» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Beberapa abad yang telah silam, konon terdapatlah dua orang bersaudara yang mengembara ke suatu daerah bagian utara tanah Lampung. Yang tua bernama Mensura Tuha, dan yang muda, bernama Riya Menang Betanding. Dalam pengembaraannya itu akhirnya kedua orang bersaudara tersebut sampailah di suatu tempat yang masih merupakan hutan rimba yang belum dihuni oleh manusia. Daerah ini dialiri oleh beberapa anak sungai dan salah satu di antaranya terdapat sebuah sungai yang cukup besar.

Pada suatu hari, Riya Menang Betanding berkata kepada kakaknya. “Menurut pandangan saya, di daerah ini terdapat kayu yang besai (besai ≈ bagus) bambu dan rotan yang besai serta tanah dan sungainya yang cukup besai. Mengingat di daerah ini segala sesuatunya serba besai dan belum dihuni oleh manusia, maka sebaiknya kita berdua membuka pemukiman baru yang kelak diharapkan akan tumbuh menjadi suatu perkampungan”. Mendengar ucapan adiknya itu, maka kakaknya yang bernama Mensura Tuha setuju saja dan sekaligus menamakan sungai yang terbesar itu dengan nama Sungai Way Besai yang kemudian sepanjang daerah sungai Way Besai itu terkenal dengan nama sebutan daerah Way Besai (asal kata dari serba besai). Mereka berdua berkeyakinan sepenuhnya bahwa di sepanjang sungai Way Besai tersebut belum ada manusia lainnya yang menghuni atau membuka suatu perkampungan.

Mulailah kedua orang bersaudara itu membuka, membabat hutan di tepi sungai Way Besai sekaligus untuk dua perkampungan yang khabarnya belum mempunyai nama yang tetap. Tatkala kedua orang bersaudara itu sedang membabat hutan, tiba-tiba mereka melihat sepotong bambu hanyut di sungai Way Besai.

Setelah melihat bambu yang hanyut di sungai itu dan pula mempunyai tanda-tanda bekas dipotong manusia, maka mereka berkesimpulan bahwa sudah barang tentu ada manusia lainnya yang sudah lebih dulu dari mereka berdua membuka suatu perkampungan di bagian hulu sungai Way Besai itu.

Untuk membuktikan kebenarannya, mereka berdua mencoba menyelusuri sungai Way Besai tersebut ke arah hulunya untuk mengetahui siapa gerangan yang memotong bambu yang hanyut itu, ataukah mungkin ia telah membuka pula suatu perkampungan. Ternyata dugaan mereka itu benar, terbukti mereka menemukan seorang yang bernama Umpu Kawa, yang telah lebih dahulu membuka suatu perkampungan yang kemudian kampung tersebut dikenal dengan nama Cugah.

Riya Menang Betanding dan Mensura Tuha meneruskan perjalanannya dan akhirnya mereka menemukan suatu perkampungan lagi yang terletak di tepi sungai Way Abung bernama Kotabumi. Kedatangan kedua orang bersaudara itu di Kotabumi agaknya mengandung hikmah pula, karena di Kotabumi ini mereka mendapat jodoh dengan putri-putrinya Pangeran Kotabumi. Kakak beradik ini kawin dengan putri-putrinya Pangeran Kotabumi yang masing-masing bergelar Minak Ratu Demaung  yaitu istri Mensura Tuha, dan Minak Maju Demaung istri Riya Menang Betanding.

Setelah pernikahan mereka bersaudara itu, maka timbullah keinginan dari kedua orang bersaudara tersebut untuk kembali ke perkampungan yang telah dirintisnya di tepi sungai Way Besai. Lebih-lebih lagi kedua orang tersebut kini telah bertambah anggotanya sebagai modal yang cukup besar untuk pengembangan manusia di daerah yang terpencil di tengah-tengah hutan rimba.

Ketika kedua orang bersaudara itu menyampaikan maksudnya kepada pihak mertuanya untuk kembali ke perkampungannya di tepi sungai Way Besai, maka mertuanya pun tidak keberatan dan sekaligus akan memberi anak-anaknya barang-barang alat rumah tangga (dalam bahasa Lampung Way Kanan = kepunyansan). Tetapi mengingat jarak calon perkampungan sangat jauh sekali, diperkirakan sangat sulit untuk membawa barang-barang tersebut, dan di samping itu kelak sewaktu-waktu akan mengalami kerusakan, maka Riya Menang Betanding dan Mensura Tuha menyampaikan suatu usul pada pihak mertuanya agar sebaiknyalah mereka diberi pusaka atau kenang-kenangan yang lebih kekal abadi. Untuk itulah maka kedua orang putri Pangeran Kotabumi yang sudah akan diboyong oleh suaminya ke tepi sungai Way Besai diberi suatu pusaka, kenang-kenangan yang cukup langgeng dan abadi yakni berupa nama kampung yang masing-masing sebagai berikut:

  1. Kota Harilang untuk nama kampungnya Mensura Tuha dengan Minak Ratu Demaung.
  2. Kota Batu untuk nama kampungnya Riya Menang Betanding dengan Minak Maju Demaung.

Setibanya di tempat perkampungannya yang baru itu, mulailah kedua orang bersaudara itu menyusun suatu kehidupan yang baru sebagai langkah permulaan dengan iringan cita-cita luhur untuk membangun suatu perkampungan yang permanen.

Sejalan dengan pergantian siang dan malam, maka Kota Harilang dan Kota Batu tumbuh pesat menjadi suatu perkampungan disertai pertambahan penduduknya, dari keturunan dari Riya Menang Betanding dan Mensura Tuha yang mulai berkembang biak setelah berjalan beberapa tahun. Pada suatu ketika datanglah bencana besar, musibah yang menimpa daerah tersebut, yang ditandai dengan datangnya penyakit, wabah diiringi oleh kejadian-kejadian lainnya yang aneh-aneh dan mengerikan, sehingga mengakibatkan banyak penduduk yang meninggal dunia. Akibat dari timbulnya bencana tersebut, timbullah suatu pemikiran bahwa hal ini dipandang perlu untuk melakukan korban sebagai tolak bala. Korban dilaksanakan dengan jalan menyembelih seorang manusia yang bernama Sisura.

Ketika penyembelihan Sisura ini dilakukan, maka darahnya ditadah dengan bukoro dan kemudian kepalanya dicemplungkan ke dalam lubuk kampung Kota Batu.

Beberapa tahun kemudian setelah penyembelihan Sisura, agaknya ketenangan semakin berkurang untuk tetap bertahan di kampung tersebut. Maka Riya Menang Betanding beserta anak cucu keturunannya memutuskan untuk memindahkan kampungnya ke suatu tempat yang tidak berapa jauhnya dari kampung Kota Batu. Kampungnya yang baru ini letaknya lebih kurang 2 kilometer dari Kota Batu (di hilirnya) dan kemudian kampung yang baru ini dinamai Gedung Menong.

Pada suatu ketika Riya Menang Betanding melakukan perjalanan muhibah ke tanah Banten, untuk bertemu dengan Raja Banten. Perjalanan tersebut cukup hebat dan menakjubkan dikarenakan beliau tidaklah menggunakan kendaraan seperti yang ada di zaman modern ini, tetapi beliau menggunakan kain basahan yang biasa dipakai untuk mandi di sungai yang disebut tilesan. Kain basahan tersebut diletakkannya di atas permukaan air sungai untuk dijadikan tempat duduk, sedangkan yang sepotong dilipatnya untuk dijadikan layar.

Setelah mengikuti aliran sungai dan bermuara di lautan, beliau dengan santai dan tenang berlayar mengarungi laut Sunda dan akhirnya sampailah di tanah Banten. Setibanya di tanah Banten ini, beliau dihadapkan pada suatu ujian-ujian yang antara lain membunuh seekor naga di Teluk Banten dan membunuh seekor lipan besar, selebar papan, yang hinggap di batang kelapa. Kedua binatang tersebut mati oleh Riya Menang Betanding dengan mentranya antara lain “Kumincok di lembung puntung, nak mati kimal untung”. Di samping itu beliau ikut pula dalam suatu perlombaan besar untuk mengambil, merebut sebilah keris pusaka yang khabarnya berasal dari daun tebu. Riya Menang Betanding menang dalam perebutan dan mendapatkan keris pusaka tersebut yang kemudian terkenal dengan nama Tedung Rangga. Keris Tedung Ranggas kira-kira bermakna, ular berbisa. Hingga sekarang keris tersebut masih ada tersimpan pada salah seorang keturunannya.

Setelah selesai mengikuti beberapa acara di tanah Banten tersebut, maka Riya Menang Betanding bermaksud akan kembali ke tanah Lampung, tetapi sebelum beliau kembali terlebih dahulu beliau mengadakan suatu perjanjian di Selat Sunda dengan pihak Raja/Ratu Lautan. Isi perjanjian antara lain, bahwa anak cucu dan keturunannya atau rakyatnya jangan sampai terkena mabuk dalam pelayaran atau mabuk laut. Dalam perjanjian tersebut, telah ditentukan pula suatu kode, tanda pengenal bagi anak cucu, keturunannya Riya Menang Betanding, apabila suatu waktu akan melakukan pelayaran maka sebelum memulai pelayaran disarankan menaburkan beras kunyit (beras dicampur kunyit) ke laut dengan disertai ucapan-ucapan dalam hati antara lain, “Kami ini adalah keturunan, anak cucu Riya Menang Betanding yang akan memulai pelayaran dan mohon agar kami jangan sampai terkena mabuk laut.”

Setelah itu Riya Menang Betanding kembali ke tanah Lampung menuju ke daerah pemukimannya di tepi sungai Way Besai yang bernama Gedung Menong yang selanjutnya meneruskan perjuangan dalam usaha membangun desa baru, diiringi pertambahan penduduk setelah berjalan bertahun-tahun.

Pada suatu ketika Riya Menang Betanding akan berkunjung ke tempat mertuanya di Kotabumi bersama dengan istrinya. Dalam perjalanan tersebut beliau melalui hutan rimba yang sangat luas dan sama sekali tidak mempunyai jalan atau rintisan. Akhirnya beliau bersama istrinya muncul di satu perkampungan yang bernama Tulangbawang marga Bunga Mayang. Di kampung ini pun ada peninggalannya serta beberapa buah barang pusaka yang ditinggalkannya. Bekas jalan yang dilalui Riya Menang Betanding tersebut, hingga saat ini masih ada bekas-bekas dan apabila ingin melalui jalan tersebut, mudah-mudahan kita tidak akan tersesat.

Niatnya untuk berkunjung ke tempat mertuanya ternyata tidak diteruskannya berhubung ia berpendapat apabila ke Kotabumi khawatir akan disuruh menetap di tempat mertuanya itu yang berarti ia akan tipasuk (diambil oleh mertuanya). Akhirnya ia berputar haluan menuju ke arah Komering dan di sini ia bertemu pula dengan beberapa orang yang konon sama-sama saktinya sehingga mereka mengadakan suatu pertandingan untuk melangkahi sungai Komering. Ternyata dalam pertandingan itu, semua lawannya dapat melangkahi sungai Komering kecuali Riya Menang Betanding sendiri yang tidak dapat melangkahinya berhubung kakinya sebelah masih berada di darat, sedangkan yang sebelah lagi sudah tercelup ke dalam sungai. Maka Riya Menang Betanding menyatakan dirinyalah yang menang dengan alasan bahwa ia berarti mempunyai kekuasaan di darat dan di air. Sedangkan lawan-lawannya bertanding itu hanya mempunyai kekuasaan di air saja.

Selesai melakukan pertandingan tersebut, mereka bermufakat untuk melakukan perjalanan bersama-sama dengan mempergunakan perahu di sungai Komering. Setelah dapat persetujuan, maka para anggota rombongan tersebut, diharuskan membawa masing-masing bekal secukupnya untuk jangka lama. Masing-masing anggota rombongan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya berupa ketan putih, sedangkan Riya Menang Betanding sendiri hanya membawa bekal satu pundi-pundi kecil yang berisi ketan hitam paling banyak satu kilo. Teman-temannya semua menggerutu ketika melihat Riya Menang Betanding yang hanya membawa bekal satu pundi kecil itu saja. Barang mustahil akan mencukupi untuk sangunya selama dalam perjalanan yang telah direncanakan cukup lama.

Setelah rombongan melakukan perjalanan, maka tiba saatnya istirahat, dan rombongan masing-masing menanak nasi. Semua rombongan mengeluarkan bekalnya masing-masing secara infak yang kemudian digabung, dikumpul untuk dimasak dalam satu belanga. Setelah semua teman-temannya memasukkan ketan putih ke dalam belanga, barulah terakhir sekali Riya Menang Betanding memasukkan pula ketan hitam sejumput (satu sendok makan) ke dalam belanga yang sama dengan diiringi ucapan bahwa mana kelak yang berwarna hitam, itulah kepunyaannya. Setelah dimasak ketan itu maka seluruhnya menjadi hitam.

Teman-temannya semakin menjadi penasaran pada Riya Menang Betanding, ditambah lagi selama dalam perjalanan tersebut ia tidak pernah ikut mendayung, menolakkan perahu, dengan galah yang terbuat dari bambu yang panjangnya lebih kurang 3,5 meter dan lurus, yang lazim dipergunakan di sungai yang airnya deras. Oleh karena itu, teman-temannya meminta agar Riya Menang Betanding menolakkan perahu dengan menggunakan cawah (galah). Mendengar ucapan teman-temannya itu, maka Riya Menang Betanding menyanggupinya dengan syarat ia dicarikan galah yang cukup besar, panjang dan lurus menurut ukuran yang semestinya. Kemudian diambilkan oleh teman-temannya sebatang bambu buntu yang tidak berlubang di dalamnya. Setelah bambu tersebut diterima, maka ia menyarankan agar semua anggota rombongan bersiap-siap dan waspada berhubung ia sudah akan mulai menolakkan perahu tersebut dengan galahnya.

Di luar dugaan sama sekali, perahu tersebut meluncur dengan amat laju dan kencang yang berjalan secara lurus sehingga menembus beberapa tanjung yang terdapat di sungai Komering. Akhirnya perahu tersebut hancur berantakan, hanya tinggal di bagian haluan saja yaitu tempat Riya Menang Betanding berdiri yang dinamakan binet. Para anggota rombongan lainnya sudah tak tentu lagi di mana adanya. Entah sudah tenggelam atau terbang.

Akhirnya perahu tersebut berhenti di suatu tempat yang dinamakan Kehamongan yang letaknya tidak berapa jauh dari Martapura sekarang. Galahnya ditancapkan di tepi sungai yang kemudian tumbuh hingga sekarang. Sedangkan kepala perahu tempatnya berdiri yang dinamakan binet menjadi batu dan masih ada hingga sekarang. Itulah sebabnya menurut hikayat sungai Komering menjadi lurus.

Alkisah setelah tiba di Kehamongan tersebut, beliau mendirikan lagi suatu perkampungan yang diberinya nama juga Gedungmenong yang letaknya berseberangan dengan Kehamongan. Dan akhirnya beberapa tahun kemudian beliau wafat dan dimakamkan di Kehamongan maka tempat itu menjadi keramat.***tdb/ts/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Cerita Rakyat Daerah Lampung; Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah; Balai Pustaka

• telah dilihat 219 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Nenek Moyang Riya Menang Betanding dari Daerah Lampung

Tulisan Terkait

Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *