Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Dalam sebuah dusun di Renah Sekelawi (nama dataran Rejang sebelah timur Bukit Barisan) ada seorang pemuda bernama Sutan Indah. Ayahnya bernama Ratu Panjang, seorang kepala dusun yang disegani dan dihormati oleh rakyatnya. Sutan Indah sangat pemalas. Ia tidak pernah membantu ayahnya bekerja di sawah atau di ladang. Oleh sebab itu ia tidak diacuhkan ayahnya, meskipun ia adalah anak tunggal. Hanya kepada ibunya saja Sutan Indah berani mengadu. Ayahnya sibuk dengan sawah dan ladang serta sibuk memikirkan kesejahteraan kampungnya.

Setiap hari Sutan Indah menelusuri tebing sungai memperhatikan ikan-ikan yang berenang dalam air. Ia duduk di atas atu, memperhatikan burung-burung meloncat dari dahan ke dahan di atas ranting dan di dalam semak belukar sekelilingnya. Ia mengamati tupai jantan dan betina bergelut di batang bambu, yang ujung daunnya menjuntai menyapu air yang deras mengalir di sela batu-batu. Kalau hari terasa panas Sutan Indah terjun ke dalam air berenang ke sana ke mari, sambil bersiul kecil dengan lagunya sendiri.

Pada suatu hari, ketika Sutan Indah sedang berjalan-jalan di pinggir sungai, ia melihat sepotong bambu hanyut dibawa arus. Anehnya di atas bambu yang sebesar telunjuk itu, bertengger seekor burung camar. Dengan tidak disangka, bambu itu menepi sendiri dan mendekat kepada Sutan Indah. Lebih aneh lagi, burung camar tidak mau terbang. Sutan Indah berusaha memungut bambu itu dan juga burung camar yang jinak tersebut lalu dibawanya pulang.

Pada mulanya Sutan Indah bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi oleh seorang bidadari yang sangat cantik dan berkata, “Sutan Indah, buatlah olehmu sebuah sedam (seruling) dari bambu yang kau dapati di sungai kemarin, sedangkan burung itu sembelih dan tanakkan minyaknya. Minyaknya kau lumurkan pada serdammu itu, keringkan selama empat puluh hari dan empatpuluh malam. Aku ingin sekali mendengar bunyi serdammu itu Sutan Indah”.

Sutan Indah terjaga dari tidurnya, dan berusaha mengingat mimpinya itu.

Keesokan harinya dibuatnyalah sebuah serdam dari bambu yang didapatinya di sungai kemarin itu. Tiga hari lamanya ia membuat serdam itu, dengan berhati hati sekali jangan sampai pecah atau retak sedikit pun. Burung camar penyerta bambu tersebut dipotongnya, lalu dimasak dan diambil minyaknya. Minyak burung tersebut digosok-gosokkannya pada serdam yang baru selesai dibuatnya itu. Empat puluh hari dan empat puluh malam serdamnya dianginkan, sesuai dengan petunjuk sang bidadari dalam mimpinya itu.

Kiranya bambu itulah yang disebut orang buluh perindu, dan rupanya kehendak Tuhan, buluh perindu itu dapat saja melawan arus sungai atau disebut orang hanyut ke hulu. Demikian kesaktian buluh perindu itu, menurut cerita orang tua-tua, apabila buluh perindu itu ditiup, maka suaranya sampai ke kayangan.

Setelah empat puluh hari kemudian, Sutan Indah mencoba serdamnya. Maka timbullah bermacam-macam lagu yang menyayat hati. Ketika orang sedang bekerja, terdengar alunan bunyi serdam Sutan Indah, maka berhentilah mereka bekeija, terpukau ketika mendengarnya. Pendeknya, siapa yang mendengar himbauan serdam Sutan Indah terlenalah ia dari pekerjaannya, sampai kepada ibu-ibu yang sedang memasak di dapur berhenti bekerja, sehingga hanguslah nasi tanakannya. Para gadis remaja yang sedang menjaga jemuran padi, lalu termenung, dan tidak diketahui mereka bahwa padinya hampir habis dimakan ayam dan itik.

Orang banyak bertanya-tanya, dari manakah asal bunyi serdam seperti itu. Belum pernah mereka mendengar bunyi serdam seindah itu. Akhirnya, orang mengetahui bahwa sedam itu adalah milik Sutan Indah anak Ratu Panjang yang tunggal itu.

Lama kelamaan setiap orang mendengar bunyi serdam Sutan Indah, terbengkelailah pekerjaannya. Kalau mendengar bunyi serdam itu di malam hari terjagalah mereka dari tidurnya, terutama para bujang dan dara, timbul rasa birahi satu dengan lainnya, berkhayal sepanjang malam, gehsah tak tentu perasaan, mabuk dalam asmara. Hal ini menjengkelkan orang tua Sutan Indah. Beberapa kali ayahnya melarang Sutan Indah meniup serdamnya itu, tetapi tidak dipedulikannya. Ketika sampai kepada puncak kemarahannya, lalu diusirnyalah Sutan Indah. Dengan berat hati Sutan Indah melangkahkan kakinya pada malam itu juga, tanpa setahu ibunya.

Pergilah Sutan Indah meninggalkan kampung halamannya, kedua orang tuanya, sanak saudaranya. Pergilah ia dengan serdam buluh perindunya, mengembara menurut langkah kakinya. Kadang-kadang naik bukit turun bukit, kadang-kadang menuruti aliran sungai yang ditemuinya. Kalau terasa penat kakinya, berhentilah ia di bawah naungan pohon-pohonan. Sebelum memejamkan matanya, ditiupnya dahulu serdamnya. Mengalunlah lagu-lagu sedih yang memilukan hati, siapa yang mendengarnya. Alunan serdam Sutan Indah, kiranya terdengar juga sampai ke kayangan, dibawa angin lalu, sehingga termenunglah para bidadari, dan ada yang ingin turun ke bumi.

Dalam pengembaraan Sutan Indah, tibalah ia di suatu tempat di kaki sebuah bukit. Berhentilah ia di bawah sebatang pohon yang rindang daunnya. Kiranya Sutan Indah berada di kaki sebuah bukit yang merupakan kaki langit alam kayangan. Di situ sering turun para bidadari kalau akan ke bumi, dan juga tempat bermain main setiap bulan terang. Bukit ini dijaga oleh seorang peri yang sedang beranak bayi. Setiap hari sang peri ini pergi ke kebun di lereng bukit itu. Malam hari barulah berada di pondoknya kembali.

Selama ia pergi ke kebunnya, bayinya selalu dijaga oleh seorang bidadari yang diutus dari kayangan secara bergiliran. Hari itu yang menjaga bayi sang peri adalah giliran Krikam Manis yang sangat cantik rupanya, jika dibandingkan dengan yang lain. Ketika ia menjaga bayi sang peri, terdengarlah olehnya bunyi serdam Sutan Indah. Termenunglah ia ketika itu dan ingin sekali ia melihat siapa peniupnya. Katanya dalam hati, “Apakah ini yang disebut oleh orang tuanya buluh perindu”. Dengan tidak disangka saat itu, terlepaslah sang bayi dari pangkuannya, jatuh ke dalam jurang bukit itu. Dari dalam jurang itu keluarlah api yang besar menandakan kemarahan dewata, ditambah dengan bau angit karena daging bayi yang terbakar.

Setelah menyadari hai ini, bingunglah Krikam Manis dan timbullah takutnya. Sudah pasti kalau sang peri kembali nanti malam, ia akan dibunuh. Kalau kembali ke kayangan, sudah tentu akan menerima hukuman yang berat. Larilah ia dari tempat itu jauh-jauh, menuju ke bawah, ke arah mana suara serdam yang menyebabkan malapetaka itu.

Bunyi serdam makin lama makin jelas kedengaran olehnya. Sampailah ia di suatu tempat dekat sebatang kayu besar lagi rimbun daunnya. Tampaklah olehnya seorang pemuda sedang duduk di bawahnya sedang meniup serdam.

Ketika Krikam Manis berada di depan pemuda itu, yang tak lain dari Sutan Indah yang terusir itu, Sutan Indah tercengang melihat Krikam Manis yang sangat cantik itu. la merasa tidak percaya kepada apa yang dilihatnya, bahwa seorang gadis berada di tengah hutan, yang belum pernah didatangi manusia. la teringat pula akan mimpinya pada waktu ia mendapatkan bambu hanyut dahulu. la membandingkan wajah putri dalam mimpinya, sama seperti wajah gadis yang berada di hadapannya itu.

Setelah lama saling berpandangan itu, berkatalah Sutan Indah, “Siapa kamu ini wahai putri? Mengapa berada di sini? Siapa temanmu, dan apakah kamu seorang diri?” Krikam Manis menjawab, “Aku adalah seorang bidadari penjaga anak peri penunggu bukit ini. Aku lari ke sini karena aku telah menjatuhkan anaknya, karena aku lengah ketika mendengar bunyi suara buluh perindu. Mungkinkah buluh perindu itu adalah buluh perindu yang engkau pegang itu?”

“Benar tuan putri. Kalau begitu akan kubuang serdam ini.”

“Jangan tuanku. Aku senang mendengarnya. Coba tuanku lagukan sebuah lagu untuk menghibur ketakutanku ini”.

“Jangankan sebuah lagu, lebih dari itu aku akan melagukannya”.

Akhirnya kedua makhluk itu bersahabat, pergi bersama-sama menurut kehendak langkah kaki mereka. Krikam Manis merasa mendapat perlindungan dari seorang jejaka. Demikian Sutan Indah dapat melupakan kesedihannya berpisah dari kedua orangtua dan kampung halamannya. Sutan Indah berjanji akan selalu mehndungi Krikam Manis, dari segala bahaya. Selama pergaulan mereka, dan selama pengembaraan mereka, tak tentu arah tujuan, belum terlukis dan terlintas perasaan aneh dalam diri Sutan Indah. Tetapi sebaliknya, Krikam Manis telah mempunyai rasa simpati yang mendalam, bahkan lebih dari itu, sebagai naluri seorang gadis yang telah memiliki jiwa kemanusiaan, dan sudah melepaskan diri dari alam kedewaan. Dunia ini dirasakannya indah sekah selama berdampingan dengan Sutan Indah yang gagah lagi tampan itu. Terlebih lagi kalau Sutan Indah telah bersenandung dengan buluh perindunya itu. Tenang dan damai rasa di hati Krikam Manis. Hilang segala ketakutan dan kecemasan, kesedihan dan kerinduan akan alam kayangan yang telah ditinggalkannya.

Akhirnya mereka sampai pada suatu tempat, di sebuah batu yang agak lebar. Di situlah mereka berhenti dan duduk beristirahat Tak jauh dari tempat itu, terdapat mata air yang panas, dan di hilirnya terdapat pula dua muara sungai yang lubuknya agak dalam. Di situlah Krikam Manis menyejukkan badannya. Sutan Indah mulai meniup serdamnya. Dari lagu ke lagu, yang sulit diartikan oleh orang biasa, merupakan untaian isi hatinya. Krikam Manis merasakan arti tiupan buluh perindu Sutan Indah itu. Tak dapat ia ungkapkan dengan kata-katanya, hanya lewat pandangan matanya tertuju kepada Sutan Indah, seolah-olah mengharapkan pengertian Sutan Indah. “Marilah kita ciptakan dunia ini seindah mungkin”. Bisik hati Krikam Manis. Kiranya Sutan Indah demikian pula halnya. Tetapi ia belum sanggup dan belum berani melahirkan isi hatinya yang sudah lama terpendam, sejak pertemuannya pertama sesuai pula dengan impiannya dahulu.

Kadang-kadang ia terkenang kepada ibunya yang ia tinggalkan pada malam hari keberangkatannya dari rumah. la tidak sempat berpamit kepada ibunya. Kadang-kadang terasa ingin pulang menjenguk ibunya sebentar. Bagaimana Krikam Manis? Tak mungkin dibawanya serta. la takut kepada ayahnya yang mungkin masih dendam kepadanya. Berkatalah ia kepada Krikam Manis pada suatu malam yang indah, “Adinda Krikam, aku senang sekali menyaksikan kedua benda di atas langit pada malam ini. Yang satu bulan dan yang satu lagi bintang yang sangat terang itu. Bila kulihat kedua benda itu, aku rindu sekali kepada sang bulan dan aku cinta sekali kepada sang bintang itu”.

“Apa maksud kekanda Sutan terhadap kedua benda itu. Siapa yang bulan dan siapa yang bintang yang paling terang itu?”

“Ada kau dengar lagu dalam serdamku itu Krikam?”

“Betul kakanda”.

“Nah, adinda. Aku merindukan ibuku, yang kutinggalkan beberapa bulan yang lalu. Dan aku cinta kepadamu adinda Krikam”.

Kemudian berkata kembali Sutan Indah dengan lemah lembut, “Adinda Krikam, jika adinda izinkan aku akan menemui ibuku sebentar, untuk menyampaikan berita gembira ini kepada ibu, bahwa aku akan segera menyuntingmu adinda. Aku bukan tak ingin membawamu serta, tetapi aku takut kalau ayahku yang bengis itu lebih marah lagi kepadaku dan kepada kita berdua. Aku sayang sekali kepadamu, jadi lebih baik adinda tinggal di sini sebentar. Pondok ini sudah cukup kuat bagimu untuk berlindung dari gangguan binatang buas”. Krikam tidak berkata sepatah pun.

Keesokan harinya, Sutan Indah berangkat menuju kampungnya. Tinggallah Krikam Manis seorang diri. Setelah sampai di kampungnya, bertemulah Sutan Indah dengan ibunya. Ibunya sangat gembira sekali, apalagi setelah mendengar cerita Sutan Indah, bahwa ia akan menyunting seorang bidadari dari kayangan. Demikian pula ayahnya, sudah tidak marah lagi kepada Sutan Indah yang tèlah kembali itu. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa Sutan Indah beristeri. Malah disesalkannya mengapa Krikam Manis tidak dibawa sekali.

Malam itu juga ayah Sutan Indah mengerahkan orang kampung untuk menjemput Krikam Manis. Gajah mena telali disiapkannya. Obor dinyalakan. Sebanyak empat puluh orang rombongan penjemput Krikam Manis.

Ibu Sutan Indah ikut juga, didampingi Sutan Indah. Ayahnya berada di muka sekali mengepalai rombongan. Ketika ayam berkokok, tibalah rombongan di hutan dekat pondok Krikam Manis. Krikam terkejut sekali melihat nyala obor yang banyak sekali. Dari jauh kelihatan olehnya rombongan orang yang banyak itu. Timbul takutnya, apalagi melihat orang yang di depan sekali sudah tua dan besar badannya serta membawa golok. Krikam tidak melihat Sutan Indah, karena Sutan Indah masih berada di belakang rombongan, karena sedang tertatih-tatih memapah ibunya.

Krikam Manis menyangka orang banyak itu akan berbuat iahat kepadanya dan mungkin pula ini adalah ayah Sutan Indah yang akan menghukumnya. Demikian pula dikiranya bahwa Sutan Indah telah dihukum lebih dahulu oleh ayahnya. Dengan tidak berpikir panjang lagi melompatlah Krikam Manis dari pondoknya melarikan diri ke dalam hutan meneròbos kegelapan malam.

Rombongan sampai di pondok Krikam Manis, tetapi ia tak ditemui lagi. Yang tinggal hanyalah secarik perca bekas sobekan selendang Krikam Manis yang tersangkut di pintu pondok, sebagai tanda bukti kebenaran Sutan Indah akan kata-katanya. Semua penjemput merasa kecewa, apalagi Sutan Indah yang merasakannya. Rombongan kembali ke kampung pagi itu. Sutan Indah pergi pula tak menentu arahnya, untuk mencari Krikam Manis.

Di suatu tempat dataran tinggi yang luas, Sutan Indah berhenti di bawah sebatang pohon yang rindang. Tak disadarinya serdam diangkatnya ke atas bibirnya, sambil air matanya berlinang-linang, mengalunkan rangkaian lagu kesedihan bercampur. Berhari-hari lamanya kekecewaan dan kepatahan hati:

“do legau alau moi das lengat,

duai legau ngan ratu panjang,

tlau legau ngan krikam manis . . . ”

Lagu yang pertama ini kupersembahkan ke atas langit, untuk para Dewa, keluarga Krikam Manis dengarlah . . . .

Lagu yang kedua kusampaikan kepada ibuku dan bapakku Ratu Panjang dan lagu yang- ketiga untukmu sayang, di mana saja kau berada, dengarlah . . . . dengarlah . . . .

Demikianlah hingga saat ini bila kita mendengar bunyi serdam di malam hari, teringat akan kisah Sutan Indah anak tunggal Ratu Panjang, bernasib malang. Hingga saat ini nasib Sutan Indah tiada diketahui lagi. Hanya tinggal legendanya saja berupa bukit Kaba yang berkawah. Kawahnya terjadi karena telah menelan anak Peri yang terjatuh dari pangkuan Krikam Manis. Suban Air Panas beserta kedua muara sungai di hilirnya adalah tempat peristirahatan Sutan Indah dan Krikam Manis yang sedang di dalam kegembiraannya dahulu. Dan menurut cerita pula, dataran bukit Seblat sebelah utara merupakan perhentian terakhir pengembaraan Sutan Indah.***tdb/tts/malaya.or.id

Wallahu a’lam

***Rujukan: Cerita Rakyat Daerah Bengkulu; Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah; Balai Pustaka

Gunung Kaba adalah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Rejang Lebong , Provinsi Bengkulu. Dari Kota Curup, gunung ini berada di sebelah tenggara dengan jarak sekitar 15 km.

Mulanya, Lokasi disekitar Gunung Kaba merupakan salah satu cagar alam untuk perlindungan bunga Rafflesia. Namun, kini kondisi daerah wisata ini mulai tidak dapat diandalkan sebagaimana tujuan awal dibuat, yakni untuk taman lindung bagi beberapa flora Sumatra.

Gunung dengan ketinggian 1.938 m dpl ini menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Puncak Gunung ini dihiasi dengan dua buah kawah yang masing-masing berwarna hijau dan putih kecoklatan. Terdapat dua buah jalur yang dapat ditempuh untuk mencapai puncak. Jalur pertama menyuguhkan pemandangan hutan lebat yang penuh semak belukar dengan jurang di kanan-kirinya. Sedang jalur yang lain telah dikeraskan dengan menggunakan aspal. Waktu tempuh dari pos pendakian menuju puncak adalah 2-3 jam perjalanan. (wikipedia)

• telah dilihat 271 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Legenda Bukit Kaba dan Sutan Indah

Tulisan Terkait

Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *