Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

Selama beberapa dekade silam, para arkeologi berhasil menggali sisa-sisa peninggalan masa lampau berupa puing-puing kapal di sebelah barat Indonesia. Peninggalan tertua adalah sisa-sisa perahu papan yang ditemukan di Pontian di ujung barat daya Semenanjung Malaya, yang setelah diukur dengan metode karbon diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-3 sampai ke-5 Masehi. Bagian-bagian dari perahu sejenis telah ditemukan di Thailand selatan yang, dari bukti-bukti yang ada, kemungkinan berasal dari masa yang lebih kurang sama. Dan di Sumatera Selatan, dekat Palembang, telah ditemukan puing-puing yang sangat jelas berasal dari kapal yang besar dan kukuh dari abad ke-5 hinggake-7 Masehi.

Sumber-sumber dari Cina mengenai periode yang sama menyebutkan, kapal-kapal yang dibuat dari papan bersilangan dari wilayah kepulauan (Indonesia) panjangnya setara dengan 162 kaki; tetapi sejauh ini tak ada bukti langsung mengenai perahu besar semacam itu yang dapat meperjelas keberadaannya. Yang luar biasa dari semua barang peninggalan tersebut adalah bentuk-bentuk papan bersilangan, diikat dengan pelat sambung, dan teknik pasak tampak digunakan pada konstruksi perahu Indonesia selama seribu lima ratus tahun berikutnya.

kapalperangsriwijaya-270x251Demikian pula di Palembang dan Sambirejo, Sumatera Selatan, para arkeolog menemukan kemudi setengah lingkaran sepanjang 27 kaki dan masing-masing berukuran panjang 20 kaki-hampir sama dengan kemudi yang masih digunakan pada perahu-perahu masa sekarang dan kemungkinan berasal dari paruh pertama milenium pertama Masehi. Rekonstruksi dari beberapa serpihan kayu lainnya dari Sambirejo menghasilkan sebuah strake sepanjang 47 kaki, dari kapal yang diperkirakan memiliki bentuk sempit dan panjang 65 kaki hingga 70 kaki. Diperkirakan, kedua perahu tersebut dan perahu sejenis yang ditemukan di Mindanao, Filipina, tidak stabil tanpa adanya cadik. Penemuan tersebut sangat berarti karena selama periode tersebut tidak ditemukan adanya sisa-sisa peniggalan kapal kuno di India selatan.

Sisa-sisa perahu berbentuk ramping dari Sambirejo kemingkinan berasal dari kapal yang serupa dengan perahu bercadik yang anggun dan mampu melaju kencang yang disebut kora-kora, yang menyelinap di antara pulau-pulau dan tetap digunakan sebagai kapal perang lama setelah kedatangan Portugi. Pada abad ke-16, setiap pemimpin daerah Filipina dan Maluku memiliki armada kapal perang sendiri, status sang pemimpin tergantung dari jumlah budak, yang berasal dari pulau-pulau yang jauh, yang mampu ditangkap dan dikumpulkannya dengan menggunakan armada kapal. Setiap kapal didayung oleh 300 orang yang duduk berurutan pada tepian ganda di kedua sisi kapal. Mereka didukung oleh para perajurit bersenjata tombak, sumpit, panah dan pedang yang ditempatkan di lantai yang tinggi. Para juru mudi mengendalikan kapal yang memiliki kemudi bercabang dua ke samping, dengan dibantu oleh layar miring berbentuk segi empat yang dinaikkan dengan tiang berkaki tiga, yang membuat kapal melaju kencang di permukaan air. Batang tinggi pada buritan dibuat melengkung ke atas dan pada tiap ujungnya dihiasi pita-pita; dan pada masa lalu, dihiasi oleh kepala-kepala musuh yang berhasil ditaklukkan.

Jung+Nusantara+bsrSisa-sisa penginggalan kapal yang lebih besar, seperti yang ditemukan di dekat Palembang, tampak berasal dari satu badan perahu tanpa cadik, yang kemungkinan merupakan cikal bakal perahu jong atau jongue Indonesia yang tekenal, yang merupakan kapal barang yang masih ada dalam jumlah banyak hingga awal abad ke-16. Meskipun nama tersebut seperti nama kapal Cina, “jung”, jong merupakan hasil rancangan bangsa Indonesia, dan –jika sejarah pelayaran antarsamudera berjalan- cikal bakal kapal tersebut mungkin lebih tua daripada cikal bakal kapal Cina jung.

Kedua kapal tesebut memiliki perbedaan dalam beberapa hal penting, misalnya papan-papan jong disatukan dengan pasak dari kayu, sedangkan jung disatukan dengan menggunakan paku-paku besi dan pengapit. Jong memiliki kemudi quarter, merupakan ciri khas yang menonjol dari perahu Indonesia, sedangkan jung dikendalikan dengan kemudi berporos yang ditempatkan di buritan, yang merupakan penemuan hebat bangsa Cina.

Terdapat teknik yang luar biasa dalam pembuatan kapal yang digunakan oleh orang-orang Indonesia maupun Cina. Jong, seperti halnya kapal Cina, memiliki badan dengan ketebalan empat bahkan mungkin enam lapis kayu, selubung pelindung luar baru diletakkan di atas kayu-kayu tersebut ketika mulai lapuk. Badan kapal setebal 6 atau 8 inci membuat jung maupun jong benar-benar berat dan sempurna. Teknik ini hampir dapat dipastikan dipelajari bangsa Cina dari bangsa Indonesia, mengingat Cina tidak memiliki kapal laut yang mampu mengarungi samudera sebelum abad ke-8 atau ke-9 M, yaitu ketika Sung berkuasa dan Cina mulai membangun angkatan laut yang kuat.

Dua peziarah Buddha dari Cina yang menaiki kapal Indonesia di Sumatra untuk menuju India meninggalkan catatan-catatan yang, meskipun berjarak antara abad ke-3 dan ke-8 M, penjelasan-penjelasan keduanya saling melengkapi satu sama lain. Kapal-kapal itu panjangnya 160 kaki, dan memiliki beban 600 ton; dibangun dari beberapa lapis papan; tidak mneggunakann besi sebagai penguat (yang menjelaskan bahwa kapal tersebut bukan milik bangsa Cina); papan-papan itu diikat satu sama lain dengan menggunakan serat pohon aren, dan dipasangi tiang-tiang dan layar-layar. Karena tak satu pun penulis menyebutkan adanya cadik, diasumsikan bahwa kapal-kapal tersebut tidak memilikinya. Oleh karena itu, diperkirakan kapal-kapal itu merupakan cikal bakal dari jong, dan bukan kapal seperti kora-kora.

Namun, kesan yang paling “hidup” dari jong ini dikutip dari seorang penulis sejarah dari Portugis, Gaspar Correia, yang menggambar kunjungan pertama Gubernur Alfonso de Albuquerque ke selat Melaka pada awal abad ke-16:

“Karena junco itu memulai serangan, sang Gubernur medekatinya bersama seluruh armadanya. Kapal-kapal Portugis mulai menembaki junco, tetapi tidak ada pengaruhnya sama sekali, lalu junco berlayar pergi … Kapal-kapal Portugis lalu menembaki tiang-tiang junco … dan layar-layarnya berjatuhan. Karena sangat tinggi, orang-orang kami tidak berani menaikinya, dan tembakan kami tidak merusaknya sedikit pun karena junco memiliki empat lapis papan. Meriam terbesar kami hanya mampu menembus tak lebih dari dua lapis … Melihat hal ini, sang Gubernur memerintahkan nau-nya untuk datang ke samping junco. (Kapal Portugis) ini adalah Flor de la Mar, kapal Portugis yang tertinggi. Dan ketika berusaha untuk menaiki junco, bagian belakang kapal hampir tak dapat mencapai jembatannya … Awak junco mempertahankan diri dengan baik sehingga kapal Portugis terpaksa berlayar menjauhi kapal itu lagi. (Setelah pertempuran selama dua hari dua malam) sang Gubernur memutuskan untuk mematahkan dua buah dayung yang ada di luar kapal.”

Setelah itu, barulah junco menyerah.

Terdapat sebuah rancangan kapal Indonesia lain yang terkenal yang dapat dilihat pada tujuh buah panel relief di dinding-dinding stupa abad ke-8 dan ke-9 di Candi Borobudur yang telah dijelaskan sebelumnya. Seperti kasus-kasus yang lainnya, tak semua orang sepakat tentang apa yang dimaksud dengan gambar itu. Keyakinan Mookerji bahwa kapal-kapal tersebut adalah kapal-kapal India telah dibantah. Adrian Horridge berpendapat bahwa kapal-kapal tersebut adalah cikal bakal dari kora-kora. James Hornell mengaanggapnya sebagai “keturunan” dari kolandiaphonta atau kolandia, yang menurutnya “kemungkinan merupakan kerabat dekat kapal bercadik bertiang dua dari Jawa yang pahatannya ada di Borobudur, mengingat Periplus menyatakan dengan jelas bahwa kolandia berdagang hingga ke Chyse.”

Dan Anthony Christie darii School of Oriental and African Studies di London, yang menyamakan kolandiaphonta dengan kun-lo-pa, yakin bahwa kapal-kapal tersebut dan kapal-kapal di Borobudur adalah nenek moyang dari jong yang berlayar perlahan dan bertahan dari tembakan meriam. Dari konstruksinya yang kukuh, kapal-kapal tesebut mampu melakukan perjalanan jauh. Dan fakta bahwa hanya kapal-kapal itu yang digambarkan (di relief Candi Borobudur), memunculkan anggapan bahwa kapal-kapal tersebut pada masa itu setara dengan Boeing atau Airbus, sehingga pengaruh Indonesia tersebut sampai wilayah yang jauh dan luas … sebuah kemungkinan yang dibuktikan oleh perjalanan replika kapal Borobudur yang tiba di Ghana pada Februari 2004 setelah berayar sejauh 11.000 mill dari Indonesia.***(tts)

Wallahu a’lam

Disadur dari tulisan Robert Dick-Read, Penjelajah Bahari – Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika

• telah dilihat 832 kali • total 6 kunjungan untuk hari ini •
Jung (Jong), Perahu dan Kapal Kecil

Tulisan Terkait

Tag pada:                                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *