» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Kekuasaan peradaban Islam di masa keemasan terbentang begitu luas meliputi lautan dan daratan. Menguasai lautan merupakan salah satu faktor yang membuat Kekhalifahan Islam menjadi sebuah kekuatan baru dunia. Tak hanya soal perdagangan maritim, peradaban Muslim pun memiliki armada militer tangguh yang menguasai ganasnya lautan serta samudra.

Salah satu bukti tangguhnya peradaban Islam di dunia maritim ataupun di bidang perdagangan dibuktikan dengan begitu banyaknya pelabuhan kecil di pinggir sungai-sungai besar dan di sepanjang pantai daerah teluk dan Laut Merah. Sedangkan, ketangguhan militer Muslim di lautan ditandai dengan berdirinya galangan kapal angkatan laut yang kokoh di sepanjang Mediterania.

Tak heran, jika peradaban Muslim dikenal sebagai bangsa Maritim yang besar. Sebagai penguasa lautan, kekhalifahan Islam juga menguasai teknologi pembuatan beragam jenis kapal. Pembuatan kapal pun menjelma menjadi sebuah industri yang besar, terutama di negara-negara Islam. Industri kapal dagang dan kapal perang menjadi primadona.

”Salah satu alasan umat Islam begitu mendominasi Mediterania adalah karena keunggulan mereka dalam teknik pembangunan kapal,” ujar Dr A Hakim Murad dalam sebuah artikelnya yang dipublikasikan islamic-study online. Saking berpengaruhnya kekuatan umat Islam di dunia maritim, istilah galangan kapal dar al-sinna pun menjadi kosakata dalam bahasa Inggris, yakni arsenal.

Menurut Ahmad Y Al-Hassan dan Donarld R Hill dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology:An Illustrated History disebutkan bahwa galangan kapal pertama pada era keemasan Islam dibangun di pulau Rawdah, Sungai Nil, Mesir. ”Setelah itu, dibangunlah fasilitas pembuatan kapal di Acre dan Tyre,” ujar Al-Hassan dan Hill.

Di wilayah Mesir, terdapat pula galangan kapal lainnya, seperti di Iskandariah, Damietta, dan Fustat. Khalifah Al- Mutawakkil—penguasa Kekhalifahan Abbasiyah—turut memberi perhatian khusus pada kapal pelabuhan Mesir. Hal serupa dilakukan gubernur Ibnu Tulun (wafat 884 M) yang membuat 100 kapal perang di Rawdah serta banyak kapal kecil.

Lalu, bagaimana kapal-kapal itu dibuat pada zaman kejayaan Islam? Semua kapal-kapal di era kekuasaan Islam terbuat dari kayu. Kayu-kayu tersebut diikatkan satu sama lain pada sisinya sehingga tidak saling menindih seperti bangunan kapal yang berkampuh (clinker-built). Kayu yang sudah diikat itu membentuk seperti papan yang rata (carvel built).

Kayu-kayu tersebut diikatkan dengan tali. Teknik pembuatan kapal seperti ini biasa dilakukan negara Islam bagian timur. Sedangkan, negeri Islam yang berada di bagian Mediterania sudah menggunakan paku besi. Setelah kayu menjadi satu, semuanya didempul dengan menggunakan aspal atau ter. Sedangkan, tali yang digunakan untuk mengaitkan kapal dengan jangkar dibuat dari bahan rami atau lontar.

Ottoman Ship Type Ottoman Ship Type [http://nabataea.net/ottomanships.html]

 Kapal milik umat Muslim memiliki ciri khas yakni pada layar yang digunakannya. Mereka menggunakan layar laten yang dipasangkan pada sebuah tiang berat. Kemudian, layar tersebut dibentangkan pada tiang kapal, selanjutnya digantung sehingga membentuk sudut. Sedangkan, kapal Mediterania ciri khasnya ada pada layar laten yang mempunyai tiga sudut.

Tak sembarang bahan bisa digunakan untuk membuat kapal. Otoritas Muslim di zaman keemasan telah menetapkan standar bahan-bahan yang dapat dipakai membuat kapal. Salah satu syaratnya adalah kayu dan tali yang digunakan harus berkualitas tinggi. Selain itu, juga diperlukan besi, kain terpal, serta bidal penutup tali.

Menurut Al-Hassan dan Hill, di masa kejayaan Islam terdapat beragam jenis kapal dari berbagai ukuran dan jenis. ”Ukurannya mulai dari perahu cardik yang kecil hingga perahu dagang besar berkapasitas lebih dari 1.000 ton,” paparnya. Secara khusus, geografer Muslim, Al-Muqaddasi, pada abad keempat H atau ke-10 Masehi menyebutkan nama dan lusinan jenis kapal. Setiap kapal Muslim tersebut juga mencerminkan karakteristik tertentu.

Kapal dagang

Kapal dagang umumnya merupakan kapal layar yang memiliki rentangan yang relatif lebar dan panjang. Panjangnya layar berfungsi sebagai ruang penyimpanan (kargo) yang lapang. Pada masa kejayaan Islam, sungai Nil mempunyai peranan penting dalam perdagangan internasional dan industri pembuatan kapal. Kota itu dikuasai Islam sejak Amr bin Al-As menaklukkan wilayah itu.

Kapal perang

Berbeda dengan kapal dagang, kapal perang bentuknya lebih ramping. Kapal ini bisa menggunakan dayung atau layar, tergantung dari fungsinya. Selain dibangun di pelabuhan-pelabuhan yang ada di Mesir, pada zaman kejayaan Islam kapal perang juga dibuat di wilayah Barat, seperti Tripoli dan Tunis di Afrika Utara, kemudian di Sevilla, Almeria, Pechina, dan Valencia di Spanyol. Selain itu, kapal-kapal perang juga dibuat oleh kaum Muslim di Messina dan Palermo dengan mempekerjakan ribuan orang.

Industri pembuatan kapal juga berkembang pada zaman Dinasti Fatimiyyah. Mereka memperluas fasilitas pembuatan kapal perangnya di Tunis. Ada beberapa armada yang penting pada zaman kekuasaan Dinasti Fatimiyyah, yakni armada al-armada Sheen, al-Harariq, al- Harareeb, dan al-Taraid. Setelah kekuasaan Fatimiyyah meredup, industri pembuatan kapal dilanjutkan oleh Dinasti Ayyubiyah dan Mamluk.

Pada 566 H (1170 M), Salahudin Al-Ayubi berhasil membuat bagian-bagian badan kapal di galangan kapal Mesir. Salahudin juga memerintahkan pendirian dermaga perakitan kapal untuk memasok kapal-kapal dalam pertempuran melawan pasukan tentara Perang Salib.

Keunggulan industri pembuatan kapal juga berlangsung hingga di era Kekhalifan Usmani Turki. Pemerintahan Usmani mengembangkan Istanbul (kota Islam) menjadi pusat pelayaran. Sultan Muhammad II pun menetapkan lautan dalam Golden Horn sebagai pusat industri dan gudang persenjataan maritim.

Pemerintahan Ottoman juga berhasil membangun sebuah kapal di Gallipoli Maritime Arsenal. Di bawah komando Gedik Ahmed Pasha (1480), Daulah Usmani membangun basis kekuatan lautnya di Istanbul. Tak heran, jika marinir Turki mendominasi Lautan Hitam dan menguasai Otranto.

Saking kokohnya kekuatan militer Ot-toman di lautan, Sultan Salim I kerap berseloroh, ”Jika Scorpions (Kristen) menempati laut dengan kapalnya, jika bendera Paus dan raja-raja Prancis serta Spanyol berkibar di pantai Trace, itu semata-mata karena toleransi kami.”

Ibnu Tulun Sang Pembuat 100 Kapal Perang

Ahmad Ibnu Tulun adalah seorang gubernur Mesir pada masa Dinasti Abbasiyah. Ia adalah anak dari seorang budak berkebangsaan Turki bernama Tulun, yang dalam bahasa Turki berarti kemunculan yang sempurna.

Ahmad Ibnu Tulun dilahirkan di Baghdad saat bulan Ramadhan 220 H/ September 835 M. Tak lama setelah kelahirannya, sang ayah meninggal dunia. Sang ibu kemudian dipersunting Bagha al- Ashghar, salah satu panglima militer Dinasti Abbasiyyah yang berasal dari daerah Turki. Tak lama, Bagha al-Ashghar juga meninggal dunia.

Ibu Ahmad Ibnu Tulun kemudian menikah untuk ketiga kalinya dengan seorang pembesar militer bernama Bakbak (Bayik Bey) yang menggantikan posisi mantan suami keduanya. Ibnu Tulun tumbuh besar dalam tradisi Turki dan didikan militer ayah tirinya. Sejak itu, ia aktif dalam dunia militer.

Beranjak dewasa, Ibnu Tulun menikahi anak perempuan dari panglima militer lain Yarjukh, teman ayah tirinya. Ia ditunjuk sebagai gubernur Mesir di bawah kekuasaan Khalifah Al-Mu’tamad Billah—penguasa Dinasti Abbasiyah.

Para sejarawan menjelaskan, Ibnu Tulun adalah orang yang kuat dan keras. Dia memerintah dan membuat suatu pertumbuhan dan stabilitas. Perawakannya tinggi dan tampan. Pada awal menjadi gubernur, ia menangani konflik dengan Ahmad Ibnu al-Mudabbir—pengumpul pajak resmi Dinasti Abbasiyah.

Konon, Ibnu Al-Mudabbir lebih senang melaporkan hasil pajak kepada khalifah di Baghdad dibandingkan kepada Ahmad Ibnu Tulun. Merasa tidak dihormati, Ibnu Tulun mengambil tindakan. Akhirnya, ia berhasil menundukkan Ibn Al- Mudabbir. Setelah itu, pamornya langsung naik.

Ibnu Tulun mempunyai kekuasaan yang begitu luas meliputi wilayah Mesir hingga Alexandria. Pada masa kejayaannya, Ibnu Tulun berhasil memerintahkan pembuatan 100 kapal perang dan ratusan kapal kecil. Inilah salah satu pencapaian terbesar Ibnu Tulun. Ia mampu menguasai lautan. Tak heran, jika kekuasaannya semakin kuat.

Sampai-sampai, Ibnu Tulun tak lagi menyebut dirinya sebagai gubernur, melainkan sebagai pemegang kebijakan independen yang tak lagi memiliki kaitan hierarkis terhadap Abbasiyah. Ia membangun dinasti sendiri—Dinasti Tuluniyah—di Mesir yang lepas dari pengaruh Dinasti Abbasiyah.

Ia menunjukkan kekuasan yang dikendalikannya itu dengan memasang gambar wajahnya di mata uang, mengangkat pembantu (menteri), kepolisian, bea dan cukai, istana, perdagangan, dan dinas intelijen***rep/tts

Wallahu a’lam

***Disadur dari beberapa tulisan di harian republika

• telah dilihat 387 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Industri Kapal di Era Kekhalifahan Islam

Tulisan Terkait

Tag pada:                    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *