Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

KAYUAGUNG – Kebakaran lahan yang terjadi di Indonesia ternyata banyak terjadi di perkebunan kelapa sawit. Hal ini berdasarkan rekaman gambar dari pesawat tanpa awak (drone), yang didapat para peneliti lapangan Greenpeace Asia Tenggara.

Dari hasil rekaman gambar tersebut secara mengejutkan menunjukkan kebakaran tanah gambut secara masif di Indonesia.

Rekaman diambil di sekitar tepian Taman Nasional Gunung Palung, sebuah suaka besar ke-aneka ragaman hayati di Kalimantan Barat, Indonesia.

Rekaman menunjukkan api yang berkobar di tanah gambut dalam, di seputar taman nasional dan konsesi kelapa sawit di dekatnya – akibat dari pembalakan liar dan penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp.

Taman Nasional Gunung Palung memuat populasi terbesar orang utan yang bertahan di dunia.

Berdasarkan catatan Greenpeace, pada bulan Juli dan Agustus 2015, api menyebar di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, Sumatra, sebuah wilayah penting dalam habitat harimau, yang sudah rusak oleh pembalakan ilegal termasuk untuk pengembangan kelapa sawit. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

“Tatkala pemerintah bersiap mengikuti pertemuan di Paris untuk menyelamatkan bumi dari bencana pemanasan global, bumi Indonesia sudah terbakar. Perusahaan yang menghancurkan hutan dan tanah gambut telah mengubah Indonesia menjadi sebuah bom karbon besar, dan kekeringan telah melengkapinya dengan ribuan sumbu. Pemerintah Indonesia tidak bisa lagi menutup mata terhadap penghancuran ini, saat separuh dari Asia akan menanggung akibatnya,” kata Pemimpin Proyek kehutanan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar, dalam siaran persnya.

Kebakaran hutan di Indonesia mengakibatkan ancaman kesehatan yang serius di seluruh Asia Tenggara, dan diperkirakan akan mengakibatkan 110.000 kematian akibat penyakit pernafasan dan penyakit lain.

Kebakaran ini juga merupakan sumber signifikan emisi gas rumah kaca, yang akan mengancam iklim dunia.

Data pemerintah Indonesia sendiri menunjukkan bahwa perusakan hutan dan tanah gambut merupakan penyebab dari hampir dua per tiga dari emisi GHG Indonesia.

Kebakaran hutan dan tanah gambut yang parah di Indonesia saat El Niño tahun 1997 menghasilkan emisi karbon yang diperkirakan setara dengan 40% dari emisi bahan bakar fosil dunia. Pada 2015 diramalkan El Niño terbesar sejak 1997.

Bustar menambahkan, kebakaran ini mengingatkan tentang warisan kerusakan dari industri sawit dan pulp.

“Perusahaan perlu menghadapi tantangan dan bekerja bersama untuk mematahkan kaitan antara produksi komoditas dan penghancuran hutan. Kebijakan anti perusakan hutan yang unilateral ternyata telah gagal. Perusahaan perlu menghapus insentif ekonomi untuk menghancurkan hutan, dengan pelarangan perdagangan dengan siapapun yang memusnahkan hutan,” ujar Bustar Maitar.

Perusakan hutan telah meningkat secara dramatis antara 2010-2013 meskipun pada 2011 telah dilakukan moratorium penerbitan izin baru pembukaan hutan primer dan tanah gambut.

Beberapa tahun terakhir ini, perusahaan-perusahaan yang memperdagangkan atau menggunakan minyak sawit dan komoditi lain telah menyerukan tindakan terhadap perusakan hutan.

Namun demikian indikator yang dari World Resources Institute menunjukkan bahwa perusakan hutan tetap cenderung meningkat.***(sms)

***Sumber: SindoNews

Greenpeace menyatakan, kebakaran lahan yang terjadi di Indonesia ternyata banyak terjadi di perkebunan kelapa sawit. (Ist)
• telah dilihat 87 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Greenpeace: Bencana Asap Akibat Kebakaran Masif di Perkebunan Sawit

Tulisan Terkait

Tag pada:                    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *