» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

NurAbdulrahman100Malaikat adalah makhluq Allah yang ghaib, artinya tidak dapat diindera oleh pancaindera manusia, juga tak dapat dideteksi oleh instrumen laboratorium bikinan manusia bagaimanapun canggihnya. Kita tahu tentang adanya malaikat karena Allah memberi-tahu kita melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad RasuluLlah SAW, Nabi ‘Isa AS dan Nabi Musa AS yang berwujud ayat Qawliyah. Jadi malaikat itu harus diimani, termasuk satu di antara Rukun Iman yang enam. Malak(un), nama spesi makhluq ghaib tersebut. Spesi makhluq lain seperti misalnya Basyar(un), adalah nama spesi makhluq nyata yang berdarah daging yang mempunyai ruh yaitu kita ini, manusia.

Dalam qaidah bahasa Arab muannats (gender perempuan) menyatakan sebagian dari mudzakkar (gender laki-laki). Syajar(un) menyatakan keseluruhan spesi yang disebut pohon, syajarah(tun), sekelompok atau sebagian jenis pohon. Malaikah (bentuk muannats) menyatakan sekelompok atau sebagian dari malak (mudzakkar). Namun dalam bahasa Indonesia, baik malak maupun malaikah, kedua-duanya biasanya diterjemahkan dengan malaikat.

Walaupun malaikat itu makhluq ghaib, namun sewaktu-waktu Allah menyuruh makhluq ini untuk berkomunikasi dengan spesi Basyar. Oleh karena itu malaikat itu diberi kemampuan oleh Allah beralih wujud menjadi Basyar pula. Malaikat Jibril AS menjelma menjadi Basyar ketika berkomunikasi dengan Maryam, untuk menginformasikan kepadanya bahwa Maryam kelak akan melahirkan seorang anak yang suci. Pada waktu malaikat Jibril AS menyampaikan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW (berupa lima ayat yang pertama dari S. Al Alaq), ia berubah wujud seperti Basyar. Tatkala Jibril AS mendatangi Maryam dan Nabi Muhammad SAW, Jibril AS tidak disaksikan oleh Basyar yang lain oleh karena Maryam dan Nabi Muhammad SAW tatkala itu sedang sendirian.

Malaikat Jibril AS yang sedang berwujud Basyar dapat pula disaksikan oleh para sahabat, tatkala Jibril AS berkunjung kepada Nabi Muhammad SAW yang sedang duduk satu majelis dengan para sahabat, bertanya kepada Nabi yang artinya: “Apa itu iman apa itu Islam, dan apa itu ihsan.” Demikian pula tatkala para malaikat yang berwujud Basyar, yang diperintahkan Allah untuk menghubungi Nabi Ibrahim AS, turut pula disaksikan oleh Sarah. Tujuan para malaikat yang berubah wujud menjadi Basyar itu ialah untuk menginformasikan kepada Nabi Ibrahim AS, bahwa pertama, isterinya Sarah akan mempunyai putera kelak, walaupun Sarah pada waktu itu sudah dalam keadaan berhenti haid, dan kedua, bahwa Sodom dan Gomorrah (Qamran), pemukiman Nabi Luth AS akan dibinasakan oleh para malaikat itu, karena penduduknya homosexual dan lesbian. Karena para malaikat itu berwujud Basyar, maka penduduk Sodom dan Gomorrah yang berada sekitar rumah Nabi Luth AS dapat pula melihat malaikat itu, bahkan orang-orang homosexual itu ingin memesumi malaikat dalam wujud Basyar itu.

Berfirman Allah dalam Al Quran: Qa-la YaAdamu Anbi’hum biAsma-ihim (S. AlBaqarah, 32). Berfirman (Allah), hai Adam informasikan kepada mereka (malaikat) nama-nama (barang) (2:32). Selanjutnya Firman Allah, Waidz Qulna- lilMalaikati Sjuduw liAdama faSajaduw illa- Ibliysa Abay waStakbara (S. AlBaqarah, 33). Dan Kukatakan kepada malaikat sujudlah kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan sombong (2:33).

Ayat (2:32) menjelaskan latar belakang keluarnya perintah Allah kepada Al Malaikatu, sekelompok malaikat. Bunyi perintah itu, Usjuduw liAdama sujudlah kamu kepada Adam. Allah SWT memerintahkan sekelompok malaikat itu sujud kepada Adam bukan sebagai pernyataan dari malaikat itu untuk mengkultuskan Adam, melainkan sebagai pernyataan hormat kepada Adam, oleh karena Adam telah menjadi guru, mengajar malaikat itu mengenal identitas barang-barang disekitar majelis itu. Walaupun tidak secara tegas dijelaskan dalam ayat itu bagaimana wujud sekelompok malaikat pada waktu berkomunikasi dengan Adam, kita dapat mengansumsikan bahwa pada waktu terjadinya komunikasi itu, sekelompok malaikat tersebut berubah wujud menjadi Basyar.

Jelaslah ayat di atas itu mengandung muatan nilai: Para murid wajib menghormati gurunya. Murid yang tidak menghormati gurunya sifatnya seperti Iblis. Nilai hormat kepada guru ini masih dijunjung tinggi dahulu, walaupun masih dalam penjajahan. Pada waktu saya masih di sekolah dasar dahulu hingga zaman pendudukan Jepang (Futsu dan Jokyu Kogakko), murid-murid menghormati gurunya dengan memanggil karaeng (di daerah yang berbahasa Makassar, Konjo dan Selayar) dan puang (di daerah yang berbahasa Bugis). Di dalam cerita silat guru (suhu) sangat dihormati. Murid harus sujud (paykui) kepada gurunya. Bangsa Jepang adalah bangsa yang menaruh hormat kepada guru. Pada waktu pendudukan Jepang, balatentera (heitai) Jepang yang kejam-kejam dan bengis, tidak pernah berlaku kejam kepada guru bumi-putera. Kalau tentara Jepang bertanya kepada penduduk: Ano katawa sensei desuka? (Apakah orang itu guru?), dan mendapat jawaban: Hai (ya), maka sikap galaknya berubah menjadi sopan, mendatangi guru itu sambil menghormat dengan membungkuk.

Nilai hormat kepada guru, sebagai hormatnya malaikat kepada Adam, sang guru, sudah tercecer dari bangsa kita. Hanya tinggal sebagai cerita saja. Bangsa Indonesia sekarang ingin menghasilkan produksi unggulan yang dapat diekspor, strateginya ialah meningkatkan Sumberdaya Manusia (mestinya disingkat SM, bukan SDM), yang kuncinya antara lain terletak dalam sikap hormat kepada guru. Tawuran dalam kalangan siswa dan mahasiswa insya Allah dapat diredam, jika menempuh strategi: Gerakan nasional membina sikap hormat kepada guru. WaLlahu A’lamu bi shShawab.****

***Disadur dari sebuah tulisan H.Muh.Nur Abdurrahman, Makassar, 22 Oktober 1995

• telah dilihat 187 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Malaikat dan Sikap Hormat kepada Guru

Tulisan Terkait

Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *