Selamat Tahun Baru Hijriyah - 1 Muharrom 1439 H
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
---------- Malam Seni dan Budaya Besemah Pagaralam 2017 ----------

MUKADIMAH

Bismillahirrohmanirrohim,
Segala puji hanya milik Allah SWT yang menguasai hidup kita , sholawat dan salam senantiasa tercurah bagi Tauladan kita Nabi Muhammad SAW, Nabi pembawa umat dari kegelapan menuju kepada cahaya Islam yang terang benderang.

Sudah kita ketahui dari sejarah Indonesia bahwa dahulu kala, di PALEMBANG (baca : Pelembang) berdiri kerajaan SRIWIJAYA yang juga merupakan pusat pendidikan agama Budha. Dan dari Sejarah pula perlu diketahui bahwa di Palembang Sekitar abad ke XV berdiri KERAJAAN PELIMBANGAN (asal dari Jawa) Yang kemudian hari memutuskan idiologi dengan Jawa (Mataram) dan menjadi KESULTANAN PELIMBANG DARUSSALAM.

Melalui Tulisan ini penyusun berharap Generasi muda Islam Indonesia agar tidak lupa bahwa “KESULTANAN PELEMBANG DARUSSALAM” Meski kehilangan Takhta, Kemegahan, kemewahan dan Keagungan duniawi, rela demi membela kemuliaan Iman dan Islam yang tak tunduk kepada arogansi kangkangan Penjajah / Kafir

Dengan mengenal, mengenang sejarah masa lalu, maka tentu ada faedahnya kita semua, karena dengannya dapat kita jadikan sebagai Pendorong, Penyemangat atau Peringatan dalam menapak menujua masa depan.

Semoga ALLAH SWT mengembalikan kecemerlangan dan kejayaan nilai-nilai Islam dalam Prikehidupan Wong Pelembang khususnya dan Nusantara Umumnya.

Wassalamualakum, Wr.Wb.
R. MUHAMMAD AMIN PUTRA JAYA
Penyusun.

————————————————————————————————————————————–

BAB I
ARTI DAN LOKASI PALEMBANG

1.1. Arti Nama Palembang
Nama Palembang banyak artinya, pengertian yang mendekati kenyataan adalah apa yang diterjemahkan oleh R. J. Wilkounsont dalam bukunya A Malay English Dictionary (Singapore, 1903):

Lembang adalah tanah yang berlekuk atau tanah yang rendah, dan untuk arti lain Lembang adalah tidak tersusun rapih. Sedangkan menurut bahasa Melayu Palembang, Lembang berarti air yang merembas. Adapun arti awalan PA atau PE menunjukkan keadaan atau tempat, Jadi Palembang berarti Tempat yang tanahnya berair.
Dari semua pengertian menunjukkan tanah yang berair. Ini tidak jauh dari kenyataan. Sebagai mana menurut hasil statistik tahun 1990 terdapat 52,24 % tanah yang tergenang air di kota Palembang ,dan masih terdapat 117 buah anak sungai yang mengalir di kotamadya Palembang.

1.2. Kapan Nama Palembang Lahir?
Nama Palembang lahir tepatnya belum dapat diperkirakan apakah sejak keruntuhan Sriwijaya atau sebaliknya sebelum masa Sriwijaya. Dari catatan sumber Cina yaitu Kronik CHU-FAN-CHI, karya Chau Ju-Kua tahun 1225, disebutkan nama Pa Lin Fong sebagai salah satu bawahan San-Fo-Tsi.

Nama Palembang pada jaman klasik, selain dalam catatan Kronik Cina juga terdapat dalam Nagarakertagama karya Prapanca, 1365. Kemudian pada zaman Islam dimana Palembang lebih popular dengan dimuatnya dalam babat tanah jawi (1680) dan juga dalam sejarah melayu (1612).

Yang aslinya ditulis tahun 1511 diceritakan:
“Ada sebuah negeri di tanah Andalas Perlembang namanya, Demang lebar daun nama rajanya. Asalnya dari pada anak cucu Raja Sulan. Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu Pelembang yang ada sekarang inilah, maka Muara Tatang itu ada sebuah sungai, melayu namanya. Di dalam sungai itu ada sebuah bukit Seguntang Mahameru namanya”.

1.3.Antara Kiu-Kiang dan Po-Lin-Fong
Palembang pertama kali disebut secara tertulis dalam kronik Cina tahun 1225. ejaan Cina menuliskan PO-LIN-FONG. Setelah lebih dari seratus tahun kemudian Wang Ta-Yuan menyebutkannya sebagai Kiu-Kiang (1349-1350). Kiu-Kiang mempunyai arti pelabuhan lama yang mempunyai arti sendiri bagi Cina. Kitab Ming Shih menjelaskan pada tahun 1374 MA-NA-HA-PAU-LIN-PANG (Maha Raja Palembang) mengirim dutanya dengan membawa upeti kepada kaisar Cina dan dilakukan lagi pada tahun 1375.
Ma-Huan yang sempat berkunjung ke Palembang bersama armada ADMIRAL CHENG HO (Ekspedisi pertama 1405-1407) menuliskan dalam YING-YAI-SHENG-LAN tahun 1433 menyebutkan bahwa Kiu-Kiang adalah sebenarnya negeri yang sama dengan nama sebelumnya yaitu SAN-FO-TSI (Sriwijaya) dan orang asing menyebutnya PO-LIN-FONG.

1,4. Bentuk dan Susunan Kota
Pada abad ke XII dan XIII kota Palembang digambarkan dalam catatan Cina:
“Penduduknya tinggal terpencar di luar kota atau tinggal di rakit di atas air, suatu tempat tinggal yang lantainya dari bambu (rumah rakit) di ikatkan pada tiang di tepian dengan tali. Mereka dibebaskan dari segala bentuk pajak. (Chau Ju-Kua, hal : 60)

Gambaran hidup di atas sungai di dalam abad ke 19 digambarkan juga oleh Alfred Wallace Russel :
“Penduduknya adalah orang melayu tulen, yang tak akan pernah membangun sebuah rumah di atas tanah kering selagi mereka masih dapat membuat rumah di atas air, dan tak akan pergi kemana-mana dengan berjalan kaki, selagi masih dapat di capai dengan perahu”. ( The Malay Archipelago, Dover Publ, New York 1962 hal : 94)

Beberapa luas kota Palembang dapat dibayangkan, besarnya kota Palembang pada masa Sriwijaya dari ukuran jarak kedudukan prasasti Kedukan Bukit (682 M) yang berada ditengah-tengah, sedangkan diujung timurnya terdapat prasasti Telaga Batu (Kampung 2 Ilir, dibelakang PUSRI) diujung baratnya terdapat prasasti Talang Tuo yaitu prasasti pendirian taman oleh Sri Jayanasa.

—————————————————————————————————————————————–

BAB II
PALEMBANG DIANTARA SEJARAH MELAYU DAN BABAD
TANAH JAWI

2.1. Leluhur / Puyang
Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya tidak ada kesinambungan sejarahnya dengan kelahiran Palembang. Palembang memulai lembaran catatannya dengan sejarah Melayu yaitu : saat SANG SAPURBA yang berpuyung dengan ISKANDAR ZULKARNAIN turun diatas bukit SEGUNTANG MAHAMERU.

2.2. Ario Damar / Ario Dillah
Lembaran kedua catatan Palembang datang dari Babad JAWI termasuk BANTEN dan CIREBON. Babad yang paling mempengaruhi lembaran catatan Palembang adalah Babad Tanah Jawi, lembaran ini mengetengahkan Tokoh ARIO DAMAR dan RADEN PATAH, keduan tokoh ini mengikat masa lampau dan masa Madya Palembang : antara Majapahit – Demak – Palembang.
Dari tokoh ini Kharisma Majapahit diturunkan melalui Demak kepada penguasa Palembang dalam bentuk garis Silsilah Penguasa Palembang.- (tidak berhubungan dengan silsilah dari Sriwijaya)-

Didalam catatan sejarah Palembang, Aria Damar yang setelah memeluk Islam dikenal dengan nama Aria Dillah. Beliaulah yang memelihara dan membesarkan RADEN PATAH (Pendiri Kerajaan DEMAK ). Lahir dan dibesarkan didalam negeri Pelembang. Adapun Raden Patah itu adalah anak Brawijaya dengan istrinya seorang Putri Cina.

2.3. Asal Usul Penguasa Palembang
Sebagai penguasa di Palembang elite Melayu-Jawa memerlukan “Asal-Usul”-nya sebagai sumber kharisma yang memberikan “Tuah” atau “Pulung”. Di dalam catatan yang tersimpan di perpustakaan atau museum di Negeri Belanda, tulisan tangan mengenai Silsilah Palembang cukup banyak dari berbagai versi dan kurun waktu penulisannya. M.O. Woelders dalam Het Sultanat Palembang 1811-1825 Martinus Nijhoff ‘s-Gravenhage, 1975, hal 39-41 menggarisbawahi tentang pentingnya asal usul tersebut (afstamming).

Woelders mencoba mengumpulkan semuanya dan membagi bentuk Silsilah sesuai dengan kelompok-kelompok besarnya. Sebab diantara Silsilah tersebut tidak banyak perbedaan yang mencolok, hanya kita melihat dari garis mana asal-usul itu, mulai berlaku. Kelompok besar dalam penulisan Silsilah Penguasa Palembang tersebut sebagai berikut :

  • Silsilah dimulai dari Nabi Adam, melalui Nabi Muhammad (yaitu Saidina Husin)
  • Silsilah yang dimulai dari Iskandar Zulkarnain dan Raja Alam
  • Silsilah yang dimulai dari Raja Sultan dari Amdan Negara Via Sultan Mugni (Murni) dan Demang Lebar Daun
  • Dari Brawijaya terakhir melalui Aria Damar (Ario Dillah)

—————————————————————————————————————————————–

BAB III
PALEMBANG DALAM PENGARUH KEKUASAAN CINA

3.1. Pendudukan Majapahit
Kerajaan Sriwijaya di perkirakan runtuh pada akhir abad ke XII, bekas Ibukotanya disebut dalam kronik Cina sebagai PO-LIN-FONG atau Kiu-Kiang. Sementara kebangkitan kerajaan Majapahit dalam kurun waktu abad ke XIV di tandai dengan ekspansi wilayahnya ke Nusantara untuk tujuan ke bagaian barat Nusantara. Menurut Slametmulyana, Nagarakartagama hal 142-143 bahwa Majapahit menempatkan Pelembang sebagi batu loncatan bagi pasukan Majapahit dalam ekspansi tersebut. Dan Sejak itu Pelembang harus menjalankan upeti kepada Majapahit.

3.2. Palembang Dalam Kuasa Cina
Setelah penguasa Pelembang terahir PARAMESWARA yang mencoba berontak kepada Majapahit (l397) meninggalkan palembang dan menuju Tumasik (Singapore) bersama para pengikutnya, dan tak kembali lagi ke pelembang maka pelembang mengalami keadaan yang kacau tanpa kepemimpinan,
Sejak itu Pelembang hanya dipimpin oleh Ulama Arab bernama: Syech Abdurrahman, Orang orang Majapahit mencoba menunjuk wakil mereka sebagai kepala di Pelembang, tetapi ditolak oleh orang orang Cina yang telah lama tinggal di Pelembang, orang orang Cina itu beralasan untuk memilih sendiri pemimpinnya, yaitu LIAN TAN-MING (alias si A-King)
Lian Tan Ming, menguasai Pelembang selama 33 tahun (1487 – 1520), berasal dari Nanhai di Kanton, “sepengelana di laut” yang diikuti pula oleh ribuan orang dari Fukien dan Kanton. Dia dinobatkan sebagai penguasa tertinggi di Pelembang bersama putranya.
(W.P Groeneveldt, Historical hal 71).

3.3 Suasana di Palembang
Banyak penduduk negeri Pelembang ini adalah orang-orang dari propinsi Kwantung dan dari Chang chou dan Ch”uan chou yang melarikan diri dan tinggal dinegeri ini.
Penduduknya sangat kaya dan makmur, tanahnya sangat subur; sebuah pepatah mengatakan
“Sekali menebar padi maka tiga kali menuai padi”
Banyak orang-orangnya terlatih dalam perkelahian di air.
Tempat ini sangat berair dan agal sukar menemui tanah kering.
Dimuara sungai pasang surut berlaku dua kali,siang dan malam.
Adat penduduk negeri ini: baik Perkawinan maupun Kematian, Pakaian, Bahasanya
dan lainnya adalah sama seperti di Chao-wa (Jawa)

Kuasa Lian Tan Ming berakhir setelah habis dibasmi oleh Laksamana Ceng Hoo yang datang kePelembang atas perintah Kaisar di Cina. Kaisar Cina Dinasti Ming mengetahui perbuatan Lian Tan Ming, dari utusan rahasia penguasa Pelembang saar itu Syech Abdurrahman orang Arab, Kaisar Cina Dinasti Ming sangat malu hingga mengutus seorang laksamana Cina yang beragama Islam dan yang telah mengenal kepulauan Nusantara serta perairannya untuk datang ke Pelembang.

Setelah Lian Tan ming ditaklukan Ceng Hoo, maka atas perkenan Ceng hoo,syech Abdurrahman mengirim utusan kepada Sultan Demak di Jawa tengah, meminta Sultan berkenan mengirim seorang Bangsawan untuk dijadikan Raja di Pelembang, permintaan itu diterima dan disambut baik oleh Sultan Demak II dan ia sendirilah yang akan menjadi Raja di Pelembang.

Tetapi dalam perjalanan menuju Pelembang terjadilah bencana yang mengakibatkan Sultan Demak II Wafat. Utusan Cina di Palembang kembali memagang kuasa hingga 1540 sampai akhirnya dipanggil kembali oleh Kaisar Cina sebab utusan cina didatangkan kesana bukan untuk menjadi Pengusa di Pelembang. (Sepeninggalan Ceng Hoo,Palembang kembali dipimpin Syech Abdurrahm demikian menurut manuskrip lama tulisan arab berbahasa melayu).
Ketika Kesultanan Demak terjadi huru hara perebutan kekuasaan, maka Ki Gede Ing Suro yang masih kanak-kanak ketika ayahnya (Sultan Demak II) wafat dalam perjalanan ke Pelembang, kini sudah dewasa dan datang ke Pelembang, Dari catatan tulisan tangan huruf arab yang dibuat seorang Priyayi Pelembang dapat dibaca sebagai berikut : Telah diriwayatkan adalah berpindah beberapa anak-anak dari Raja Jawa kedalam negeri Pelembang dengan sebab huru hara Sultan Pajang menyerang Demak. Dan adalah yang bermula menjadi Raja di Pelembang dari mereka itu Ki Gede ing suro anak Ki Gede ing Lautan, dan tatkala wafat digantikan adiknya Ki Gede ing Ilir kemudian digantikan anaknya Ki gede ing Suro Mudo dan yang berpindah kedalam negeri Pelembang itu ialah empat likur bilangan orang adanya”
Tahun 1550 KI GEDE ING SURO di nobatkan menjadi Raja Pelembang bersamaan dalam tahun 958 Hijriah, berlokasi Istananya di Batu hampar sebelah ilir Pelembang sekarang ini nama Kyu Kiang digantinya menjadi Pelimbangan.

—————————————————————————————————————————————–

BAB IV
ASAL USUL KETURUNAN RAJA PELEMBANG DAN SULTAN PELEMBANG DARUSSALAM

Asal Usul dari keturunan Raja-Raja dan Sultan-Sultan Pelembang itu ada 3 (tiga) Jalur, yaitu sebegai berikut ini :

6.1. JALUR RADEN FATTAH (SULTAN DEMAK)
Raja pelembang baru yang pertama adalah Ki Hang Suro Tuo Sangaji Lor yang memerintah dari tahun 1550 s/d 1555 masehi. Beliau adalah cucu dari Raden Fattah Sultan Demak atau anak dari Raden sedakali Pangeran Seberang Lor seda Ing Lautan Pati Unus sultan Demak II.

Jika pada masa pemerintahan Prabu Ariodillah (Ariodamar) Kerajaan Pelembang dinamakannya PELIMBANGAN yang lokasinya adalah kampung tatang 36 ilir Pelembang sekarang ini. Maka pada masa Ki Hang Suro Tuo, nama PELIMBANGAN digantinya menjadi PELIMBANG BARU Yang berlokasi di batu Hampar seberang ilir pelembang lama sekarang ini.
Ki Hang Suro Tuo Sangaji Lor wafat pada tahun 1555 masehi,

6.2. JALUR KETURUNAN SUNAN AMPELDENTA
Raja Pelimbanga ke II
KI GEDE ING SURO MUDO SANGAJI WETAN

Disebabkan KI HANG SURO TUO (atau KI GEDE ING SURO TUO) tidak mempunyai anak, maka Raja Pelimbang ke II ialah kemenakannya sendiri yang bernama Ki Gede ing Suro Mudo anak dari Sunan Ampel Denta Surabaya dan ibunya Nyai Gede ing ilir adik dari Ki Gede Ing suro Tuo. Ki Gede Ing Suro Mudo meninggal dunia pada tahun 1589 setelah memerintah selama 34 tahun (1555 – 1589) dan dimakamkan dipemakaman Batu Hampar dekat makam Ki Gede ing Suro Tuo.

Raja Pelimbang ke III
KI MAS ADIPATI ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Raja Pelimbang Baru berikutnya yang ke III adalah anak Ki Gede ing Suro Mudo, yaitu Ki Mas Adipati Angsoko bin Ki Gede ing Suro Mudo yang memerintah selama 5 tahun saja (1589-1594) Lokasi Istana kerajaannya tidak lagi di Batu Hampar tetapi dipindahkan ke TALANG JAWA LAMA.

(Raja Pelimbang ke IV)
PANGERAN MADI ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Oleh karena ketika Ki Mas Adipati Angsoko meninggal dunia, anaknya yang bernama Pangeran Seda ing Kenayan masih kecil, maka Tahta Raja Pelimbang ke IV jatuh kepada saudaranya sendiri bernama PANGERAN MADI ANGSOKO yang memerintah selama 30 tahun (1594 – 1624) dan ketika meninggal tidak meninggalkan anak, maka tahta diserahkan kepada adiknya bernama PANGERAN MEDI ALIT ANGSOKO.

Raja Pelimbang ke V
PANGERAN MEDI ALIT ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Raja Pelimbang baru yang ke V ini hanya memerintah selama satu tahun saja (1624-1625) dan tidak juga mempunyai anak, dan Beliau digantikan oleh adiknya yang.bernama PANGERAN SEDA ING PURO ANGSOKO

Raja Pelimbang ke VI
PANGERAN SEDA ING PURO ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Pengeran Seda Ing Puro Angsoko memerintah selaku Raja Pelimbang selama 7 tahun (1625 – 1632) dan Beliaupun tidak ada meninggalkan anak, Kedudukannya digantikan oleh anak Kakaknya (KI MAS ADIPATI ANGSOKO) yang bernama PANGERAN SEDA ING KENAYAN.

Raja Pelimbang ke VII
PANGERAN SEDA ING KENAYAN SABO ING KINGKING
Bin KI MAS ADIPATI ANGSOKO

Pangeran seda Ing Kenayan adalah Anak Ki Mas Adipati Angsoko (Raja ke III) Pangeran Seda Ing Kenayan tidak lagi meneruskan dinasti Angsoko tetapi telah membuat dinasti baru yaitu dinasti Sabo Ing King King, Beliau memerintah selama 12 tahun (1632 – 1644) lokasi istananya dipindah pula ke daerah Sabo KingKing Kelurahn 1 ilir Palembang lama sekarang Pangeran Seda ing Kenayan Sabo ing KingKing beristrikan saudara misan / sepupuhnya sendiri yaitu Ratu Sinuhun Simbur Cahaya, Merekapun tidak memiliki anak. Dengan demikian habislah Keturunan ki Gede ing Suro Mudo atau keturunan Sunan Ampel Denta Surabaya

6.3. JALUR KETURUNAN SUNAN GIRI GERSIK
Raja Pelimbang ke VIII
PANGERAN MOH ALI SEDA ING PASAREAN SABO ING KINGKING

Oleh karena Suami Istri Pangeran Seda Ing Kenayan dan ratu sinuhun simburcahaya tidak menurunkan anak maka Tahta kerajaan dilimpahkan kepada saudara tua (kakak) Ratu Sinuhun bernama Pangeran Moh.Ali Seda ing Pasarean gelar Sultan Jamaluddin Mangkurat V turunan ke 4 dari Raden Paku Moh.Ainulyakin Prabusatmoto joko samudro Sunan Giri gresik Wali songo bin Maulana Ishak Mahdum Syech Awalul Islam Samudra Pasai Aceh.
Pangeran Moh.Ali Seda Ing Pasarean atau Sultan Jamaluddin Mangkurat V ini hanya memerintah selama satu tahun (1644-1645) karena mati terbunuh (diracun) oleh pegawai Keraton Sabo kingking sendiri.

Raja Pelimbang ke IX
PANGERAN SEDA ING RAZAK (SULTAN ABDURROHIM JAMALUDDIN MANGKURAT VI)
Bin Mohammad ali Seda Ing Pasarean

Turunan ke – 5 dari Sunan Giri Gresik walisongo, Pangeran Seda ing Razak ini adalah Dinasti Sabo KingKing terakhir, Istana Sabo KingKing dibumi hangus oleh Angkatan Laut Belanda, maka Sultan Abdurrohim Jamaluddin Mangkurat VI ini beserta keluarganya berhijrah ke Indralaya OKI. Dan Beliau menjadi Sultan di Indralaya. Adapun sebab perang dengan Belanda karena Seda ing Razak tidak mau mengakui VOC dan tidak mau menandatangani kontrak, akhirnya Loji VOC di batu hamper dibakar oleh rakyat atas perintah Sultan. Beliau dimakamkan di desa SAKA TIGA Beliau memerintah selaku Raja Pelimbang ke IX selama 14 tahun (1645-1659) dan memerintah selaku Sultan di Indralaya selama 32 tahun (1659 – 1691).

Raja Pelimbang ke X
KI MAS HINDI (SULTAN ABDURRAHMAN JAMALUDDIN MANGKURAT VII)
Bin Mohammad Ali Seda Ing Pasarean
( Sultan Pelimbang Darussalam ke I )

Beliau adalah adik dari Seda ing Razak atau Sultan Abdurrohim yang hijrah ke Indralaya, Beliau dinobatkan menjadi Raja Pelimbang menggantikan kakaknya dimasa Gubernur Jendral Mr.Johan maaetsuiycker pada bulan juli 1659. Pada tahun 1675 Beliau mendirikan KeSultanan Pelimbang Darussalam, dan oleh karena kakaknya selaku Sultan di indralaya maka beliau memproklamirkan dirinya selaku SUSUHUNAN Pelimbang Darussalam. Lokasi istananya adalah pada lokasi sekolah HIS Kebon Duku 24 ilir Palembang di zaman Hindia Belanda. Atau lokasi SMP Negeri Kobon Duku Palembang. Beliau dimakamkan di pemakaman Cinde Walang di belakang pasar Cinde. Sultan Abdurrahman memerintah selaku Raja Pelimbang ke X selama 16 tahun, (1659 – 1675) dan memerintah Selaku Sultan Pelimbang Darussalam selama 23 tahun (1675 – 1698)

Sultan Pelimbang Darussalam ke II
SULTAN MOHAMMAD MANSYUR
Bin Sultan Abdurrahman Cinde Walang

Sultan Mohammad masyur atau Raden Ario ini adalah anak kedua dari susuhunan Abdurrahman Cinde walang, beliau memerintah selaku Sultan selama 12 Tahun (1698 – 1710) Lokasi istananya dikelurahan KEBON GEDE 32 ilir Palembang dan dimakamkan dilokasi ini juga. Beliau memerintah di Zaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Van Outhoorn, Johan van Hoorn, dan mininggal dunia di masa Abraham van Riebeek, Sultan Muhammad Mansyur ini selanjutnya digantikan oleh anaknya yang
bernama Ratu Purboyo, tetapi yang hanya satu hari menjadi Sultan karena wafat diracun.

Sultan Pelimbang Darussalam ke III
SULTAN AGUNG KOMARUDDIN SRI TERUNO
Bin Sultan Abdurrahman Cinde Walang

Raden Uju adalah adik kandung dari Sultan Mohammad Mansur, memerintah selaku Sultan Pelembang Darussalam selama 12 Tahun (1710 – 1722) dengan Gelarnya SULTAN AGUNG KOMARUDDIN SRI TERUNO, Lokasi Istananya di kelurahan 1 ilir Palembang dan bermakam ditempat ini juga. Beliau memerintah pada zaman Gubernur Jenderal Abraham van Riebeek, Christoffel van swoll dan hendrik van zwaardekroon.

SULTAN DEPATI ANOM
Bin Sultan Mohammad Masyor
Sultan Depati Anom adalah Kemenakan dari Sultan Agung Komaruddin, atau anak dari Sultan Mohammad Mansyur Kebon Gede. Sultan Depati Anom ini adalah “Sultan intermezzo” karena memaksakan diri menjadi Sultan. Sehingga Sultan Agung Komaaruddin terpaksa mengangkatnya menjadi Sultan, dan Sultan Agung Komaruddin menjadi Sultan AGUNG.
Sultan Depati Anom pada mulanya telah meracuni kakaknya sendiri yaitu Pangeran Purbaya karena ingin menjadi Putra Mahkota, sedangkan adiknya sendiri Pangeran Jaya warakrama (Kemudian hari menjadai Sultan Mahmud Badaruddi I) dimusuhinya pula, hingga Pangeran Jaya Wirakrama hijrah ke Johor Malaya. Sultan Depati Anom bermakam di desa belida kecamatan Gelumbang, ia sempat menjadai Sultan selam 9 tahun (1713 – 1722).

Sultan Pelimbang Darussalam ke IV
SULTAN MAHMUD BADARUDDIN LEMABANG
Sultan Mahmud Badaruddin I adalah Pangeran Ratu Jaya Wikrama, anak ke 3 dari Sultan Mohammad Mansyur. Beliau memindahkan lokasi Istananya ke 3 ilir Palembang, dan bermakam di lokasi ini pula, Makamnya disebut Masyarakat sebagai Makam KAWAH TEKUREP.
Beliau membangun Pasar koto 10 ilir, Membangun masjid Agung, membangun kraton kuto Lamo, dan membangun kraton Koto Besak, yang ketika hayatnya baru mencapai 60%.Sultan Mahmud Badaruddin I memerintah selama 34 tahun (1722 – 1756). Dimasa gubernur jenderal Hendrik Van Zwaardek roon, Mettheus de haan, Diederik Van Durven, van Cloon, Abraham Patras, Adriaan P. De Valckenier, Johannes Theedens, Gustaaf willem Baron Van Imhoff dan Jacob Moseel

Sultan Pelimbang Darussalam ke V
SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN LEMABANG
Bin Sultan Mahmud Badaruddin

Dizaman Sultan Ahmad Najamuddin ini tidak banyak perubahan kecuali merehabilitir masjid Agung, Beliau memerintah selaku Sultan Pelembang Darussalam selama 24 tahun (1756 – 1780) dimasa Gubernur jenderal Jacob mossel, Petrus Albertus Van der Parra, jeremias Van Riemsdijk dan Reinier de Klerk, Sultan Ahmad Najamuddin dimakamkan dikomplek pemakaman Lemabang.

Sultan Pelimbang Darussalam ke VI
SULTAN MUHAMMAD BAHAUDDIN LEMABANG
Bin Sultan Ahmad Najamuddin

Memerintah selaku Sultan selama 27 tahun (1780 – 1807) dimasa gubernur jenderal rainier de klerk, mr.Willem Arnold alting, mr.Peter Gerardus van Overstraten, Johannes Sieberg,dan Albertus henricus wise. Beliau bermakam di Lemabang.

Sultan Pelimbang Darussalam ke VII
SULTAN MAHMUD BADARAUDDIN (II) LEMABANG
Bin Sultan Muhammad Bahauddin
Sultan Mahmud Badaruddin II atau RADEN HASAN memerintah selama 14 tahun (1807 – 1821) Semasa Gubernur Jenderal Albertus HW, Herman Willem Daendels, Jan Willem Jansens, Lord E.O, Sir Thomas Stamford Raffles, John fendall dan Mr. G.A.G Ph Van der Capellen. Beliau amat anti kepada Inggris dan Belanda, hingga beberapa tahun berperang barulah beliau dapat ditangkap dan ditawan oleh Belanda hingga diasingkan ke Ternate dan wafat disana. Beliaulah Sultan Palembang Darussalam yang sudah diakui sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan SK Presiden RI No.063/TK/tahun 1984 tertanggal 29 oktober 1984.

Sultan Pelimbang Darussalam ke VIII
SULTAN HUSIN DIA’UDDIN SOAKBATO
(Sultan Ahmad Najamuddin II)

Sultan Husin dia’uddin adalah Pangeran Dipati atau adik kandung dari Sultan Mahmud Badarauddin II, Dengan diasingkannya Sultan Mahmud Badaruddin II ke ternate maka habislah dinasti Lemabang. dan berdirilah Dinasti baru yaitu DINASTI SOAK BATO. Sultan Husin Dia’uddin adalah Sultan yang diangkat oleh Pemerintahan Inggris, berhubung KRATON KUTO BESAK dikuasai Inggris maka Sultan Husin Dia’uddin membangun Kraton di Soakbato sekarang masuk kampong 26 ilir Palembang, Sementara itu Kraton Kadipaten masih tetap berdiri di Kadipatenan yang lokasinya ditempati oleh rumah Ong Boen Tjit di SEKANAK / SUNGI TAWAR. Setelah Belanda berkuasa kembali di Pelembang, Belanda menurunkan Sultan Husin Diauddin dan menobatkan kembali Sultan Mahmud Badaruddin II. Sultan Husin Diauddin Wafat di kampong KRUKUT Jakarta setelah sebelumnya ditawan dan diasingkan oleh Belanda ke Cianjur dan dibawa kembali kebatavia. Beliau memerintah selam 9 tahun (1812 – 1821).

SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN (II) PANGERAN RATU
Bin Sultan Mahmud Badaruddin II

Beliau adalah anak Sultan Mahmud Badaruddin II, Beliau memangku jabatan selaku Sultan “Intermezo” selama 5 tahun (1816 – 1821) Beliau adalah Panglima Perang saat bersama ayahnya melawan Belanda, Tapi akhirnya Pangeran Ratu ditanggap dan dibuang ke Cianjur, lalu dibuang ke pulau Banda hingga akhir hayatnya dan bermakam disana

SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN (III) PRABU ANOM
( Sultan ke Pelimbang Darussalam ke IX )

Raden Ahmad adalah anak Sultan Husin Dia’uddin, memerintah selaku Sultan Palembang Darussalam yang ke IX atau yang terakhir. (1821 – 1825). Dengan gelarnya SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN (III) PRABU ANOM. Pada tahun 1823 Sultan beserta rakyatnya melakukan pemberontakan terhadap Belanda, tetapi akhirnya dapat dihancurkan oleh Belanda dengan bantuan “Penghianat-Penghianat” hingga Sultan terpaksa Hijrah ke Muara Enim, tetapi akhirnya setelah dibujuk dan dilakukan penipuan-penipuan dengan perantaraan para penghianat, dapatlah ditawan dan diasingkan ke kampung Krukut Jakarta menyusul Sultan Tua yang sudah lebih dahulu ditawan disana hingga wafatnya.Dengan itu semua, maka berakhirlah riwayat KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM karena sejak itu BELANDA telah memerintah penuh : selaku penjajah ! Dan banyak Sultan-Sultan Palembang Darussalam yang ditawan dan dibuang dari Palembang oleh BELANDA

—————————————————————————————————————————————–

BAB V
DARI BENTUK AWAL PEMERINTAHAN MENUJU KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM

4.1. Perubahan Struktur
Bentuk awal kekuasaan elit Jawa di Palembang, terutama 100 tahun pertama (antara 1550-1659), terlihat jelas bentuk yang berpose kesatu bentuk pemerintahan zaman Madya. Boleh dikatakan elit Jawa baru mencari bentuk system pemerintahan yang sesuai dengan kondisi di Palembang.
Kekuasaan diantara putra-putra Ki Gede Ing Suro II (Mudo) selalu diperebutkan dengan darah yang mungkin masih terlalu dipengaruhi konsep kekuasaan gaya Jawa. 100 tahun pertama elit Jawa ini tidak memberikan satu gambaran dan kesan pembangunan ekonomi dan politik yang jelas, terkecuali pada kurun waktu pangeran RATU SIDE ING KENAYAN SABO ING KINGKING (Raja Palembang ke VII) beserta istrinya RATU SINUHUN. Paling tidak kedua suami istri ini telah mencoba meletakan dasar-dasar perubahan yang jelas baik didalam negeri maupun hubungan dengan luar negeri.

4.2. Struktur dan Organisasi Pemerintahan
Menempati wilayah di tepi sungai Musi, disamping pulau Kembaru dan berhadapan dengan muara sungai Komering, di sinilah pertama kali elit Jawa ini bermukim. Di batasi oleh anak sungai Buah dan anak sungai Lintah di tengah terdapat anak sungai Rengas sebagai jalan masuk ke Keraton Palembang lama.

Kraton yang berkuto ini menurut MAC LEOD :
Panjang dindingnya sekitar 290 Rijnlandsche roeden (1093 meter) demikian pula lebarnya, tinggi tembok 24 kaki terbuat dari balok kayu hitam. Orang Cina dan Portugis berdiam berseberangan yang terletak di tepi sungai Musi.(Mac Leod De Oost- Indische Compagnie op Sumatra in de 17 eeuw dalam IG Jrg, 1904 hal 803-804)

Disinilah basis pertama elit Jawa berada, Pada awalnya para penguasa asal Jawa ini tidak memakai gelar yang muluk-muluk GEDE ING SURO hanya memakai gelar KI GEDE kemudian keturunannya memakai gelar tertinggi PANGERAN TUMENGGUNG

Barulah setelah seratus tahun kemudian KI MAS HINDI (Setelah Beliau memproklamirkan berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam) memakai gelar SULTAN dan menjadi Sultan Palembang Darussalam yang pertama (Sebelumnya Ki Mas Hindi adalah Raja Pelimbang yang ke 10) Dengan tetap memegang aturan kekuasaan dari Jawa (Demak) serta tertib “Piagam Jipang” maka struktur pemerintahan tidak terlalu berjauhan dengan Jawa.

Komunikasi dilakukan dengan bahasa KERAMA INGGIL (BEBASO) dalam lingkungan keraton, sedangkan diluar keraton rakyat berbahasa MELAYU-PALEMBANG, kondisi ini berlaku sejak awal sebelum terbentuknya struktur KESULTANAN yang mantap di Palembang di bawah kepeloporan Ki Mas Hindi Khalifatul Mukminin Sayidina Imam Cinde Walang gelar SULTAN ABDURRAHMAN JAMALUDDIN MANGKURAT VII

4.3. Struktur Masyarakat Palembang
Adapun struktur masyarakat Palembang sebagai berikut :
# Raja (awalnya disebut Ki / Pangeran selanjutnya Sultan)
# Golongan Bangsawan dan Elite
# Golongan Rakyat
# Golongan Budak
A= Golongan Bangsawan dan elite ini adalah pemegang kekuasaan bersama Raja, kondisi inilah yang sering menerbitkan konflik kepentingan dan persaingan kekuasaan antara Raja dan para Priyayi/Bangsawan, meskipun kehidupan Keraton menjamin kehidupan yang enak dan beradab, namun elite ini sering bermain politik dan dalam hal ini sering bermain terlalu jauh sehingga membawa bencana.
Golongan Bangsawan amat sedikit jumlahnya bila kita bandingkan dengan Bangsawan di Jawa. (di Palembang : Gelar Bangsawan Palembang tidak diturunkan dari garis Ibu) dan Jumlah Masyarakat Palembang itu terbilang sedikit. Tercatat pada masa KESULTANAN terakhir, (Sultan Ahmad Najamuddin III=.Sultan ke IX) jumlah Masyarakatnya antara 2000 sampai dengan 2500 saja. (Tahun 1823).
Menurut Sevenhoven: dengan rincian 800 orang Cina dan 500 orang Arab. Belum lagi orang Belanda dan Inggris. (I.J.Sevenhoven, Lukisan, hal 25& 33)

Golongan Bangsawan terdiri dari :
PRIA                                        WANITA
RADEN (R)                             RADEN AYU (RA)
MASAGUS (MSG)                 MASAYU (MSY)
KIAGUS (KGS)                       NYAYU
KEMAS (KMS)                       NYIMAS

RADEN adalah sabagai bangsawan tertinggi dan merupakan kelas penguasa, yang dibantu oleh MASAGUS, (Umumnya Nama RADEN diikuti nama Muhammad (Raden Muhammad = RM) atau Raden Ahmad =RA). Sedangkan KIAGUS sebagai Penasihat Sultan dan KEMAS sebagai Penanggung jawab keamanan SULTAN

Pada saat ini masih banyak para Bangsawan Palembang hidup mengelompok dilokasi tertentu. Pusat pemukiman Bangsawan Pelembang terdapat di 19 ilir, 27 ilir, 28 ilir yang sering disebut Depaten Lama atau Sekanak, sedangkan dipemukiman lainnya berada di daerah 24 ilir yang sering disebut daerah kebon Duku. Kehidupan Bangsawan Pelembang awalnya memiliki ciri yang berbeda dengan masyarkat yang hidup di Palembang, misalnya dalam bahasa, bahasa Pelembang memiliki dua tingkatan bahasa yaitu :
BEBASO = Bahasa yang beriduk bahasa Krama Inggil (Jawa halus)
dipergunakan oleh kalangan atas, yaitu para Bangsawan atau orang-orang Tua atau orang yang dihormati,
BASO Sehari-hari = Bahasa sehari-hari (melayu-Palembang)
Bahasa keseharian ini bercampur dengan bahasa Jawa, diperkaya dengan bahasa Sangsekerta, Cina dan Belanda.

Kedua jenis Bahasa tersebut tidak memiliki aksara khusus dalam penulisannya kecuali menggunakan huruf Arab dengan bahasa melayu-palembang. Oleh sebab itu surat-surat resmi KESULTANAN PELEMBANG DARUSSALAM, Kitab-kitab Agama Islam dan lain-lainnya ditulis dengan aksara arab tanpa baris atau dikenal dengan istilah Arab gundul.
Dalam surat resmi, aksara jawa hanya terdapat pada halaman akhir surat perjanjian yang dibuat oleh Sultan Abdurrahman pada abad ke XIX

Kesenian Masyarakat Palembang:
Diantaranya :
Seni Beladiri : Kuntaw (Kuat dengan unsur Cina)
Seni Ukir : seni Pahat
Seni Tenun : Songkot, Kain Tajung, dll (dengan berbagai motif dan artinya)
Seni Tari : Serampang 12, Bedana, dll
Seni Suara : Berzanzi, Qiro’ah, dll
Seni Musik : Dengan peralatan Gendang, Ketipung, Gambus, Biola, dll
Seni Pewayangan : memiliki kesamaan dengan wayang kulit Jawa ( hampir Punah)

PERNIKAHAN

Diawali dengan LAMARAN, dari keluarga pihak Pria (sebelah Lanang) kepada pihak wanitanya, (sebelah betino)Dua keluarga ini bertemu di rumah calon mempelai wanitanya, setelah lamaran itu diterima maka MUTUS KATO (penentuan hari akad nikah)dilakukan dirumah pihak wanita, pada hari yang sudah ditentukan maka acara akad Nikah (KAWIN) di selengarakan dirumah mempelai Prianya, dihadiri oleh kedua orang tua dan keluarga besar dari pihak mempelai wanita. sedang Pengantin wanita tidak Ikut hadir. setelah akad nikah, Kedua keluarga ini disebut dengan istilah BESAN, pada malam harinya pihak keluarga Penganten Pria datang kerumah Penganten wanita dengan membawa sebilah Keris, dan menyerahkannya kepada mempelai wanita, sebagai wakil penganten Prianya. Karena Penganten Prianya Belum boleh diikut sertakan. Keris tersebut didudukan dipangkuan mempelai wanitanya.

Setelah beberapa hari kemudian baru dilangsungkan acara pesta nikah, biasa disebut orang MUNGGAHAN, dimana mempelai Pria di-ARAK (Diantar keluarga besar nya dengan tetabuhan dan puji-pujian kepada Allah dan Nabi) menuju kediaman mempelai wanitanya.
Dalam pesta, Tamu Pria dipisahkan dengan Tamu wanitanya, (hingga kini masih terbiasa menggunakan beberapa rumah untuk tamu Undangan) Acara makan biasanya menggunakan cara IDANGAN, satu hidangan untuk 5 – 8 orang sambil duduk di Lantai (Duduk NYEPOR)
Selang beberapa hari kemudian Keluarga Pengantin Pria berkunjung kerumah pengantin wanitanya, untuk memboyong kedua mempelai kerumah mempelai Prianya, hal ini dikenal dengan istilah JUMPUTAN, (Dengan diantar oleh keluarga mempelai Wanita)

Beberapa hari kemudian, dirumah mempelai Pria diLanjutkan dengan Pesta kembali. Setelah 2- 3 hari dirumah mempelai Prianya, Pihak keluarga mempelai Wanita datang kerumah mempelai Pria tadi, untuk menjumput kembali kedua mempelai menuju rumah mempelai wanitanya, dengan diatara oleh keluarga mempelai prianya. Setelah dirumah mempelai wanitanya, diselengarakan lagi Acara SIMBURAN, (Pengantin Lanang dan Betino di Mandikan oleh kedua orang tua / Mertua dan Tetua-kedua keluarga) dilanjutkan pada malam harinya dengan BERATIB (doa selamat atas serentetan Acara Pernikahan tersebut)

B = Golongan rakyat terbagi dalam tingkatan karena bedanya antara hak dan kewajiban,yaitu MIJI dan SENAN.

C = Golongan Budak adalah golongan yang paling rendah ,fungsi mereka hanya bersifat komoditi.

—————————————————————————————————————————————–

BAB VI
SULTAN ABDURRAHMAN cinde walang
PROKLAMATOR KESULTANAN PELIMBANG DARUSSALAM

5.1. Kuto Gawang, Kurun Waktu Elite Jawa
Hampir sekitar 100 tahun lamanya keraton Jawa di Palembang mengadaptasikan dirinya dan kepribadianya sebagai suatu kekuatan Sosial-Politik dan Ekonomi Melayu-Jawa. Perjalanan sejarah yang cukup panjang ini tidak dilalui dengan suasana yang harmonis, mukjizat ataupun romantis.

Kemantapan Kerato Melayu-Jawa ini harus dibayar mahal dengan darah, harta, kehormatan serta tumbal yaitu puing dan reruntuhan Keraton KUTO Palembang ditahun 1659, keraton ini dikemudian hari dikenal sebagai keraton KUTO GAWANG (dalam dalam bahasa Jawa kuno artinya TERANG BENDERANG) Nama ini berkemungkinan diberikan dikala menyaksikan kedahsyatan api yang membakar keraton dan kota tersebut termasuk pemukiman penduduk asing diseberang sungai keraton ini, sebagai akibat serangan Belanda…

Menurut G. LAUTS ( Geschiedenis Ven De Vestiging, uitbreiding, bloei en verval van magt der Nederlanders in Indie, dalam buku Geschiedenis Ven De Nederlandsch Regeering in Indie gedurende 1816-1858, 2 dl, Groningen 1852-66 hal 63-64) Menjelaskan : Pasukan VOC dibawah JOAN VAN DERLEAN memerlukan waktu 3 hari untuk membumi hanguskan Palembang lama.

Peristiwa itu sangat memukul perasaan penguasa dan rakyat Palembang, sehingga

“ Di tempat dimana 2 abad yang lalu terletak keraton dan dalem dari Raja-Raja Palembang waktu itu, masih ada kelihatan sedikit dari sisa-sisa bangunan. Disana sini sebagian lembah ditumbuhi oleh tanaman menjalar yang subur dan bunga-bunga padang yang beraneka warna, bagian-bagian dari pintu gerbang lama ditutup dan bersembunyi dibawah waringin yang indah, ini semua bukti hidup yang memberikan kenangan suatu tempat dimana bertahta kekayaan, kemegahan, dan despotisme.(Indische Gids, Oste Jrg III, 1847 hal 285)

Tulisan tersebut menunjukan sejak bumi hangus Palembang tahun 1659-1847 (hampir 200 tahun) Palembang lama atau bekas tapakan Keraton lama tidak dihuni lagi oleh penduduk dan seolah-olah sebagai monument yang melambangkan generasi awal GEDE ING SURO telah berakhir terkubur bersama-sama keratonnya.

Kisah dibakar habisnya Palembang pada tahun 1659 oleh belanda bermula dengan kehadiran wakil dagang VOC yang bernama Cornelis Ockersz pada 22 februari 1658.
Generasi berikutnya memindahkan pusat kekuasaan ke Beringin Janggut, satu geberasi yang lebih memantapkan diri sebagai penguasa Melayu Palembang bukan lagi generasi Jawa

5.2. Sultan Abdurrahman Pembentuk Identitas Melayu-Jawa
Palembang telah rata dengan bumi, puing-puing masih berasap, Pangeran Pelembang SIDE ING RAZAK
(SULTAN ABDURROHIM JAMALUDDIN MANGKURAT VII) setelah pecah perang Palembang-Belanda, mengungsi ke pedalaman Ke dusun Sako Tigo, Indralaya Ogan Komering Ilir dan menjadi Sultan disana selama 32 tahun dan tidak kembali lagi ke Palembang.

Kebangkitan kembali Palembang setelah bumi hangus itu tidaklah berjalan mulus, tampaknya hanya satu tokoh yang sangat menonjol yaitu KI MAS HINDI (SULTAN ABDURRAHMAN) adik Pangeran Seda Ing Razak, yang dikala mudanya adalah tokoh moderat, dia dapat bekerja sama dengan segala kelompok keluarga, dia dipercaya oleh Jambi dan tidak ditolak oleh Belanda ataupun VOC.

Beliaulah satu-satunya penguasa Palembang yang dapat duduk di Tahta selama hampir setengah abad. dan Beliau yang memutuskan hubungan idiologi dengan MATARAM selanjutnya memproklamirkan berdirinya KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM. Dan menjadikan Islam sebagai agama KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM.

Memindahkan Keraton dari Kuto Gawang yang dianggap “Tuah” dan “Pulung” yang sudah habis terbakar oleh Belanda, ke Beringin Janggut, maka Ki Mas Hindi atau sultan Abdurrahman cinde walang mulai menata kembali kerajaannya. Tiga belas kontrak yang dibuat selama kesultanan Palembang berdiri yaitu sejak tahun 1640 sampai dengan 1791, Tujuh buah kontrak dibuat oleh ki Mas Hindi, tentunya dengan keuntungan di kedua belah pihak Palembang – Belanda. Dalam kontrak tahun 1662, ki Mas Hindi mengharapkan adanya loji Belanda yang berseberangan dengan keratonnya. Loji tersebut berada di sungai (Sungi) Aur dimana dalam tahun 1811 dibakar habis oleh penerusnya bernama RADEN MUHAMMAD HASAN atau SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II

Wawasan identitas melayu ditegakkan, pengaruh budaya Jawa di bumi melayu manjadikan suatu kristal identitas PALEMBANG DARUSSALAM. Beliau dinobatkan pada masa Gubernur Jendral Mr. Johan Maaetsuiycker di bulan Juli tahun 1659 berlokasi istananya di 24 Ilir Palembang sekarang ini.

5.3. Sekali Lagi Melawan Belanda (VOC)
Setelah berkali-kali pertempuran melawan Belanda dan juga Inggris,
maka hingga dimasa SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
kembali berkobar perang dengan Belanda. Peperangan yang dasyat itu
diakui oleh Belanda sebagai peperangan yang terberat (susah ditaklukkan)
dari peperangan Belanda melawan raja-raja nusantara.

Akhirnya setelah hampir 2 abad (dari awal hingga masa Sultan Mahmud Badaruddin II) dengan tidak mudah Belanda berhasil melenyapkan KESULTANAN PELEMBANG dan membumi hanguskan KERATON didalam BENTENG KUTO BESAK, Pertempuran itu berkobar secara terbuka pada 12 Juni 1819 sampai 1821. Selanjutnya setelah peperanag itu SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II ditangkap dan dibuang ke Ternate.
Kesan mendalam, dalam diri Sultan MAHMUD BADARUDDIN II seperti dialami Gubernur Jendral VAN DER CAPELLEN yang singgah di Ternate dalam perjalanan kelilingnya ke MALUKU, dan tercatat dalam buku hariannya yang berbunyi : “Sultan Mahmud Badaruddin II sama sekali tidaklah biadab, dalam peperangan ia tahu mempertahankan kedudukannya dan orang ini betul-betul memiliki sifat-sifat Raja”.Demikian pula penulis asing yang bernama R.A. LOVELL dalam “NEVER A TAME TIGER” : “IA BERJUANG UNTUK KEMERDEKAAN NEGERINYA SAMPAI DETIK NAFAS TERAKHIR”.

“Never a tame tiger, karya R.A. Lovell menggambarkan bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II laksana “Harimau yang tak dapat dijinakkan”, pada akhir tulisan itu dikatakannya bahwa sultan-sultan Palembang telah berjuang untuk kemerdekaan negerinya sampai detik nafas terakhir.
Dr. M.O. Woelders dalam desertasinya berjudul “HET SULTANAAT PALEMBANG (1811-1825) pada halaman 2 dan 3 menyebutkan,

“Tokoh utama dari derama yang menghasilkan sebahagian sejarah historigrafi Indonesia ini tidak disangsikan lagi adalah Mahmud Badaruddin, yang menurut kesaksian kawan maupun lawan adalah orang besar (“een man van Formaat) seorang raja yang Agung dengan amalannya yang baik dan kurang baik;karena kepribadiannya yang kuat maka baik Ahmat Najamuddin maupun anggota-anggota keluarga lainnya sepenuhnya berada dibawah pengaruhnya”

Selanjutnya W. L. De Sturler,”Bijdrage tot de kennis van regtige becor deling der zedelijken, maatschappellijken en staatkundigen To useu van het Palembangsche gebied,”tahun 1855 hal 3, naskah museum pusat Jakarta menyebutkan bahwa Mahmud Badaruddin memiliki kepribadian yang kuat, jantan, seorang ksatria, pemberani, cepat bertindak, teguh pada pendirian, disamping itu diakui bahwa sultan adalah ahli taktik pertahanan yang ulung di jamanya.

Berita kemenangan Jendral De Kock (Belanda) atas Palembang tahun 1821 diterima di negeri Belanda tanggal 6 November 1821, disambut dengan dentuman meriam 101 kali, dan diramaikan dengan pertunjukan kebangsaan dan para anggota/perwira yang ikut dalam perang itu diberigelar“MILITAIRE WILLEMSORDE”, dan pada kesempatan itu Raja Willem I sendiri mengucapkan “Pidato Selamat” kepada Gubernur Jendral atas nama dewan.

Nama KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM dikonfrontir dengan cap setempel SULTAN MAHMUD BADARUDIN II, dapat dibaca

“Khalifatul Mukminin As-Sulthan Ratu Mahmud Badaruddin Fibaladi Pelimbang Darussalam”

yang sampai sekarang masih ada pada salah satu zuriatnya di Palembang atau juga pada salah satu surat Sultan kepada Gubernur Jendral Herman Willem Daendels tertanggal 13 Rabiul Awal 1224 Hijriah yang sekarang berada di Museum pusat Jakarta.

Wallahu a’lam

Sumber: Black and White

• telah dilihat 666 kali • total 5 kunjungan untuk hari ini •
Sejarah Kesultanan Palembang

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *