» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah besabda, “Seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari laki-laki lain. Laki-laki pembeli tanah itu menemukan gentong berisi emas di tanah tersebut. Pembeli berkata kepada penjual , ‘Ambillah emasmu dariku. Aku hanya membeli tanah darimu dan tidak membeli emas.’ Pemilik tanah sekaligus penjual menjawab, ‘Aku menjual tanah dengan apa yang ada padanya kepadamu.’

Lalu keduanya berhakim kepada seorang laki-laki. Laki-laki pengadil ini bertanya, ‘Apakah kalian berdua mempunyai anak?’ Salah satu menjawab, ‘Aku mempunyai anak laki-laki.’ Yang lain menjawab. ‘Aku mempunyai anak perempuan.’ Pengadil berkata, ‘Nikahkan anak laki-lakimu dengan anak perempuannya. Infakkan kepada keduanya dari harta itu dan bersedekahlah.’”

Dalam hadis ini Rasulullah menyampaikan kepada kita tentang dua orang laki-laki di mana salah seorang dari keduanya membeli tanah dari yang lain dan menemukan gentong yang berisi emas. Kedua orang ini memang aneh. Biasanya orang-orang berebut untuk mendapatkan emas itu. Maka, keduanya akan saling mengklaim bahwa dialah pemiliknya agar bisa meraup emas itu ke dalam pangkuannya. Karena, kalau dia sebagai pembeli, maka dia telah membeli tanah dan apa yang ada padanya. Dan kalau dia sebagai penjual, maka dia hanya menjual tanah, bukan emas.

Kecintaan kepada harta (emas, perak dan lain-lain) tertanam dalam jiwa manusia. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran: 14).

Kecintaan kepada harta bisa mendorong manusia untuk saling iri, memusuhi, dan beradu punggung. Ia bisa pula mendorong mereka kepada menghalalkan kehormatan, menumpahkan darah, dan bersengketa demi mendapatkan harta orang dengan cara yang batil.

Allah telah memberitahu kita bahwa penyakit memakan harta dengan cara yang batil juga menyerang orang-orang yang memikul wahyu-Nya dan berdiri di atas syariat-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak.” (QS. At-Taubah: 34).

Jelas sekali bahwa kedua orang ini adalah orang-orang yang shalih dan wara’. Iman yang kuat, taqwa dan keshalihan biasanya tersimpan di balik zuhud dalam urusan harta. Lebih-lebih, jika harta itu haram atau pemiliknya tidak yakin bahwa harta itu miliknya. Orang-orang yang shalih lagi bertaqwa menyadari bahwa harta yang haram membinasakan harta yang halal, mendatangkan murka dan adzab Allah, serta bisa jadi menjadi sebab terjerumusnya ke dalam neraka. Ditambah lagi bahwa orang-orang yang hartanya mereka ambil akan mengambil kebaikan orang yang mengambil sesuai dengan harta mereka yang terambil. Mereka juga berusaha menunaikan harta kepada pemiliknya. Orang seperti itu sangat banyak tersebar di umat ini lebih-lebih di generasi pertamanya. Para mujahidin datang dengan harta-harta yang besar dan menyerahkannya kepada panglima dan mereka tidak mengambil sedikitpun.

Sebagaimana kisah kedua orang ini adaalah sesuatu yang ajaib, begitu pula keputusan pengadil di antara keduanya juga lebih unik dan ajaib. Dia menanyakan keturunan masing-masing. Yang pertama menjawab bahwa dia mempunyai anak laki-laki, sementara yang lain menjawab bahwa dia mempunyai anak perempuan. Pengadil ini menyarankan agar anak laki-laki dan perempuan tersebut dinikahkan, dan keduanya diberi infak dari harta yang ditemukan. Pengadil ini dengan keputusannya telah meyambung keluarga dengan tali perkawinan. Tali perkawinan di antara orang-orang baik menguatkan ikatan iman dan merekatkan hubungan di antara orang-orang shalih dan bisa diharapkan melahirkan keturunan yang shalih pula.

Pelajaran dan Faedah Hadis

  1. Adanya jual beli pada umat-umat terdahulu dan syariat-syariat terdahulu. Tidak seperti yang diklaim, bahwa tidak ada hak kepemilikan pada manusia pada zaman dahulu
  2. Adanya orang-orang shalih yang bertaqwa dan hanya mengambil harta halal, serta menjauhi harta yang daram dalam setiap masa
  3. Anjuran berhakim kepada ahli ilmu dan pemilik akal jernih yang diharapkan mampu memberi hukum yang benar
  4. Keterampilan telah ada sejak dahulu kala. Buktinya adalah gentong dan emas yang ada di dalamnya
  5. Jika seseorang menemukan harta yang tertimbun yang mungkin diketahui pemiliknya, seperti harta yang tertimbung sejak masa yang belum lama, maka harta itu adalah luqothah. Pemiliknya harus dicari dan harta diserahkan kepadanya. Jika masanya jauh dan pemiliknya tidak diketahui sama sekali, maka itu adalah kekayaan bagi siapa yang menemukannya dan ia memilikinya setelah menyisihkan seperlima darinya.

Wallahu a’lam

***Rujukan: Kisah-kisah Shahih dalam al Quran dan Sunnah – Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor

• telah dilihat 250 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Kisah Gentong Emas

Tulisan Terkait

  • Tidak Ada Tulisan Terkait
Tag pada:                

Satu gagasan untuk “Kisah Gentong Emas

  • 29 September 2015 pukul 17:14
    Permalink

    ALLAHU AKBAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *