH maka tersebutlah perkataan majlis Syah Alam mandi Safar. Adalah pada bulan Zulhijjah, didirikan oleh Syahbandar Maktabar Khan jambo perarakan, maka yang empunya kerja perarakan itu tandil kawal dan sagi kawal dengan membuat perarakan itu, melainkan bunga serta alatnya dari pada Syahbandar Muktabar Khan, kira-kira datang pada bulan Safar perarakan itu pun sudahlah. Adapun yang membuat bendrung itu Amir Diwangsa direkakan oleh Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja Mangkubumi. Adapun besinya serta warnanya, furdah besinya kira-kira lima puluh kati dan tanah merah tiga kati.

Hatta datanglah kepada bulan Safar tiga hari lagi pada habis Arba’ Safar, maka Syahbandar Maktabar Khan pun masuklah ia ke dalam Kota Daruddunia mohonkan gong, genderang dan penghulu kenduri ke Kandang seperti adat majlis yang dahulu. Maka turunlah cap dibawa megat, sabda hadarat yang maha mulia: “Karunia seperti sembah Muktabar Khan itu!”

Maka adalah pada keesokan harinya diaraknyalah nasi kenduri itu ke dalam Kota Daruddunia serta pada hari itulah dimohon oleh Muktabar Khan penghulu kain pakaian dan penghulu rumah tinggi yang bergelar Tun Diwa Berani dan biduan pedzikiran serta dengan dap rebananya ke rumah Muktabar Khan, maka adalah jaga itu dua malam.

Maka pada hari Arba’ benderung pun dihilir oranglah serta perarakannya pun dinaikkan ke atas benderung. Pada hari itu gajah berangkusa(?) perak pun keluarlah ke kampung Muntabar Khan dibawa oleh Megat Dilain Jadi, maka Megat Dilam Jadi pun disalin seorang dan Amar Diwangsa pun disalin turun tiga dan Tun Kota Sati pun disalin turun tiga karena ali keujruen tandil kepada Orang Kaya Seri Maharaja Lela sebagai laki perempuan.

Yang berlain itu pertama-tama penghulu kain pakaian dan penghulu nasi santap dan biduan semuanya bersalin, maka air mandi pun diarak oranglah di atas gajah ke benderung, pada seekor gajah lagi dinaikkan nasi santap maka kain pakaian pun dinaikkan oranglah ke atas gajah diarak oranglah ke benderung akan jenis kain sembahan, yang diarak oleh Syahbandar Muktabar Khan itu kain buruji warna murup sehelai. Tammatul-kalam bil-khair.***tdb/malaya.or.id

***Rujukan: Adat Aceh, Drs. Ramli Harun, Dra. Tjut Rahma, 1985

Buku ini merupakan naskah Adat Aceh yang sudah dialih aksarakan ke dalam huruf Latin berdasarkan naskah yang diperoleh dari Pusat Dokumentasi Dan Informasi Aceh bulan Agustus 1983. Naskah ini merupakan reproduksi yang dimuat dalam Verhandelingen Van Het Koninklijk Instituut Voor Taal Land En Volkenkunde Deel XXIV tahun 1958 dengan kata pengantar dan catatan-catatan oleh G.W.J. Drewes dan P. Voorhoeve. Mereka menyebutkan bahwa naskah ini milik India Office Library London bertanggal 3 Desember 1815 dan berasal dari W.E. Philips yang menemukannya di Pulau Pinang ketika ia menjadi gubernur di koloni Inggris itu sampai tahun 1824.

adataceh150

• telah dilihat 99 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Adat Mandi Safar dalam Adat Aceh

Tulisan Terkait

Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *