Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Pek, lenjepan masing jakin!
Kalawan Asma Pangeran, Anoe ngajadikeun maneh;
Ari ngadjadikeunana, getih satetes asalna;
Lenjepan datangka mafhoem, Pangeran teh pangmoeljana.
Noe geus masihan pangerti, ngadjarkeun noelis ke qalam.
Ngajar manoesa sakabeh noe maranehna teuterang.
Al-Alaq 1-5.

Bait ini, tak lain adalah terjemahan surat Al Alaq yang ditulis oleh RAA Wiranata Koesoema, bupati Bandung tahun 1930-an. Terjemahan ini bukan sebatas terjemahan yang ditulis dalam ejaan sunda tempo dulu. Terjemahaan ini ditulisnya dengan format pupuh (puisi tradisional yang dilagukan) Asmarandana.

Terjemahan ini merupakan bagian dari buku berjudul Riwadjat Kandjeng Nabi Muhammad SAW, terbitan Islam Studieclub-Bandung, pada 1941. Seperti judulnya, buku ini berisi riwayat Nabi Muhammad SAW. Buku ini menjadi sangat menarik lantaran menghadirkan nuansa sunda dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW.

”Lewat buku ini, terkesan cerita riwayat Nabi Muhammad SAW seperti saat di tatar sunda,” tutur Sekretaris Pusat Studi Sunda, Hawe Setiawan. Menurut Hawe, buku ini seakan menjadi bukti adanya persenyawaan antara Islam dan kebudayaan sunda.

Bahkan, kalau ditelusuri hingga ke masa lampau, banyak naskah kuno sunda, yang masih menggunakan aksara sunda kuno, yang telah bersenyawa dengan Islam. Naskah-naskah kuno sunda itu berisikan informasi tentang sejarah, keagamaan/religi, sastra, ensklopedis, dan topografis (seperti dalam naskah kuno Pujangga Manik).

Naskah sunda kuno itu, ditulis dalam berbagai aksara, mulai dari aksara sunda kuno, aksara budha (prawagiri), aksara jawa kuno, aksara cacarakan, aksara pegon, dan aksara latin. Sunda, kata Hawe, memang sangat erat dengan Islam dan itu bisa ditelusuri lewat naskah-naskah sunda.

Bahkan, menurut dia, beberapa pujangga kontemporer, disebut juga budayawan, terkenal dengan buah kreativitasnya yang berwarnakan Islam. Sebut saja, Haji Hasan Mustapa dan HR Hidayat Suryalaga. Haji Hasan Mustapa, sekarang diabadikan menjadi nama jalan di Bandung, terkenal sebagai penghulu besar Bandung juga penulis berbagai naskah suluk (atau dikenal juga naskah sufisme). Sedangkan HR Hidayat Suryalaga, merupakan tokoh sunda yang juga penulis Nur Hidayah, saritilawah basa sunda Alquran, Winangun Pupuh. Saritilawah Alquran ini ditulis Hidayat dalam bentuk pupuh sebanyak 30 juz.

Saat ini, diketahui terdapat sekitar 100 naskah sunda kuno yang tersimpan dalam belasan kropak (peti tempat penyimpanan naskah sunda kuno). Sebagian besar naskah sunda kuno itu tertulis di daun lontar, dan sebagian lagi di daun nipah. Sayang, baru sebagian kecil dari naskah-naskah sunda kuno itu yang telah dibaca dan ditranskrip ke dalam bahasa latin.

”Sampai saat ini, ada anggapan bahwa isi naskah sunda kuno sering dikaitkan dengan zaman pra-Islam, atau Hindu-Budha. Padahal, anggapan itu tidak benar,” ujar Undang Darsa, filolog dari Universitas Padjajaran.

Dari hasil penelitiannya, banyak sekali naskah sunda kuno pada abad yang justru sangat kental keislamannya. Naskah-naskah sunda kuno yang telah terpengaruhi ajaran Islam, kebanyakan berasal dari abad ke-16 dan ke-17 masehi. Undang memaparkan, dalam beberapa naskah sunda kuno, pemahaman mengenai jagat raya justru bernuansakan Islam, atau setidaknya sudah menganut paham monoteisme.

Dalam salah satu naskah Sunda kuno, kata Undang, terdapat istilah sakala (alam gaib), niskala (alam nyata), serta sajatining niskala (alam maha gaib). Dalam naskah tersebut, kata dia, disebutkan bahwa sajatining niskala ini merupakan tempatnya Sang Pencipta, yang membuat batas tidak terkena batas.

Ada juga naskah sunda kuno yang berjudul Sri Anjana, yang berkisah tentang keluarnya manusia dari alam surga ke alam dunia akibat berbuat dosa. Kisah ini, kata Undang, sangat erat kaitannya dengan kisah Nabi Adam, yang terdapat dalam Islam.

Ada juga naskah sunda kuno, berjudul Waruga Guru yang berkisah tentang banjir Nabi Nuh berdasarkan konsep Islam. Beberapa naskah sunda kuno lainnya, berisikan tentang pemahaman-pemahaman ketuhanan, hingga berbagai hukum syariah dalam Islam.

Berbagai hasil kajian naskah sunda kuno ini memberi petunjuk bahwa aksara sunda kuno telah berjasa dalam menyiarkan Islam di tatar sunda. Aksara sunda kuno juga dinilai telah berhasil merekam berbagai informasi tentang Islam dalam bahasa Arab. Pasalnya, selama ini dikesankan bahwa aksara sunda kuno hanya digunakan untuk merekam bahasa sunda kuno.

Tapi yang menarik, dari hasil penelitian para filolog, ditemukan tidak paralelnya antara pengetahuan Islam dan bahasa tulis. Akibatnya, terdapat deviasi dalam pelafalan bahasa Arab saat dituliskan dengan aksara sunda kuno.

Hasada hanlahhilah hahilahah, Waassaduana Muhamandan Rasululah. Demikian salah satu contoh pelafalan dalam penulisan syahadat dengan aksara sunda kuno yang termuat pada naskah 421. Jika dibandingkan dengan pelafalan syahadat, tentunya terlihat adanya perbedaan yang sangat jelas.

Undang menilai, terjadinya deviasi dalam pelafalan itu terjadi karena beberapa faktor. Bisa jadi deviasi muncul karena para penulis naskah sunda kuno yang berasal dari golongan para kawia (penulis) cenderung belum masuk Islam. ”Jadi, kemungkinan, ada penganut Islam yang telah meyakini Islam, meminta kepada para kawia untuk merekamnya dengan aksara sunda kuno,” ujar Undang.

Proses penyalinan ajaran Islam menggunakan aksara sunda kuno ini dilakukan secara oral. Dampaknya, kata dia, bisa jadi terdapat salah pendengaran dari sang penulis, atau bisa jadi si penulis itu tidak memiliki kosa kata yang tepat untuk menyalin bahasa arab ke dalam aksara sunda kuno. Itu sama halnya, kalau umat Islam diminta untuk membaca kitab-kitab Hindu atau Budha, kemungkinan besar akan terjadi kesalahan pelafalan.

Selain itu, kata Undang, pada dasarnya memang terdapat keterbatasan pembendaharaan kata dari aksara sunda kuno untuk menyalin bahasa arab. Hal serupa, juga terjadi saat penyalinan informasi dari bahasa arab menggunakan aksara jawa kuno.

Memasuki abad ke-17, dalam masa penyebaran Islam oleh Walisongo, pembuatan naskah-naskah kuno yang bernafaskan Islam kian merebak. Bahkan, format penulisannya kian beragam. Tak hanya dengan aksara sunda kuno, atau jawa kuno, penulisan syiar Islam juga mulai menggunakan aksara pegon (aksara arab yang dibubuhi dengan beberapa kosa kata khusus sehingga bisa dibaca dengan bahasa Sunda).

Pada abad ke-21 ini, syiar Islam di Indonesia, khususnya di tatar Sunda, terus berkembang. Tapi sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan proses penelitian berbagai naskah sunda kuno.(rfa/republika)

Wallahu a’lam

***disadur dari sebuah tulisan di republika online

• telah dilihat 487 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Islam dalam Sunda Purba

Tulisan Terkait

Tag pada:                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *