» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Menceritakan mengenai masuknya Islam ke Palembang tentu tidak lepas dari tiga masalah pokok, yaitu asal kedatangan Islam, siapa yang membawanya dan waktu kedatangannya. Ada beberapa teori yang disampaikan oleh para ahli sejarah mengenai hal tersebut.

1. Teori yang mengatakan bahwa Islam di Indoneisa masuk dari anak benua India yaitu Gujarat dan Malabar

Teori ini dikembangkan oleh Snoouck Hurgronje, dia berargumen bahwa ketika Islam di Anak Benua India menguat, Muslim Deccan datang ke dunia Malayu sebagai penyebar Islam pertama pada Abad ke-12. Teori ini didukung juga oleh sarjana Belanda Maquetta yang berpendapat Islam Indonesia masuk dari Gujarat berdasarkan pengamatannya terhadap batu nisan yang ditemukan di dekat makam Maulana Malik Ibrahim (822 – 1419 M), dimana ada kesamaan dengan batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat.

Kesimpulan ini ditentang oleh Fatimi yang mengatakan bahwa nisan yang ditemukan berbeda dengan nisan yang berada di Gujarat, dan batu nisan itu sangat mirip dengan nisan yang berada di Bengal, berdasarkan atas penemuan batu nisan Siti Fatimah di Leran, Jawa Timur. (Fatimi dalam Azyumardi Azra.2013). Teori Islam berasal dari Gujarat maupun dari Bengal memiliki banyak kelemahan, karena pada masa Islamisasi Samudra Pasai, raja pertamanya wafat tahun 698 H / 1297 M, dimana saat itu Gujarat masih Kerajaan yang bercorak Hindu. Baru setahun kemudian Cambay, Gujarat ditaklukan oleh Muslim. Apabila Islam berasal dari Gujarat, maka pastilah Islam di Gujarat sudah mapan dan berkembang baik di Gujarat. Selanjutnya G.E Marrison berpendapat bahwa Islam masuk melalui Coromandel (G.E Marisson dalam The Coming Of Islam to The East Indies dalam Azyumardi Azra.2013.Hlm.6).

2. Teori yang mengatakan bahwa Islam masuk langsung dari Makkah

Teori ini mengatakan bahwa Islam langsung dari Arabia, didukung adanya sumber-sumber dari Cina yang menceritakan bahwa di pesisir Sumatera pada akhir abad ke-7 telah ada pemukiman kampung Arab, dan dilaporkan bahwa telah terjadi penikahan antara orang-orang Arab tersebut dengan perempuan lokal, sehingga membentuk komunitas muslim, dan komunitas ini juga melakukan penyebaran dakwah Islam. (T.W.Arnol dalam The Preaching Of Islam; A History Of The Propagation Of The Muslim Faith dalam Azyumardi Azra.2013.Hlm.7). Cerita ini juga terdapat dalam Kitab ‘Ajaib Al-Hind yang berbahasa Persia tentang eksistensi Muslim di kerajaan Hindu-Budha (Sriwijaya). Teori arab ini dipegang oleh beberapa sarjana seperti Frawfurd, Niemann, de Hollander, Naquib Al Attas dan Buya Hamka.
Dalam Kanzulngalam.com, diketahui Sejarawan asal Italia, G.E.Gerini di dalam bukunya Futher India and Indo-Malay Archipelago, mencatat bahwa sekitar tahun 606-699M telah banyak masyarakat Arab, yang bermukim di Nusantara. Mereka masuk melalui Barus dan Aceh di Swarnabumi utara. Dari sana menyebar ke seluruh Nusantara hingga ke China Selatan. Serta di dalam buku Arkeologi Budaya Indonesia, karangan Jakob Sumardjo, diperoleh informasi, berdasarkan catatan kekaisaran Cina, diberitakan tentang adanya hubungan diplomatik dengan sebuah kerajaan Islam Ta Shi di Nusantara. Bahasa Cina menyebut muslim sebagai Ta Shi. Ia berasal dari kata Parsi Tajik atau kata arab untuk Kabilah Thayk (Thoiyk). Kabilah Thoiyk ini adalah kabilahnya Ibnu Masud r.a, salah seorang sahabat Nabi, seorang pakar ilmu Alquran (Arkeologi Semiotik Sejarah Kebudayaan Nusantara).

3. Teori yang mengatakan bahwa Islam masuk melalui Cina

Teori yang digagas oleh Slamet Muljana (1968) yang mengatakan masuknya Islam dari Cina berdasarkan Kronik Klenteng Sam Po Kong, dimana dikatakan bahwa Raden Fatah, Aryo Damar, Sunan Ampel adalah berasal dari Cina . Namun hal ini dibantah oleh G.W.J Drewes, Guru Besar Islamologi dari Leiden dengan mengatakan pengambilan data Slamet Muljana tidak tepat dan tidak beralasan (Ketika di IAIN Sunana Kalijaga, Yogyakarta diberitakan Berita Buana, Selasa 23 November 1971, dalam Ahmad Mansur Suryanegara.2002).

4. Teori bahwa penyebaran Islam melalui kemaritiman

Menurut N.A. Baloch, seorang Sejarawan Pakistan, umat Islam telah memiliki pengetahun Navigaro yang baik dalam pelayaran samudra. Melaui jalur ini, Islam diperkenalkan pada penduduk sepanjang pantai-pantai persinggahan pada abad ke-1 H atau abad ke-7 M. Selanjutnya pada abad ke-6 atau abad ke-13 M, penyebaran Islam masuk hingga pedalaman-pedalaman yang dilakukan oleh para wirausaha pribumi yang telah menganut Islam terlebih dahulu. (N.A.Baloch dalam The Advent of Islam in Indonesia dalam Ahmad Mansur Suryanegara.2002.hlm.102)

(DPM.TCP.)

• telah dilihat 272 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Masuknya Islam ke Palembang

Tulisan Terkait

Tag pada:                        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *