Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Hal hari akhirat dan hari kiamat merupakan salah satu rukun iman dalam agama Islam. Orang Islam wajib mempercayainya. Masalah inilah yang merupakan inti cerita dalam naskah yang berjudul “Akhbaru ‘l-Akhirati fi Ahwa’li-Qiyamat” artinya kabar akhirat dalam hal kiamat. Sudah barang tentu ceritanya amat menarik karena menceritakan kejadian yang mahadahsyat yang akan dialami oleh setiap orang yaitu hari kiamat, sakaratul maut, kehidupan sesudah mati, hal surga, hal neraka, dan sebagainya.

Cerita ini dikarang oleh pengarang terkemuka yaitu Nuruddin ar-Raniri, sebagaimana dijelaskan oleh P. Voorhoeve (1955), Tudjimah (1960), dan Ahmad Daudi (1978) yang telah menyusun daftar karangan Nuruddin ar-Raniri itu. Voorhoeve mendaftarkan 19 judul karangan Nuruddin ar-Raniri, Tudjimah mendaftarkan 23 judul, dan Ahmad Daudi mendaftarkan 29 judul. Ketiganya mencatat karangan Nuruddin ar-Raniri yang berjudul “Akhbaru ‘l-Akhirati fi Ahwali ‘l-Qiyamat” (selanjutnya disingkat “Akhbar”) ini. Bahkan Tudjimah menguraikan bab-bab cerita itu dan menjelaskan di mana naskahnya disimpan.

Nuruddin ibn Ali ar-Raniri (Arabic: نورالدين بن علي الريناري ) (www.writeopinions.com)

Nuruddin ar-Raniri adalah ulama besar dan pengarang besar. Riwayat hidupnya telah banyak ditulis orang, antara lain oleh Voorhoeve, (1959), Drewes (1955), Nieuwenhuijze (1945), Hoesein Djajadiningrat (1911), Tudjimah (1961), lskandar (1966), dan Ahmad Daudi (1978). Namun belum ada yang lengkap menuliskan riwayat hidupnya itu. Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad Ibn Ali Hamid ar-Raniri. Ia dilahirkan di Ranir (sekarang Render) yang terletak dekat Surat, Gujarat, India. Ia datang ke Aceh pada tanggal 6 Muharram 1047 H (31 Mei 1637) dan lama tinggal di Aceh, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani. Pada akhir hayatnyaja kembali ke Ranir dan meninggal di sana pada tanggal 22 Zulhijjah 1069 H (21 September 1658 M).

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Nuruddin ar-Raniri adalah pengarang besar dan banyak karangannya. Di antara karangannya yang telah diteliti dan diterbitkan yaitu “Bustanu ‘s-Salatin” (Bab II Fasal 13) oleh Iskandar (1966), “Asrar al-insan fi Ma’rifati ar-ruh wa ‘r-rahman” oleh Tudjimah (1961), “Ma’u ‘l-hayat li ahl al mamat” oleh Ahmad Daudi (1978) “Hujjatu ‘l-Siddiq li Daf’i Zindiq” oleh Syed Muhammad Naguib Al-Attas (1966), dan “Tibyan fi Ma’rifati ‘l-Adyan” dan ‘Hujjatu ‘l-Siddiq li Daf’i Zindiq” oleh Voorhoeve (1955).

Naskah “Akhbar” ini ada sembilan naskah, tiga di antaranya terdapat di Museum Nasional, yaitu Ml. 803 (v.d.W. 48), Ml. 805 (v.d.W. 21), dan Ml. 804 (Br. 275). Naskah ini berbahasa Melayu dan ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Naskah ini belum pernah diteliti, ditransliterasikan (dialihaksarakan), dan dibicarakan secara mendalam. Ceritanya cukup populer khususnya di Aceh dan amat menarik isinya. Hal inilah salah satu sebab yang mendorong kami mentransliterasikannya.

Cerita “Akhbar” ini dikarang oleh Nuruddin ar-Raniri pada tahun 1052 H (1642 M) atas perintah Sultan Safiatuddin. Bahan-bahannya diambil dari kitab “Dakaik al Hakaik”, “Durrat al-Fahira min Kasyf Awwam alakhirat” oleh Ghazali; “Ajaib al-Malakut” oleh Syekh Ibn Ja’far Muhammad bin Abdul ‘-Lah al-Kisai”, “Bustan” oleh Abd. al-Laith dan Tafsir Mu’allin al-Tansil (Tudjimah, 1961:17).

Cerita mengenai kehidupan sesudah mati, cerita mengenai hari akhirat, cerita hari kiamat, cerita mengenai surga dan neraka biasa disebut dengan istilah eskatologi. Dalam sastra Indonesia lama cerita mengenai hal ini dapat pula kita baca dalam “Hikayat Raja Jumjumah”, “Hikayat Nabi Mikraj”, dan “Hikayat Seribu Masalah”.

Dalam “Hikayat Raja Jumjumah” (lihat Djamaris, 1973:46) diceritakan kisah pengalaman Raja Jumjumah tatkala ia menghadapi maut, pengalamannya dalam kubur, di alam barzakh, macam-macam siksa neraka, pertemuannya dengan para malaikat, dan sebagainya. Cerita itu disampaikannya kepada Nabi Isa setelah Nabi Isa menghidupkannya kembali. Cerita pengalaman Raja Jumjumah di akhirat sampai ia dihidupkan kembali oleh Nabi Isa itulah inti cerita “Hikayat Raja Jumjumah” itu.

Dalam “Hikayat Nabi Mikraj” (lihat Djamaris, 1973 25—52) terdapat pula cerita mengenai kehidupan di akhirat itu. Tatkala Nabi Muhammad saw. mikraj ke langit, kepadanya diperlihatkan bermacam-macam siksa yang dialami oleh orang neraka, macam-macam kenikmatan yang dialami oleh orang di surga, bertemu dengan para malaikat, para nabi, dan sebagainya.

Demikian pula dalam “Hikayat Seribu Masalah” (Lihat Djamaris, 1972: 59—70), Nabi Muhammad SAW. atas pertanyaan pendeta Yunani Adullah Ibn Salam menjelaskan keadaan di neraka, macam-macam siksa neraka, keadaan di Padang Mahsyar, tugas para malaikat, keadaan di surga, macam-macam kenikmatan di surga, tanda-tanda hari kiamat, keadaan pada hari kiamat, dan sebagainya.

Hanya saja dalam hikayat-hikayat yang dikemukakan di atas itu tidak secara khusus menceritakan hal kiamat dan hari akhirat itu tetapi merupakan bagian cerita. Sedang dalam naskah “Akhbar” ini hal kiamat dan hari akhirat serta hal surga dan neraka inilah inti ceritanya. Inilah satu hal lagi yang menentukan pentingnya cerita dalam naskah “Akhbar” ini. Bagi yang ingin mengetehui dan meneliti cerita mengenai eskatologi dalam agama Islam atau kepercayaan orang Islam terhadap hari akhirat ini, sudah barang tentu naskah cerita “Akhbar” ini merupakan sumber utama di samping sumber lainnya.

Cerita dalam naskah “Akhbar” yang bernomor Ml.804 (Br. 275) ini terbagi 7 bab yaitu: (1) Nur Muhammad, (2) Kejadian Nabi Adam a.s. (3) Maut dan Sakaratul Maut, (4) Tanda-tanda Hari Kiamat, (5) Hal Kiamat, (6) Hal Neraka dan Isinya, dan (7) Sifat Surga dan Hakikat segala Isinya.

Memang dua bab permulaan mengenai Nur Muhammad dan kejadian Nabi Adam a.s. (33 halaman) kurang relevan dengan inti ceritanya, tetapi lima bab berikutnya (205 halaman) merupakan inti cerita itu, sesuai dengan judulnya.

Cerita Nur Muhammad ini terdapat secara khusus dalam beberapa naskah. Di Museum Nasional terdapat 7 naskah berjudul “Hikayat Nur Muhammad” ini (Van Ronkel, 1909; 222-224; atau Sutaarga, 1972: 172—173), Cerita mengenai Nur Muhaftimad ini juga kita jumpai dalam beberapa hikayat. Menurut Juynboll (1899:202) riwayat kejadian Nur Muhammad terdapat dalam “Hikayat Muhammad Hanafiah” dan “Hikayat Syah i Mardan”. Di samping itu dalam beberapa naskah “Undang-undang Minangkabau” terdapat pula cerita Nur Muhammad ini, misalnya dalam naskah yang bernomor Cod. Or. 12.125 (Oph 3, 8) dan Cod. Or. 12.139 (Oph 17. 12) (Lihat Van Ronkel, 1921: 247—249).

Demikian pula cerita penciptaan Nabi Adam. Cerita ini biasanya terdapat dalam Hikayat Nabi-nabi atau Hikayat Anbiya. Namun sering pula disisipkan dalam cerita lain, misalnya dalam naskah Undangundang Minangkabau Ml,429 (Lihat Sutaarga, 1972:225).

Selanjutnya mulai bab III sampai bab terakhir, bab VII, merupakan inti cerita yaitu mengenai mati dan kehidupan sesudah mati. Bab III berjudul, “Maut dan Sakaratul Maut” terbagi atas 12 fasal. Dalam bab ini dikisahkan jawab nyawa kepada malaikat maut tatkala malaikat maut hendak mencabut nyawa orang itu; suara dari langit, bumi, dan dari kubur tatkala orang sedang sakaratul maut; hal nyawa ketika bercerai dengan badan; hal orang yang ditinggalkan mayat; hal tatkala nyawa keluar dari badan; peristiwa malaikat masuk dalam kubur; hal Malaikat Munkar dan Nakir menanyai mayat dalam kubur; hal Malaikat Katibin dan Kiraman menanyai orang dalam kubur; dan hal nyawa tatkala kembali melihat jasadnya dalam kubur.

Bab IV yang berjudul, “Tanda-tanda Kiamat” terbagi pula atas 7 pasal. Dalam bab ini dikisahkan berturut-turut keluarnya Imam Mahdi mengalahkan negeri Qustantiniyah; hal Dajjal dan sifat-sifatnya; Nabi Isa turun membunuh Dajjal; keluar Yajuj dan Majuj, lasykar Habsyah meruntuhkan Ka’bah; matahari terbit di sebelah barat; dan hal keluarnya Dabbatul Ard dan sifat-sifatnya.

Bab V mengisahkan tentang hari kiamat. Bab ini merupakan bab yang paling panjang dalam cerita ini, terbagi atas 7 pasal. Dalam bab ini diceritakan peristiwa ditiupnya Sangkakala sebagai tanda hari kiamat; peristiwa musnahnya semua makhluk; peristiwa di Padang Mahsyar; peristiwa bangkitnya manusia dari kuburnya; macam-macam rupa di Padang Mahsyar; keadaan di Padang Mahsyar; dan panji-panji di Padang Mahsyar.

Bab VI mengenai neraka dan isinya. Bab ini tidak terbagi dalam fasal dan tidak begitu panjang jalan ceritanya, sama halnya dengan bab terakhir, bab VII. Dalam bab VI ini diceritakan antara lain tempat neraka, macammacam, neraka, dan macam-macam azab di neraka.

Akhirnya, bab VII mengenai surga dan isinya. Sudah barang tentu cerita ini merupakan cerita yang menyenangkan. Diceritakan dalam bab ini mengenai macam-macam surga, hal-hal yang terdapat di surga seperti sungai, pohon, makanan, bidadari, pergaulan orang di surga; dan macammacam kenikmatan lainnya.

Cerita “Akhbar” ini membuka rahasia kegaiban alam akhirat dan hari kiamat. Cerita ini didasarkan ada ayat-ayat Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW. di samping interpretasi pengarangnya dan unsur kepercayaan masyarakat pada zaman itu. Dengan membaca cerita ini kita dapat mengetahui kepercayaan masyarakat Islam tentang hari akhirat dan kiamat itu.

Adanya unsur interpretasi masyarakat atau kepercayaan masyarakat pada zaman itu masuk dalam cerita ini terbukti dari pernyataan dalam naskah yang berbunyi:

“Kata Mu’allif gafara ‘l-Lahu ‘anhu, ‘Bahwa riwayat ini tiada kulihat pada asal Arabinya. Wa ‘l-Lahu a’lam”.

Pernyataan ini sering kita jumpai dalam naskah (Lihat antara lain pada naskah halaman 96,108, 112, dan 155). Pernyataan ini menunjukkan kepada kita bahwa penulis hanya menyajikan saja bagian cerita itu dengan apa yang didengarnya atau dibacanya. Misalnya, cerita tentang kematian Dajjal pada bagian akhir cerita (lihat naskah halaman 108). Diceritakan, ketika Dajjal melihat Nabi-Isa, Dajjal itu lari. Nabi Isa memerintahkan bumi menangkap kaki Dajjal itu. Dajjal itu terperosok kakinya ke bumi hingga lututnya. Nabi Isa segera datang lalu ditikamnya Dajjal itu hingga mati. Sesudah itu kita jumpai pernyataan Nuruddin ar-Raniri seperti kutipan di atas. Jelaslah bahwa sumber cerita itu tidak berdasarkan Quran atau Hadis Nabi Muhammad.

Sudah barang tentu fungsi cerita ini dapat mempertebal iman seseorang, khususnya mengenai rukun iman yang wajib dipercayai yaitu percaya kepada hari akhirat dan hari kiamat. Kepercayaan akan hal ini tentu akan mendekatkan orang kepada ajaran agama sehingga bertambah tebal iman seseorang dan bertambah pula ketakwaannya kepada Allah SWT. Cerita mengenai siksa neraka, umpamanya, dapat mempengaruhi orang untuk tidak berbuat dosa, sedang cerita mengenai nikmat dalam surga akan mendorong orang untuk berbuat baik, menjalankan perintah Tuhan dan meninggalkan larangan-Nya.

 

Singkatan Isi Cerita Kitab “Akhbarul-Akhirati fi Ahwali-Qiyamat”

Pendahuluan cerita ini dimulai dengan bismillah dan pujian kepada Allah SWT dalam bahasa Arab. Kemudian dijelaskan pembagian cerita itu dalam tujuh bab, masing-masing disebutkan judul-judul bab itu dalam bahasa Arab dan terjemahannya.

Bab pertama mengenai Nur Muhammad. Nur Muhammad adalah makhluk yang pertama diciptakan Allah Taala. Alam semesta ini diciptakan karena Nur Muhammad ini. Nur Muhammad ini digambarkan seumpama merak, ia ditempatkan Allah pada pohon sajaratu ‘l-yaqin. Nur Muhammad itu sujud kepada Allah Taala selama 70.000 tahun serta mengucapkan tasbih. Nur Muhammad dilihat oleh Allah dan ia malu dan sujud lima kali. Itulah sebabnya manusia diwajibkan sembahyang lima kali sehari semalam. Nur Muhammad berpeluh dilihat oleh Allah. Peluh Nur Muhammad itu ada yang jadi malaikat, arasy, kursi, luh, matahari, bulan, dan lain-lain.

Semua arwah diperintahkan Allah melihat Nur Muhammad. Bila arwah melihat kepala Nur Muhammad, ia akan menjadi raja atau khalifah; bila yang terlihat keningnya, ia akan menjadi penulis. Demikian seterusnya, bermacam-macam derajat orang tergantung apa yang dilihatnya dari Nur Muhammad itu (him. 2—10).

Dalam bab II, kejadian Nabi Adam, diceritakan, Tuhan menciptakan insan dari tanah. Malaikat Izrail diperintahkan Tuhan mengambil segala jenis tanah. Tanah itu dicampur dengan empat jenis air surga. Inilah yang merupakan lembaga Nabi Adam. Nyawanya diislamkan. Pada dahinya terlihat cahaya Nur Muhammad. Semua malaikat sujud kepada Nabi Adam. Setelah itu Nabi Adam diiringkan oleh malaikat masuk surga. Siti Hawa diciptakan dari rusuk Nabi Adam.

Nabi Adam dikeluarkan dari surga karena melanggar perintah Tuhan yaitu memakan buah khuldi. Nabi Adam di dunia terpisah dari Siti Hawa; Nabi Adam sampai di Pulau Selong dan Siti Hawa di Jiddah. Nabi Adam bertemu lagi dengan Siti Hawa ketika naik haji di Arafah. Setelah itu mereka baru melahirkan anak. Setiap lahir anaknya kembar dua dan melahirkan sebanyak dua puluh kali. Anaknya yang terakhir tunggal yaitu Nabi Sis yang kelak menggantikan Nabi Adam sebagai khalifah. Ketika wafat anak cucu Nabi Adam 40.000 orang. (him. 10—33).

Bab III berjudul Maut dan Sakaratul Maut itu terbagi dalam 12 pasal. Pada awal bab ini diceritakan asal-usul maut itu diciptakan Tuhan. Tuhan menciptakan maut itu untuk mencabut nyawa makhluk. Malaikat Izrail diperintahkan Tuhan mengatur tugas malaikat maut itu. Malaikat maut tinggal di langit yang ketujuh, badannya tiada terkira besarnya. Pasal 1 mengisahkan jawab nyawa kepada malaikat maut. Diceritakan, barangsiapa senantiasa menyebut-nyebut nama Allah maka hilanglah rasa sakit mati itu. Bila manusia beriman dan banyak amal saleh malaikat maut berhati-hati mencabut nyawa orang itu. Nyawa bermohon kepada jasadnya ketika sakaratul maut itu.

Pasal 2 mengisahkan setan berusaha meninggalkan iman orang mukmin. Diceritakan bahwa tatkala sakaratul maut itu orang disuruh oleh setan meninggalkan agama dan mengatakan Tuhan itu dua. Pada waktu sakaratul maut itu orang sedang haus. Setan datang menggoda dengan membawa air. Setan berjanji memberikan air itu bila orang yang sakaratul maut itu mau mengatakan bahwa rasul itu dusta.

Selanjutnya diceritakan bahwa bila seseorang telah mati maka hartanya diambil oleh warisnya, nyawanya diambil oleh malaikat maut, dagingnya dimakan ulat, tulangnya dimakan tanah, dan amalnya diambil oleh orang yang dianiayanya. Inilah sejelek-jelek perceraian badan dengan nyawa.

Diceritakan pada pasal 3 bahwa tatkala orang sudah mati terdengar suara dari langit dan dari bumi yang mengerikan mengingatkan orang yang tertawa di atas bumi dan menangis di dalam kubur, bersama-sama di dunia seorang diri di dalam kubur.

Hal ini dilanjutkan dalam pasal 4 yaitu suara bumi dan kubur. Kubur mengingatkan bahwa ia adalah rumah ular, rumah yang gelap, rumah tempat Malaikat Munkar dan Nakir menanyai setiap isi kubur.

Tatkala nyawa bercerai dari badan, diceritakan dalam pasal 5, tiada yang terlebih sakit daripada tatkala keluar mayat itu dari rumahnya, dimasukkan ke dalam liang lahad, dan tatkala ditimbuni dengan tanah.

Selanjutnya dalam pasal 6 diceritakan diharamkan Allah orang memekik-mekik dan memukul-mukul dada ketika bercerai dengan mayat. Sedang pada pasai 7 anjuran agar orang sabar menghadapi musibah kematian itu.

Pada pasal 8 diceritakan, ketika keluar nyawa dari badan bertemu ia dengan macam-macam malaikat yaitu malaikat yang memegang rezeki, malaikat yang memegang nafas, malaikat yang memegang ajal, malaikat yang memberikan azab, dan sebagainya. Setelah mayat berada dalam kubur, nyawa kembali ke badannya sehingga ia merasakan kesenangan dan kesakitan di dalam kubur.

Pasal 9 mengisahkan malaikat maut masuk ke dalam kubur dahulu daripada Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir. Disuruh oleh malaikat maut menuliskan amalnya tatkala di dunia dengan telunjuk sebagai pena, air ludah sebagai dawat, dan kain kafan sebagai kertasnya. Manusia malu menuliskan kejahatannya tetapi dipaksa oleh malaikat maut.

Setelah malaikat maut selesai menjalankan tugasnya itu, barulah Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir menanyai mayat dalam kubur. Hal ini diceritakan dalam pasai 10. Suara malaikat itu seperti halilintar, matanya seperti kilat.

Pada pasal 11 diceritakan Malaikat Katibin menuliskan amal kejahatan, Malaikat Kiraman menuliskan amal saleh. Tiap orang dijaga lima orang malaikat.

Akhirnya pada pasal 12 diceritakan hal kembali nyawa itu kepada badannya dalam kubur. Pertama, setelah tiga hari dalam kubur, nyawa melihat badannya sudah mengalir air dari hidungnya dan mulutnya. Kedua, setelah lima hari kembali lagi nyawa melihat badannya. Tatkala itu tubuhnya sudah bernanah dan berdarah. Ketiga, setelah tujuh hari, tatkala itu tubuhnya sudah berulat. Nyawa itu menangis melihat tubuhnya itu. Keempat, setelah sebulan ia mengelilingi kuburannya. Dan terakhir, yang kelima, setelah setahun nyawa pergi ke tempat perhimpunan segala nyawa sampai hari kiamat. Ada yang mengatakan nyawa itu tinggal di liang sangkakala. (hlm. 33—92).

Bab IV mengenai tanda-tanda kiamat terdiri atas 7 pasal. Dalam pendahuluan bab ini dijelaskan bahwa apabila sudah dekat kiamat dibinasakan semua negeri, Mekah dibinasakan Allah dengan kaum Habsyah, Medinah dengan kaum kafir, Armaniah dibinasakan dengan kilat, dan sebagainya.

Tanda kiamat dua macam yaitu tanda batin dan tanda zahir. Tanda batin yaitu mesjid bagus tetapi orang sembahyang sedikit, banyak orang suka mencari maki, banyak perempuan mengendarai kuda, banyak laki-laki berahi pada laki-laki, perempuan berahi perempuan, dan sebagainya. Tanda zahir di antaranya keluar asap memenuhi dunia, keluar Imam Mahdi, Dajjal, matahari terbit dari barat, Nabi Isa turun. keluar Yajuj dan Majuj.

Pasal 1 keluar Imam Mahdi mengalahkan negeri Qustantiniyah. Mula mula Imam Mahdi mengalahkan negeri Rum, setelah itu baru negeri Qustantiniyah. Diberitakan Dajjal ke luar.

Pasal 2 Dajjal keluar antara negeri Irak dan Mesir. Dajjal adalah tukang fitnah yang paling besar. Matanya buta sebelah. Ia mengaku dirinya Tuhan. Dengan tipu dayanya, ia menghidupkan orang mati hingga orang percaya bahwa Dajjal itu Tuhan. Langit disuruhnya menurunkan hujan, dan bumi menumbuhkan bermacam-macam tumbuh-tumbuhan. Semua negeri dikalahkannya kecuali negeri Mekah dan Medinah karena kedua negeri itu dijaga oleh malaikat. Banyak orang yang mengikuti perintah Dajjal kecuali orang yang mendapat petunjuk dari Allah.

Ada yang mengatakan Dajjal itu ke luar antara negeri Ahwan dan Isfahan. Ia berkendaraan keledai yang amat besar. Manusia banyak berlindung di bawah telinganya. Ia bertemu dengan Nabi Khidir dan dibunuhnya Nabi Khidir itu. Imam Mahdi keluar memerangi Dajjal hingga matilah lasykar Dajjal.

Pasal 3 Nabi Isa datang dengan Jibrail dan 70.000 malaikat. Ia bertemu dengan Imam Mahdi. Dajjal disertai 70.000 tentara Yahudi. Tatkala Dajjal melihat muka Nabi Isa, hancur mukanya dan lasykarnya pun musnahlah.

Ada yang mengisahkan, tatkala Dajjal melihat muka Nabi Isa, ia lari. Bumi menangkap kaki Dajjal itu lalu ditikam oleh Nabi Isa hingga ia mati. Nabi Isa tinggal di dunia 40 tahun. Waktu itu rakyat hidup makmur dan aman.

Pasal 4 Yajuj dan Majuj. Dikisahkan silsilah keturunan Yajuj dan Majuj itu. Mereka anak Yapit. Mereka membinasakan makhluk di langit karena anak panahnya yang sakti itu berlumur darah jatuh dari langit. Kaum Hulat membinasakan kaum Yajuj dan Majuj itu.

Pasal 5 mengisahkan kaum Habsyah hendak meruntuhkan Kaabah. Kaum Habsyah mendengar bahwa Nabi Isa sudah mati. Mereka pergi ke Kaabah lalu dihancurkannya Kaabah itu. Batu Kaabah itu dilemparkannya ke laut. Orang Islam kalah dan tidak ada lagi orang naik haji. Pada waktu itu matahari terbit dari magrib (barat).

Pasal 6 mengenai matahari terbit dari barat. Jibrail diperintahkan Allah pergi kepada matahari dan bulan menyuruh matahari dan bulan itu terbit dari arah barat. Sejak itu matahari dan bulan terbit dari barat, dan tidak bercahaya lagi. Matahari dan bulan tobat kepada Allah. Sesudah itu matahari dan bulan bercahaya lagi.

Pasal 7 tentang Dabbatu ‘l-ard keluar. Dabbatu ‘l-ard itu kepalanya seperti kepala lembu, matanya seperti mata babi, telinganya seperti telinga gajah, dan sebagainya. Ia keluar dari Bumi Safa dan Marwah yaitu Mekah. Ia naik ke udara sehingga ia melihat semua manusia. Ia membawa tongkat Nabi Musa dan cincin Nabi Sulaiman. Tatkala itu lahir kaum munafik, kafir, dan ahli fitnah. Ia membedakan kaum Islam dan kaum kafir. Semua orang Islam diambil arwahnya hingga yang tinggal kaum kafir. Setelah itu barulah terjadi kiamat. (hlm. 92—123).

Bab V merupakan bab yang paling panjang yaitu mengenai kiamat. Bab ini terbagi atas tujuh fasal. Pada mulanya diceritakan mengenai Malaikat Israfil dan tugasnya. Apabila sampailah umur dunia ini, diperintahkan Allah Malaikat Israfil meniup sangkala hingga matilah isi tujuh petala langit dan bumi. Diceritakan pula rupa sangkala itu.

Dalam fasal 1 dikisahkan tatkala sangkala ditiup terkejut segala manusia, bumi bergoncang sangat hebatnya selama 40 tahun. Diceritakan bahwa Tuhan menciptakan 100 rahmat, sedang yang diturunkan ke dunia hanya satu rahmat.

Pasal 2 mengisahkan hal fana segala makhluk. Bila malaikat maut datang kepada laut, laut menjadi kering, bila datang kepada bukit, bukit pun runtuh, bila datang ke langit, matahari, bintang, dan bulan berkumpul. Setelah semuanya fana, hancur, malaikat maut mencabut nyawa Malaikat Jibrail, Malaikat Israfil, dan Malaikat Mikail. Dan akhirnya malaikat maut sendiri mencabut nyawanya.

Ada yang berpendapat bahwa semua fana kecuali arasy, kursi, luh, qalam, surga, neraka, dan nyawa. Ada pula yang mengatakan semua fana kecuali firman Allah.

Pasal 3 mengisahkan makhluk berhimpun di Padang Mahsyar. Pertama sampai di Padang Mahsyar ialah Malaikat Israfil. Kemudian Malaikat Jibrail, Malaikat Mikail, dan Malaikat Izrail. Keempat malaikat ini pergi kepada Malaikat Ridwan menyuruh menghiasi surga. Borak adalah binatang yang pertama dihidupkan. Dengan borak itu keempat malaikat itu menjemput Nabi Muhammad. Nabi Muhammad membawa panji-panji Liwa’u ‘l-Muhammad.

Pasal 4 mengisahkan Israfil meniup sangkakala yang ketiga kalinya hingga semua makhluk hidup. Makhluk bangkit dari kuburnya dua belas jenis, ada yang seperti babi, kera, buta tuli, berdarah dan bernanah mulutnya, terbakar dari api neraka, orang mabuk, dan ada yang lidahnya keluar seperti lembu.

Kisah mengenai Padang Mahsyar ini dilanjutkan pada Pasal 5. Diceritakan orang yang sembahyang keluar dari kuburnya bercahaya dahinya; orang puasa diberi makan yang nikmat-nikmat; orang yang mati sahid, orang yang puasa, orang yang naik haji bersalam-salam dengan para malaikat.

Pada hari kiamat itu manusia dibangkitkan telanjang berdiri selama empat puluh tahun tiada makan dan minum. Semua nabi, keluarganya, orang yang puasa tiada haus dan lapar di Padang Mahsyar. Mereka berkendaraan menuju Padang Mahsyar itu. Semua makhluk berhimpun dalam 120 saf, panjang saf itu 40.000 tahun perjalanan. Barangsiapa menyembelih korban berkendaraan di sana.

Pasal 6 mengisahkan keadaan makhluk di Padang Mahsyar. Semua makhluk berjalan dalam tiga kaum yaitu kaum mukmin, kaum munafik, dan kaum kafir. Orang yang dapat naungan di Padang Mahsyar tujuh golongan yaitu raja yang adil, orang muda yang saleh, laki-laki yang berkasih-kasih karena Allah, laki-laki yang menolak godaan perempuan, orang yang memberi sedekah, orang yang senantiasa menyebut nama Allah, orang yang sering pergi ke mesjid. Semua makhluk ditimbang amalnya di Padang Mahsyar itu.

Pasal yang ketujuh merupakan fasal yang paling panjang dalam bab ini mengisahkan hal Liwa’u ‘l-hamdu. Panji-panji Liwa’u ‘l-hamdu itu panjangnya 1000 tahun perjalanan, terbagi dalam tiga bagian. Di bawah panji-panji itu malaikat. Di samping itu ada panji-panji Abu Bakar, Usman, Ali. Makhluk bangkit dari kuburnya itu ada yang hitam mukanya, ada yang putih, ada yang bercahaya-cahaya. Dibangkitkan Allah makhluk itu dari kuburnya sesuai dengan amalnya. Malaikat turun dari langit mengelilingi mereka itu. Makhluk bertindih-tindihan, matahari rendah sekali seolah-olah bisa dijangkau dengan tangan. Anak yang saleh berfaedah di Padang Mahsyar itu. Mereka memberi air yang sejuk kepada orang tuanya.

Makhluk minta Nabi Adam supaya memohonkan kepada Tuhan terlepas mereka dari siksa Padang Mahsyar itu. Nabi Adam tidak bersedia karena malu kepada Tuhan. Ia dulu melanggar larangan Tuhan memakan buah khuldi di surga. Demikian pula nabi-nabi yang lainnya, setelah diminta oleh makhluk memohonkan kepada Tuhan terlepas dari siksa Padang Mahsyar, nabi-nabi itu menolaknya, di antaranya Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Akhirnya Nabi Muhammadlah yang bersedia memohon kepada Allah menghentikan siksa Padang Mahsyar itu. Selanjutnya makhluk pergi menuju titian siratal mustaqim. Tuhan memasukkan kaum Nabi Nuh masuk neraka, demikian pula kaum Ad, Samud, Ibrahim, Musa karena tidak mengindahkan firman Allah yang dibawanya. Nabi Muhammad sebagai saksi terhadap umat nabi-nabi itu. Demikian pula kaum Nasrani seolah-olah tidak mendengar ayat yang dibacakan oleh Nabi Isa. Kaum Nabi Adam 99 bagian masuk neraka, hanya satu bagian yang masuk surga.

Semua makhluk isi neraka sudah masuk neraka, tinggal orang mukmin. Orang mukmin dicobai imannya dengan jalan malaikat pura-pura sebagai Tuhan. Orang mukmin yang kuat imannya tiada mau mengakuinya. Orang yang tobat diampuni Allah dosanya dan masuk surga.

Orang muda yang saleh masuk surga dengan panji-panji Nabi Yusuf. Orang yang berkasih-kasihan karena Allah masuk surga dengan panji-panji Nabi Harun. Orang yang menangis karena takut kepada Allah masuk surga dengan panji-panji Nabi Nuh. Orang yang mati sahid masuk surga dengan panji-panji Nabi Ibrahim. Orang fakir masuk surga dengan panji-panji Nabi Isa.

Semua raja dan orang kaya yang lupa berbuat ibadah merasa malu di hadapan Allah karena Nabi Sulaiman yang terlebih besar kerajaannya tiada lupa berbuat ibadah kepada Allah. Demikian pula orang yang kena bala yang lupa berbuat ibadat kepada Allah merasa malu karena Nabi Ayub lebih besar bala yang diterimanya tidak lupa berbuat ibadah. Demikian pula orang yang fakir, orang yang cantik merasa malu kepada Nabi Isa dan Nabi Yusuf. (hlm. 123—203).

Bab IV Hal Neraka dan Isinya

Diceritakan, neraka itu tempatnya di bawah tujuh petala bumi, terdiri atas tujuh pintu dan tujuh lapis. Api neraka itu dinyaiakan 1000 tahun lamanya. Dalam neraka itu ada telaga dan sungai. Disebutkan macam-macam neraka, di antaranya neraka Jahannam. Neraka Jahannam itu tempat orang yang berdosa besar tanpa tobat. Nabi Muhammad mendengar kisah mengenai neraka itu menangis dan memohon kepada Allah agar umatnya terhindar dari azab neraka Jahannam itu. Selanjutnya cerita macam-macam azab di neraka (hlm. 204—216).

Bab VII Hal Surga dan Isinya

Diceritakan surga itu 100 pangkat. Surga yang pertama dari perak, kedua dari emas, ketiga dari zabarjad, sedang yang 77 lagi tiada diketahui terbuat dari apa.

Surga itu delapan pintu, bertatahkan yakut dan manikam. Disebutkan nama-nama surga itu, yaitu di antaranya Darul Jannah, Darul Jalal, dan Jannatu Adnin.

Air sungai di surga itu bermacam-macam, ada yang lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih harum dari kesturi. Ada yang mengatakan air sungai itu empat macam yaitu air bening, air susu, air khamar, dan air madu. Pohon di surga senantiasa berbuah dan dapat diambil sambil berdiri, sambil duduk, atau sambil berbaring. Pohon sidratul mutaha di dalam surga Jannatul Ma’wa. Bidadari dalam surga itu berwarna putih, hijau, kuning, dan merah; bergelang emas dan bercincin.

Selanjutnya diceritakan tentang surga Jannatu Adnin, macam-macam buah-buahan di surga. Makanan pertama di surga itu hati ikan Nun. Semua orang isi surga itu saling berkunjung-kunjungan. Tiap orang memakai sepuluh cincin. Akhirnya bagian cerita ini ditutup dengan doa dan pujian kepada Allah SWT. (hlm. 216—240).***tdb

Wallahu a’lam

***Rujukan: Dr. Edwar Djamaris; Mengenal Khazanah Sastra Melayu Klasik; Balai Pustaka

Nuruddin Al-Raniri  (Arabic: نورالدين بن علي الريناري‎) (lengkap: Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi) adalah ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).

Syaikh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644.

Ar Raniri memiliki pengetahuan luas yang meliputi tasawuf, kalam, fikih, hadis, sejarah, dan perbandingan agama. Selama masa hidupnya, ia menulis kurang-lebih 29 kitab, yang paling terkenal adalah “Bustanus al-Salatin”. Namanya kini diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama (IAIN) di Banda Aceh. (wikipedia)

• telah dilihat 552 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Khabar Akhirat dalam Hal Kiamat dari Syeikh Nuruddin ar-Raniri

Tulisan Terkait

  • Tidak Ada Tulisan Terkait
Tag pada:        

4 gagasan untuk “Khabar Akhirat dalam Hal Kiamat dari Syeikh Nuruddin ar-Raniri

  • 15 November 2015 pukul 21:39
    Permalink

    “…Di samping itu ada panji-panji Abu Bakar, Usman, Ali…”
    Umar gak ada kah?

  • 15 November 2015 pukul 22:13
    Permalink

    Subhanallah. InsyaAllah bertambah iman dan taqwa

  • 13 Januari 2016 pukul 17:55
    Permalink

    Assalamualaikum wr.wb,
    Apabila kita mentafsirkan ayat alquran, bacalah alquran dengan tartil dan janganlah setengah2.
    Soal nabi Isa sebenarnya sudah jelas Allah firmankan pada alquran bahwa beliau sudah wafat dan tidak turun lagi kebumi dlm bentuk apapun juga.
    Firman2 Allah S.W.T sbb,
    surat an nisa ayat 156 sampai dengan 162.
    Ahlikitab(kaum yahudi) tidak pernah mengakui bahwa isa a.s adalah rasul Allah karena menganggap bahwa isa adalah anak dari perzinahan.
    mereka dengan sombong mengatakan bahwa mereka telah membunuh isa dan menyalibnya,padahal mereka telah menangkap orang yg mirip dengan isa bagi mereka oleh sebab mereka sendiri tidak mengenal isa yg benar seperti wajah,ketinggian badan dll.yg mengetahui soal isa adalah murid2 isa selama tiga setengah tahun mereka bersama isa.setelah mereka membunuh dan menyalib “isa”,merekapun berselisih paham soal orang yg mereka bunuhdan juga ragu2 ssiapa yg mereka bunuh itu,hanya menurut perasangkaan belaka dan akhirnya mereka tidak yakin bahwa mereka membunuh isa.
    sebenarnya yg mengetahui itu bukan isa hanya murid2nya nabi isa a.s.dan ibunya saja.
    rupanya Ahlikitab salah bunuh orang.
    Sebenarnya Allah telah mewafatkan isa sebelumnya.
    dan ayat 159, yg berbunyi,
    Tidak ada seorangpun dari ahlikitab,kecuali akan beriman kepadanya(isa)sebelum kematiannya.Dan di hari kiamat nanti isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

    ayat ini sebenarnya ditujukan untuk Ahlikitab, bahwa mereka tidak akan beriman kepada nabi isa sampai mereka mati dan setelah kematian mereka ,iman mereka tidak ada gunanya lagi.
    ayat ini diperkuat oleh Allah pada firmanNYA surat an nahl ayat 89 yg berbunyi,
    Dan ingatlah akan hari ketika kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan kami datangkan kamu (muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia.Dan kami turunkan kepadamu al kitab(alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

    jelaslah bahwa nabi isa a.s tidak turun lagi dalam bentuk apa pun juga.

    ingatlah kalian bahwa setiap nabi yg di utus oleh Allah ,dimusuhi oleh kaumnya sendiri.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *