» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Sebagaimana diketahui bahwa Kesultanan Melayu Melaka merupakan sebuah pusat ekonomi dan ajaran agama Islam. Namun pada tahun 1509, sejarah mencatat bahwa angkatan laut Portugis yang diketuai oleh Lopez de Sequeira berlabuh di tanah Melayu Melaka. Mereka diutus oleh Raja Portugis ke Melaka dengan dalih untuk menjalinkan hubungan persahabatan antara Kerajaan Portugal dan Kesultanan Melaka. Ternyata di kemudian hari, diketahui bahwa terdapat niat lain dibalik jalinan hubungan ditawarkan Portugis. Pelayaran bangsa Portugis ke Timur dengan membawa slogan Gold, Glory, Gospel.

Mereka bukan hanya sekedar ingin menaklukkan bumi Melayu karena kuasa perdagangan rempah seperti lada hitam, kayu manis, bunga cengkih dan buah pala, tetapi mereka bertekad untuk menghancurkan agama Islam dan peradaban Melayu dan seterusnya menyebarkan ajaran agama yang mereka bawa. Mereka ini lah nantinya bukan sahaja membunuh rakyat jelata, malah mereka membakar masjid dan al Quran. Mereka membakar semua dokuman dan perpustakaan. Mereka bunuh para cendikiawan, para hafiz dan guru-guru yang mengajarkan al Quran. Mereka juga mencoba melenyapkan sejarah dan asas kebudayaan Melayu.

Muara Sungai Melaka yang dalam dan kedudukannya yang terlindung daripada tiupan angin monsun sesuai dijadikan pelabuhan dan persinggahan kapal

Pada awal kedatangan bangsa Portugis, Sultan Mahmud Shah menyambut baik hasrat persahabatan Portugis dan membenarkan mereka berniaga di Melaka. Baginda juga memberi jaminan keselamatan sepanjang Portugis berniaga di situ. Bagaimanapun, hasrat Portugis untuk menguasai perdagangan dan menentang Islam diketahui pedagang Islam dari Jawa dan Gujerat lalu mereka segera memaklumkan muslihat bangsa asing itu kepada Bendahara Tun Mutahir. Bendahara Tun Mutahir segera menyampaikan berita itu kepada Sultan Mahmud Shah dan menasihati baginda supaya menangkap orang Portugis termasuk pegawai mereka, Ruy de Araujo. Beberapa orang Portugis pun ditangkap dan dibunuh. Lopez de Sequeira melarikan diri ke Goa.

Afonso-de-AlbuquerqueTahun 1510, Raja Portugis mengirim satu angkatan laut pimpinan Alfonso de Albuquerque untuk menyerang Kesultanan Melayu, sebagai balasan atas ditangkapnya orang-orang Portugis. Alfonso de Albuquerque mengirimkan utusan yang menuntut agar pasukan Portugis yang ditawan segera dibebaskan dan Melaka perlu membayar ganti rugi kepada mereka serta mereka meminta untuk mendirikan kubu di Melaka. Tetapi semua tuntutan itu ditolak dengan beraninya oleh Sultan Mahmud Shah.

Karena tuntutannya tidak dipenuhi, pada tanggal 25 Juli 1511, Portugis untuk pertama kalinya menyerang Kesultanan Melayu Melaka, peperangan hebat pun berlaku, hingga Portugis berhasil menguasai Jembatan Sungai Melaka.

Serangan balas dilancarkan dipimpin oleh Sultan Ahmad Shah, yang menyebabkan Portugis harus mundur. Portugis kembali menyusun strategi dan melancarkan serangan kedua pada 10 Agustus 1511. Pertempuran hebat meletus lagi di bumi Melaka dan selepas dua minggu bertempur, akhirnya Alfonso de Albuquerque berhasil menawan dan menduduki Melaka.

Usaha yang penjajah Portugis lakukan ini, mendapatkan penentangan dari para pahlawan bangsa Melayu yang gagah berani. Para mujahidin yang berjuang ini diketuai oleh para panglima terbesar kerajaan Melayu, yaitu Datuk Panglima Hitam Arya Putra, Panglima Sheikh Sultan Ariffin, Tun Fatimah ibni Tun Mutahir, waris kepada Datuk Laksamana Hang Tuah. Sebanyak 150 ribu jiwa prajurit Melayu terkorban dalam peristiwa itu.

sultanmahmudsah
Sultan Mahmud Shah

Sultan Ahmad Shah dan ayahandanya, Sultan Mahmud Shah; pembesar, kerabat diraja serta beberapa rakyat terpaksa berundur ke Muar. Dari Muar, mereka berundur ke Pahang seterusnya Bentan. Di Bentan, Sultan Mahmud Shah mendirikan kerajaan baru selepas kemangkatan anakandanya, Sultan Ahmad Shah. Selepas penawanan Melaka, Sultan Mahmud Shah beberapa kali cuba merampas kembali negaranya daripada Portugis tetapi gagal. Tercatat usaha telah berlaku pada tahun 1518-1519, 1523, 1525, hingga beliau mangkat tahun 1528 di Kampar, Riau.

Dalam beberapa kali upaya merebut kembali Melaka, tercatat bala bantuan dari tanah Jawa, demi membela umat Islam yang ditindas oleh penjajah Portugis. Ribuan prajurit dari tanah Jawa itu diketuai oleh Sultan Kerajaan Islam Demak ke-2, Pangeran Arya Sebrang Lor, Sultan Raden Abdul Qadir putra Raden Muhammad Yunus, menantu Raden Fattah dan Sunan Gunung Jati, atau dikenali sebagai Pati Unus, Panglima Besar Tanah Jawa dan merupakan keturunan Rasulullah dari Imam Husain.

Perang di Selat Malaka antara Demak dan Portugis (sumber: www.catatansitusku.com)

Tahun 1511, Pati Unus diangkat sebagai Panglima Gabungan Armada Islam membawahi armada Banten, Demak dan Cirebon, diberkati oleh mertuanya sendiri yang merupakan Pembina umat Islam di tanah Jawa, Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati. Gelarnya yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis.

Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis. Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil ekspedisi Jihad I yang didukung oleh Palembang, Jepara, Cirebon, dan Johor. Ekspedisi Pati Unus ke Malaka memiliki kekuatan 10.000 orang prajurit yang diangkut menggunakan 100 buah kapal berukuran dua ratus ton.

Ekspedisi mencoba mendesak masuk benteng A Famosa, pusat pertahanan Portugis di Malaka, tapi gagal. Setelah mengetahui pasukannya kalang kabut, Pati Unus menarik mundur tentaranya ke Demak. Dari seratus kapal yang diberangkatkan, hanya kembali 20 kapal. Banyak pasukan Pati Unus yang tewas dan tertawan oleh Portugis, termasuk Sultan Palembang. Kegagalan ini karena kurang persiapan akibat kegagalan intelijen Demak yang mencari data tentang Portugis dan bocornya strategi perang Pati Unus oleh Portugis. Hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

Pada tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah mangkat, ia berwasiat supaya mantunya Pati Unus diangkat menjadi raja Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden Abdul Qadir bin Yunus, Adipati wilayah Jepara yang garis nasab (Patrilineal)-nya adalah keturunan Arab dan Parsi menjadi Sultan Demak II bergelar Alam Akbar At-Tsaniy.

patiunus
Pati Unus

Memasuki tahun 1521, sebanyak 375 kapal perang telah selesai dibuat. Walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun, Pati Unus tidak sungkan meninggalkan segala kemudahan dan kehormatan dari kehidupan keraton bahkan ikut pula 2 puteranya (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah dan seorang putra lagi (yang juga masih sangat remaja) dari seorang isteri anak kepada Syeikh Al Sultan Saiyid Ismail, Pulau Besar, dengan risiko kehilangan segalanya termasuk putus nasab keturunan. Tapi sungguh Allah membalas kebaikan orang-orang yang berjuang di jalannya.

Armada perang Islam yang sangat besar berangkat dengan 375 kapal perang gabungan tentara Islam se-nusantara, Jambi, Palembang, Ternate, Demak, Melaka dan Inderagiri, menuju Malaka. Kali ini, mereka menyerang dengan membawa 100 ribu tentara mujahidin, bergabung dengan prajurit Melayu Melaka. Pertempuran ini berlangsung selama 7 bulan tanpa henti. Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka.

Selama tujuh purnama, bumi Melayu bermandikan darah syuhada, darah mereka yang terkorban demi mempertahankan panji-panji Islam. Mereka menyerahkan jiwa mereka demi bangkit berjuang dan mati di atas kalimah syahadah. Serangan ini hampir menyebabkan kekalahan bagi penjajah Portugis. Namun begitu, apa yang tersurat, tidak mungkin mampu diubah. Akibat pengkhianatan bangsa lain dan kelompok Melayu yang tamak dan serakah, pasukan Siak dan Pahang yang bekerjasama dengan pihak Portugis, akhirnya banyak para tentara mujahidin yang tewas dan gugur syahid. Pati Unus juga turut terkorban dan gugur syahid terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Pati Unus yang cedera parah dibawa lari ke Markas Gerakan di Pulau Besar Melaka dan gugur di atas pangkuan isteri pertamanya. Tempat Syahid Pati Unus itu adalah di sebuah batu lesong. Ia gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis. Karena itu sampai sekarang, Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat pada tahun 1521 ini.

Armada Islam gabungan tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur dibawah pimpinan Fadhlulah Khan (Tubagus Pasai). Sekembalinya sisa dari Armada Gabungan ini ke Pulau Jawa, Fadhlullah Khan alias Falathehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasai-lah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka.

Kegagalan expedisi jihad yang ke II ke Malaka ini sebagian disebabkan oleh faktor – faktor internal, terutama masalah harmoni hubungan kesultanan – kesultanan Indonesia.

Isteri ketiga Pati Unus, Syarifah Siti Zubaidah, putra pertama Raden Abu Bakar dan ketiga Raden Abu Syahid (Raden Barakat) ikut gugur, sedangkan putra kedua, Raden Abdullah dengan takdir Allah untuk meneruskan keturunan Pati Unus, selamat dan bergabung dengan armada yang tersisa untuk kembali ke tanah Jawa. Turut pula dalam armada yang balik ke Jawa, sebagian tentara Kesultanan Malaka yang memutuskan hijrah ke tanah Jawa karena negerinya gagal direbut kembali dari tangan penjajah Portugis. Mereka orang Melayu Malaka ini keturunannya kemudian membantu keturunan Raden Abdullah putra Pati Unus dalam meng-Islam-kan tanah Pasundan hingga dinamai satu tempat singgah mereka dalam penaklukan itu di Jawa Barat dengan Tasikmalaya yang berarti Danau nya orang Malaya (Melayu).

Demikianlah sekelumit sejarah terhebat bangsa kita 500 tahun yang lalu. Apa yang nenek moyang kita lakukan adalah terlalu hebat untuk dilupakan. Adalah tak layak jika kita melupakan apa yang mereka telah perjuangkan. Alfatihah dan sejuta penghargaan kepada jasa dan pengorbanan mereka.***tdb

Wallahu a’lam

***Rujukan: Wikipedia dan berbagai sumber

• telah dilihat 1.205 kali • total 6 kunjungan untuk hari ini •
Kesultanan Melayu Melaka dan Pati Unus

Tulisan Terkait

Tag pada:                                        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *