» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Telah diriwayatkan dari Hammam bin Munabbih bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga ia berwudhu.’ Seseorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, ‘Apakah hadats itu wahai Abu Hurairah?’ Beliau menjawab, ‘Angin (kentut) yang mendesis maupun yang keluar dengan suara keras.'”

Kalimat ‘Tidak diterima shalat tanpa bersuci’, maksudnya adalah sesuatu yang lebih umum dari wudhu dan mandi wajib. Judul bab ini sendiri adalah lafazh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya dari hadits Ibnu Umar. Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari jalur Abu Mulaih bin Usamah dari bapaknya. Riwayat ini memiliki jalur yang sangat banyak, namun tidak ada satupun yang memenuhi persyaratan Bukhari. Oleh karena itu, beliau hanya menempatkannya sebagai salah satu judul bab, lalu menyebutkan di bawah bab itu hadits lain yang dapat menggantikan kedudukannya.

Kalimat ‘Tidak diterima’, telah diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan Ahmad dari Abdurrazzaq, “Allah tidak menerima.” Maksud “menerima” di sini adalah sesuatu yang sinonim dengan kata sah atau mencukupi. Adapun hakikat penerimaan itu sendiri adalah hasil dari suatu ketaatan yang dianggap mencukupi dan dapat menghilangkan beban yang ada dalam tanggung jawab (dzimmah). Oleh karena memenuhi segala persyaratan shalat merupakan perkara yang sangat menentukan diterimanya shalat, maka hal itu diungkapkan dengan
“penerimaan” dalam bentuk kiasan. Sedangkan penerimaan yang dinafikan (ditiadakan) seperti sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung maka tidak diterima shalatnya”, adalah tidak diterima secara hakikatnya. Sebab, terkadang suatu amalan dinyatakan sah namun tidak diterima karena adanya sebab yang menghalanginya.

Atas dasar ini maka seorang ulama salaf -yakni Ibnu Umar- mengatakan, “Sesungguhnya diterimanya satu shalat yang aku lakukan lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya.” Lalu beliau melanjutkan, “Karena sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.'” (Qs. Al Maa idah(5): 27)

‘Berhadats’, maksudnya adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur). Hanya saja Abu Hurairah menafsirkan makna hadats dengan makna yang lebih khusus, untuk memberi peringatan akan hadats ringan (mukhaffafah) dari yang berat (mughallazhah). Di samping itu, kedua perkara yang disebutkan oleh Abu Hurairah ini lebih banyak terjadi pada orang yang sedang shalat daripada hadats-hadats lainnya.

Adapun macam-macam hadats yang masih diperselisihkan oleh para ulama seperti menyentuh kemaluan, menyentuh wanita, muntah dalam kadar yang banyak serta berbekam, ada kemungkinan beliau (Abu Hurairah) berpandangan bahwa wudhu tidak batal karena hal-hal tersebut. Pandangan ini pula yang diikuti oleh penulis (Imam Bukhari) sebagaimana akan dijelaskan dalam bab, “Pandangan yang mengatakan bahwa wudhu tidak batal kecuali oleh sesuatu yang keluar dari dua jalan”.

Kemudian ada yang mengatakan bahwa Abu Hurairah sengaja mencukupkan jawabannya pada kedua hal itu, karena ia mengetahui bahwa sang penanya telah mengetahui macam-macam hadats selain kedua macam ini. Akan tetapi penafsiran ini terlalu jauh menyimpang.

Hadits ini dijadikan sebagai dalil batalnya shalat seseorang yang berhadats, baik hadats itu keluar atas kehendaknya maupun karena terpaksa. Demikian pula hadits ini dijadikan dalil bahwa wudhu tidaklah wajib dilakukan setiap kali hendak melaksanakan shalat, karena tidak diterimanya shalat berakhir hingga seseorang telah berwudhu, sementara hukum setelah berwudhu itu berbeda dengan hukum sebelumnya. Dari sini timbul suatu konsekuensi bahwa shalat itu tetap diterima setelah seseorang berwudhu.

‘Berwudhu’, maksudnya dengan menggunakan air ataupun sesuatu yang dapat menggantikannya. Diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dengan sanad (jalur periwayatan) yang kuat dari Abu Dzarr, dari Nabi SAW, “Debu yang baik adalah wudhu seorang muslim.” Di sini syariat telah menamakan tayamum sebagai wudhu, karena tayamum itu dapat menggantikan kedudukan wudhu. Maka yang dimaksud diterimanya shalat seseorang yang berhadats bila ia telah berwudhu, adalah jika ia menyempurnakan pula syarat-syarat shalat yang lainnya.***tts

Wallahu a’lam

***Dinukil dari kitab Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari – Imam Ibnu Hajar Al Asqalani

• telah dilihat 220 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Tidak Diterima Shalat tanpa Bersuci

Tulisan Terkait

Tag pada:                    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *