Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Al-hamduli I-lahi I-maliki I-jabbar, segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Besar; al-‘azizi I-ghaffar, Yang Maha Mulia lagi mengampuni segala dosa hambaNya; al-muhaimin s-sattar, Yang mengkaruniai, menutupi segala hai hambaNya; wa s-salatu wa s-salamu ‘ala Muhammadin wa alihi t-tayyibina I-akhyar, dan rahmat Allah atas Muhammad dan atas segala keluarganya sekalian yang suci lagi pilihan.

Amma bakdu, maka berkata Ismail bapa Ahmad yang hina, ditolong Allah Taala kiranya dengan rahmatNya dan ampunanNya. Ketahui olehmu bahwa yang menjadikan yang besar kudratNya dan Maha tinggi firmanNya dan amat limpah nikmatNya wa huwa ni’ma I-mawla wa ni’ma n-nasir, yaitu sebaik-baik dipertuhan dan sebaik-baik yang menolong, maka memohonkan taufik kami kepadaNya daripada .berbuat suatu nasihat akan segala raja-raja dengan Bahasa Jawi; wa sammaituha ma baina s-salatin, maka kami namai akan dia perintah segala raja-raja.

MAJLIS yang pertama, arti raja itu atas tiga huruf: pertama tama “ra”, kedua “alif”, ketiga “jim”. Adapun murad pada “ra” itu atas tiga bagi: pertama “ra” itu rahmat Allah atas raja yang dipermulia oleh segala manusia dengan sempuna, kedua rahmat Allah atas raja ditakuti oleh segala manusia mereka itu, ketiga rahmat Allah atas raja bagi diakui oleh segala mereka itu segala barang kehendaknya.

Adapun murad daripada huruf alif yakni terdiri bagi raja itu menjadikan khalifah dalam dunia dianugerahkan Allah Taala, kedua perkara yakni terdiri oleh raja amar Allah dan nahinya kepada segala barang yang dimaklumkannya, ketiga perkara yakni terdirikannya melakukan segala barang kehendaknya.

Adapun murad daripada jim itu yakni jamal, artinya sifat yang keelokan bagi menghiasi dirinya, kedua perkara yakni sifat yang keelokan bagi mentahtakan perhiasan kebiasaannya dan kemuliaan, ketiga perkara yakni sifat yang keelokan bagi raja sebagai barang lakunya pada hal mengikut amar Allah dan nahiNya. Inilah muradnya, wa I-lahu a’lam.

MAJLIS yang kedua, syarat segala raja-raja itu atas sepuluh perkara; pertama tahta atas kuasanya, kedua terdiri amarnya, ketiga ampun tatkala murkanya, keempat membesarkan yang kecil, kelima mengkecilkan yang besar, keenam memuliakan yang hina, ketujuh menghinakan yang mulia, kedelapan mematikan yang hidup dan menghidupkan yang mati, kesembilan adab pada hal duduknya, kesepuluh adil masyhur namanya padasegala negeri.

Adapun murad daripada tahta atas kuasanya itu yakni segala raja-raja itu sekurang-kurang tahtanya empat batang tiang pun istana namanya, sekurang-kurang tahtanya empat mazhab kayu didirikan dikatalah namanya. Sekurang-kurang sekalipun seorang menterinya mau juga ada membicarakan negerinya, dan lagi seorang hulubalang mau juga adakan menolak segala seterusnya, dan lagi seorang bintara mau juga berdiri memegang senjata di hadapannya. Jikalau besar raja itu besar lagi tahtanya. Inilah tahta atas kuasanya.

Adapun murad daripada amarnya itu hendaklah raja itu mendirikan amar Allah dan nahiNya, kedua melakukan amar bagi yang dikeelokannya atas negerinya.

Adapun ampun tatkala murkanya itu hendaklah segala raja-raja itu mengampuni dosa segala hambanya karena manusia itu terkenderai atas lupa dan lagi lalai, karena segala raja-raja mengikut bagi Tuhan Yang Maha Tinggi mengampuni segala dosa hambaNya. Jikalau segala raja-raja itu tiada ampunnya, maka rakyatnyapun tiada menderita.

Adapun murad membesarkan yang kecil itu maka dilihat rajanya, jikalau hambanya itu miskin sekalipun jika ada baik af’alnya dan dapat ia membicarakan pekerjaan raja maka seyogianya dibesarkan oleh raja itu, karena kebesaran dan kemuliaan itu insya Allah daripada segala raja-raja.

Adapun murad mengkecilkan yang besar itu hendaklah dilihat raja-raja, jikalau hambanya itu akan daripada khianat lakunya dan lakunya maghrur ia dalam kebesarannya, suatupun tiada hasil pekerjaan raja-raja olehnya dan beberapa mereka keluar daripada negeri itu sebab anianya, maka harus dikecilkan raja olehnya baginya supaya jangan jadi binasa negerinya.

Adapun murad memuliakan yang hina itu hendaklah dilihat raja itu ada penguasanya padanya dan kebaktian baginya dapat menghasilkan barang-barang pekerjaan raja dan baik af’alnya, jikalau hina bangsanya sekalipun harus dipermulia raja itu akan dia.

Adapun murad menghinakan yang mulia itu, jikalau ada hambanya itu berbangsa dan kaya maka dibinasakan majlis raja olehnya dan banyak memberi kesakitan olehnya, maka segera menurunkan daripada tempatnya yang mulia itu supaya jangan binasa majlis raja.

Adapun murad mematikan yang hidup, dan jika dilihat raja-raja af’al hambanya takabur dan ghurur dalam kesukaannya hendak melakukan tendang raja halnya, beberapa segala isi negeri kesakitan olehnya dan hendak durhaka hiru-hara, maka sementaranya belum datang bencana kepada raja segera dimatikan mereka itu.

Adapun murad menghidupkan yang mati, jika ada hambanya itu berdosa maka dibicarakan oleh raja, kalau ada daripadanya berbuat kebaktian akan raja yang telah lalu atau daripada nenek datuknya ada kebaktian akan raja, maka seyogianya diampuni dosanya supaya bertambah-tambah ia berbuat kebaktian akan raja. Demikianlah menghidupkan yang mati.

Adapun murad daripada adab duduk pada hal itu, yakni pada tatkala raja duduk semayam itu adalah seperti matahari gilang-gemilang cahayanya yakni warna muka raja itu manis seperti laut madu di hadapan balatenteranya sekalian serta khidmad akan segala pendeta dan perdana menteri dan hulubalang supaya bertambah-tambah kebesaran dan kemuliaan, yakni apabila raja itu hormat akan segala pendeta jadilah berdiri agama, dan apabila raja hormat akan segala menteri ditakuti oleh segala rakyat akan menteri itu barang pekerjaan raja oleh menteri itu. Inilah arti adab pada hal duduk semayam di atas singgasana tahta itu adalah seperti bulan purnama gilang-gemilang cahayanya maka penuhlah bintang memagar sesuatupun tiada dan mengatur ia maka hebatlah rapa alam ini.

Adapun masyhur adilnya nama raja itu yakni hendaklah raja itu menghukumkan bagi segala mereka dengan hukum yang sebenarnya, kedua perkara hendaklah raja itu memeliharakan segala dagang ditambahi pula dengan limpah karunia raja, ketiga perkara hendaklah raja mengubungkan kasi pada negeri. Itulah arti masyhur adii namanya raja itu, maka sempurnalah kerajaan raja itu, wa l-lahu a’lam.***tdb

***Rujukan: Adat Aceh, Drs. Ramli Harun, Dra. Tjut Rahma, 1985

Buku ini merupakan naskah Adat Aceh yang sudah dialih aksarakan ke dalam huruf Latin berdasarkan naskah yang diperoleh dari Pusat Dokumentasi Dan Informasi Aceh bulan Agustus 1983. Naskah ini merupakan reproduksi yang dimuat dalam Verhandelingen Van Het Koninklijk Instituut Voor Taal Land En Volkenkunde Deel XXIV tahun 1958 dengan kata pengantar dan catatan-catatan oleh G.W.J. Drewes dan P. Voorhoeve. Mereka menyebutkan bahwa naskah ini milik India Office Library London bertanggal 3 Desember 1815 dan berasal dari W.E. Philips yang menemukannya di Pulau Pinang ketika ia menjadi gubernur di koloni Inggris itu sampai tahun 1824.

adataceh150

• telah dilihat 271 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Arti Raja dan Syarat Raja dalam Adat Aceh

Tulisan Terkait

  • Tidak Ada Tulisan Terkait
Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *