Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Hanya sedikit orang Palembang sekarang yang tahu tentang kampung 3 Ulu, karena kini kampung itu sudah digabung menjadi kelurahan 3/4 Ulu. Lebih sedikit lagi mereka yang tahu bahwa ia sangat bersejarah karena di kampung inilah mushaf Quran pertama kali dicetak di Indonesia.

Peristiwa penting ini terjadi pada tahun 1848. Tokohnya ialah ulama kita Kemas Muhammad Azhari b. Abdullah b. Ahmad (1811-1874). Di masa kecilnya ia belajar pada ayahnya sendiri, yang juga seorang ulama. Setelah itu ia melanjutkan ke Haramayn (Makkah dan Madinah), kemudian ke Mesir dan juga India. Semasa di Haramayn, Muhammad Azhari antara lain diketahui berteman dengan Nawawi al-Bantani dan Ahmad Zaini Dahlan, yang juga kita kenal sebagai ulama penulis ternama. Muhammad Azhari sendiri menghasilkan sejumlah karya tulis, antara lain ‘Athiyat al-Rahmân (1843) dan Tuhfat al-Murîdîn (1859).

Setelah pulang ke Palembang, Muhammad Azhari masih pergi ke Tanah Suci, mungkin untuk mengantar jamaah yang hendak berhaji. Dalam suatu perjalanan kembali, ia membeli peralatan percetakan (Paris-litographique) di Singapura dan mempelajari cara mengoperasikannya. Inilah asal mula munculnya penerbitan Quran pertama kali di Palembang dan di Indonesia.

Untuk waktu yang lama arti penting penerbitan ini tidak kita ketahui. Keberadaannya baru terungkap dalam dunia akademis setelah munculnya kajian Jeroen Peeters (1996). Ia seorang peneliti Belanda yang pada tahun 1988 dan 1991 mengadakan penelitian lapangan di Palembang. Dalam kunjungannya yang pertama ia sempat mewawancarai Kiai Cekming (almarhum Kemas Muhammad Amin Azhari) di rumah kediamannya di 3/4 Ulu. Pada ujung wawancara, Kiai Cekming menunjukkan sebuah mushaf Quran yang dimilikinya dan menginformasikan bahwa mushaf itu dicetak di kampung 3 Ulu. Klaim ini ternyata didukung oleh kolofon yang tercetak pada dua halaman terakhir dari mushaf. Peeters kemudian meminta izin Kiai Cekming untuk membuat fotokopinya dan “untungnya” Kiai Cekming mengizinkannya. Dari sinilah Peeters kemudian dapat melakukan kajian lebih mendalam mengenai Quran cetakan yang historis ini.

Dalam kolofon tertuls jelas bahwa mushaf yang dimiliki Kiai Cekming itu dicetak berdasarkan “khath suratan faqir ila Allahi ta’ala al-hajj Muhammad Azhari b. Kemas al-hajj Abdullah, Palembang nama negerinya, Syafi’i mazhabnya, Asy’ari iktikadnya, Junaidi ikutannya, Sammani minumannya.” Dari identifikasi dirinya ini sangat jelas bahwa Muhammad Azhari adalah pengamal tarekat Sammaniyah, sebuah tarekat yang menekankan aktivisme sosial dan intelektual , yang sejak perempat akhir abad ke-18 sangat popular di lingkungan masyarakat Muslim Palembang.

Proses pencetakan mushaf tidak dikerjakan oleh Muhammad Azhari seorang diri. Dia dan sejumlah tenaga Palembang dibantu oleh tenaga “profesional” dari Singapura, yaitu “Ibrahim b. Husayn, Sahab Nagur nama negerinya, Singapura tempat kediamannya, daripada murid tuan Abdullah b. Abdul-Qadir Munsyi, Malaka.” Menurut perkiraan Peeters tokoh terakhir ini mungkin berasal dari kota Nagur (atau Nagore) di Rajasthan, atau Nagor di India Selatan.

Momentum selesainya pencetakan mushaf ini dicatat oleh Muhammad Azhari secara teliti, mungkin karena dia sudah membayangkan sisi historisitasnya di kemudian hari. Yaitu pada hari Senin tanggal 21 Ramadan 1264 Hijriyah, bersamaan dengan tanggal 21 Agustus 1848 Masehi, tanggal 16 Misra 1564 menurut tarih Kubti, tanggal 9 Ab 2159 menurut tarikh Rumi, dan tanggal 24 Isfandar mah 1217 menurut kalender Parsi. Jumlah mushaf yang dicetak sebanyak 105 buah Quran, dikerjakan dalam 50 hari, sehingga bila dirata-ratakan setiap satu hari berhasil dicetak sebanyak dua Quran tiga juz. Tempat mengerjakan pencetakan juga disebutkannya secara persis, yaitu “di dalam negeri Palembang, di dalam kampung 3 Ulu pihak kiri mudik, kampung Demang Jayalaksana Muhammad Najib bin almarhum Demang Wiralaksana Abdul-Khaliq.” Kolofon kemudian diakhiri dengan doa “Mudah-mudahan mengampuni Allah SWT bagi mereka yang menyurat dia, dan yang mengerjakan dia, dan segala Muslim laki-laki dan perempuan, dan bagi segala ibu bapak mereka itu,” dan ditutup dengan untaian salawat Nabi.

Berdasarkan data yang ada pada kolofon, Peeters memastikan bahwa mushaf cetakan 3 Ulu adalah mushaf cetakan pertama yang dihasilkan dalam wilayah Indonesia. Maka tidak mengherankan jika ia diberitakan beredar luas di Nusantara, dijual dengan harga 25 gulden Belanda. Ini dapat kita maklumi karena sebelum adanya mushaf Quran yang dicetak, Quran yang ada di tangan masyarakat Muslim seluruhnya hasil tulisan tangan yang tentu saja berharga sangat mahal.

Selain menobatkan Quran 3 Ulu sebagai Quran cetakan Indonesia pertama, Peeters menemukan bahwa Muhammad Azhari juga mencetak buku agama yang lain, misalnya Dalâil al-Khayrât pada tanggal 1 Januari 1849. Berdasarkan data tersebut Peeters menyimpulkan penerbit pribumi pertama di Indonesia ialah Kemas Haji Muhammad Azhari b. Abdullah b. Ahmad. Atau dalam bahasa Martin van Bruinessen (1995), yang berhak mendapat kehormatan sebagai penerbit Islam pertama di Indonesia adalah Palembang, dan tokohnya ialah Kemas Muhammad Azhari b. Abdullah b. Ahmad al-Palimbani.

Membaca kisah Muhammad Azhari, ada pertanyaan dan kerinduan. Kapankah di Palembang muncul lagi ulama sebesar beliau? Yang misalnya menguasai penghitungan hari dalam lima kalender? Kapankah di Palembang ada lagi penerbit Islam berkelas seperti Muhammad Azhari? Dan seterusnya.***

Wa Allahu a’lam

***Ditulis oleh Mal An Abdullah, Kakanwil Departemen Agama Sumatera Selatan, 2007-2009, dalam sebuah artikel di harian Sumatera Ekspres, 14 Juli 2014

• telah dilihat 120 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Quran Cetak 3 Ulu yang Bersejarah

Tulisan Terkait

Tag pada:                                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *