Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Data tertulis baik yang berupa prasasti dan berita asing, mengenai keadaan politik dan ekonomi kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara daratan dan kepulauan pada sekitar pertengahan millenium pertama masehi yang sampai kepada kita sangat sedikit. Di Nusantara pada pertengahan millenium pertama masehi, tercatat ada dua kerajaan yang mendapat pengaruh budaya India. Kedua kerajaan itu adalah Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, dan Kerajaan Tarūmanāgara di Jawa Barat. Kedua kerajaan ini meninggalkan bukti tertulis berupa prasasti. Adanya suatu institusi yang berbentuk kerajaan, merupakan suatu bukti bahwa di tempat tersebut masyarakat telah mengenal peradaban dan telah mengadakan hubungan dengan kerajaan lain yang tempatnya cukup jauh.

Di Kalimantan Timur dikenal Kerajaan Kutai yang rajanya bernama Kunduņga. Raja yang memakai nama “lokal” ini berputra Aśwawarman yang dikatakan seperti Anśumān (=dewa matahari), dan Aśwawarman sendiri berputra tiga orang. Seorang di antaranya adalah Mūlawarmman. Beberapa pakar beranggapan bahwa pada masa pemerintahan Kunduņga, kerajaan ini telah mengadakan hubungan agama dengan kerajaan di India. Nama-nama anak dari Kunduņga serta nama dewa yang disebutkan dalam prasastinya mengindikasikan telah masuknya unsur budaya India ke Kerajaan Kutai. Prasasti-prasasti yang dipahatkan pada tujuh buah yūpa (=tugu batu) berbahasa Sansekerta dan beraksara Pallawa serta tidak menyebutkan pertanggalan. Berdasarkan bentuk hurufnya, diduga prasasti ini berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi.

Berita Tiongkok yang menyebutkan Kerajaan Kutai dapat dikatakan tidak ada. Demikian juga mengenai jalur pelayaran dan perdagangan. Peta rekonstruksi jalur perdagangan dan pelayaran yang dibuat oleh Wolters berdasarkan berita Tiongkok, tidak menunjukkan adanya kontak dagang dengan Kalimantan Timur. Daerah Kalimantan Timur pada sekitar tahun 430-610 Masehi hanya dikunjungi oleh para pelaut/saudagar lokal yang berasal dari P’o-li (Jawa Timur). Pengaruh budaya asing, dalam hal ini budaya India mungkin hanya terdapat di
kalangan terbatas, misalnya kalangan kerajaan dan pendeta (Brahmana).

Ramainya lalu-lintas perdagangan dan pelayaran di Asia Tenggara daratan dan kepulauan ternyata hanya terjadi di belahan barat Nusantara yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan Barat. Dengan Kalimantan Barat, berita
Tiongkok menyebutkan adanya perdagangan dan pelayaran lokal dengan Kerajaan Chin-li-p’i-shih (Wijayapura), tidak langsung berhubungan dengan Tiongkok. Pelayaran dan perdagangan utama dilakukan dari Kanton –
Śrīwijaya – Kedah – India, sedangkan pelayaran/perdagangan menengah dilakukan pada jalur Śrīwijaya – Wijayapura; Śrīwijaya – Ho-lo-tan; Ho-lo-tan – Po-li (Lihat Peta Jalur Pelayaran tahun 695).

Peta Jalur Pelayaran tahun 695 menunjukan jalur pelayaran utama yang menghubungkan Kanton – Śrīwijaya dan Śrīwijaya – Kedah - India (garis .........) serta jalur pelayaran lokal yang menyeberang selat dan teluk (garis _____ ) (Wolters 1974, Map 3)
Peta Jalur Pelayaran tahun 695 menunjukan jalur pelayaran utama yang menghubungkan Kanton – Śrīwijaya dan Śrīwijaya – Kedah – India (garis ………) serta jalur pelayaran lokal yang menyeberang selat dan teluk (garis _____ ) (Wolters 1974, Map 3)

Di Pulau Sumatera, sebelum kelahiran Śrīwijaya, menurut berita Tiongkok terdapat Kerajaan Kan-da-li atau Kan-to-li (Kuntala) yang letaknya di sekitar Jambi. Kerajaan ini pada sekitar tahun 441 hingga terakhir tahun 520 Masehi telah mengirim utusan ke Tiongkok. Setelah tahun 520 kerajaan tersebut tidak lagi mengirim utusan ke Tiongkok. Sampai sejauh ini belum ada data  tertulis lain yang  menguraikan hubungan  antara kerajaan ini dengan Tiongkok.

Kerajaan ini terletak di salah satu pulau di Laut Selatan. Adat kebiasaannya serupa dengan adat kebiasaan Kamboja dan Champa. Kerajaan ini menghasilkan bahan pakaian berbunga, katun, dan pinang yang bermutu tinggi dibandingkan dengan yang dihasilkan kerajaan lain. Pada masa pemerintahan Kaisar Hsiau-wu (454-464 Masehi), raja dari kerajaan Kan-to-li, Sa-pa-la-na-linda mengirimkan seorang pejabat tinggi yang bernama Ta-ru-da sambil membawa upeti berupa barang-barang emas dan perak untuk dipersembahkan kepada kaisar Tiongkok.

Sementara itu di Jawa Barat hadir sebuah kerajaan yang mendapat pengaruh budaya India, yaitu Kerajaan Tarūmanāgara dengan rajanya Pūrnnawarman. Berdasarkan prasasti tinggalannya, diketahui bahwa kerajaan Tarūma sebagian masyarakatnya menganut agama Hindu Waisnawa. Berita Tiongkok yang ditulis oleh Fa-hien menyebutkan bahwa pada tahun 414 Masehi dalam pelayarannya kembali dari India ia terdampar di Jawa. Ia terpaksa tinggal di situ sambil menunggu angin baik untuk melanjutkan perjalanannya ke Tiongkok. Fa-hien hanya mencatat bahwa di Jawa hanya sedikit umat Buddha. Berita lain menyebut negeri To-lo-mo (Tarūma) yang dalam tahun 528 dan 535 Masehi, dan di antara tahun 666 dan 669 Masehi mengirimkan utusan ke negeri Tiongkok.

Di Asia Tenggara daratan pada sekitar abad ke-7 Masehi terdapat tiga kerajaan besar, yaitu Lin-yi (Vietnam), Chen-la (Kamboja), dan Dwārawatī (Myanmar). Kerajaan-kerajaan ini mempunyai hubungan dagang dengan Tiongkok dan India. Di Chen-la (Kamboja) yang memerintah pada saat itu adalah Jayawarman I (650-681 Masehi). Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, diketahui bahwa Jayawarman I adalah seorang raja yang ahli dalam peperangan. Sumber Tiongkok menyebutkan bahwa antara tahun 650 dan 656 Masehi Chen-la menduduki Laos utara dan Laos tengah. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Chen-la diketahui menguasai jalur-jalur pelayaran dan perdagangan di Laut Tiongkok Selatan dan perairan Asia Tenggara. Kota pelabuhan Chen-la yang banyak disinggahi kapal-kapal dari berbagai penjuru pada waktu itu adalah Oc-eo. Jayawarman I berusaha merebut hegemoni perdagangan di Asia Tenggara, tetapi usahanya tidak tercapai karena meninggal pada tahun 681. Sebaliknya, sepeninggal Jayawarman I keadaan politik dan ekonomi Kerajaan Chen-la merosot tajam.

Di sebelah timur Chen-la, di Semenanjung Indo China, sejak sekitar abad ke-3 Masehi telah berdiri Kerajaan Lin-yi yang dikemudian hari berkembang menjadi Kerajaan Champa. Pada tahun 572 Masehi kerajaan ini diperintah oleh Śambhuwarman. Pada masa pemerintahannya, terjadi usaha memerdekakan diri dari kekuasaan Tiongkok. Usahanya tidak berhasil, bahkan ibukota Champa diserbu dan diduduki Tiongkok. Akibatnya Champa harus mengirimkan utusan dan upeti ke Tiongkok sampai tahun 628 Masehi. Sementara itu ia menjalin hubungan persahabatan dengan Chen-la yang pada waktu itu diperintah oleh Mahendrawarman. Buah dari hubungan persahabatan ini, Champa dapat memegang hegemoni pelayaran dan perdagangan di Laut Tiongkok Selatan.

Hegemoni pelayaran dan perdagangan di Laut Tiongkok Selatan berlangsung hingga tahun 767 Masehi. Ketika itu Champa diperintah oleh Prthiwindrawarman. Menurut tradisi Sejarah Vietnam, pada tahun 767 Masehi Champa diserbu oleh penyerang-penyerang dari K’un-lun dan Da-ba atau Chőpo (Jawa). Serangan terakhir yang cukup menghancurkan terjadi tahun 787 Masehi, sebagaimana dituliskan pada Prasasti Yang Tikuh yang dikeluarkan oleh Raja Indrawarman.

Di daerah sekitar Tanah Genting Kra (Myanmar dan Thailand), pada sekitar abad ke-6-7 Masehi orang Mon mendirikan kerajaan Dwārawati yang di dalam berita Tiongkok disebut T’o-lo-po-ti. Pada mulanya kerajaan ini adalah kerajaan vasal dari Kerajaan Funan (Kamboja). Ketika keadaan Kamboja sedang lemah, Kerajaan Dwārawati melepaskan diri dari kekuasaan Kamboja. Karena letaknya yang strategis di daerah Tanah Genting Kra yang di sebelah barat berbatasan dengan Selat Melaka, dan di sebelah timur berbatasan dengan Teluk Bandon, maka kerajaan ini menduduki posisi penting bagi jalur-jalur perekonomian.***tdb/bbu

Wallahu a’lam

***Rujukan: Bambang Budi Utomo – Makalah Seminar dan Bedah Buku Satu Abad Kebangkitan Nasional

• telah dilihat 285 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Politik dan Ekonomi di Asia Tenggara pada Pertengahan Millenium Pertama

Tulisan Terkait

Tag pada:                                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *