Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Pencarian energi alternatif ternyata tak hanya dilakukan peradaban manusia modern. Energi selalu menarik perhatian manusia dari masa ke masa. Peradaban Islam di era kekhalifahan telah berupaya mengembangkan air dan angin sebagai energi. Semua itu tak lepas dari upaya para insinyur Muslim yang berhasil menemukan beragam tipe mesin dan beragam alat-alat pintar (ingenious devices).

Sejatinya, peradaban pra-Islam juga telah mulai memanfaatkan air dan angin sebagai energi. ”Upaya ini mencapai puncaknya di masa peradaban Islam,” ungkap Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam karyanya bertajuk Islamic Technology:An Illustrated History. Tak heran, jika kincir air dan angin pun tumbuh pesat di dunia Muslim dan menjadi bagian integral dari kebudayaan Islam.

Fakta bahwa energi air dan angin menjadi bagian penting masyarakat Islam dapat ditemukan pada beberapa manuskrip (naskah) serta buku tentang alat-alat pintar dan mesin-mesin otomatis. Salah satunya karya Banu Musa bersaudara dan al-Jazari. Banu Musa menuliskan hal tersebut pada abad ke-3 H/9 M, sedangkan al-Jazari pada abad ke-6 H/12 M. Keduanya membuktikan bahwa Islam telah mengenggam dan menguasai kedua energi penting tersebut.

Tak hanya itu, al-Hassan dan Hill juga menemukan ada sejumlah karya ilmuwan lainnya berupa risalah tentang permesinan antara periode keduanya. Salah satu contohnya risalah karya al-Muradi pada abad ke-5 H/ke-11 M. “Kami mengharapkan risalah tersebut dapat memberikan kejelasan jika versi lengkapnya ditemukan. Dalam hal ini, kami mempunyai satu bab mengenai kincir air yang ditemukan pada delapan manuskrip,” ujar kedua sejarawan sains itu.

Risalah lainnya yang mengupas tentang pencarian energi di dunia Islam adalah al-hiyal fi’l-hurub wa fats al-mada’in wa hifz al-durub (Siasat Perang, Penaklukan Kota, dan Penjagaan Lintasan). Sejatinya, buku tentang permesinan yang tak diketahui penulisnya itu muncul berbarengan di era al-Jazari. Beberapa orang menisbahkan buku itu kepada Iskandar Agung, tapi diragukan kalangan sejarawan.

Pada masa itu, seorang penulis Arab biasa menisbahkan karyanya kepada tokoh penting dan ternama. Buku yang diyakini ditulis pada abad ke-9 dan ke-12 M itu memuat tak kurang dari 16 jenis mesin. Uniknya, papar al-Hassan dan Hill, seluruh mesin yang tertulis dalam risalah Siasat Perang, Penaklukan Kota, dan Penjagaan Lintasan itu berbeda dengan kincir pada umumnya serta mesin pengangkat air buatan al-Jazari dan Taqi al-Din.

Menurut al-Hassan dan Hill, risalah al-Muradi itu coba menguraikan mesin yang ingin meminimumkan energi. Tak kurang dari enam mesin yang dipaparkan pada risalah itu memiliki tipe gerak menerus (perpetual motion). ”Semua mesin yang dijabarkan dalam manuskrip itu mengandung suatu filosofi dan semangat pendorong yang harusnya pertimbangkan bersamaan dalam setiap analisis yang serius,” ungkap al-Hassan dan Hill.

Sayangnya, ilustrasi yang tercantum dalam risalah yang pengarangnya anonim itu nyaris seluruhnya tidak terbaca. Menurut al-Hassan dan Hill, hal itu sangat berbeda dengan risalah karya Banu Musa bersaudara, al-Muradi, Ridwan, al-Jazari, dan Taqi al-Din. Ilustrasi yang mereka buat dalam karyanya sangat jelas bahkan mudah dimengerti. “Di sinilah terbukti bahwa penyalin risalah tersebut tidak peduli terhadap subjek yang diulasnya, terlebih periode penyalinan dan penulisan naskahnya terlibang sangat panjang, yakni sekitar enam abad.”

Gerak Perpetual
Menurut al-Hassan dan Hill, gerak perpetual merupakan perkembangan yang wajar dalam teknologi Islam. Munculnya teori gerak itu, papar sejarawan sains, menunjukkan adanya perhatian yang sungguh-sungguh dalam pemanfaatan sumber tenaga. al-Hassan dan Hill menuturkan, sekitar tahun 1150 M di negara India, Bhaskara juga telah menjelaskan kincir gerak perpetual yang menyerupai salah satu dari enam kincir dalam manuskrip berbahasa Arab.

”Namun, teks aslinya yang ditulis dalam bahasa Arab sudah muncul lebih awal dari yang ada di India,” tutur al-Hassan dan Hill. Dalam manuskrip berbahasa Arab tersebut telah digambarkan secara perinci mengenai 16 mesin tersebut, bahkan dengan pendekatan yang sama. “Kesamaan yang terjadi dalam satu dua kincir gerak perpetual dalam teks berbahasa India bukan disebabkan oleh penyampaian gagasan dari satu budaya ke budaya lain. Meskipun pernah ada penyebaran yang cukup berarti ke Barat,” papar al-Hassan dan Hill.

Kincir gerak perpetual ini, lanjut al-Hassan dan Hill, memiliki keunikan sehingga menarik perhatian para ilmuwan Barat hingga awal abad ini. “Tampaknya teknologi tersebut ditangani secara serius sehingga beberapa tokoh terkenal bahkan kalangan pemerintah dibuat penasaran,” ujar al-Hassan dan Hill.

Mesin gerak perpetual secara sederhana merupakan sebuah mesin yang bekerja tanpa sumber energi dari luar atau output-nya yang lebih besar ketimbang input yang dibutuhkan. Terdapat tiga jenis mesin gerak perpetual yang dijabarkan dalam manuskrip bahasa Arab sekitar abad ke-9 atau ke-12 M. Pertama, mesin dengan pipa tertutup yang diisi air raksa sebagian dan dipasang sepanjang keliling kincir dengan sudut tertentu terhadap arah radial. Pipa-pipa tersebut tidak dipasang radial.

Ketika kincir berputar, air raksa akan bergerak di dalam pipa dari ujung yang satu ke ujung lainnya dan diperkirakan dapat menimbulkan tenaga gerak. Kedua, mesin dengan martil-martil kayu yang diengsel di sekeliling kincir. Kincir-kincir tersebut ada yang rebah, namun sebagian ada yang tegak. Akibatnya, terjadi keseimbangan antara kedua sisi sehingga kincir dapat berputar tanpa henti.

Ketiga, mesin dengan lengan bersendi banyak yang diengsel di sekeliling kincir. Lengan-lengan tersebut saling mendekat dan merapat sepanjang kincir dalam satu arah sehingga menyebabkan ketakseimbangan yang menimbulkan gerak rotasi.

“Rancangan ini dan rancangan serupa lainnya, tetap menarik perhatian Eropa hingga belakangan ini. Prinsip yang terakhir inilah yang diambil oleh George Lipton di Inggris kira-kira 100 tahun lalu,” kata al-Hassan dan Hill. Begitulah, para insinyur Muslim mengembangkan dan mencari energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan mereka pada zamannya. desy susilawati.

Ilmuwan Pengarang Risalah Teknik Mesin

Banu Musa bersaudara

Banu Musa bersaudara atau sons of Musa muncul pada abad ke-9 M. Mereka merupakan sarjana Muslim Persia, Baghdad, yang mengabdikan diri di Bait al-Hikmah. Mereka adalah Abu Ja’far Muhammad Ibnu Musa ibnu Shakir (sebelum 803-873) yang menekuni bidang astronomi, teknik, geometri, dan fisika. Lalu, Ahmad ibnu Musa ibnu Shakir (803-873), spesialis mekanik dan teknik. Dan, al-Hasan ibnu Musa ibnu Shakir (810-873), spesialis pada bidang teknik dan geometri.

Banu Musa merupakan anak-anak dari Musa ibn Shakir– seorang penyamun dan kemudian sebagai astrolog pada masa Khalifah al-Mamun. Ketika meninggal dunia, dia meninggalkan anak-anaknya yang masih muda itu kepada penjaga khalifah yang dipercayainya, yakni Ishaq bin Ibrahim al-Mus’abi, seorang mantan gubernur Baghdad.

Banu Musa bersaudara menemukan sejumlah automata (mesin automatik) dan peralatan mekanik. Mereka menjelaskan sekitar 100 alat dalam buku mereka yang bertajuk Ingenious Devices. Beberapa temuan mereka, antara lain, katup dan klep steker, klep pengapung, pengontrol balik, flute otomatis, mesin yang dapat diprogram, trik perangkat mekanis, lampu angin topan, pemangkasan lampu tunggal, lampu pipa air tunggal, masker, kerab, dan keran kulit kerang.

Taqi al-Din

Taqi al-Din Muhammad ibnu Ma’ruf al-Shami al-Asadi (1526-1585) adalah  seorang ilmuwan, astronom, astrolog, ahli teknik, penemu, pembuat jam dinding dan jam tangan, serta ahli fisika dan matematika. Ilmuwan yang satu ini juga merupakan seorang ahli botani, ahli hewan, ahli obat-obatan, hakim Islam, imam masjid, filsuf Muslim, teolog, dan guru madrasah.

Dia juga pernah mengarang lebih dari 90 buku dengan berbagai subjek yang mencakup astronomi, astrologi, jam, teknik, matematika, mekanik, dan optik folosofi. Namun, hanya 24 buku dari karya-karyanya yang masih bertahan. Dia dihormati pada era Kekhalifahan Turki Usmani. Khalifah kerajaan Islam yang paling disegani pada eranya itu didaulat sebagai ilmuwan terbaik dalam peradaban.

Salah satu bukunya, Al-Turuq al-samiyya fi al-alat al-ruhaniyya (The Sublime Methods of Spiritual Machines) yang ditulis tahun 1551 M, menjelaskan kerja mesin uap air bersifat elementer dan turbin uap air, mendahului penemuan terkenal lainnya tentang mesin uap air karya Giovanni Branca pada 1629.***tts

Sumber: Khazanah Islam – Republika Online

• telah dilihat 135 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Pencarian Energi di Zaman Kekhalifahan

Tulisan Terkait

Tag pada:                                        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *