» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Jasa para tokoh pejuang Islam untuk negeri ini tak terbilang. Mereka mengorbankan pikiran, harta, darah dan air mata demi tegaknya Republik ini. Berkorban scara ikhlas dan tanpa pamrih, hanya mengharap ridha dari Allah SWT. Namun, dalam perjalanan selanjutnya, jasa mereka seolah-olah tenggelam. Penguasa negeri ini berusaha menyingkirkan kontribusi mereka dalam sejarah nasional. Hasilnya, banyak generasi muda saat ini sama sekali tidak mengenal ketokohan mereka.

Hal itu terlihat jelas dari penulisan buku-buku sejarah nasional. Di dalam buku-buku tersebut, peran ulama dan santri tidak pernah ditonjolkan. Bahkan di berbagai buku sejarah, tokoh-tokoh Islam sering diidentikkan sebagai kaum pemberontak, pembangkang dan kelompok yang menentang pemerintah yang sah.

Sebaliknya, peran pihak lain malah lebih ditonjolkan. Orang-orang yang dekat dengan ideologi penguasa digambarkan sangat berjasa besar bagi bangsa dan negara ini. Karenanya, pemerintah tak segan-segan memberi gelar mereka sebagai pahlawan nasional. Padahal, boleh jadi, mereka sama sekali tidak punya kontribusi apa-apa, selain memecahbelah persatuan dan kesatuan bangsa.

Pemutarbalikan fakta sejarah itu banyak terjadi di Indonesia. Boedi Utomo, misalnya, dalam berbagai buku sejarah yang ada, Boedi Utomo disebutkan sebagai organisasi modern Indonesai pertama yang tidak bersifat kedaerahan. Entah mengapa kemudian, pemerintah menetapkan kelahiran Boedi Utomo pada 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang kemudian hari diperingati bangsa Indonesia setiap tahunnya.

Kenyataannya, tidaklah demikian. Boedi Utomo adalah kumpulan dari para bangsawan yang ada di Jawa saat itu. Tidak ada anggotanya yang berasal dari kalangan mengengah ke bawah. Karena itu, sejak pertama kali berdiri, tujuan Boedi Utomo adalah untuk memperjuangkan kepentingan para bangsawan Jawa. Dengan kata lain, Boedi Utomo adalah kumpulan para bangsawan yang tidak mengusung persatuan bangsa.

Salah satu tokoh utama Boedi Utomo adalah Dr. Soetomo. Karena dianggap berjasa, pemerintah mengangkat Soetomo sebagai pahlawan nasional. Padahal, sejarah mencatat, Soetomo adalah orang yang cukup keras menentang tegaknya Islam di Indonesia. Bahkan, ia pernah menghina Rasulullah SAw karena tidak sependapat dengan perjuangan Nabi terakhir bagi umat ini.

siOrganisasi nasional pertama seharusnya adalah Syarikat Islam (SI), bukan Boedi Utomo. Sebab sejak awal berdiri, organisasi Islam pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto ini mengedepankan nasionalisme islami sebagai jalan perjuangnnya. Perjuangan SI adalah nasional, bukan kedaerahan seperti Boedi Utomo.

Pancasila (asli) juga adalah hasil perjuangan tokoh-tokoh Islam, seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, KH Wahid Hasyim, Tengku Muhammad Hasan dan lainnya. Bahkan di kemudian hari, para the founding father Indonesia menjadikannya sebagai ideologi negara.

Sayangnya, belakangan para penguasa negari ini mengkhianati pejuangan para pejuang Islam itu dengan menghapus tujuh kata yang mengandung syariat Islam dari Pancasila.Tak hanya itu, merekan pun menghapus segala kata yang berbau Islam di berbagai pasal UUD 1945.

Konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga tak lepas dari kontribusi para tokoh Islam. Melalui mosinya, saat itu yang terkenal dengan Mosi Integral Natsir, M. Natsir menolak pengkotaan Indonesia dan melontarkan pandangan bahwa Indonesia ini adalah negara yang merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Lambang Garuda Pancasila direka oleh seorang Muslim yang bernama Sugiman Wiyosanjoyo, ia aktif di organisasi Muhammadiyah. Karena yang menciptakan seorang Islam, KH Wahid Hasyim, menteri agama saat itu, memakai lambang negara itu sebagai stempel Departemen Agama.

Cerita tentang sejarah pertempuran 10 November 1945 yang kemudian dijadikan sebagai hari Pahlawan juga sering dibalikkan. Dalam berbagai catatan sejarah, lebih-lebih di diorama museum, seperti di Musem Satria Mandala Jakarta, peran umat Islam sama sekali tidak ditunjukkan. Tak ada satu kalimat pun yang menceritakan peran para pejuang Islam dalam mengusir penjajah itu.

Padahal, dalam pertempuran 10 November 1945 tersebut, umat Islam punya andil besar. Namun oleh pemerintah, andil tersebut sama sekali disingkirkan. Alim ulama punya peran besar terhadap pertempuran ini. Karena pertempuran Surabaya lahir dari Deklarasi Jihad para alim ulama sejawa pada Oktober 1945. Isi terpentingnya adalah alim ulama bertekad mengangkat pedang, turun ke medan jihad untuk mengusir penjajah yang ingin kembali menguasai wilayah Indonesia.

Bung Tomo, tokoh yang muncul pada pertempuran itu juga adalah pejuang Islam. Dengan pidato jihadnya di depan corong Radio Republik Indonesia (RRI) sambil berkali-kali memekikkan takbir “Allahu Akbar“, memompa semangat jihad kaum Muslimin Surabaya untuk mengangkat senjata melawan pasukan kafir yang ingin menguasai Surabaya.

Tapi, perjuangan jihad arek-arek Suroboyo mengenyahkan penjajah ini pada perkembangannya tidak pernah diangkat ke permukaan oleh pemerintah. Padahal, semangat jihad inilah yang melatarbelakangi semangat juang para pemuda Islam tersebut, bukan yang lainnya.

Pemutarbalikan fakta serupa juga terjadi pada cerita Pertempuran Ambarawa, pada 15 Desember 1945. Selama ini, sejarah menggambarkan pertempuran Ambarawa sebagai perlawanan hebat rakyat terhadap penjajah, tanpa sedikitpun menyinggung peran kiai dan umat Islam di dalamnya.

Pertempuran saat itu, seperti lautan api. Masyarakat menyerang pasukan asing tersebut dengan semangat luar biasa. Karena itu, pemerintah menetapkan tanggal pertempuran itu sebagai hari Infanteri untuk mengenang dahsyatnya perjuangan massa saat itu. Namun, sekali lagi, di situ sama sekali tidak disinggung tentang peran umat Islam, kecuali hanya perjuangan masyarakat. Padahal, umat Islam punya andil besar dalam pertempuran itu.

Saat itu ternyata para kiai dan santri berhasil menyemangati masyarakat untuk berjuang melawan pasukan Inggris yang mabuk kemenangan pada Perang Dunia Kedua. Tak hanya memukul mundur pasukan Inggris, kiai dan para santri juga berhasil merebut sejumlah benteng peninggalan Belanda dan membuat pasukan sekutu pimpinan Mayjen Hawthrow, Panglima Divisi India ke-23 kalang kabut, kemudian melarikan diri.

Dari sinilah kemudian bersinar nama-nama pejuang, seperti Soedirman, soerang ustadz Muhammadiyah yang kemudian hari diangkat menjadi Panglima Tentara Republik Indonsia (TRI). Muncul juga tokoh lainnya, seperti Pranoto, Ahmad Yani dan lainnya.

Karena itu, sejarawan Islam Mansur Suryanegara menyatakan bahwa tokoh-tokoh Islam tidak pernah menentang pemerintah. Sebaliknya, merekalah yang membantu pemerintah. Karena berjuang secara ikhas, mereka tidak pernah minta diangkat jadi pahlawan. “Kesempatan inilah yang justru dimanfaatkan orang yang tidak berjasa agar muncul sebagai pahlawan,” tegasnya. Jadi ulama dan santri adalah pejuang yang layak mendapat gelar pahlawan.***infokito/tts

Wallahua’lam

***Rivai Hutapea  |  Sabili No. 9 Th. XV – 5 Dzulqaidah 1428 H

• telah dilihat 205 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Santri Juga Pejuang

Tulisan Terkait

Tag pada:                        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *