» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Merdeka.com – Imbas kabut asap terhadap kehidupan manusia memang tak ada hentinya. Tidak cuma membikin sakit, asap juga membuat kondisi kesehatan menurun.

Lebih buruk lagi, aktivitas sehari-hari juga terganggu. Terutama bagi anak-anak. Mereka tak lagi leluasa bermain apalagi belajar.

Proses belajar mengajar mengalami kesulitan. Sekolah pun terpaksa buka tutup. Sebab hanya itu solusi bisa dilakukan. Sebab sering-sering keluar rumah dan terpapar asap bisa membunuh anak perlahan-lahan. Contohnya sudah ada beberapa anak tewas sebagai dampak dari asap.

Contoh nyata, para orangtua di Kota Pekanbaru dan sekitarnya kini cemas. Sebab, anak-anak mereka mulai stres akibat terpapar asap melanda daerah itu, sejak tiga bulan terakhir.

Seorang warga Kelurahan Kampung Tengah, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru, Jasmaniar (45) mengatakan, dampak asap berimbas menjadi beban mental kepada anaknya, Keysa (10). Keysa saat ini duduk di kelas V sekolah dasar.

“Kondisi darurat asap yang kian bertambah pekat ini, telah menimbulkan stres dan kecemasan pada anak saya, yang ditunjukkannya dalam bentuk kegelisahan, mengeluh sakit di dada, mimpi buruk, mengigau, demam tinggi,” kata Jasmaniar.

Padahal, lanjut Jasmaniar, pada Oktober ini anak-anak sedang menghadapi ujian tengah semester (UTS). Setelah pulang sekolah, mereka justru mengeluh UTS tidak bisa dikerjakan dengan baik.

“Bagaimana aku bisa lulus UTS mama, kepalaku pusing, perut mual-mual mau muntah rasanya. Membaca soal itu saja aku tidak bersemangat,” ujar Jasmaniar menirukan Keysa.

Senada dengan Jasmaniar, Hafifah (38) mengatakan, anaknya sering berperilaku sulit atau tidak kooperatif, ketakutan, dan lainnya sebagai dampak dari resiko terpapar asap.

Seharusnya, lanjut Jasmaniar, semua pihak sadar bencana asap telah menimbulkan banyak kerugian, sehingga pembakaran lahan dan hutan tidak lagi dilakukan.

Beruntung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, sigap terhadap kondisi itu. Menurut dia, ada beberapa solusi buat pelajar dan sekolah di daerah terpapar kabut asap.

“Pertama, ketika asap sudah di atas ambang batas toleransi, kegiatan belajar mengajar dihentikan. Jangan khawatir karena nanti kita akan mengadakan penyesuaian dan tidak akan dihitung sama dengan daerah-daerah yang tidak kena bencana,” kata Anies.

Anies juga meminta para pelajar belajar di rumah, dibekali oleh bahan-bahan ajar yang disiapkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Dia meminta siswa-siswi tak main di luar rumah karena beresiko.

“Kita akan menyusun langkah-langkah recovery dalam materi pendidikan. Bahan-bahan akan disesuaikan bagi yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, tidak akan dihitung sama dengan daerah lain,” tutup Anies.

Anak-anak itu juga punya cita-cita hidup tenang dan nyaman tanpa gangguan asap. Paling tidak mereka bisa melakukan penelitian buat mencegah kebakaran hutan dan lahan, seperti dilakukan empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

Para mahasiswa itu mengajukan ide buat mengatasi kebakaran hutan. Yakni menggunakan metode integrated water ground fire wetland system (I-wows). Mereka adalah Dirga Permata Jumas, Dian Arief Risdiyanto, Arina Desy Rachmawati, dan Lita Yunitasari.

Ketua kelompok, Dirga menjelaskan gagasan mereka yaitu memanfaatkan air sungai di sekitar lahan gambut dan juga zeolit yang merupakan zat yang bisa memadamkan api dengan cepat.

“Intinya mengangkat air dari sungai dengan pompa, lalu dialirkan ke tangki nano partikel yang mengandung zeolit,” kata Dirga.

Buat mendeteksi kebakaran di bawah lahan gambut, mereka menggunakan sensor temperatur dan kelembaban. Sensor tersebut akan memetakan kantong-kantong asap di dalam lahan gambut dan kemudian mengirimkan perintah ke alat pemadam.

“Kita pasang pipa di dalam lahan gambut yang nanti mengalirkan air. Begitu sensor mendeteksi, maka alat pemadam akan langsung bekerja,” ujar Dirga.

Gagasan membuat alat pemadam kebakaran lahan gambut ini terinspirasi dari sistem irigasi nanopartikel yang terintegrasi dengan sensor.

Sayangnya gagasan tersebut baru sebatas di atas kertas. Mereka belum memiliki kesempatan untuk membuat alat tersebut.

“Ini memang baru gagasan, tapi kami berharap gagasan ini nantinya bisa dikembangkan secara riil. Berwujud alat sehingga bisa bermanfaat,” ucap Dirga.

Alat ini juga lebih terjangkau, jika dibandingkan dengan upaya bom air yang selama ini digunakan pemerintah yang sudah menghabiskan biaya ratusan miliar rupiah.[ary]

***Sumber: Merdeka dot com

Bumi Mendukung Kehidupan Kita
Bumi Mendukung Kehidupan Kita
• telah dilihat 91 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Jangan sampai masa depan anak terenggut kabut asap

Tulisan Terkait

Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *