» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Tak kurang dari tiga bulan, kabut asap melanda beberapa kota di pulau Sumatera dan Kalimantan, sebagai akibat dari dibakarnya hutan dan lahan di tanah Melayu. Sampai saat ini pun, api yang membakar hutan dan lahan belum juga mati, bahkan terus hidup dan hidup, memberikan asap, emisi, bahkan keburukan dan mudhorot yang tersebar luas.

Upaya pemadaman hutan dan lahan yang dibakar pun terus dilakukan, dan asap yang menyebar pun harus kita siasati agar memberikan efek negatif seminimal mungkin. Tercatat beberapa tumbuhan dalam ruangan yang mampu membersihkan/menyaring udara, menyerap polutan dan gas-gas berbahaya.

Bagian tanaman yang menyerap racun adalah daun dan akar. Oleh kedua bagian ini, udara berpolutan diserap untuk kemudian dilepaskan lagi dalam bentuk udara bersih. Dalam 24 jam, beberapa tanaman tertentu bahkan dapat mengurangi kadar zat beracun di udara sampai 87%. Untuk merasakan manfaat dari tanaman penghisap racun ini, setidaknya tempatkan satu pot tanaman untuk luasan ruang sekitar 3m x 3m.

Berikut sejumlah tanaman yang dapat menjadi referensi kita melawan asap dan kotornya kualitas udara di sekitar kita yang kami kutip dari sebuah artikel di laman LPMJ (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta).

Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata)

Sansevieria trifasciata (Foto: wikipedia)

Sansevieria berkembang biak melalui umbi lapis, termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. Daun tumbuhan ini tebal dan banyak mengandung air (sukulen). Oleh karena itu, sangat tahan kekeringan.Keistimewaan Sansevieria adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya. Ciri spesifik yang jarang ditemukan pada tanaman lain, diantaranya mampu hidup pada rentang suhu dan cahaya yang banyak.

Penelitian yang dilakukan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan bukti-bukti, bahwa tanaman ini secara alami mampu memerangi Sick Building Syndrome, selain itu juga mampu menyerap lebih dari 107 unsur polutan berbahaya yang terdapat di udara, sebab Sansevieria mengandung bahan aktif pregnane glikosid, yang berfungsi untuk mereduksi polutan menjadi asam organik, gula dan asam amino. Dengan demikian, unsur polutan tersebut jadi tidak berbahaya lagi bagi manusia. Sansevieria juga menjadi objek penelitian tanaman penyaring udara NASA untuk membersihkan udara di stasiun ruang angkasa.

Berdasarkan riset dari Wolfereton Environmental Service, kemampuan setiap helai daun Sansevieria bisa menyerap 0,938 mikrogram per jam formaldehyde. Bila disetarakan dengan ruangan berukuran 75 meter persegi cukup diletakkan Sansevieria dengan 4 helai daun.

Riset lainnya (FAkultas MIPA , Unibraw MAlang) dapat disimpulkan, bahwa untuk ruangan dengan volume 100 m3 (panjang x lebar x tinggi = 5 x 5 x 4 m3), dapat ditempatkan Sansevieria dewasa sebanyak 5 helai sebagai penetralisir udara tercemar agar ruangan tersebut bebas polutan.

BLANCENG (Dieffenbachia spp)

Dieffenbachia bowmannii (Foto: wikipedia)

Tumbuh baik pada areal dengan intensitas penyinaran rendah dan kelembapan tinggi. Getah dari tanaman ini bisa menyebabkan gatal-gatal di kulit. Tanaman ini memiliki trik hisap polutan tersendiri. Media tanam beserta daun tanaman keluarga Araceae ini banyak mengeluarkan uap air. Kondisi ini mengakibatkan udara dalam ruangan menjadi lembap.

Selain uap, tanaman ini dan juga jenis tanaman Aglaonema yang lain juga rajin menyemprotkan senyawa yang dinamai phytochemical yang mampu menekan populasi bakteri dan spora jamur merugikan hingga 50-60%. Di alam, hal seperti itu terjadi sebagai salah satu mekanisme tumbuhan untuk bertahan dan melindungi diri dari serangan pathogen.

Phytochemical dilepaskan saat fotosintesa pada tumbuhan tertentu dan memiliki efek anti bakteri. Zat ini berkhasiat untuk menekan pertumbuhan spora jamur dan bakteri merugikan dalam ruangan. Eksperimen telah menunjukkan, bahwa amuba atau bakteri yang diletakkan di dekat sehelai daun segar akan musnah dalam beberapa menit saja. Selain dari efek anti bakteri, phytochemical juga mengurangi rasa sakit, membantu konsentrasi, menghilangkan rasa lelah dan memperbaiki kecekatan mental.

SRI REJEKI  (Aglaonema )

Aglaonema commutatum (Foto: wikipedia)

Masih satu family yaitu Aracae dengan Diffenbacia. Jika setiap 1000 orang penduduk Ibu Kota butuh ruang hijau seluas 0,95 ha, artinya setiap kepala menghendaki dukungan hidup dari helaian daun seluas 9,5 m². Jika dirata-rata, besaran itu kira-kira sama dengan luas daun Aglaonema sebanyak 1 pot. Apabila dihitung dari data luas daun Sri Rejeki, maka diperlukan individu dengan jumlah daun sebanyak 14 helai.

Berdasarkan penelitian Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia pada ruangan dengan volume 100 m3 dapat ditempatkan Lidah Mertua dewasa sebanyak 5 helai dan Sri Rejeki sebanyak 14 helai daun. Kombinasi Lidah Mertua dan Sri Rejeki dapat menjadi alternative untuk menggantikan fungsi AC sebagai penetralisir polusi udara dalam ruangan terutama yang disebabkan oleh asap rokok dan mikroorganisme.

PALEM KUNING  (Chrysalidocarpus lutescens)

Merupakan jenis pinang-pinangan yang bisa tumbuh dengan ketinggian hingga 6 meter. Mempunyai kemampuan menyerap racun paling banyak jenisnya dan paling tinggi diantara tanaman lainnya. Tanaman kecil cocok diletakkan di dalam rumah sedangkan tanaman besar berlokasi di pinggir jalan. Sangat efektif untuk menyerap gas beracun dari asap kendaraan maupun pabrik. Palem Kuning setinggi 1,8 meter dapat menghasilkan uap air 1 liter/24 jam dan menghisap zat beracun paling banyak jenis dan volumenya. Kemampuan menyerap Trikloroetilen-nya 16,520 microgram, sedangkan penyerapan benzena 34,073 microgram, dan Formaldehida 76,707 microgram per 24 jam.  Tanaman ini tergolong lengkap, karena juga mampu menyerap xylene maupun amonia dalam jumlah besar.

SPATHIPHYLLUM  (Spathiphyllum clevelandii)

Ada yang menyebutnya sebagai Peace Lili. Merupakan tanaman indoor, satu pot tanaman dewasa mampu menyerap racun dalam ruangan hingga seluas 10 meter persegi. Efektif menghirup gas beracun jenis alkohol, aseton, trikloro dan formaldehid. Sehingga tanaman ini sangat cocok diletakkan di dekat meja kerja yang banyak diletakkan printer, tip-ex dan sejenisnya. Satu Spatiphylum  dewasa dapat menyerap racun secara maksimal pada area berukuran sekitar 10 meter persegi.

HANJUANG (Dracaena fragrans)

Tanaman hias berdaun hijau atau merah ini dikenal dengan nama andong dalam bahasa Jawa. Secara harfiah maupun filosofis, nama hanjuang sendiri memiliki makna sebagai pembatas ruangan. Daun tanaman ini memiliki kemampuan anti bakterial  sehingga memiliki kemampuan menyerap racun yang sangat tinggi. Diantaranya yang paling banyak ia serap adalah racun dari jenis formaldehid yang bersumber dari lem atau eternit di plafon rumah. Hanjuang mampu menyerap antara 18,000 sampai 27,292 microgram Trikloroetilene, 25,968 microgram benzena, serta 20,459 microgram  Formaldehida, untuk setiap 24 jam, untuk setiap tanaman dalam pot ukuran diameter 20  cm.

Philodendron (Philodendron erubescens)

Efektif menghisap racun Formaldehid yang terdapat pada lem dan eternit sehingga cocok di letakkan sebagai tanaman indoor. Philodendron mampu menyerap Formaldehida 8,000 microgram per 24 jam.

Philodendron erubescens (Foto: rhs.org.uk)

GERBERA (Gerbera jamesonii)

Mampu menyerap gas beracun apa pun dan menghasilkan uap air untuk kesejukan udara. Tanaman gerbera maupun krisan mampu mengurangi gas polutan yang gentayangan di dalam ruangan sebanyak 90%. Agar dicapai hasil maksimal, ruangan seluas 30m² dibutuhkan tanaman gerbera/krisan sebanyak 2 – 3 pot.

Gerbera Jamesonii (Foto: wikipedia)

Lili Paris (Chlorophytum comusum)

Biasa juga disebut spider plant atau tanaman laba-laba. Merupakan jenis tanaman yang tidak suka pada sinar matahari langsung. Mudah diperbanyak dari anakan yang menjuntai dari pohon induk. Biasa ditanam di dalam pot, namun seringkali sebagai tanaman hias di luar ruangan yang ditanam langsung di tanah sebagai ground cover. Ia mampu menyerap segala jenis gas beracun. Lili paris dalam pot ukuran 20 cm mampu menyerap Formaldehida sebesar 10,378 microgram per 24 jam.

Tanaman ini sebenarnya sangat mudah utuk perawatannya, dan memiliki nilai artistik yang bagus, sehingga banyak digunakan oleh desainer taman maupun tukang taman dalam pembuatan taman.

MARANTA (Marantha  leuconeura)

Tanaman ini mampu menghasilkan kelembaban udara dengan baik dan mampu menghisap segala jenis gas beracun, sayangnya tanaman ini tidak tahan sinar matahari secara langsung sehingga kalau ditanam di luar ruangan memerlukan peneduh.

Maranta leuconeura (prayer plant) (Foto: wikipedia)

SIRIH BELANDA (Epipremnum aureum)

Sirih Belanda juga dikenal dengan nama Devil’s Ivy. Memiliki kelebihan gerakan merambat dengan cepat, warna daun kuning atau hijau kekuningan ini berfungsi sebagai salah satu tanaman antipolutan dengan kapasitas penyerapan yang besar. Mampu meredam 53% dari total benzena sebesar 0,156 ppm per hari. Sanggup menekan 67% dari total formaldehid 18 ppm dan 75% dari total Karbon monoksida sebesar 113 ppm.

 

TIPS

Agar tanaman anti polutan ini dapat melakukan fungsinya dengan sempurna, saat perawatan perlu beberapa perhatian ekstra sebagai berikut:

  • Pori-pori pada daun tanaman merupakan bagian yang bertugas menyerap zat-zat beracun. Lama kelamaan pori-pori tanaman ini dapat tertutup oleh debu. Apalagi tanaman di dalam ruang tidak terkena air hujan yang dapat meluruhkan debu-debu yang menempel. Karena itu lap permukaan daun secara berkala dengan kapas dan air, agar pori-pori daun terbebas dari selimut debu.
  • Jangan lupa mengeluarkan tanaman ke luar ruangan agar ia mendapatkan pasokan sinar matahari yang cukup. Setidaknya, setiap 2 atau 3 hari sekali, jemur tanaman tersebut di halaman. Lebih baik lagi jika anda punya banyak tanaman berjenis sama, sehingga dapat bergantian di letakkan di dalam ruangan.

Wallahu a’lam

• telah dilihat 3.377 kali • total 13 kunjungan untuk hari ini •
Melawan Asap dengan Tanaman Penyaring Udara

Tulisan Terkait

Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *